PENELITIAN HADITS TENTANG PENGAJUAN DIRI SEBAGAI PEMIMPIN

KATA PENGANTAR

Kutub HAdits

Kutub Hadits

Penelitian atas hadits menjadi barang yang urgen bagi proses perkembangan pertanggungjawaban umat Islam secara ilmiah, dimana setiap orang bisa mengeksplorasi gagasan-gagasan cerdas Muhammad SAW atas segala masalah yang timbul di masyarakat.
Berangkat dari keterusikan penulis atas tidak sesuainya tata kehidupan masyarakat Islam global yang terlemahkan oleh system, bahkan terkadang cenderung terdistorsi oleh keadaan, serta mentalitas umat Islam yang termarginalkan oleh sikap mereka apatis terhadap rujukan agama mereka sendiri dalam hal ini hadits. Sedangkan di sisi lain, jargon besar “Islam datang untuk menyelesaikan segala problematika ummat” seolah menjadi pepesan kosong.
Kajian penelitian hadits (salah satu sumber landasan hidup setelah al-Qur’an) diharapkan mampu menyadarkan ummat bahwa apa yang mereka yakini adalah kebenaran, maka pemilahan hadits sesuai dengan kualitas dan derajatnya adalah hal yang sangat penting untuk membangun kembali trust ummat atas apa yang mereka yakini.
Penulis ucapkan ribuan terimakasih kepada Bapak Dr. Hj. Umi Sumbulah, MAg selaku dosen pengampu materi Kajian Hadits Ahkam di Pascasarjana Hukum Islam Universitas Islam Malang yang bisa menyajikan materi tersebut secara cerdas, analitik dan menggugah.

Malang, 20 Juni 2011
Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Sampul ……………………………………………………………………. i
Kata Pengantar ………………………………………………………………………. ii
Daftar Isi ……………………………………………………………………………. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah …………………………………………… iv
B. Rumusan Masalah …………………………………………………. iv
C. Tujuan Pembahasan ……………………………………………….. iv
BAB II PENELITIAN HADITS PENGAJUAN DIRI SEBAGAI HAKIM
A. Penelitian perawi hadits ………………………………………….… 1
B. Penelitian sanad hadits ………………………………………….… 16

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ………………………………………………………….. 21
B. Saran ………………………………………………………………….. 21

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………… 22

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kepemimpinan adalah salah satu pilar terbangunnya masyarakat Islam, maka diharapkan dengan pemimpin yang memiliki kapabilitas dan akuntabilitas yang mumpuni masyarakat Islam bisa membangun diri untuk memakmurkan dunia dengan berdampingan secara bermartabat dengan bangsa dan umat agama lain.
Hadits Nabi SAW yang melarang Abdurrahman bin Samurah untuk meminta jabatan strategis dalam kepemerintahan menjadi kajian penulis saat ini.
Sistem pemilihan kepala Negara, propinsi dan kabupaten yang dilakukan langsung oleh rakyat di Indonesia seolah bersebrangan dengan konsep pelarangan sesorang untuk meminta atau mencalonkan diri sebagai kepala pemerintahan seperti apa yang digariskan Islam.
Penulis berharap menemukan jalan tengah untuk dua kenyataan di atas yang seolah bertabrakan satu dengan yang lainnya. Maka penulis memberikan titik focus dari penelitian hadits Shahih al-Bukhary, Juz III, no hadits: 6132 tentang kepemimpinan yang penulis teliti, maka penulis membatasi rumusan masalah seputar kualitas para perawi hadits tersebut dan kualitas matan hadits tersebut.

BAB II
PENELITIAN HADITS PENGAJUAN DIRI SEBAGAI PEMIMPIN

حَدَّثَنَا أَبُوْ النُّعْمَانَ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَاضِلِ حَدَّثَنَا جَرِيْرٌ بْنُ حَازِمٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمن بْنُ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا عَبْدَ الرَّحْمن بْنُ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلْ الإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوْتِيْـتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَ إِنْ أُوْتِيْتَـهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَ إِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِيْنٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْراً مِنْهَا. فَكَفِّرْ عَنْ يَمِيْنِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ”.
Takhrij Hadits
Penulis juga menemukan pencatuman hadits di atas di dalam berbagai kitab refrensi hadit sebagaimana berikut:
a. Shahih al-Bukahri, bab karamatu-l-aiman, no hadits: 6227.
b. _______________, bab al-ahkam, no hadits: 6613.
c. ___________________________, no hadits: 6614.
d. Shahih Muslim, bab al-aiman, no hadits: 3120.
e. ____________, bab al-imarah, no hadits: 3401.
f. Sunan at-Turmudzi, bab an-nudzur wa-l-aiman, no hadits: 1449.
g. Sunan An-Nasai, bab al-aiman wa-n-nudzur, no hadits: 3722, 3723, 3724, 2289.
h. Sunan Abu Dawud, bab al-khiraj wa-l-imarah wa-l-fa’i, no hadits: 2540.
i. _______________, bab al-aiman wa-n-nudzur, no hadits: 2852.
j. Ahmad, awal musnad al-bashariyin, no hadits: 19702, 19704, 19712.
k. Ad-Darami, bab an-nudzur, no hadits: 2241.

A. Penelitian Perawi Hadits
1. Rawi Hadits
Berbagai langkah validasi hadits yang penulis tempuh, salah satunya adalah penelitian para perwai dari hadits yang diteliti, maka penulis menemukan silsilah periwayatan hadits tersebut dengan urutan sebagai berikut: Abu an-Nu’man Muhammad bin al-Fadl  Jarir bin Hazim  al-Hasan  ’Abdurrahman bin Samurah.
Dan hasil penelitian silsilah periwayatan sebagai berikut:
a. Abu an-Nu’man Muhammad bin al-Fadl
 Nama : Muhammad bin Fadlil
 Nama panggilan : Abu Nu’man dan ‘Arim
 Tabaqah (generasi) : Tabi’i-t-tabi’in tingkatan ke-6
 Tempat menetap : Basrah
 Meninggal di : Basrah
 Tahun lahir : –
 Tahun wafat : 224 H
b. Jarir bin Hazim
 Nama : Jarir bin Hazim bin Zaid
Nasab : al-Azdy al-‘Atiqy
 Nama panggilan : Abu Nadlar
 Tabaqah (generasi) : Tidak mengalami masa shahabat
 Tempat menetap : Basrah
 Meninggal di : –
 Tahun lahir : –
 Tahun wafat : 170 H
c. al-Hasan
 Nama : al-Hasan bin Abi Hasan Yasar
 Nasab : al-Bashry
 Nama panggilan : Abu Sa’id
 Tabaqah (generasi) : termasuk tabi’in pertengahan
 Tempat menetap : Basrah
 Meninggal di : –
 Tahun lahir : –
 Tahun wafat : 110 H
d. ’Abdurrahman bin Samurah.
 Nama : ‘Abdurrahman bin Samurah bin Habib bin Abdu-sy-Syamsi.
 Nasab : al-‘Abasyamy
 Nama panggilan : Abu Sa’id
 Tabaqah (generasi) : Masuk jajaran shahabat
 Tempat menetap : Basrah
 Meninggal di : Basrah
 Tahun lahir : –
 Tahun wafat : 50 H

2. Sejarah Guru-Guru
a. Abu an-Nu’man
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 19 orang.
 Sebagian gurunya : 1. Jarir bin Hazim bin Zaid
2. Tsabit bin Yazid
3. Hammad bin Zaid bin Dirham
4. Hammad bin Salamah bin Dirmah
5. Said bin Zaid bin Dirham
b. Jarir bin Hazim
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 54 orang.
 Sebagian gurunya : 1. Al-Hasan bin Abi al-Hasan Yasar
2. Ishaq bin Suaid bin Hubairah
3. Jarir bin Zaid bin Abdillah
4. Hamid bin Abi Hamid
5. Rasyid bin Kiisaan
c. al-Hasan
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 64 orang.
 Sebagian gurunya : 1. ‘Abdurrahman bin Samurah bin Abd Syamsi
2. Aisyah binti Abi Bakrin Ash-Shiddiq
3. Anas bin Malik bin an-Nadlar bin Dlamdlam bin Zaid
4. Jundab bin Abdullah bin Sufyan
5. ‘urwan bin al-Mughirah bin Syu’bah
d. ’Abdurrahman bin Samurah.
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 1 orang.
 Nama gurunya : Mu’adz bin Jabal bin Amru bin Aus.

3. Sisilah Murid-Murid
1. Abu an-Nu’man
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 16 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Ahmad bin al-Azhar bin Muni’
2. Ibrahim bin Ya’qub bin Ishaq
3. Hasan bin Ali bin Muhammad
4. Sulaiman bin Saif bin Yahya
5. Abdul Hamid bin Hamid bin Nashr.
2. Jarir bin Hazim
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 46 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Abu an-Nu’man (Abu al-Fadl)
2. Muhammad bin Abdullah bin Utsman
3. Kutaibah bin Sa’id bin Jamil
4. Affan bin Muslim bin Abdullah
5. Abdul Wahab bin Ata’
3. al-Hasan
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 128 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Jarir bin Hazim
2. Tsabit bin Aslam
3. Hubaib bin Asy-Syahid
4. Hakim
5. Khalid bin Mahran
4. ’Abdurrahman bin Samurah.
 Jumlah murid : Ia memiliki guru 6 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Al-Hasan bin Abi Hasan
2. Hayan bin Umair
3. Umar bin Abi Umar
4. Katsir bin Katsir
5. Lumazah bin Zabbar
6. Hishom bin Kahin

4. Jarh wa Ta’dil
Salah satu aspek penilaian kevalidan kualitas hadits adalah proses penilaian kualitas rawi atau yang biasa dikenal dengan jarh wa ta’dil. Penulis menelusuri jarh wa ta’dil para perawi hadits di atas dan mendapatkan hasil sebagai berikut:
Versi Mausu’ah al-Hadits asy-Syarif:
a. Abu an-Nu’man menurut tokoh-tokoh hadits:
 Adz-Dzahaby : Tsiqqah.
 Abu Hatim ar-Razi : Tsiqqah, hafalannya bercampur di akhir usianya.
 An-Nasa’i : Termasuk kelompok periwayat yang tsiqqah
hafalannya sebelum bercampur di akhir usianya.
 Al-‘Ijly : Tsiqqah.
 Ad-Daruqutny : Tsiqqah, berubah ketsiqqahannya di akhir usianya.
 Al-Bukhary : Berubah ketsiqqahannya di akhir usianya.
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Abu Nu’man adalah perawi yang tsiqqah tsubut, namun ketsiqqahannya berubah di akhir usianya.
b. Jarir bin Hazim
 Yahya bin Mu’in : Ia tidak memiliki cacat, namun jalur periwayatannya dari Qatadah dinilai lemah.
 An-Nasa’i : Ia perawi yang tidak memiliki cacat.
 Al-‘Ijly : Tsiqqah.
 Abu Hatim ar-Razi : Ia perawi yang terpercaya dan shalih.
 As-Saji : Tsiqqah.
 Adz-Dzahaby : Ia termasuk perawi yang tsiqqah walaupun disaat
tercampur penghujjahannya bersama putranya.
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Jarir bin Hazim adalah perawi yang tsiqqah.
c. al-Hasan
 Al-‘Ijly : Tsiqqah
 Muhammad bin Said: Tsiqqah terpercaya.
 Ibn Hibban : Ia menyebut al- Hasan dalam daftar perawi yang
Tsiqqah dalam kitabnya ats-Tsiqqah, tapi memberinya
catatan sebagai sosok perawi mudallis.

Maka penulis menyimpulkan, bahwa al-Hasan adalah perawi yang tsiqqah mursal dan mudallis.
d. ’Abdurrahman bin Samurah.
Berbagai refrensi yang penulis gali, semua mengatakan bahwa sosok yang satu ini ada dalam kategori sosok yang adil dan tsiqqah.

TABEL A.1.
NAMA RAWI TL TW TKT T. DI W. DI GURU MURID JARH WA TA’DIL
Abu an-Nu’man Muhammad bin al-Fadl

Nama: Muhammad bin Fadlil

Nama panggilan: Abu Nu’man dan ‘Arim – 224 H Tabi’i-t-tabi’in tingkat ke-6 Basrah Basrah 19 orang

1. Jarir bin Hazim bin Zaid
2. Tsabit bin Yazid
3. Hammad bin Zaid bin Dirham
4. Hammad bin Salamah bin Dirmah
5. Said bin Zaid bin Dirham 16 orang.

1. Ahmad bin al-Azhar bin Muni’Sd
2. Ibrahim bin Ya’qub bin Ishaq
3. Hasan bin Ali bin Muhammad
4. Sulaiman bin Saif bin Yahya
5. Abdul Hamid bin Hamid bin Nashr. 1. Adz-Dzahaby : Tsiqqah.
2. Abu Hatim ar-Razi : Tsiqqah, hafalannya bercampur di akhir usianya.
3. An-Nasa’i : Termasuk kelompok periwayat yang tsiqqah, hafalannya sebelum bercampur di akhir usianya.
4. Al-‘Ijly : Tsiqqah.
5. Ad-Daruqutny : Tsiqqah, berubah ketsiqqahannya di akhir usianya.
6. Al-Bukhary : Berubah ketsiqqahannya di akhir usianya.
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Abu Nu’man adalah perawi yang tsiqqah tsubut, namun ketsiqqahannya berubah di akhir usianya.
Jarir bin Hazim bin Zaid

Nasab: al-Azdy al-‘Atiqy

Nama panggilan: Abu Nadlar 170 H Tidak alami masa shahabat Basrah – 54 orang.

1. Al-Hasan bin Abi al-Hasan Yasar
2. Ishaq bin Suaid bin Hubairah
3. Jarir bin Zaid bin Abdillah
4. Hamid bin Abi Hamid
5. Rasyid bin Kiisaan 46 orang.

1. Abu an-Nu’man (Abu al-Fadl)
2. Muhammad bin Abdullah bin Utsman
3. Kutaibah bin Sa’id bin Jamil
4. Affan bin Muslim bin Abdullah
5. Abdul Wahab bin Ata’ 1. Yahya bin Mu’in: Ia tidak memiliki cacat, namun jalur periwayatannya dari Qatadah dinilai lemah.
2. An-Nasa’i: Ia perawi yang tidak memiliki cacat.
3. Al-‘Ijly: Tsiqqah.
4. Abu Hatim ar-Razi: Ia perawi yang terpercaya dan shalih.
5. As-Saji: Tsiqqah.
6. Adz-Dzahaby: Ia termasuk perawi yang tsiqqah walaupun di saat hujjahnya tercampur bersama putranya.

Maka penulis menyimpulkan, bahwa Jarir bin Hazim adalah perawi yang tsiqqah.

NAMA RAWI TL TW TKT T. DI W. DI GURU MURID JARH WA TA’DIL
Nama: al-Hasan bin Abi Hasan Yasar

Nasab: al-Bashry

Nama panggilan: Abu Sa’id – 110 H termasuk tabi’in per-tengah-an Basrah – 64 orang.

1. ‘Abdurrahman bin Samurah bin Abd Syamsi
2. Aisyah binti Abi Bakrin Ash-Shiddiq
3. Anas bin Malik bin an-Nadlar bin Dlamdlam bin Zaid
4. Jundab bin Abdullah bin Sufyan
5. ‘Urwan bin al-Mughirah bin Syu’bah 128 orang.

1. Jarir bin Hazim
2. Tsabit bin Aslam
3. Hubaib bin Asy-Syahid
4. Hakim
5. Khalid bin Mahran 6. Al-‘Ijly: Tsiqqah
7. Muhammad bin Said: Tsiqqah terpercaya.
8. Ibn Hibban: Menyebut al- Hasan dalam daftar perawi yang tsiqqah dalam kitabnya ats-Tsiqqah, tapi memberinya catatan sebagai sosok perawi mudallis.

Maka penulis menyimpulkan, bahwa al-Hasan adalah perawi yang tsiqqah mursal dan mudallis.
Nama : ‘Abdurrahman bin Samurah bin Hubaib bin Abdu-sy-Syamsi.

Nasab: al-‘Abasyamy

Nama panggilan: Abu Sa’id 50 H Masuk jajaran shaha bat dan meriwayatkan langsung dari Nabi SAW Basrah Basrah 1 orang

Mu’adz bin Jabal bin Amru bin Aus. 1. Al-Hasan bin Abi Hasan
2. Hayan bin Umair
3. Umar bin Abi Umar
4. Katsir bin Katsir
5. Lumazah bin Zabbar
6. Hishom bin Kahin Berbagai refrensi yang penulis gali, semua mengatakan bahwa sosok yang satu ini ada dalam kategori sosok yang adil dan tsiqqah.

TABEL A.2. JALUR PERIWAYATAN

5. Tingkatan Sanad Hadits
Setelah membaca berbagai kitab, maka penulis menyimpulkan bahwa tingkat hadits adalah marfu’, sebab hadits ini secara jalur periwayatan hanya memiliki satu sanad saja, yakni Abu an-Nu’man Muhammad bin al-Fadl dan hadits ini diperoleh sebagai jawaban dari permohonannya untuk menempati jabatan Gubernur Qufah.

6. Keadilan dan Kedlabitan Rawi
a. Abu an-Nu’man
Nama aslinya adalah Muhammad bin al-Fadl as-Sudusy, ia lebih dikenal kalangan ahli hadits dengan nama Abu Nu’man. Al-Bukhary, Abu Dawud, Imam Ahmad ad-Daramy meriwayatkan ia hidup hingga bulan Shafar tahun 224 H.
Penulis menemukan penamaan Abu an-Nu’man bagi Muhammad bin al-Fadl di Kitab at-Tarikh al-Kabir karangan Imam Bukhary dan meletakkannya di urutan ke-654, dengan periwayatan dai Hammad bin Salmah dari Hammad bin Zaid dari Ibnu Mubarak.
Dalam Jami’ al-Jarh wa at-Ta’dil banyak ahli hadits –diantaranya al-‘Ijly, Abu Dawud- menyatakan bahwa ia adalah seorang yang tsiqqah pada periwayatannya, namun memasuki usia senja hafalannya bercampur dengan hadits lain yang disebabkan berkurangnya daya ingat akibat usia tua.
Imam al-Bukhary menambahkan bahwa ia adalah seorang yang shalih sepanjang hidupnya juga tsiqqah periwayatannya, namun berubah hafalannya diakhir usianya.
Ibnu Mahrus menyebutnya dengan sebutan ‘Arim dan memberikan penilaian atasnya sebagai sosok muslim yang terpercaya. Sedangkan an-Nasa’i menempatkannya sebagai perawi yang tsiqqah hafalannya sebelum berubah di akhir usianya. An-Naqily menilainya sebagai orang yang paling baik shalatnya di jaman itu. Ibnu Hibban memberinya penilaian sebagai orang yang mungkar periwayatannya di akhir usia, sebab ia tidak menyadari dengan apa yang dikatakan. Namun Ibnu Hibban tetap menilai an-Nu’man sebagai perawi yang tsiqqah sebelum kepikunan menderanya.
Maka penulis menyimpulkan bahwa Abu Nu’man adalah Muhammad bin al-Fadl alian ‘Arim, ia wafat di bulan Shafar tahun 224 H. Derajat periwayatan yang dimilikinya menyentuh level tsiqqah, namun penulis memberi cacatan bahwa periwayatan yang diriwayatkan di akhir usianya tidak bisa digunakan sebagai landasan pijakan dalam berhujjah, namun penulis mengalami kesulitan mencari usia sebenarnya dari parawi ini, dalam hal ini penulis memberikan gagasan bahwa usia kepikunan bisa mendera seseorang pada normalnya pada Usia 70 tahun ke atas, disebabkan ketiadaan data pendukung tentang usia tepatnya, maka penulis menyatakan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Abu an-Nu’man pada tahun 224 H dikurangi 10 tahun ke belakang atau kisaran 214 H tidak bisa dijadikan landasan hujjah.
b. Jarir bin Hazim
Jarir bin Hazim memiliki nama lengkap Jarir bin Hazim bin Zaid bin ‘Abdillah bin Syuja’ al-Azdy ada juga yang menyebutnya dari kabilah al-‘Ataky, ada juga yang berpendapat al-Jahdlamy, ia memiliki nama sebutan Abu an-Nadlar al-Bashary, ia adalah orang tua dari Wahab bin Jarir bin Hazim dan Ibnu Akhi Jarir bin Zaid.
Ia merupakan ketua peradilan di Mesir namun ia terima tugas ini tanpa dilandasi rasa gembira, merupakan sosok yang gemar ibadah lagi shalih, meninggal di tahun 154 H sebagaimana disebutkan dalam kitab as-Sam’any dan Lubab karangan Ibnul Atsir. Adz-Dzahaby meriwayatkan dalam bukunya al-Sair sebagaimana diriwayatkan dari Abu Tufail yang mengatakan bahwa melihat jenazah Jarir bin Hazim di Makkah al-Mukarramah.
Qurrad Abu Nuh diriwayatkan dari Sya’bah menilai bahwa apa yang disampaikan oleh Jarir bin Hazim mengandung kebenaran, hingga ia berkenan untuk berkata: “Kamu harus mendengan apapun yang dating dari Jarir bin Hazim.” Penilaian yang sama diberikan leh Mahmud bin Ghalyan, Abu Bakar bin Abi Khaitsumah.
Banyak kalangan yang memberinya gelar tsiqqah pada periwayatan hadits yang dibawanya, seperti ‘Utsman bin Sa’id ad-Daramy, Abu al-Asyhab, juga Adbullah bin Ahmad bin Hambal. Namun periwayatannya darei jalur Qatadah dinyatakan lemah oleh Ahmad bin Hambal. Walaupun ia mengakui ketsiqqatannya pada sisi periwayatan yang lain.
Abu Ahmad bin ‘Ady menyatakan bahwa Jarir bin Hazim termasuk orang yang sangat dihormati di Bashrah juga diakui kevalidan periwayatan haditnya di sana. Pendapat ini dikuatkan juga oleh Ahmad bin Abdul Karim bin al-Harits al-Marwazy.
Secara usia Jarir bin Hazim dinyatakan oleh Abu Nashr al-Kalabadzi berusia sekitar 70-an tahun.
Akhirnya penulis menyimpulkan bahwa Jarir bin Hazim memiliki nama lengkap Jarir bin Hazim bin Zaid bin ‘Abdillah bin Syuja’ al-Azdy ada juga yang dengan sebutan lain al-‘Ataky, al-Jahdlamy, Abu an-Nadlar al-Bashary, yang merupakan orang tua dari Wahab bin Jarir bin Hazim dan Ibnu Akhi Jarir bin Zaid. Meninggal di tahun 154 H pada usia 70-an tahun, menetap di Bashrah dan meninggal di Makkah al-Mukarramah. Banyak kalangan yang memberinya gelar tsiqqah pada periwayatan hadits yang dibawanya, seperti ‘Utsman bin Sa’id ad-Daramy, Abu al-Asyhab, juga Adbullah bin Ahmad bin Hambal. Namun periwayatannya dari jalur Qatadah dinyatakan lemah oleh Ahmad bin Hambal. Sehubungan dengan hadits yang penulis teliti tidak ada jalur periwayatan dari Qatadah, maka penulis menyimpulkan bahwa jalur periwayatan Jarir bin Hazim untuk hadits ini adalah tsiqqah.
c. al-Hasan
Al-Hasan memiliki nama asli al-Hasan bin Abi al-Hasan, ia memiliki nama sebutan yang sangat banyak diantaranya ialah: Yasar al-Bashary, Abu Sa’id, Maula (budak dari) Zaid bin Tsabit, Maula Jabir bin ‘Abdillah, Maula Jamil bin Qutbah bin ‘Amir bin Hadidah, Maula bin Abi al-Yasar, ibunya adalah budak perempuan Ummu Salamah istri Nabiyullah Muhammad SAW.
Al-Hasan , menurut Muhammad bin S’ad; ia bernama Abu al-Hasan Yasar, ia adalah budak yang dibeli oleh ar-Rubaiyyi’ (bibi Anas bin Malik) di Madinah, kemudian memerdekakannya dan saat dimerdekakan ia berkata bahwa orang tuanya berasal dari Bani an-Najjar yang menikahi perempuan dari Bani Salimah.
Ia lahir pada masa ke khalifahan Umar bin al-Khattab, diriwayatkan dalam Kitab Tahdzibul Kamal fi Asma ar-Rijal, bahwa ibunya adalah pembantu yang dulunya adalah budak dari Ummu Salamah, karena pengabdian ibunya ia diberi hikmah Allah untuk menjadi sosok perawi hadits yang diakui ketsiqqatannya oleh banyak kalangan, bahkan tokoh sekaliber ‘Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah dan ‘Aisyah memandang ketokohannya dalam periwayatan hadits.
Ia dinyatakan wafat pada tahun ke-50 H dimasa ke khalifahan Utsman bin Affan di usia 90 tahun.
Hafalannya yang kuat ia peroleh secara keturunan, sebab bapak ibunya juga memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehingga Ummu Salamah berkenan untuk memerdekakan ibunya sebab cintanya terhadap ibu al-Hasan dikarenakan kelebihannya tersebut. Suatu hari, di saat al-Hasan dalam gendongan Umu Salamah ia menangis, kemudian Ummu Salamah membawanya ke hadapan para shahabat dan meminta mereka untuk mendo’akannya, maka Ummar bin al-Khattab mendo’akannya: “Ya Allah Jadikanlah ia orang yang faqih dalam urusan agama, buatlah sekalian manusia mencintainya.!”
Periwayatan hadits yang dibawanya tidak diragukan, ia masuk dalam kelompok perawi yang tsiqqah, hal ini ditunjukkan dengan apa yang disampaikan oleh Hammad bin Zaid, Jarir bin Hazim, al-Qasim bin al-Fadl al-Hudany, dan lain-lain.
Kesimpulan yang bisa penulis ambil adalah, bahwa Al-Hasan memiliki nama asli al-Hasan bin Abi al-Hasan, dengan sebutan: Yasar al-Bashary, Abu Sa’id, Maula (budak dari) Zaid bin Tsabit, Maula Jabir bin ‘Abdillah, Maula Jamil bin Qutbah bin ‘Amir bin Hadidah, Maula bin Abi al-Yasar, ibunya adalah budak perempuan Ummu Salamah istri Nabiyullah Muhammad SAW. Yang kemudian memerdekakannya, ia berasal dari Bani an-Najjar. Ia lahir pada masa ke khalifahan Umar bin al-Khattab dan wafat pada tahun ke-50 H dimasa ke khalifahan Utsman bin Affan di usia 90 tahun, ia menjadi sosok perawi hadits yang diakui ketsiqqatannya oleh banyak kalangan, bahkan tokoh sekaliber ‘Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah dan ‘Aisyah memandang ketokohannya dalam periwayatan hadits. Hafalannya yang kuat ia peroleh secara keturunan, sebab bapak ibunya juga memiliki kecerdasan yang luar biasa, juga ia pernah dido’akan oleh Ummar bin al-Khattab: “Ya Allah Jadikanlah ia orang yang faqih dalam urusan agama, buatlah sekalian manusia mencintainya.!”
d. ’Abdurrahman bin Samurah.
Abdurrahman bin Samurah memiliki nama Abdurrahman bin Habib bin Samurah bin Abdi Syamsin berasal dari suku Quraisy dengan nama lain Abu Sa’id, ia dinyatakan dalam ath-Tabaqat termasuk ahli hadits yang menetap di Basrah.
Penamaan lain yang ia miliki adalah Habib bin Rabi’ah bin ‘Abdi Syamsin al-Qurasy, Abu Sa’id al-‘Abasyamy, ia memeluk Islam di saat penaklukan kota Makkah (Fathu-l-Makkah), ada juga yang menamainya sebagai Abdul Kulal, Abdul Qulub, Abdul Ka’bah dan ketika memeluk Islam Nabiyullah Muhammad SAW menamainya Abdurrahman. Hadits yang diriwayatkan al-Hasan darinya dicantumkan al-Bukhari dalam Shahihnya bab Nudzur.
Ia menetap di Bashrah, mengikuti peperangan Khurasan di jaman Utsman bin ‘Affan, dia termasuk shahabat yang menaklukkan Ubekistan dan Kabul serta kota-kota lain di jaman itu. Ia pernah mengikuti peperangan Mu’nah, hingga memiliki rumah di Damaskus dinyatakan meninggal di Bashrah namun ada juga yang berpendapat bahwa ia menginggal di Marwa. Namun Imam al-Bukhary menyatakan bahwa Abdurrahman bin Samurah meninggal di Kuffah di tahun ke 50 H.
Dari sisi keturunan, ibunya adalah Urwa binti Abi al-Fari’ah dari Bani Farras bin Ghanmin, termasuk jajaran Bani Kinanah bin Khuzaimah.
Ia banyak meriwayatkan hadits dari Mu’adz bin Jabal namun tidak ada catatan yang penulis temukan sisi periwayatannya dari jalur shahabat selain Mu’adz. Murid-muridnya dalam periwayatan hadits adalah: al-Hasan al-Bashry, Humaid bin Hilal al-‘Adawy, Hishan bin Kahin, Hayyan bin ‘Umair, Ziyan Maula Mush’ab, Sa’id bin Abi al-Hasan al-Bashry, Sa’id bin al-Musayyab, Abdullah bin ‘Abbas, Abdurrahman bin Abi Laily, ‘Ummar bin Abi ‘Ummar (pembesar Bani Hasyim), Muhammad bin Sirin, Hishshaan bin Kahin dan Abu Zubaib al-Taimy. Ia masuk jajaran ahli hadits pada tingkatan ke-6. Ajal menjemputnya di Bashrah sepulang peperangannya dari Khurasan pada tahun ke-50 H dan dishalatkan oleh Ziyad bin Abu Syufyan, ada juga yang berpendapat ia meninggal pada tahun ke-51 H.
Hadits yang dibawanya dinilai kalangan ahli hadits sebagai periwayatan yang tsiqqah. Tidak ditemukan jarh atasnya yang menyatakan bahwa Abdurrahman bin Samurah bukan orang yang tsiqqah dalam meriwayatkan hadits.
Dari berbagai data yang penulis himpun di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa Abdurrahman bin Samurah adalah Abdurrahman bin Habib bin Samurah bin Abdi Syamsin berasal dari suku Quraisy dengan nama lain Abu Sa’id, ada juga yang menamainya sebagai Abdul Kulal, Abdul Qulub, Abdul Ka’bah dan ketika memeluk Islam Nabiyullah Muhammad SAW menamainya Abdurrahman.Periwayatan hadits darinya dibawa al-Hasan dan dicantumkan al-Bukhari dalam Shahihnya bab Nudzur. Ia dinyatakan dalam ath-Tabaqat termasuk ahli hadits yang menetap di Basrah. Ia memeluk Islam di saat penaklukan kota Makkah (Fathu-l-Makkah), dinyatakan meninggal di Bashrah namun ada juga yang berpendapat bahwa ia menginggal di Marwa. Namun Imam al-Bukhary menyatakan bahwa Abdurrahman bin Samurah meninggal di Kuffah di tahun ke 50 H. Gurunya hanya satu, yakni Mu’adz bin Jabal, sebab penulis tidak menemukan sisi periwayatannya dari jalur shahabat selain Mu’adz. Murid-muridnya dalam periwayatan hadits adalah: al-Hasan al-Bashry, Humaid bin Hilal al-‘Adawy, Hishan bin Kahin, Hayyan bin ‘Umair, Ziyan Maula Mush’ab, Sa’id bin Abi al-Hasan al-Bashry, Sa’id bin al-Musayyab, Abdullah bin ‘Abbas, Abdurrahman bin Abi Laily, ‘Ummar bin Abi ‘Ummar (pembesar Bani Hasyim), Muhammad bin Sirin, Hishshaan bin Kahin dan Abu Zubaib al-Taimy. Ia masuk jajaran ahli hadits pada tingkatan ke-6. Perawi ini dinilai tsiqqah oleh ulama Hadits.

B. Penelitian Matan Hadits
1. Perbandingan hadits dengan ayat.
Penulis tidak menemukan perbandingan hadits ini dengan ayat Qur’an.
2. Perbandingan hadits dengan hadits.
حدّثنا أحمد بن يونس، حدّثنا ابن أبي ذئبٍ عن سعيد المقرويّ عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال: “إِنَّكُمْ سَتَحْرُصُوْنَ عَلَى الإِمَارَةِ وَ سَتَكُوْنُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْصَعَةُ وَ بِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ”
“Kami diberitahu Ahmad bin Yusuf, dari Ibnu Abi Dzi’bin dari Sa’id bin al-Maqruwy dari Abu Hurairah r.a. Nabi bersabda: “Sesungguhnya kalian (kaum muslimin) akan rakus dalam mendapatkan jabatan kepemimpinan, dan akan menjadikan penyesalan bagi kalian kelak di hari kiamat (karena beratnya tanggung jawab pemimpin). Maka saat itu orang yang memiliki mahkota (jabatan) dianggap mulia, dan orang yang kehilangan mahkota (jabatan) menjadi hina.”

Pernyataan Nabiyullah Muhammad SAW pada kedua hadits, yakni larangan memperbutkan jabatan kepemimpinan dan peringatannya agar kaum muslimin berhati-hati agar tidak rakus dalam mengejar tampuk kekuasaan memiliki kontek yang tidak jauh berbeda. Keduanya berada pada domain posisi seseorang dalam mempertanggungjawabkan amanah kekuasaan yang ia emban. Tidak bisa diingkari, bahwa kedatangan Islam di muka bumi adalah sebagai upaya pemakmuran bumi ini dengan konsep yang ia tawarkan, dan ummat Islam dituntut untuk memiliki krdibilitas kepimpinan yang mumpuni hingga mampu menjadi penengah segala urusan manusia dengan hukum Allah, sebagaimana firman Allah:
                              •   ••  
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”

Keterangan matan hadits yang bisa digali, diterangkan dalam Kitab Fathul Bari, bahwa keputusan seseorang untuk meminta jabatan atasnya menajdikan ia tertolak untuk memperolehnya. Namun Abu Hurairah memiliki paradigma berbeda dalam hal ini, ia melihat kajian hadits secara eksentris, bahkan ia menyimpulkan bahwa hadits ini bukan pelarangan terhadap pengajuan diri sebagai pimpinan, ia melihat hal itu baru sebatas makruh, dan barangsiapa yang meiliki akuntabilitas dan kapabilitas dalam memimpin kemudian mengajukan diri dan menjaga amanah yang dititipkan kepadanya dengan baik, maka Abu Hurairah menyatakan surge wajib atas orang tadi. Ibnu Hajar berpendapat, sesungguhnya orang yang meminta amanah kepemimpinan bila tidak mendapat pertolongan Allah (baik kecukupan ilmu, kekuatan dan kemampuan kepemimpinan) maka seyogyanya orang yang tidak memiliki kecakapan seperti disebutkan di atas tidak mengajukan diri.
Validitas matan dari hadits ini hanya diketahu dari Abdurrahman bin Samurah, dan Abdurrahman bin Samurah sendiri diakui sebagai shahabat yang memiliki kehalihan dan dinyatakan shaduq lagi tsiqqah dalam periwayatan. Maka kalangan jumhur ulama menyatakan hadits ini marfu’.
Ibnu Taimiyah dalam hal ini menegaskan, bahwa urusan penegakan Imarah/Kepemimpinan adalah menjadi kemutlakan dan beragama, bahkan ia menyebandingkan urusan ini dengan ibadah mahdlah yang lain atas kewajiban pelaksanaannya. Sebab ia memandang bahwa kepemimpinan adalah meutlakan yang harus dikuasai muslimin agar hukum Allah tegak di muka bumi.
Di sisi lain al-Qardlawi memandang bahwa kepemimpinan atau imarah menjadi kewajiban kolektif yang harus didukung oleh masyrakat muslim untuk menggolkan jagonya agar mampu merebut tampuk kekuasaan (diketahui bahwa al-Qardlawi adalah salah satu tokoh al-Ikhwan al-Muslimun yang menyepakati demokrasi sebagai jalan tengah pemerintahan Islam, bila jalur khilafah belum mungkin untuk ditempuh). Sebab dengan kekuasaan, Islam bisa melanggengkan syari’at Allah dengan meminimalisir tabrakan kepentingan dengan non-muslim.
Hasan al-Banna yang notabene adalah guru dari al-Qardlawy memandang imarah sebagai kebutuhan yang urgen atas arti pentingnya penyelarasan hukum Allah, maka domain imarah adalah domain yang harus dimenangkan umat Islam. Tapi al-Banna tidak begitu banyak membahas masalah ini secara detail, sebab ia melihat bahwa urgnitas utama sisi dakwah yang ia tuju saat itu adalah Islamisasi ummat Islam yang mulai menanggalkan ruh ke-Islamannya.
Bahkan al-Qardlawy secara rinci menyebutkan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh calon pemimpin adalah sebagai berikut:
1. Memiliki kapabilitas (al-qawwy) mengemban amanat, baik secara fisik, keilmuan, dan pengalaman.
2. Orang yang amanah, tidak pernah terbukti berdusta, tidak bermaksiat kepada Allah dalam urusan ibadah.
3. Untuk hakim, al-Qardlawy menambahkan syarat hakim adalah penguasaannya terhadap berbagai disiplin ilmu sebagai pendukung obyektivitas keputusan hukum yang akan diputuskan.
Dari syarat yang diberikan oleh al-Qardlawy, maka ia memandang siapapun yang meminta jabatan atau imarah adalah cerminan dari hilangnya sifat amanah dari imarah dalam dirinya, sebab imarah adalah proses pemberian amanah, bukan pengajuan diri atau dengan memintanya.
Maka Penulis menyimpulkan bahwa kekuatan matan ini tidak diragukan lagi kebenarannya, sebab kesemua rawi yang meriwayatkan hadits ini tidak memiliki cacat di mata para ahli hadits, bilapun ada itu adalah Abu an-Nu’man yang memiliki keterbatasan hafalan diusia senjanya, sedangkan hadits ini ia riwayatkan disaat ia masih di masa Rasulullah (Abu an-Nu’
Keterangan matan hadits yang bisa digali, diterangkan dalam Kitab Fathul Bari, bahwa keputusan seseorang untuk meminta jabatan atasnya menajdikan ia tertolak untuk memperolehnya. Namun Abu Hurairah memiliki paradigma berbeda dalam hal ini, ia melihat kajian hadits secara eksentris, bahkan ia menyimpulkan bahwa hadits ini bukan pelarangan terhadap pengajuan diri sebagai pimpinan, ia melihat hal itu baru sebatas makruh, dan barangsiapa yang meiliki akuntabilitas dan kapabilitas dalam memimpin kemudian mengajukan diri dan menjaga amanah yang dititipkan kepadanya dengan baik, hingga Abu Hurairah menyatakan surga wajib atas orang yang mampu melaksanakan amanah kepemimpinan dengan baik. Ibnu Hajar berpendapat, orang yang tidak memiliki kecakapan tidak boleh tidak mengajukan diri sebagai pemimpin. Validitas matan dari hadits ini mencapai tingkat marfu’ dimana Abu an-Nu’man dinyatakan berubah hafalannya di saat usia senjanya. Kecurigaan hilangnya validitas hadits sebab periwayatan Jarir bin Hazim bila meriwayatkan melalui jalur Qatadah terbantah, sebab tidak satupun jalir rawi di dalam hadits ini versi Qatadah.
Dari sisi kajian keilmuan Negara, maka Ibnu Taimiyah menyatakan kepemimpinan adalah kewajiban yang harus dijalankan umat Islam namun menyatakan menolak orang yang meminta jabatan sebagai pemimpin, sedangkan al-Qardlawy menambahkan kriteria pemimpin: (satu) Memiliki kapabilitas (al-qawwy) secara fisik, keilmuan, dan pengalaman. (Dua) Amanah, tidak bermaksiat kepada Allah dalam urusan ibadah. (Tiga) Untuk kriteria hakim, al-Qardlawy adalah penguasaannya terhadap berbagai disiplin ilmu sebagai pendukung obyektivitas keputusan hukum yang akan diputuskan. Lain halnya dengan Hasan al-Banna, dia tidak begitu tertarik untuk membahas masalah ini secara detail, namun ia memandang siapapun yang meminta jabatan atau imarah adalah cerminan dari hilangnya sifat amanah dari imarah dalam dirinya, sebab imarah adalah proses pemberian amanah, bukan pengajuan diri atau dengan memintanya.
Penulis menilai, bahwa matan hadits di atas secara eksplisit tidak melarang seseorang yang mengajukan diri atau mencalonkan diri sebagai pemimpin. Kadar kualitas pemimpin yang ditawarkan al-Qrdlawy adalah sebagai bentuk jalan tengah bagi siapapun yang melihat pentingnya siapapun yang merasa perlu untuk menjabat jabatan strategis dan mencalonkan diri untuk itu. Sebab kepentingan umum yang di bangun Islam untuk menjadi jembatan tegaknya nilai dan norma ke-Islaman lebih menjadi prioritas dari pada terus berkutat pada ambiguitas sikap; ingin menegakkan system Islam namun mengharamkan diri untuk terjun bebas ke kancah persaingan yang jelas merupakan jalan menuju perubahan yang dikehendaki. Tapi tetap dengan catatan, bahwa siapapun yang mencalonkan diri harus memenuhi criteria pemimpin yang disepakati oleh masyarakat muslim, hingga bisa menghindarkan kesembronoan sikap yang ujung-ujungnya malah melemahkan sesuatu yang diperjuangkan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kekuatan para perawi hadits
Penulis memberikan gagasan bahwa usia kepikunan bisa mendera seseorang pada normalnya pada Usia 70 tahun ke atas, disebabkan ketiadaan data pendukung tentang usia tepatnya, maka penulis menyatakan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Abu an-Nu’man pada tahun 224 H dikurangi 10 tahun ke belakang atau kisaran 214 H tidak bisa dijadikan landasan hujjah.
Penulis tidak menemukan periwayatan dari jalur Qatadah pada hadits yang diteliti, maka penulis menyimpulkan bahwa jalur periwayatan Jarir bin Hazim untuk hadits ini adalah tsiqqah.
Al-Hasan merupakan perawi hadits yang diakui ketsiqqatannya oleh banyak kalangan, bahkan tokoh sekaliber ‘Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah dan ‘Aisyah memandang ketokohannya dalam periwayatan hadits.
Abdurrahman bin Samurah dinyatakan dalam ath-Tabaqat termasuk ahli hadits yang menetap di Basrah. Perawi ini dinilai tsiqqah oleh ulama Hadits.
Matan hadits di atas secara eksplisit tidak melarang seseorang yang mengajukan diri atau mencalonkan diri sebagai pemimpin. Kadar kualitas pemimpin yang ditawarkan al-Qrdlawy adalah sebagai bentuk jalan tengah bagi siapapun yang melihat pentingnya siapapun yang merasa perlu untuk menjabat jabatan strategis dan mencalonkan diri untuk itu. Sebab kepentingan umum yang di bangun Islam untuk menjadi jembatan tegaknya nilai dan norma ke-Islaman lebih menjadi prioritas dari pada terus berkutat pada ambiguitas sikap; ingin menegakkan system Islam namun mengharamkan diri untuk terjun bebas ke kancah persaingan yang jelas merupakan jalan menuju perubahan yang dikehendaki.
2. Kekuatan matan hadits
Maka secara garis besar penulis menyatakan bahwa hadits ini marfu’ dan bisa dijadikan landasan hujjah, sebab penulis tidak menemukan illat/cacat yang bisa menjadikan lemahnya hadits ini, baik pada matan maupun jalur periwayatannya.

B. Saran
Penulis secara khusus menyarankan agar penelitian hadits seperti ini dibumikan dikalangan mahasiswa S-1 sebagai landasan kemapanan dalam berhujjah, hingga memiliki pengetahuan yang lengkap tentang hadits yang dikaji “dari hulu hingga hilir”, juga agar terhindar dari kecerobohan penukilan hadits dari kepentingan yang tidak sesuai dengan asbabul wurud hadits yang akan digunakan hingga mendekati titik kebenaran dari apa muatan hadits baik secara empiric ataupun hikmah.
Penulis menyadari bahwa penelitian hadits ini belum sebanding dengan validitas kajian hadits yang telah dilakukan para ulama’ hadits, namun penulis memandang terbukanya peluang untuk menggunakan ilmu ini sebagai wadah pengkajian ilmiah dengan penuh tanggungjawab atas gagasan membumikan hadits dalam kehidupan keseharian umat Islam. Dan penulis berharap kritikan dan saran untuk penyempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
al-‘Asqalany Ibnu Hajar, dan Ahmad bin Ali Hajar, Faftul Bari, Riyadh: Tahqiqul Abdil Qadir Syabih al-Hamdi, 2001.
al-Banna Al-Imam Hasan, Majmu’at Rasail, Mesir-Kairo: Daarus Syihab, tanpa tahun.
al-Bukhary Abu Abdillah Ismail bin Ibrahim al-Ja’fy, at-Tarikh al-Kabir, Libanon-Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, tanpa tahun.
al-Hushair Sulaiman Shalih, Pemikiran DR. Yusuf al-Qardlawy Dalam Timbangan, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2003.
al-Kalabadzi Al-Imam Abu Nasir bin Muhammad bin al-Husain, Rijal Shahih al-Bukhari, Lebanon-Bierut: Darul Ma’rifah, 1987.
al-Mazy Jamaluddin Abi al-Hujjaj Yusuf, Tahdzibu-l-Kamal fi al-Asma ar-Rijal, Libanon Beirut: Muassasah Arrisalah, 654-732 H.
al-Qardlawy Yusuf, Fiqh Negara, Fiqh Negara, Rabbani Press, Jakarta,1999.
_______________, Sekuler Ekstrem, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2000.
an-Nawawy Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf, Tahdzibu-l-Asma’ wa-l-Lughat, Libanon-Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, tanpa tahun.
an-Nisabury Abu al-Husain Muslim bin al-Hujjaj, ath-Thabaqaat, Juz: II, Riyadh: Darul Hijrah, 1991H.
an-Nury Abu al-Ma’aty, al-Jami’ fi al-Jarh wa at-Ta’dil, juz: III, Libanon Beirut: Muassasah Arrisalah, 732 H.
ash-Shalihy Abu Abdllah bin Abdi-l-Hady ad-Damsiqy, Tabaqhat ‘Ulama al-Hadits, Beirut-Lebanon: Muassasah ar-Risalah, 1996.
Malaikah Musthafa, Manhaj Dakwah DR Yusuf al-Qardlawy, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1997
Mausu’ah al-Hadits asy-Syarif, Shahih al-Bukhary.
Wahid Muhammad Maghfur, Sistem Pemerintahan Islam, Pasuruan: al-Izaah, 1997.

TABEL A.2. SILSILAH PERIWAYATAN

عبد الرحمن
1

الحسن
3

جرير بن حازم يونس بن عبيد عبد الله حميد هشام بن حسان سماع بن عطتية
3
2 2
3 3 3
محمد بن الفضل حجاج عبد الوارث عثمان بن عمر أشهل بن حاتم
2 3 2 3 4
عبد الله محمد بن يحيى
2 2

TABEL A.2.N LANJUTAN

الربيع قتادة بن دعامة منصور سماك بن حرب
3 4 2 4

Keterangan:
1,2,3,4 = Penomoran menunjukkan kualitas perawi urutan pertama memiliki derajat kedlabitan dan keadilan terkuat.
= Jalur periwayatan hadits yang diteliti
= Jalur periwayatan hadits yang tidak masuk dalam penelitian

SUMBER: Mausu’ah al-Hadits Asy-Syarif, sanad hadits Shahih al-Bukhary nomor: 6132

About CakTip

Pelayan santri-santriwati Pondok Modern Arrisalah Program Internasional di Kota-Santri Slahung Ponorogo Jawa-Timur Indonesia K. Post 63463. Lahir di Segodorejo Sumobito Jombang JATIM di penghujung Ramadhan 1395 H. Pernah bantu-bantu di IPNU Sumobito Jombang, IPM SMA Muh 1 Jombang, beberapa LSM, karya ilmiah, teater, dll. Lagi demen-demenya sama design grafis (corel). Sekarang lagi ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan PM Arrisalah. Sekali waktu chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!

Posted on 22 Juni 2011, in Cak Tip, Hadits, Pemikiran and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: