Arsip Blog

CAHAYA PERJUANGAN DIANTARA 2 KUTUB YANG SEDANG MENDUNG

Pak Kiai dan AyahPagi ini saya pamit Bapak Pimpinan untuk balik menjenguk orang-tua saya yang juga sedang sakit ke Jombang.

Saya kaget, mungkin 1 atau 2 hari ini beliau baru pangkas rambut. Subhanallah! Perkembangan kesehatan Pak Kiai luar biasa. “Seperti biasanya” Beliau tidak menampakkan sakitnya. Bicara tegas, teratur, tertata. Saya mohon maaf tidak ijin ke beliau, bila selama ini (dalam 3 s/d 4 bulan) harus bolak-balik Ponorogo-Jombang-Ponorogo, berangkat jam 10 atau 11 malam, sampai Arrisalah lagi menjelang atau sesudah subuh untuk ta’lim dan berbagai tugas pondok yang lain.

 

Nasehat Beliau untuk saya: “Kita tidak boleh takut, semua sudah ditata Allah. Pasti Allah punya jalan terbaik bagi perjuangan ini. Jaga idealisme kamu dan kesehatan kamu! Bilang ke Bapak dan Ibunya situ; jangan terlalu memaksa diri kalau belum sehat benar. Sampaikan salam saya untuk orang-tua!”

Sambil tertunduk saya jawab: “Injih Pak Kiai. Mohon Antum jaga kesehatan, jangan terlalu memaksa diri juga nggeh Tadz! Saya mohon maaf kalau tidak bisa menepati janji untuk bisa kontrol gula darah Antum tiap pagi. Mohon maaf ya Tadz….!”

 

“Tugas-tugas pokok Antum sudah semua?”

“Sampun Tadz! Pamit injih Tadz!”

“Iya-iya… Hati-hati di jalan! Yang sabar!”

“Injih Tadz!”

 

Saya ciumi tangan zuhud itu, saya peluk Beliau, saya ciumi pipi dinginnya. Maaf, baru kali ini saya bisa memeluk beliau selama dan dengan perasaan seperti ini.

Lekas sehat Kiaiku, Guruku, Bapakku! Maaf saya harus khidmah ke orang tua untuk sementara di saat liburan ini. Terimakasih telah berkenan mendampingi dan mengawal perjalanan dlahir-bathin saya selama ini. Telah berkenan menularkan cahaya dan semangat perjuangan ini kepada saya. Terimakasih telah berjalan dengan gagah di tengah “mendung sakitmu”. Terimakasih telah mengijinkan saya menularkan kekuatan ini ke “mendung orang tua saya” di Jombang nanti. Terimakasih!

Iklan
%d blogger menyukai ini: