KONSEP DHARURAT DAN APLIKASINYA DALAM RANAH HUKUM KONTEMPORER

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu Ushul Fiqh adalah salah satu ilmu perangkat dasar yang harus dimiliki oleh ahli hukum Islam yang hendak melakukan istimbath hukum Islam, dalam arti mencoba mengetahui maksud Allah yang terdapat dalam al-Qur’an.
Di sisi lain permasalahan keagamaan yang dihadapi ummat semakin lama semakin beragam, hingga tingkatan dimana orang terdahulu sebelumnya bisa jadi menganggap apa yang terjadi hari ini merupakan sihir, perbuatan syetan, dll. Secara kasuistik, Islam dituntut berperilaku menjaman sebab ia memiliki ruang harus mampu menjawab berbagai perkembangan permasalahan yang muncul.
Bagaimana menentukan arah kiblat saat di bulan, bagaimana cara shalat bagi astronot atau kosmonot, belum lagi “hanya” menghukumi SMS, kuliah virtual, upload data dan mendownloadnya. Perkembangan dunia perbankkan, transplantasi organ tubuh, merubah bentuk hingga merubah kelamin adalah “keajaiban” teknologi masa kini yang tidak mungkin ditemui dimanuskrip manapun dalam khazanah Islam. Tapi sekali lagi semua itu butuh jawaban.
Islam sebagai agama yang up-to-date selalu dituntut untuk bisa memecahkan berbagai permasalahan ummat, apapun yang terjadi. Konsep dharurat adalah salah satu pintu agama Islam yang mampu menjawab berbagai dilemma yang mendera ummat. Dengan dharurat Islam bisa tetap dilaksanakan, dikawal bahkan tetap selalu diyakini. Sebagaimana telah ditetapkan ulama’ usul bahwa Islam menjaga 5 (lima) pilar utama agama yang sekaligus menjadi penyangga utama kemaslahatan ummat yang lebih dikenal dengan menjaga agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan.
Namun banyak kalangan yang menganggap enteng standar yang harus ditempuh untuk mencapai tingkatan dharurat, hingga mudah menjatuhkan diri pada keharaman. Makalah ini ditulis dalam rangka memperjelas konsep dharurat, dalil-dalil Qur’an dan sunnah, syarat-syaratnya, hikmah yang terkandung di dalamnya, dengan disertai contoh-contoh actual yang terjadi di tengah-tengah ummat.

B. Tujuan Pembahasan
Tujuan dari pembahasan ini adalah:
1. Mengetahui pengertian Dharurat
2. Mengetahui dalil-dalil yang digunakan dalam penerapan prinsip pembolehan sesuatu yang haram pada masa darurat
3. Mengetahui syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menetapkan kondisi dharurat
4. Mengetahui wilayah terapan kajian dharurat dalam usul fiqh
5. Mengetahui korelasi dharurah dengan istihsan
6. Mengetahui korelasi dharurah dengan mashadiru asy-syari’ah
7. Mengetahui hikmah penerapan prinsip pembolehan sesuatu yang haram pada masa darurat dengan mengangkat beban kesulitan dalam syari’at Islam dengan menyandarkan pada 5 (lima) aspek yang harus dijaga dalam beragama.
8. Mengetahui batasan dharurat dan batasan kondisi yang membolehkan perbuatan dharurat.
9. Mengetahui contoh-contoh kasus kontemporer yang menggunakan prinsip dharurat.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Dharurat
1. Pengertian dharurat secara bahasa.
Abu Lewis berpendapat, kata dharurah (الضرورة) berasal daeri kata (الضرر) dengan mengartikannya sebagai hajat (الحاجة) atau kebutuhan seseorang, maka ia memberikan arti dalam jumlah (الضرورات تبيح المحظورات) yang ia terjemahkan sebagai hajat seseorang karena keterpaksaannya untuk melakukan perbuatan atas perkara yang sebelumnya terlarang.
Menurut Al-Jaziri dharurat adalah ism mustaqqah dari (الضرر) yang berarti sesuatu yang turun dan tidak memiliki penolak baginya.
Ibnu Mandhur berpendapat, bahwa kondisi dharurat adalah butuhnya sesuatu atas keberadaan yang lain. Hingga ia mengartikan dharurat sebagai hajat yang sangat dibutuhkan. Dan dharurah dipandang sebagai kalimat mubalaghah dari ism dharar.
Abu Manshur Muhammad bin Ahmad Al-Azhary dalam kitab Tahdzibu-l-Lughah menyatakan bahwa dharurah adalah ism mashdar dari al-idlthirar yang berwazn (إفتعل). Huruf ta’ diganti tha’ sebab ta’ tidak sesuai dalam pengucapannya bila digabungkan dengan dlath, maka yang asalnya (إضترار) menjadi (الإضطرار).
Dan (الإضطرار) diartikan sebagai hajat atas sesuatu, atau diartikan oleh Ibnu Faris sebagai hajat.

Adapun (الضروري) diartikan sebagai apapun yang di dalamnya mengandung hajat, yang merupakan lawan kata dari (الكمالي).
2. Pengertian dharurat secara syara’.
Bila mencermati sekian banyak refrensi dan kajian keIslaman yang membahas dharurat, maka penulis mengklasifikasikannya menjadi beberapa bagian berikut ini:
a. Pengertiannya ditinjau dari pembahasan Fiqh
1. Sumber hukum yang berlaku naql: al-Qur’an, as-Sunnah. maka pokok bahasannya: hukum syari’at.
2. Sumber hukum yang berlaku aql: mashalih mursalah yang di dalamnya terkandung tujuan dan sasaran penerapan syari’at Islam, maka pokok bahasannya: pemberlakuan keumuman perundangan Islam, berbagai masalah keagamaan, serta berbagai peristiwa yang dialami ummat.
Karena dominasi pemikiran ulama’ fiqh Islam dalam pewacanaan, fatwa dan keputusan yang mereka hasilkan dalam urusan di atas , maka fiqh ini lebih dikenal sebagai dharurah fiqhiyyah. Yang dikemudian hari menelorkan berbagai karya besar fiqh Islam seperti karya (نظرية الضرورة الشرعية في الفقه الجنائي الإسلامي) karangan Dr. Wahbah Zuhaily.
Abdul Wahab Ibrahim Abu Sulaiman menarik kesimpulan, bahwa dharurat: konsep dharurat yang berkaitan dengan kewajiban, dharurat yang berkaitan dengan efek pemberlakuan syari’at Islam, sehingga tujuan utamanya adalah terselenggaranya syari’at Islam secara menyeluruh.

b. Menurut al-mufassirin al-ushuliyyin
Landasan utama para ulama ushul dalam perkara ini adalah ayat Allah SWT:
         •               •    
        •       •                                                •   
Dari ayat-ayat di atas timbulah beberapa pernyataan mereka, bahwa kondisi dlarurat ditentukan oleh:
1. Kelaparan yang sangat, saat itu seorang muslim tidak mampu mengusahakan makanan yang halal, maka saat itulah diberlakukan baginya kondisi dharurat.
2. Tidak adanya niatan mengkonsumsi yang haram, kecuali untuk mempertahankan hidupnya.
Maka kedua kondisi dasar atas dlarurat inilah yang menjadi pedoman al-Fakhrurrazi dan Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurtuby dalam menetapkan kaedah dharurat bagi mereka.
Al-Hamawy dalam hasyiyahnya atas al-Asybah wa-n-Nadlair karangan Ibnu Hazm: “sampainya batas hukum atas tindak sesuatu perkara hingga tidak bisa dihukumi haram atasnya, sebab dikhawatirkan akan jatuh pada kebinasaan (baca: kematian) atau mendekati kebinasaan.”
Abu Bakar al-Jashshsah berpendapat: “Kondisi dharurat diartikan sebagai kondisi yang membahayakan diri atau anggota bagian badan yang lain bila meninggalkan makan (walaupun dengan makanan haram).”
Ad-Dardiry berpendapat dalam asy-Syarh ash-Shaghir: “Upaya penjagaan diri dari kebinasaan yang disebabkan besarnya bahaya yang mengancam.”
Sebagian penganut Madzhab Imam Malik yang tercantum dalam Hasyiyah ad-Dasuqy atas Asy-Sarh al-Kabir berpendapat bahwa dharurat upaya penjagaan diri dari kebinasaan yang ada, baik itu nyata atau baru prasangka.
Imam as-Suyuti berpendapat dalam al-Asybah wa-n-Nadlair, bahwa dharurat diartikan sebagai kondisi sampainya batas hukum atas tindak sesuatu perkara hingga tidak bisa dihukumi haram atasnya, sebab dikhawatirkan akan jatuh pada kebinasaan (baca: kematian) atau mendekati kebinasaan.”
Abdul Wahab Ibrahim Abu Sulaiman menegaskan pengertian dharar dalam pengertian usul sebagai penyakit atau bahaya yang tidak memiliki efek bila mendiamkannya, maka ia menilai siapapun yang mendiamkannya bernilai ibadah. Dan mengartikan mudhthar sebagai keterpaksaan yang mengharus penghilangannya secepat mungkin, dengan permisalan takutnya seseorang akan jatuh dalam bahaya yang lebih besar sebab ketiadaan makanan atau ada tapi haram di tengah kelaparan yang sangat.
Dharar menurut Ibnu Rajab diartikan sebagai illat hukum yang diakui syara’ hingga muncullah akibat hukum yang ditimbulkan bila bahaya tersebut menimpa.
Al-Khisyany mengartikan dharar sebagai sesuatu yang memiliki manfaat bagimu namun membahayakan orang lain dengan kata lain “engkau yang membahayakan, orang lain yang terkena bahaya”. Ada juga dharar yang membahayakan dirimu yang disebabkan orang lain. Kedua bentuk dharar di atas telah disepakati oleh para fukaha’ untuk diharamkan.
Abu Ishaq Asy-Syatiby menegaskan ketidmungkinan menyatunya pembebanan yang memberatkan dalam amal mukallah, menurutnya ini adalah manifestasi dari tujuan permberalkuan syari’at.
Maka bisa disimpulkan bahwa dharurat adalah kondisi terpaksa yang menjadikan seseorang melakukan sesuatu yang memiliki hukum dasar/awal haram yang ditujukan menolak bahaya yang mengancam jiwanya. Sebab Bahaya adalah kondisi yang bertentangan dengan maqashidu-sy-syariah yang lima: menjaga agama, menjaga diri, menjaga kehormatan, menjaga akal dan menjaga harta. Namun upaya penerapan kondisi dharurat harus memiliki standar; baik secara tujuan atau kejadian yang berlangsung yang menuntut diberlakukannya kondisi dharurat dengan landasan keyakinan atau kebiasaan yang lazim di masyarakat. Dharurat harus diterapkan dalam posisi tidak sang pelaku sebenarnya tidak menghendaki perbuatan tersebut atau faktor keterpaksaan yang nyata.

B. Dalil-dalil yang digunakan dalam penerapan prinsip pembolehan sesuatu yang haram pada masa darurat.

Berikut ini dalil-dalil al-Qur’an yang memberikan fleksibilitas pelaksanaan syari’at sesuai dengan kemampuan mukallaf namun tetap menjaganya agar tidak melampaui batas:
1. Dalil-dalil dari al-Qur’an
    •                               ••     •         • 
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.”

                         •                      •         •          •              
“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, Makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. tidak ada halangan bagi kamu Makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.”
                             
“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka Berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
                                             •           
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.”
                                         
“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu) , dan penuhilah janji Allah . yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.”
           •                                                   •    •   •     
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”
                             
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”
        ••                                        
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
      
“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Yang bisa dipahami adalah bahwa kerahmatan atau kasih saying pastilah bebas dari pembebanan yang berlebih dan menyulitkan/haraj, bila diamati secara cermat, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Islam memberikan rasa kaerahmatan dengan mengangkat haraj dari segala bentuk ibadah dengan tanpa menghilangkan kewajiban utama hamba dalam beribadah. Hal ini dengan menakar beban agar tidak melampaui batas kemampuan seseorang dalam mengemban apa yang menjadi kewajibannya dalam beribadah.
         •               •    
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah . tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kata “gairu baghin” mengandung pengertian dalam memakan sesuatu yang diharamkan tidak dalam kondisi menikmati atau mencari kenikmatan, namun hanya pada batasan kenyang. Mujahid dan Ibnu Jabir perpendapat bahwa kaum muslimin yang berada pada kondisi “gairu baghin”/kondisi atau keadaan abnormal adalah kondisi menghadapi perampok, menghadapi pemberontak, kondisi safar/perjalanan.
Al-Qurtuby berpendapat bahwa secara bahasa asal kata al-baghin berarti al-fasad (yang berarti kerusakan, pelacuran). Ia menambahkan bahwa ibahah/pembolehan yang diberikan Allah ta’ala untuk mengkonsumsi sesuatu yang haram karena kondisi terpaksa dengan syarat ketiadaan yang halal untuk dikonsumsi. Namun al-Qurtuby menegaskan larangan atas berobat dengan sesuatu yang haram, ia bersandar pada hadits Nabi SAW:
إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَ أُمَّتِي فِيْمَا حُرِّمَ عَلَيْهِمْ.
“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuahan ummatku dari sesuatu yang diharamkan bagi mereka”
وَلِقَوْلِهِ عَلَيْهِ صَلاَةُ اللهِ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لِطَارِقٍ بْنِ سُوَيْدٍ وَ قَدْ سَأَلَهُ عَنِ الْخَمْرِ فَنَهَاهُ أَوْ كَرِهَ أَنْ يَصْنَعَهُ فَقَالَ: إِنَّمَا أَصْنَعُهَا لِلدَّوَاءِ، فَقَالَ: إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ وَ لَكِنَّهُ دَاءٌ.
“Sabda Rasulullah SAW bagi pertanyaan Thariq bin Suwaid tentang khamr, namun Rasulullah melarangnya dan tidak berkenan Thariq membuat khamr, maka Thariq menerangkan: “Sesungguhnya aku menjadikannya sebagai obat.” Maka Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya khamr bukanlah obat, melainkan ia adalah penyakit.’.”

Dari hadits ini ia beranggapan bahwa hadits ini bermakna definitive atas pelarangan pembuatan khamr sebagai obat dengan diminum, maka berobat dengan sesuatu yang haram mutlak dilarang, walaupun dalam kondisi darurat, namun ia membolehkan berobat dengan mengoleskan atau menyiramkan racun, tapi tetap melarang untuk meminumnya sebagai pengobatan.
        •       •                                                •   
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah , daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya , dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah , (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Statement Allah dalam kalimat (فمن اضطر في مخمصة) memberikan pemaknaan bahwa keterpaksaan yang dimaksud adalah dalam kondisi terpaksa makan bangkai dan segala hal yang diharamkan sebab kelaparan yang mendera. Namun patut dicatat bahwa konsumsi yang dilakukan tidak melampaui batas sekedar kenyang tanpa maksud berbuat dosa.
        •          ••        •           •    
Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -karena Sesungguhnya semua itu kotor- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
             •        •       •     
“Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, Padahal Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.”

Sebagian mufassirin menafsirkan bahwa keberatan yang mendera akibat kelaparan menyebabkan seseorang mendapat keringanan agar keluar dari haraj (kesulitan) yang diaplikasikan untuk bisa mengkonsumsi sesuatu yang pada dasarnya diharamkan. Namun pagar rambu-rambu tetap dibangun agar tidak melampaui batas.
         •               
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi Barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak Menganiaya dan tidak pula melampaui batas, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Hadits Rasulullah SAW menambahkan keharaman atas makanan sebagai berikut:
حديث ابن عباس رضي الله عنهما قال: نهى رسول الله صلى الله عليه و سلّم عن كلّ ذي ناب من السباع و كلّ مخلب من الطير.
“Rasulullah SAW melarang untuk mengkonsumsi hewan liar yang bertaring, juga burung yang berjalu.”
              •           
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”
                     •     
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu ; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Berkaitan dengan ayat ini Imam Ahmad meriwayatkan:
عَن عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ قَالَ لَمَّا بَعَثَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ ذَاتِ السَّلَاسِلِ قَالَ احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ شَدِيدَةِ الْبَرْدِ فَأَشْفَقْتُ إِنْ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلَكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِي صَلَاةَ الصُّبْحِ قَالَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَا عَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ شَدِيدَةِ الْبَرْدِ فَأَشْفَقْتُ إِنْ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلَكَ وَذَكَرْتُ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا” فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا.
Darurat yang diajukan Amru bin Ash kepada Rasulullah SAW pada kasus dinginnya musim hingga menghalanginya mandi janabah karena takutnya bila sampai dinginnya air membahayakan tubuhnya jika mandi, lalu ia menggantinya dengan tayammum, dalam hal ini Rasulullah SAW tertawa dengan hujjah Amru dan tidak menyatakan apapun, artinya Beliau setuju bahwa:
 Seseorang boleh mengijtihadi tingkat darurat dengan kenyataan yang ia alami.
 Prasangka yang umum terjadi bisa dijadikan landasan pintu dharurat.
2. Dalil-dalil dari as-Sunnah
 حَدَّثَنِي يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ
 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِيَانِ الْفَزَارِيَّ عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً.
 أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ خَلِيلٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنَادِيهِمْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ.
 حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ عَنْ ابْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكَ فَقُلْتُ بَلْ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ: إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ، قُلْتُ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ
 حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ مُطَهَّرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ مَعْنِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْغِفَارِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ
 بَاب وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَسَلَمَةُ بْنُ الْأَكْوَعِ نَسَخَتْهَا شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمْ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمْ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ وَقَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي لَيْلَى حَدَّثَنَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَزَلَ رَمَضَانُ فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَكَانَ مَنْ أَطْعَمَ كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا تَرَكَ الصَّوْمَ مِمَّنْ يُطِيقُهُ وَرُخِّصَ لَهُمْ فِي ذَلِكَ فَنَسَخَتْهَا وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ فَأُمِرُوا بِالصَّوْمِ.
 حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ الْخُزَاعِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو هِلَالٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ هِلَالٍ الْعَدَوِيِّ سَمِعَهُ مِنْهُ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ عَنِ الْأَعْرَابِيِّ الَّذِي سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ خَيْرَ دِينِكُمْ أَيْسَرُهُ إِنَّ خَيْرَ دِينِكُمْ أَيْسَرُهُ.
 حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَأْثَمْ فَإِذَا كَانَ الْإِثْمُ كَانَ أَبْعَدَهُمَا مِنْهُ وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ.
 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا بِأَرْضٍ تُصِيبُنَا بِهَا مَخْمَصَةٌ فَمَا يَحِلُّ لَنَا مِنْ الْمَيْتَةِ قَالَ إِذَا لَمْ تَصْطَبِحُوا وَلَمْ تَغْتَبِقُوا وَلَمْ تَحْتَفِئُوا بَقْلًا فَشَأْنُكُمْ بِهَا.
 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا نَزَلَ الْحَرَّةَ وَمَعَهُ أَهْلُهُ وَوَلَدُهُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ نَاقَةً لِي ضَلَّتْ فَإِنْ وَجَدْتَهَا فَأَمْسِكْهَا فَوَجَدَهَا فَلَمْ يَجِدْ صَاحِبَهَا فَمَرِضَتْ فَقَالَتْ امْرَأَتُهُ انْحَرْهَا فَأَبَى فَنَفَقَتْ فَقَالَتْ اسْلُخْهَا حَتَّى نُقَدِّدَ شَحْمَهَا وَلَحْمَهَا وَنَأْكُلَهُ فَقَالَ حَتَّى أَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكَ غِنًى يُغْنِيكَ قَالَ لَا قَالَ فَكُلُوهَا قَالَ فَجَاءَ صَاحِبُهَا فَأَخْبَرَهُ الْخَبَرَ فَقَالَ هَلَّا كُنْتَ نَحَرْتَهَا قَالَ اسْتَحْيَيْتُ مِنْكَ.
 حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ بِشْرِ بْنِ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ حَجَّاجٍ عَنْ سَلِيطِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الطُّهَوِيِّ عَنْ ذُهَيْلِ بْنِ عَوْفِ بْنِ شَمَّاخٍ الطُّهَوِيِّ حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ إِذْ رَأَيْنَا إِبِلًا مَصْرُورَةً بِعِضَاهِ الشَّجَرِ فَثُبْنَا إِلَيْهَا فَنَادَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجَعْنَا إِلَيْهِ فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ الْإِبِلَ لِأَهْلِ بَيْتٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ هُوَ قُوتُهُمْ وَيُمْنُهُمْ بَعْدَ اللَّهِ أَيَسُرُّكُمْ لَوْ رَجَعْتُمْ إِلَى مَزَاوِدِكُمْ فَوَجَدْتُمْ مَا فِيهَا قَدْ ذُهِبَ بِهِ أَتُرَوْنَ ذَلِكَ عَدْلًا قَالُوا لَا قَالَ فَإِنَّ هَذَا كَذَلِكَ قُلْنَا أَفَرَأَيْتَ إِنْ احْتَجْنَا إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فَقَالَ كُلْ وَلَا تَحْمِلْ وَاشْرَبْ وَلَا تَحْمِلْ.

Maka bisa disimpulkan, bahwa kondisi dharurat adalah kondisi tidak wajar yang mengandung bahaya yang menimpa manusia padahal ia sangat menghajatkan hajat hidup dasar (makan, minum, pengobatan, dll) dalam rangka perlindungan dirinya atau orang lain, sedangkan ia tidak menemukan jalan halal yang bisa ditempuh hingga memaksanya untuk menempuh jalan yang semestinya terlarang. Hal ini juga bisa kita peroleh pada at-Tasyri’ al-Jaza’I al-Muqaran fi-l-Fiqh al-Islamy wa-l-qanun as-Surriy.

C. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menetapkan kondisi dharurat
Kondisi darurat harus memenuhi untuk syarat-syarat sebagai berikut:
1. Adanya bahaya yang mengancam keselamatan jiwa, atau harta.
Bahaya yang dimaksud harus mencapai standar ancaman keselamatan jiwa, seperti: kematian, luka yang membahayakan jiwa.
2. Arti kondisi mengancam adalah bila yang terkena bahaya tidak secepatnya menjahuinya, maka ditakutkan ia akan tertimpa bahaya yang mengancam jiwa dan hartanya.
3. Tidak ada niatan dari pelaku agar ia terjatuh dalam kondisi bahaya. Sepertihalnya orang yang menjatuhkan diri ke dalam api bersama puteranya, kemudian membunuhnya agar anak tersebut tidak merasakan panasnya api yang bisa membunuhnya bukanlah alasan pembunuhan sebab dharurat.
4. Tidak ada lagi cara atau jalan menolak bahaya kecuali dengan yang haram setelah melalui berbagai usaha dan pertimbangan yang matang.
5. Dipastikan bahwa usaha yang sedang dilakukan mengandung bahaya, artinya bahwa tidak diperkenankan bagi pelaku melampuai batasan kelaziman (dengan kesengajaan) yang berlaku bagi sebuah usaha yang aman dari bahaya, hingga ia bisa menjahui bahaya itu sendiri.
Maka bisa disimpulkan, bahwa posisi syari’ah dalam perkara dharurat persis seperti posisi sesuatu pekerjaan yang terpaksa dilakukan seseorang dengan ketidak-sukaannya terhadap pekerjaan tadi di depan syari’ah Islam atau yang lebih dikenal dengan istilah ikrah, yakni dibolehkannya mengkonsumsi (makan-minum) sesuatu yang hukum dasarnya diharamkan. Hingga menyebabkan diangkatnya hukuman bagi yang pelakunya. Namun kondisi dharurat tidak bisa diterapkan secara mutlak pada tindak criminal pembunuhan, pelukaan terhadap orang lain, dan perbuatan yang menyebabkan hilangnya anggota badan orang lain.
Ruang lingkup dharurat banyak dibahas dalam syariat Islam, baik yang menyangkut kemaslahatan personal hingga kehidupan bernegara. Hingga banyak ditemukan produk hukum syariat yang mengikat secara jelas posisi seseorang di mata hukum secara ketat, atau bahkan di sisi lain melonggarkannya bagi orang lain dalam perkara yang sama.
Imam asy-Syatiby berpendapat: “Maksud dari pensyariatan rukhsah adalah menanamkan rasa nyaman dalam beragama bagi mukallaf ketika menghadapi sesuatu yang memberatkan, memakai rukhsah dalam kondisi yang memberatkan adalah kemutalakkan. Namun bila kesulitan telah terangkat, kewajiban tersebut harus dilaksanakan sebaik-baiknya dengan penekanan yang nyata. Ia menyandarkan pernyataannya kepada ayat:
          
Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.

Adapun penyertaan masyaqqah atas sebuah pekerjaan yang tidak bisa dianggap alasan menuju pintu dharurat bisa dilihat dari perintah penyembelihan sapi betina bagi bani Israil, seberat apapun itu, pekerjaan tersebut harus dilaksanakan. Hingga tidak mungkin untuk menggantinya dengan kerbau atau binatang lain. Dalam hadits, rukhsah banyak ditemukan pada berbagai peristiwa berikut ini:
 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ وَيَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ عَتِيقٍ عَنْ طَلْقِ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ! قَالَهَا ثَلَاثًا.
 حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ الطَّوِيلُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.

Hadits terakhir menunjukkan betapa semangat para shabat Rasulullah SAW ingin mencapai tingakatan ibadah seperti beliau, hingga menjadikan siang-malamnya sebagai ladang ibadah dengan puasa tanpa berbuka, malamnya diisi seluruhnya dengan bangun malam hingga subuh, dan hendak hanya beribadah kepada Allah tanpa ada niatan menikah. Semuanya adalah bentuk ibadah, namun Allah melalui RasulNya mencegah ummatnya untuk melakukan semua itu dalam kondisi berat-memberatkan, bahkan Rasullah SAW memberikan ancaman bagi siapapun yang berusaha membebadi diri di luar apa yang menjadi petunjuk Allah dan tuntunan Rasulullah SAW dengan ancaman tidak diakui sebagai ummatnya.
Rasulullah SAW juga pernah memberikan keringanan atas beratnya ibadah yang menimpa ummatnya, seperti-halnya qashar dalam shalat dan berbuka puasa bagi mereka yang dalam perjalanan, shalat sambil duduk bagi si sakit, bahkan beliau juga mencontohkan shalat malam boleh sambil duduk bila kondisi beliau benar-benar payah, bila beliau akan rukuk, maka berdiri sejenak untuk membaca satu dua ayat untuk kemudian ruku’.
Maka dapat disimpulkan bahw Sebab-sebab timbulnya keringanan adalah:
c. Bepergian
d. Sakit
e. Terpaksa
f. Lupa
g. Kebodohan
h. Kurang mampu
i. Kesukaran

Sedangkan macam-macam keringanan bisa diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Keringanan pengguguran
b. Keringanan pengurangan
c. Keringanan pengganti
d. Keringanan mendahulukan
e. Keringanan mengakhirkan
f. Keringanan kemurahan
g. Keringanan dengan perubahan.

D. Wilayah terapan kajian dharurat dalam usul fiqh
1. Kesukaran itu menarik kemudahan (الضرر يزال)
Contoh:
 Apabila sulit baginya shalat berdiri dalam shalat wajib boleh baginya duduk, demikian juga bila sulit duduk boleh berbaring
 Apabila sulit menggunakan air, maka boleh baginya tayamum
 Apabila sulit menghilangkan najis maka dimaafkan, seperti bekas najis yang sulit hilangnya
 Berkata Imam Syafi’I: Apabila perempuan hilang dari walinya dalam safar kemudian diserahkan urusan itu kepada seorang laki-laki, maka boleh
 Bijana yang dibuat campur najis boleh berwudhu padanya

2. Sesuatu itu bila sempit menjadi luas. Sesuatu itu bila luas menjadi sempit (إذا اتسعت ضاقت)
Contoh:
 Sedikit amal (dalam shalat ketika terpaksa misalnya menggaruk karena gatal diperbolehkan, dan banyaknya amal ketika tidak perlu, maka tidak boleh
 Apabila air berubah dengan warna lumut maka itu suci, adapun jika seseorang merubahnya maka itu tidak membersihkan
3. Kemadharatan itu harus dilenyapkan (لا ضرر و لا ضرار)
قال الله تعالى: إن الله لا يحب المفسدين (القصص: 77)
Sungguh Allah itu tidak suka pada yang membuat kerusakan.
قال الله تعالى: إلا من أكره و قلبه مطمئن بالإيمان (النحل: 106)
Kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap tenang dengan iman
Contoh:
 Pembeli boleh memilih barang karena adanya cacat
 Boleh membatalkan pernikahan karena adanya aeb
 Boleh perempuan memutuskan nikah karena suami menyulitkan
 Dibolehkan membuat organisasi, kehakiman, beladiri, kishas dan garansi, untuk menghilangkan kemadharatan
4. Kemadharatan tidak dapat hilang dengan kemadharatan (الضرورة لا يزال بالضرر)
Contoh:
 Orang yang madharat tidak dapat memakan makanan yang madharat lain
 Boleh tetap diam di atas orang yang luka, jika ia pindah akan mati yang lain
 Jika uang logam masuk botol dan tidak bisa keluar kecuali dengan dipecahkan, maka ia memilih salah satunya.
5. Kemadharatan membolehkan yang terlarang (الضرورة تبيح المحظورات)
Contoh:
 Boleh makan bangkai dan daging babi ketika terpaksa, dan minum khamer karena tersesak.
 Boleh mengucapkan lafad kekufuran karena terpaksa.
 Boleh mengambil harta yang punya utang karena tidak mau bayar.
 Boleh makan apa yang diperlukan, karena makanan haram sudah menjadi umum.
 Boleh menggali kuburan karena mayit belum dikapani. tidak ada haram karena darurat dan tidak ada makruh karena hajat / perlu.

6. Apa yang diperbolehkan karena darurat, hendaklah diukur dengan ukurannnya
(ما أبيح للضرورة يقدّر بقدرها)
Contoh:
 Tidak boleh yang darurat makan yang diharamkan kecuali sekedar memenuhi rasa lapar.
 Menegur orang dengan cara sindiran, dipandang cukup, dan tidak boleh pindah dengan cara yang lebih kasar. Dan jika cukup satu kali teguran, tidak boleh untuk yang ke dua kali
 Seorang dokter bermaksud memeriksa orang sakit yang bukan muhrim, hendaklah menutupi semua auratnya, tidak membukanya, kecuali yang diperlukan
 Tidak boleh mengawinkan orang gila lebih dari satu kali karena adanya hajat
7. Hajat (keperluan) kadang menempati tempat darurat (الحاجة قد تنـزل منزلة الضرورة)
Contoh:
 Diperbolehkan Ji’alah = menjanjikan upah atau hadiah kepada yang berjasa, karena diperlukan orang banyak
 Diperbolehkan Hawalah = memindahkan kewajiban membayar utang kepada orang lain / bayar utang dengan utang, karena diperlukan
 Boleh melihat perempuan yang bukan muhrim, karena khitbah atau mu’amalat
 Boleh tengah sawah dan sewa sawah karena keperluan dalam kehidupan

E. Korelasi dharurah dengan istihsan
Penulis melihat arti penting korelasi dharurah dengan istihsan sebagai dua metode istimbat hukum Islam yang erat, hal ini bisa dilihat dari keterangan dibawah ini:
Istihsan menurut ahli usul diartikan sebagai ibarah yang menghajatkan tarjih dari dua pilihan aspek hukum yang sama-sama memiliki dalil, maka ahli usul lebih mengedepankan dalil hukum dharurah sebagai pijakan pertama dibanding dalil tasyri’ ‘amm.
Ibnu al-‘Araby menyatakan pembolehan meninggalkan dalil sebab istisna’, dan memberikan rukhsah atas perkara yang lebih urgen di mata hukum. yang pada akhirnya menempatkan istihsan sebagai langkah pemilihan amal dari keberadaan dalil yang paling kuat di antara dua dalil yang bertentangan. Begitulah akhirnya al-Hanafiyah menempatkan dharurat sebagai landasan utama istihsan yang ia yakini yang diikuti oleh Ibnu al-‘Araby.
Bisa diambil kesimpulan bahwa -setelah al-Qur’an, as-sunnah, dan ijma’- dharurat yang memiliki keterikatan yang erat dengan istihsan menjadikannya menempati posisi vital hingga bisa diposisikan sebagai dalil usul, dalil ‘aqly dan dalil mustaqil, hal ini disebabkan ia memiliki posisi tawar yang sangat kuat dalam menentukan istihsan setelah melalui seleksi kekuatan antara dua dalil.

F. Korelasi dharurah dengan mashadiru asy-syari’ah
Sebagaimana diketahui bersama, bahwa al-Qur’an dan as-sunnah sebagai sumber hukum Islam (mashadir asy-syari’ah) secara explicit banyak berbicara mengenai kondisi dharurat, hal ini banyak dijumpai pada kondisi keterpaksaan yang akhirnya menjadikan dharurah sebagai wacana hukum yang memiliki posisi tawar hukum yang sangat kuat disbanding lainnya (wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram).
Ahli usul sepakat untuk mengedepankan kondisi dharurat di atas aspek hukum Islam yang lima di atas. Hal ini banyak tercermin di ayat-ayat Qur’an dan hadis berikut ini:
1. Contoh kasus pandahuluan dharurat dalam al-Qur’an
         •               •    
        •       •                                                •   

2. Contoh kasus pandahuluan dharurat dalam As-sunnah
 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا بِأَرْضٍ تُصِيبُنَا بِهَا مَخْمَصَةٌ فَمَا يَحِلُّ لَنَا مِنْ الْمَيْتَةِ قَالَ إِذَا لَمْ تَصْطَبِحُوا وَلَمْ تَغْتَبِقُوا وَلَمْ تَحْتَفِئُوا بَقْلًا فَشَأْنُكُمْ بِهَا.
 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا نَزَلَ الْحَرَّةَ وَمَعَهُ أَهْلُهُ وَوَلَدُهُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ نَاقَةً لِي ضَلَّتْ فَإِنْ وَجَدْتَهَا فَأَمْسِكْهَا فَوَجَدَهَا فَلَمْ يَجِدْ صَاحِبَهَا فَمَرِضَتْ فَقَالَتْ امْرَأَتُهُ انْحَرْهَا فَأَبَى فَنَفَقَتْ فَقَالَتْ اسْلُخْهَا حَتَّى نُقَدِّدَ شَحْمَهَا وَلَحْمَهَا وَنَأْكُلَهُ فَقَالَ حَتَّى أَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكَ غِنًى يُغْنِيكَ قَالَ لَا قَالَ فَكُلُوهَا قَالَ فَجَاءَ صَاحِبُهَا فَأَخْبَرَهُ الْخَبَرَ فَقَالَ هَلَّا كُنْتَ نَحَرْتَهَا قَالَ اسْتَحْيَيْتُ مِنْكَ.

G. Dharurat sebagai dalil maslahah mursalah
Kemaslahatan ummat adalah urusan yang sangat dikedepankan Islam dan pensyari’atan hukum bagi mereka. Bila aspek kemaslahatan dikesampingkan, maka tujuan penegakan syariat yang lima akan sirna.
Badruddin Muhammad az-Zarkasyi menekankannya dikarenakan kemaslahatan dimaksudkan untuk menciptakan terwujudnya penegakan syariat dengan mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh siapapun.
Dan tujuan penegakan syariat yang dimaksud adalah keterjagaan agama, jiwa, akal, nasab, dan harta.
Penulis melihat permasalahan yang dihadapi ummat tidak hanya seputar makan, minum atau berobat dari penyakit sebagaimana sumber dasar dharurat yang telah dibahas, seluruh aspek kehidupan ummat sangat mungkin untuk menciptakan peluang untuk terjadinya dharurat, baik ekonomi, politik, social, budaya, pertahanan atau keamanan kamunitas muslim dalam keseharian mereka. Maka membatasi penerapan dharurat pada ranah makan, minum dan pengobatan saja adalah pengebirian dharurat dari peran sertanya dalam aspek-aspek di atas yang sangat vital.
Penulis mendukung konsep penerapan dharurat sebagai salah satu dalil mashalih mursalah yang digagas para ulama usul, sebab mashalih mursalah memiliki wilayah cakupan hukum yang bisa menjamah semua lini maqasid syari’ah.

H. Hikmah penerapan prinsip pembolehan sesuatu yang haram pada masa darurat dengan mengangkat beban kesulitan dalam syari’at Islam dengan menyandarkan pada 5 (lima) aspek yang harus dijaga dalam beragama.
Sesungguhnya hikmah dari pembolehan dari sesuatu yang hukum dasarnya diharamkan dalam kondisi dharurat adalah dalam rangka memudahkan mukallaf untuk tetap bisa menjalankan perintah agama, sebab syari’at ditancapkan agama Islam dalam rangka kemaslahatan pemeluknya dengan menempatkannya setelah penghambaannya terhadap Allah Tuhan semesta alam, karena sesungguhnya hikmahNya dan ilmuNya dari yang ghaib yang mengandung kerahmatan dengan penerapan pemaksaan perbuatan atas mukallaf dan peringanan atasnya sebab adanya keterpaksaan yang menimpa manusia.

Posisi hikmah penerapan dharurat dibagi menjadi 3 bagian berikut:
1. Adl-Dlarury
Dharury yang dimaksud adalah sejalan dengan maqasid syariah yang lima sebagaimana tercantum dalam muwaffaqat fi-l-Usul berikut ini:
a. Maka barangsiapa berusaha menjaga keberlangsungan agama atas dirinya berarti ia telah menjaga agama yang sesungguhnya dengan menyegerakan diri dalam ibadah. Hal ini dilakukan dalam rangka menjaga mensucikan diri dan kemuliaan agama. Kemaslahatan manusia yang dijamin agama Islam yang kesemuanya dikembalikan pada tujuan kemaslahatan penegakan syariat agama Islam yang 5 (lima): menjaga kehormatan agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan. Penjaminan atas keberlangsungan 5 kemaslahatan diatas benar-benar menjadi ruh keberagamaan yang mulia bagi hamba dalam ajaran Islam, maka diharuskan bagi setiap muslim untuk menempuh jalan keselamatan dalam beragama.
b. Penjagaan bagi diri/jiwa dalam bergama adalah penjagaan dari segala mara-bahaya hingga menuju kehidupan yang terhormat dan mulia. Maka dalam penjagaan jiwa ini seorang muslim dituntut untuk mampu menjauhkan diri dari segala macam kekjian seperti pembunuhan, penghilangan anggota tubuh dan pelukaan atas diri sendiri atau orang lain. Semua ini diharapkan bisa menghadirkan kermuliaan kehidupan bagi sekalian manusia, walapun di sisi lain Islam sangat menghormati kebebasan bekerja, kebebasan, berfikir dan kebebasan berpendirian, namun hal ini tidak boleh melampaui batasan hingga menciderai lima kemuliaan yang dijaga Islam sebagaimana disebutkan di atas. Sebab semua kebebasan tersebut diberikan juga dalam rangka menciptakaan kemuliaan bagi kehidupan semesta.
c. Penjagaan atas kemuliaan akal dikedepankan dalam rangka melindunginya dari segala hal yang merusak yang membawa pemilik akal terjerembab dalam kenistaan yang pada akhirnya juga akan menyesatkan pemilikinya dan orang lain yang berusaha dia pengaruhi agar mengikuti kebabasan akal yang ia anut tanpa aturan. Penjagaan atas akal diberlakukan untuk menjaga 3 (tiga) hal penting dalam Islam:
 Menjaga komunitas muslim agar tidak terjatuh dalam pola piker sesat hingga tetap mampu membedakan yang baik dan yang buruk.
 Menjaga siapapun yang telah tercemar pola pikirnya agar tidak lebih jauh menyimpang, dan diharapkan ia bisa kembali mengalami penyadaran dengan apa yang telah ia lakukan selama ini dengan pola pikirnya yang keliru.
 Menjaga mereka yang telah sesat pola pikirnya agar tidak menularkan kepada kemunitas muslim yang lain, dan memberikan penyadaran yang benar dengan agama hingga mampu menuju pintu hidayah sebagaimana komunitas muslim yang dikehendaki oleh Allah SWT, Sang Pemilik akal, dan segenap apa yang menjadi wilayah yang dipikirkan oleh akal manusia.
d. Penjagaan diri atas nashl/keturunan diharapkan mampu menajaga keturunan muslimin untuk menjadi generasi yang mampu memanggul tanggungjawab agama dan menyebarkan Islam secara kaffah dengan tidak tercampurnya nasab mereka dengan kehinaan yang disebabkan perzinaan yang hina.
e. Penjagaan atas harta diharapkan mendatangkan keamanan atas harta, ketentraman bagi pemilik, pemerataan bagi yang miskin dan fakir. Hingga harta tidak menjadi fitnah dunia, namun bisa menjelma menjadi kekuatan dakwah yang membawa pemilik dan agamanya menuju kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. Di dalamnya adalah pewajiban zakat, anjuran sedekah, larangan mencuri, mengemis dan ancaman bagi siapapun yang menyia-nyiakan harta.
5 (lima) maqasid-s-syari’ah di atas menjadi ikon Islam dalam menciptakan dan menjaga kemuliaan ummat manusia hingga apapun produk hukum dan aturan yang timbul akibat pentasyri’an selalu mengacu kepadanya. Namun hal ini tidak menutup secara kaku keluwesan Islam dalam menciptakan keadilan pada umatnya dan penganut agama lain bila menghadapi kondisi dan posisi keterpaksaan, di sinilah peran penting konsep dharurat harus dicermati secara seksama, benar, memiliki akurasi analisa yang tepat hingga tidak menjadikannya ‘senjata’ untuk berkelit melanggar aturan baku. Dan menghindarkan tindakan semau selera manusia tanpa melihat rambu-rambu yang ada.
2. Al-Hajyy
Adalah kondisi yang mencerminkan hajat tidap pada posisi dharurat.
3. At-Tahsiny
Ia terbagi menjadi dua konsep:
a. Aspek pertama
Yang selalu menekankan untuk mendahulukan pencegahan kerusakan, anjuran penegakan kehornatan, anjuran berakhlak mulia, dll.
b. Aspek kedua
Yang lebih membahas nilai kepatutan dalam tindak hukum, sebagaimana tidak mungkin anak memaksa mewakili bapaknya padahal bapak sehat.

I. Contoh-contoh kasus kontemporer yang menggunakan prinsip dharurat.
1. Penetapan waktu shalat dan puasa di negara yang memiliki garis azimuth atas bumi yang tinggi
Patut diketahui bahwa posisi azimuth bumi yang digunakan dalam penentuan awal waktu shalat terbagi menjadi 3 bagian:
a. Belahan bumi yang memiliki waktu malam yang panjang atau kebalikannya dengan waktu siang yang panjang 24 jam atau lebih sesuai putaran tahun yang berlaku (seperti kutub utara atau selatan). Maka kedharuratan waktu yang demikian bisa dijarikan jalannya dengan menginduk kepada tempat yang terdekat yang memiliki panduan waktu shalat yang tidak terdominasi waktunya 24 secara penuh dengan siang atau malam saja.
b. Belahan bumi yang memiliki waktu ghurub yang sangat dekat dengan syuruqnya matahari (seperti Belanda, Swiss, Purtugal, sebagian wilayah Turki, dll), yang mengakibatkan waktu isya’ sangat amat dekat dengan maghrib dan subuh sangat dekat dengan tulu’, maka aturan waktu shalat/puasa yang berlaku disesuaikan dengan kondisi waktu yang berlaku di tempat tersebut.
c. Yang terakhir adalah belahan bumi yang memiliki waktu siang malam yang berimbang (seperti Indonesia, Saudi Arabia, Mesir, dll), hingga ketepatan waktu shalat dan puasa tidak menjadi halangan.
2. Pelemparan jumrah setelah pertengahan malam lailatun an-nahr
Sebagaimana diketahui bahwa pelemparan jumrah telah memiliki ketentuan waktu yang tetap, namun pada kondisi tertentu pelemparan jumrah sering kali menjadi sebab timbulnya korban jiwa karena ummat Islam berdesakan diwaktu yang sama, mengingat penjagaan atas jiwa menjadi prioritas tujuan pelaksanaan syariat Islam, maka dibolehkan pelemparannya dilakukan pertengahan malam dari lailatunnahr.
3. Cangkok organ tubuh dengan anggota tubuh hewan yang najis
Bila kadar kedaruratan pencakokan organ tubuh hewan najis (semisal hati, atau katub jantung babi) kepada muslim telah mencapai kadar yang mengharuskan seseorang mencangkokkannya (terancamnya jiwa muslim yang sakit, analisa medis yang memastikan tidak tersedianya organ tubuh manusia kecuali organ babi), maka dibolehkan melakukannya untuk menyelamatkan jiwa.
4. Mendonorkan salah satu ginjal di saat pendonor masih hidup
Bila pendonor telah wafat, sebgian besar ulama fiqh sepakat untuk membolehkan donor organ tubuh, namun di saat pendonor masih hidup hanyalah kondisi dharurat yang bisa menjadikan larangan membahayakan diri dengan mendonorkan sebagian ginjalnya kepada orang lain sebagai langkah penyelamatan jiwa bagi sisakit yang gagal ginjal.
5. Meninggalkan hukum potong tangan bagi pencuri di negara yang tidak berhukum Islam seperti Indonesia
Penegakan hukum Allah di muka bumi ini adalah kewajiban bagi setiap muslim. Namun di Inonesia sebagai contoh kasus sebagai negara yang belum menegakkan hukum Islam dan menganut KUHP sebagai landasan hukumnya, menjadikan potong tangan sebagai keputusan hukum bagi pencuri, malah akan mendatangkan bahaya lain yang lebih banyak; dipenjaranya penghukum potong tangan yang disebabkan tidak adanya landasan hukum yang berlaku, timbulkan Islam phobia bagi mereka yang baru mengenal Islam, bahkan ditakutkan akan melarikan diri dari Islam sebab lemahnya pengetahuannya terhadap Islam.
Dalam kondisi demikian, penegakkan hukuman potong tangan bagi pencuri bisa ditunda pemberlakuannya secara dharurat.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
B.
a. Pengertian Dharurat
Pengertian dharurat secara bahasa.
Abu Lewis berpendapat, kata dharurah (الضرورة) berasal daeri kata (الضرر) dengan mengartikannya sebagai hajat (الحاجة) atau kebutuhan seseorang, maka ia memberikan arti dalam jumlah (الضرورات تبيح المحظورات) yang ia terjemahkan sebagai hajat seseorang karena keterpaksaannya untuk melakukan perbuatan atas perkara yang sebelumnya terlarang. Abu Manshur Muhammad bin Ahmad Al-Azhary dalam kitab Tahdzibu-l-Lughah menyatakan bahwa dharurah adalah ism mashdar dari al-idlthirar yang berwazn (إفتعل). Huruf ta’ diganti tha’ sebab ta’ tidak sesuai dalam pengucapannya bila digabungkan dengan dlath, maka yang asalnya (إضترار) menjadi (الإضطرار). Dan (الإضطرار) diartikan sebagai hajat atas sesuatu, atau diartikan oleh Ibnu Faris sebagai hajat. Dan (الضروري) diartikan sebagai apapun yang di dalamnya mengandung hajat, yang merupakan lawan kata dari (الكمالي).
Pengertian dharurat secara syara’.
Dharurat adalah kondisi terpaksa yang menjadikan seseorang melakukan sesuatu yang memiliki hukum dasar/awal haram yang ditujukan menolak bahaya yang mengancam jiwanya. Sebab bahaya adalah kondisi yang bertentangan dengan maqashidu-sy-syariah yang lima: menjaga agama, menjaga diri, menjaga kehormatan, menjaga akal dan menjaga harta. Namun upaya penerapan kondisi dharurat harus memiliki standar; baik secara tujuan atau kejadian yang berlangsung yang menuntut diberlakukannya kondisi dharurat dengan landasan keyakinan atau kebiasaan yang lazim di masyarakat. Dharurat harus diterapkan dalam posisi tidak sang pelaku sebenarnya tidak menghendaki perbuatan tersebut atau faktor keterpaksaan yang nyata.
2. Dalil-dalil yang digunakan dalam penerapan prinsip pembolehan sesuatu yang haram pada masa darurat.
Dalil-dalil dari al-Qur’an
                         •                      •         •          •              
                             
                                             •           
         •               •    
Kata “gairu baghin” mengandung pengertian dalam memakan sesuatu yang diharamkan tidak dalam kondisi menikmati atau mencari kenikmatan, namun hanya pada batasan kenyang. Mujahid dan Ibnu Jabir perpendapat bahwa kaum muslimin yang berada pada kondisi “gairu baghin”/kondisi atau keadaan abnormal adalah kondisi menghadapi perampok, menghadapi pemberontak, kondisi safar/perjalanan.
Al-Qurtuby berpendapat bahwa secara bahasa asal kata al-baghin berarti al-fasad (yang berarti kerusakan, pelacuran). Ia menambahkan bahwa ibahah/pembolehan yang diberikan Allah ta’ala untuk mengkonsumsi sesuatu yang haram karena kondisi terpaksa dengan syarat ketiadaan yang halal untuk dikonsumsi. Namun al-Qurtuby menegaskan larangan atas berobat dengan sesuatu yang haram, ia bersandar pada hadits Nabi SAW:
إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَ أُمَّتِي فِيْمَا حُرِّمَ عَلَيْهِمْ.
              •           
                     •     
Berkaitan dengan ayat ini Imam Ahmad meriwayatkan:
عَن عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ قَالَ لَمَّا بَعَثَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ ذَاتِ السَّلَاسِلِ قَالَ احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ شَدِيدَةِ الْبَرْدِ فَأَشْفَقْتُ إِنْ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلَكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِي صَلَاةَ الصُّبْحِ قَالَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَا عَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ شَدِيدَةِ الْبَرْدِ فَأَشْفَقْتُ إِنْ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلَكَ وَذَكَرْتُ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا” فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا.
Darurat yang diajukan Amru bin Ash kepada Rasulullah SAW pada kasus dinginnya musim hingga menghalanginya mandi janabah karena takutnya bila sampai dinginnya air membahayakan tubuhnya jika mandi, lalu ia menggantinya dengan tayammum, dalam hal ini Rasulullah SAW tertawa dengan hujjah Amru dan tidak menyatakan apapun, artinya Beliau setuju bahwa:
 Seseorang boleh mengijtihadi tingkat darurat dengan kenyataan yang ia alami.
 Prasangka yang umum terjadi bisa dijadikan landasan pintu dharurat.
Dalil-dalil dari as-Sunnah
 حَدَّثَنِي يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ
 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِيَانِ الْفَزَارِيَّ عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً.
 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا نَزَلَ الْحَرَّةَ وَمَعَهُ أَهْلُهُ وَوَلَدُهُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ نَاقَةً لِي ضَلَّتْ فَإِنْ وَجَدْتَهَا فَأَمْسِكْهَا فَوَجَدَهَا فَلَمْ يَجِدْ صَاحِبَهَا فَمَرِضَتْ فَقَالَتْ امْرَأَتُهُ انْحَرْهَا فَأَبَى فَنَفَقَتْ فَقَالَتْ اسْلُخْهَا حَتَّى نُقَدِّدَ شَحْمَهَا وَلَحْمَهَا وَنَأْكُلَهُ فَقَالَ حَتَّى أَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكَ غِنًى يُغْنِيكَ قَالَ لَا قَالَ فَكُلُوهَا قَالَ فَجَاءَ صَاحِبُهَا فَأَخْبَرَهُ الْخَبَرَ فَقَالَ هَلَّا كُنْتَ نَحَرْتَهَا قَالَ اسْتَحْيَيْتُ مِنْكَ.
Bisa disimpulkan dari landasan hukum yang digunakan, bahwa kondisi dharurat adalah kondisi tidak wajar yang mengandung bahaya yang menimpa manusia padahal ia sangat menghajatkan hajat hidup dasar (makan, minum, pengobatan, dll) dalam rangka perlindungan dirinya atau orang lain, sedangkan ia tidak menemukan jalan halal yang bisa ditempuh hingga memaksanya untuk menempuh jalan yang semestinya terlarang. Hal ini juga bisa kita peroleh pada at-Tasyri’ al-Jaza’I al-Muqaran fi-l-Fiqh al-Islamy wa-l-qanun as-Surriy.
3. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menetapkan kondisi dharurat
a. Adanya bahaya yang mengancam keselamatan jiwa, atau harta.
b. Arti kondisi mengancam adalah bila yang terkena bahaya tidak secepatnya menjahuinya.
c. Tidak ada niatan dari pelaku agar ia terjatuh dalam kondisi bahaya.
d. Tidak ada lagi cara atau jalan menolak bahaya kecuali dengan yang haram setelah melalui berbagai usaha dan pertimbangan yang matang.
e. Dipastikan bahwa usaha yang sedang dilakukan mengandung bahaya, artinya bahwa tidak diperkenankan bagi pelaku melampuai batasan kelaziman (dengan kesengajaan) yang berlaku bagi sebuah usaha yang aman dari bahaya, hingga ia bisa menjahui bahaya itu sendiri.
Jadi posisi syari’ah dalam perkara dharurat persis seperti posisi sesuatu pekerjaan yang terpaksa dilakukan seseorang dengan ketidak-sukaannya terhadap pekerjaan tadi di depan syari’ah Islam atau yang lebih dikenal dengan istilah ikrah, yakni dibolehkannya mengkonsumsi (makan-minum) sesuatu yang hukum dasarnya diharamkan. Hingga menyebabkan diangkatnya hukuman bagi yang pelakunya. Namun kondisi dharurat tidak bisa diterapkan secara mutlak pada tindak criminal pembunuhan, pelukaan terhadap orang lain, dan perbuatan yang menyebabkan hilangnya anggota badan orang lain.
Sebab-sebab timbulnya keringanan adalah:
a. Bepergian
b. Sakit
c. Terpaksa
d. Lupa
e. Kebodohan
f. Kurang mampu
g. Kesukaran
Sedangkan macam-macam keringanan bisa diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Keringanan pengguguran
b. Keringanan pengurangan
c. Keringanan pengganti
d. Keringanan mendahulukan
e. Keringanan mengakhirkan
f. Keringanan kemurahan
g. Keringanan dengan perubahan.
4. Wilayah terapan kajian dharurat dalam usul fiqh
a. Kesukaran itu menarik kemudahan (الضرر يزال)
b. Sesuatu itu bila sempit menjadi luas. Sesuatu itu bila luas menjadi sempit (إذا اتسعت ضاقت)
c. Kemadharatan itu harus dilenyapkan (لا ضرر و لا ضرار)
d. Kemadharatan tidak dapat hilang dengan kemadharatan (الضرورة لا يزال بالضرر)
e. Kemadharatan membolehkan yang terlarang (الضرورة تبيح المحظورات)
f. Apa yang diperbolehkan karena darurat, hendaklah diukur dengan ukurannnya
2. (ما أبيح للضرورة يقدّر بقدرها)
a. Hajat (keperluan) kadang menempati tempat darurat (الحاجة قد تنـزل منزلة الضرورة)
5. Korelasi dharurah dengan istihsan
Bisa diambil kesimpulan bahwa -setelah al-Qur’an, as-sunnah, dan ijma’- dharurat yang memiliki keterikatan yang erat dengan istihsan menjadikannya menempati posisi vital hingga bisa diposisikan sebagai dalil usul, dalil ‘aqly dan dalil mustaqil, hal ini disebabkan ia memiliki posisi tawar yang sangat kuat dalam menentukan istihsan setelah melalui seleksi kekuatan antara dua dalil.
6. Korelasi dharurah dengan mashadiru asy-syari’ah
Ahli usul sepakat untuk mengedepankan kondisi dharurat di atas aspek hukum Islam yang lima di atas. Hal ini banyak tercermin di ayat-ayat Qur’an dan hadis berikut ini:
Contoh kasus pandahuluan dharurat dalam al-Qur’an
         •               •    
        •       •                                                •   
Contoh kasus pandahuluan dharurat dalam As-sunnah
 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا بِأَرْضٍ تُصِيبُنَا بِهَا مَخْمَصَةٌ فَمَا يَحِلُّ لَنَا مِنْ الْمَيْتَةِ قَالَ إِذَا لَمْ تَصْطَبِحُوا وَلَمْ تَغْتَبِقُوا وَلَمْ تَحْتَفِئُوا بَقْلًا فَشَأْنُكُمْ بِهَا.
 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا نَزَلَ الْحَرَّةَ وَمَعَهُ أَهْلُهُ وَوَلَدُهُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ نَاقَةً لِي ضَلَّتْ فَإِنْ وَجَدْتَهَا فَأَمْسِكْهَا فَوَجَدَهَا فَلَمْ يَجِدْ صَاحِبَهَا فَمَرِضَتْ فَقَالَتْ امْرَأَتُهُ انْحَرْهَا فَأَبَى فَنَفَقَتْ فَقَالَتْ اسْلُخْهَا حَتَّى نُقَدِّدَ شَحْمَهَا وَلَحْمَهَا وَنَأْكُلَهُ فَقَالَ حَتَّى أَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكَ غِنًى يُغْنِيكَ قَالَ لَا قَالَ فَكُلُوهَا قَالَ فَجَاءَ صَاحِبُهَا فَأَخْبَرَهُ الْخَبَرَ فَقَالَ هَلَّا كُنْتَ نَحَرْتَهَا قَالَ اسْتَحْيَيْتُ مِنْكَ.
7. Dharurat sebagai dalil maslahah mursalah
Penulis mendukung konsep penerapan dharurat sebagai salah satu dalil mashalih mursalah yang digagas para ulama usul, sebab mashalih mursalah memiliki wilayah cakupan hukum yang bisa menjamah semua lini maqasid syari’ah.
8. Hikmah penerapan prinsip pembolehan sesuatu yang haram pada masa darurat dengan mengangkat beban kesulitan dalam syari’at Islam dengan menyandarkan pada 5 (lima) aspek yang harus dijaga dalam beragama.

Posisi hikmah penerapan dharurat dibagi menjadi 3 bagian berikut:
Adl-Dlarury
Dharury yang dimaksud adalah sejalan dengan maqasid syariah yang lima sebagaimana tercantum dalam muwaffaqat fi-l-Usul berikut ini: keberlangsungan agama, penjagaan bagi diri/jiwa, penjagaan atas kemuliaan akal, penjagaan diri atas nashl/keturunan, penjagaan atas harta
5 (lima) maqasid-s-syari’ah di atas menjadi ikon Islam dalam menciptakan dan menjaga kemuliaan ummat manusia hingga apapun produk hukum dan aturan yang timbul akibat pentasyri’an selalu mengacu kepadanya. Namun hal ini tidak menutup secara kaku keluwesan Islam dalam menciptakan keadilan pada umatnya dan penganut agama lain bila menghadapi kondisi dan posisi keterpaksaan, di sinilah peran penting konsep dharurat harus dicermati secara seksama, benar, memiliki akurasi analisa yang tepat hingga tidak menjadikannya ‘senjata’ untuk berkelit melanggar aturan baku. Dan menghindarkan tindakan semau selera manusia tanpa melihat rambu-rambu yang ada.
Al-Hajyy
Adalah kondisi yang mencerminkan hajat tidap pada posisi dharurat.
At-Tahsiny
Ia terbagi menjadi dua konsep:
c. Aspek pertama
Yang selalu menekankan untuk mendahulukan pencegahan kerusakan, anjuran penegakan kehornatan, anjuran berakhlak mulia, dll.
d. Aspek kedua
Yang lebih membahas nilai kepatutan dalam tindak hukum.

B. Saran
Pemahaman yang kaku atas maqashid syariah menjadikan seorang muslim tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyikapi secara bijak keluwesan dharurat, padahal ia bisa diaplikasikan secara bijak dalam berbagai ranah hukum yang sangat mungkin berkembang di tengah kehidupan.
Namun sikap ceroboh dengan tergesa-gesa mendorong konsep dharurat agar diberlakukan tanpa menimbang secara cermat asas pemberlakuannya bisa menjatuhkan essensi agama yang menjunjung kehormatan dan sakralitas ibadah.
Penulis menyarankan agar konsep dharurat bisa ditempatkan secara tepat agar bisa menjangkau secara baik dan benar maqamnya dalam kancah penerapan standar hukum Islam, hingga tidak memicu radikalisme dan tidak pula mendorong ummat Islam bersikap hedonis dan penentuan hukum.

DAFTAR PUSTAKA

القرآن الكريم

إبراهيم أنيس و أصحابه، معلومات النصر، بدون.
ابن فارس، أبو الحسين، معجم مقاييس اللغة، تحقيق عبد السلام هارون، مصر: دار الفكر.
أبو إصحاق الشطيبي، الموفقات، المجلد الثاني، بيروت-لبنان، دار الكتب العلمية، دون السنة.
أبو عبط الله محمد بي أحمد القرطوبي، الجامع لأحكام القرآن، مصر، دار الكتاب العربي.
أبو لويس، المنجد في اللغة،بيروت – لبنان: دار المشرق، 2007.
الأزهاري، أبو منصور محمد بن أحمد، تهذيب اللغة، تحقيق محمد أبو الفضل إبراهيم، مراجعة على محمد البجاوي، مصر: الدار المصرية.
بدر الدين الزركشي، البحر المحيط في أصول الفقه، الطبعة الأولى، كويت، وزارة الأوقاف و الشؤون الإسلامية، 1988.
التشريع الجزائي المقارن في الفقه الإسلامي و القانون السوري.
الزرقاني، شرح الزرقاني على موطأ الإمام مالك، مصر، مطبعة الاستقامة.
عبد الوهاب إبراهيم أبو سليمان، فقه الضرورة و تطبيقاته المعاصرة آفق و أبعاد، المملكة لعربية-جدة، 1993.
الفخر الرازي، التفسير الكبرى، الطبعة الثانية، طهران، دار الكتب.
القرطوبي، الجامع لأحكام القرآن، المجلد: الأول.
موسوعة الحديث الشريف، سنن الترميذي.
موسوعة الحديث الشريف، سنن الدارامي.
موسوعة الحديث الشريف، صحيح البخاري.
موسوعة الحديث الشريف، صحيح مسلم.
موسوعة الحديث الشريف، مسند أحمد.
وهبه الزهيلي، نظرية الضرورة الشرعية.
يوسف القرضاوي، الإجتهاد في الضريعة الإسلامية، مصر-قاهرة،دار القلم، 1999.
يوسف قاسم، نظرية الضرورة في الفقه الجنائي الإسلامي، و القانون الوضعي، مصر، دار النهضة العربية، 1981.
Yusuf Al-Qardlawy, Fatwa-fatwa Kontemporer, Jilid II, Jakarta, Gema Insani Press, 1995

About CakTip

Pelayan santri-santriwati Pondok Modern Arrisalah Program Internasional di Kota-Santri Slahung Ponorogo Jawa-Timur Indonesia K. Post 63463. Lahir di Segodorejo Sumobito Jombang JATIM di penghujung Ramadhan 1395 H. Pernah bantu-bantu di IPNU Sumobito Jombang, IPM SMA Muh 1 Jombang, beberapa LSM, karya ilmiah, teater, dll. Lagi demen-demenya sama design grafis (corel). Sekarang lagi ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan PM Arrisalah. Sekali waktu chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!

Posted on 19 Januari 2012, in Pemikiran and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: