al-Umuru bi Maqashidihaa II الأمور بمقاصدها

Oleh:
Yamang bin Sahibe
Taufik Hidayat
Hammah Ahmad
Mansur MArtam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengertian kaidah fiqh yang lebih kongkrit dan tidak membingungkan adalah kaidah yang disimpulkan secara general dari materi fikih dan kemudian digunakan pula untuk menentukan hukum dari kasus-kasus baru yang timbul yang tidak jelas hukumnya di dalam nash.
Pada makalah sebelumnnya telah dijelaskan bahwa minimal ada tiga manfaat yang bisa diperoleh dari mempelajari al-Qawa’id al-Fiqhiyah; 1) mengetahui asas-asas umum fiqh , 2) lebih arif di dalam menetapkan hukum bagi masalah-masalah yang dihadapi, 3) memberi kemudahan di dalam menemukan hukum-hukum untuk kasus-kasus hukum yang baru dan tidak jelas nashnya dan memungkinkan menghubungkannya dengan materi-materi fikih yang lain yang tersebar di berbagai kitab fikih serta memudahkan di dalam memberi kepastian hukum.
Sulit diketahui siapa pembentuk pertama kaidah fiqh, yang jelas dengan meneliti kitab-kitab kaidah fiqh dan masa hidup penyusunnya, ternyata kaidah-kaidah fiqh tidak terbentuk sekaligus, tetapi terbentuk secara bertahap dalam proses sejarah hukum Islam. Walaupun demikian, di kalangan ‘ulama’ pada bidang kaidah fiqh menyebutkan bahwa Abu Tahir al-Dibasi, ulama’ madzab Hanafi, telah mengumpulkan kaidah fiqh madzab Hanafi sebanyak 17 kaidah. Kemudian Abu Sa’id al-Harawi, ulama’ madzab Shafi’i mengunjungi Abu Tahir dan mencatat kaidah fiqh yang dihafalkan Abu Tahir.
Alur dan proses kaidah fikih adalah sebagai berikut:

Al-Qur’an Usul Kaidah
Al-Sunnah
Fiqh
Fiqh

Fiqh

al-Sahihah
1 2 3 4

Kaidah Fiqh Qanun
Fiqh

6 7 8

Pengujian Kaidah

5

Dari diagram di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
(1). Sumber hukum Islam yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah Sahihah (Nass) ; (2) Kemudian muncul usul fiqh sebagai metodologi istinbat al-ahkam. Dengan metodologi usul fiqh yang menggunakan pola pikir deduktif akhirnya menghasilkan fiqh; (3) Fiqh ini banyak materinya. Dari materi fiqh yang banyak itu kemudian ulama’-ulama’ yang dalam ilmunya di bidang fiqh, meneliti persamaannya dengan menggunakan pola pikir induktif , kemudian dikelompokkan. Tiap-tiap kelompok merupakan kumpulan dari masalah-masalah serupa, akhirnya disimpulkan menjadi kaidah-kaidah fiqih; (4) Selanjutnya kaidah-kaidah itu dikritisi kembali dengan menggunakan banyak Nass, terutama untuk dinilai kesesuaiannya dengan substansi Nass. Pada posisi bagan keempat ini kaidah fiqih masih bersifat ikhtilaf sebab belum dikroscek dan belum diuji kesesuaiannya dengan substansi nass. (5) Apabila sudah dianggap sesuai dengan Nass, baru kaidah fiqh tersebut menjadi kaidah yang mapan; (6) Apabila sudah menjadi kaidah yang mapan/ akurat, maka ulama’-ulama’ fiqh menggunakan kaidah tadi untuk menjawab tantangan perkembangan masyarakat, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, akhirnya memunculkan fiqh-fiqh baru; (7) Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila ulama’ memberi fatwa dalam hal-hal yang baru, yang praktis selalu menggunakan kaidah-kaidah fiqh yang telah mapan tersebut. (8) Akhirnya kaidah-kaidah fiqh yang telah mapan tersebut menjadi Qanun.

B. Pembatasan Kajian
Karena dalam teori dari al-Qawa’id al-Fiqhiyah sangat luas dan banyak, maka penulis membatasi masalahnya pada:
1. kaidah inti : الأمور بمقاصدها
2. landasan dalil dari kaidah
3. kaidah-kaidah cabang
4. kajian seputar niat

BAB II
PEMBAHASAN

A. Dalil Kaidah
1. Al Quran
        
“Padahal mereka (orang kafir ) tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. (QS. Al Bayyinah : 05)
Kata al-din dalam konteks ayat di atas al-Qurthubi menafsirinya dengan ibadah , sehingga ada keterkaitan yang tak bisa dipisahkan antara ibadah dan niat.
2. Al Hadits
أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الزَّرَّادُ ، أَنْبَأَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْجَرْجَرَائِيُّ ، وَأَبُو أَحْمَدَ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْمُعَلِّمُ الْهَرَوِيُّ ، قَالا : أنا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ عِيسَى بْنِ مُحَمَّدٍ الْمَالِينِيُّ ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ النَّسَوِيُّ ، حَدَّثَنَا حِبَّانُ بْنُ مُوسَى ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَسْمَاءَ بْنِ أَخِي جُوَيْرِيَةَ بْنِ أَسْمَاءَ ، قَالا : أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيِّ ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لامْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا ، أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ هَذَا حَدِيثٌ مُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ
149 – وأخبرنا أبو محمد عبد الله بن يوسف الأصبهاني قال : أخبرنا أبو سعيد بن الأعرابي قال : حدثنا محمد بن عبد الملك الدقيقي قال : حدثنا يزيد بن هارون قال : أخبرنا يحيى بن سعيد ، أن محمد بن إبراهيم ، أخبره : أنه سمع علقمة بن وقاص ، يقول : سمعت عمر بن الخطاب على المنبر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : « الأعمال بالنيات ، وإنما لامرئ ما نوى ، فمن كانت هجرته إلى الله وإلى رسوله فهجرته إلى الله وإلى رسوله . ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه » رواه البخاري في الصحيح عن مسدد ، ورواه مسلم ، عن أبي الربيع ، وعن ابن نمير ، عن يزيد بن هارون
Ada perbedaan perdapat para ulama dalam memaknai substansi hadits di atas; kalangan Syafiiyyah berpendapat bahwa penekanan hadits ini berkisar tentang ‘keabsahan (legalitas) sebuah pekerjaan’, sementara golongan Hanafiyyah menafsirkannya dengan ‘kesempurnaan pekerjaan’.
Ibnu Hajar al Haytami menyatakan bahwa penafsiran kalangan Syafiiyah lebih unggul (awla) karena lebih mendekati makna hakiki dibanding muatan makna majazi yang diungkapkan oleh Hanafiyyah.
Berbeda dengan ulama mutaakhkhirin madzhab Hanbali yang mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan amal perbuatan pada hadits di atas hanyalah amal-amal syar’i atau perbuatan yang dilakukan dalam konstruksi hukum-hukum syari’at.
B. Kaidah-kaidah Cabang
Dari kaedah di atas lahir pula beberapa kaedah yang terkait dengan amalan hati, antara lain:
1. العبرة في العقود بالمقاصد والنيات (yang menjadi patokan dalam akad adalah maksud dan niat pelakunya).
Ibn Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan beberapa alasan terkait dengan kaedah ini:
a. Allah mengabaikan ungkapan-ungkapan yang keluar tanpa maksud dari orang yang mengucapkannya, misalnya ucapan orang yang tidur, lupa, mabuk, tidak tahu, dipaksa, atau orang salah ucap karena terlalu gembira.
b. Allah menolak syahadat orang munafik dan menganggapnya hanya sebagai tipuan dan ejekan bagi orang-orang ang beriman.
c. Dalam Al-Qur’an Allah juga mencela orang-orang yang mengatakan sesuatu yang mereka sendiri tidak lakukan.
d. Allah juga melaknat kaum Yahudi atas tindakan hilah yang mereka lakukan untuk menghalalkan apa yang diharamkan atas mereka.
e. Orang yang memeras anggur mendapatkan laknat karena niat mengolahnya menjadi minuman yang memabukkan. Sekedar memerasnya saja bukanlah tindakan tercela.
Bahkan Sibawaihi menyebutkan bahwa dalam pandangan jumhur ahli bahasa, ucapan tanpa disertai al-qasd tidak dikategorikan sebagai kalam.
2. ما لا يشترط التعرض له جملة و تفصيلا إذا عينه و أخطأ لم يضر
Kaedah ini menunjukkan bahwa sebuah niat ibadah yang tidak menuntut untuk disinggung secara terperinci maupun global, ketika disebutkan secara keliru, maka kesalahan tersebut tidak berpengaruh terhadap keabsahan ibadah. Misalnya: menyebut tempat shalat secara keliru tidak membatalkan shalat.
3. وما يشترط فيه التعيين فالخطأ فيه مبطل
Akan tetapi niat ibadah itu diharuskan untuk disebutkan secara jelas, maka keliru dalam meniatkannya mengakibatkan batalnya ibadah tersebut. Sehingga mengerjakan shalat dengan niat puasa dinilai tidak sah.
4. وما يجب التعرض له جملة ولا يشترط تعيينه تفصيلا إذا عينه و أخطأ ضر
Maksud kaedah ini terkait dengan niat yang mengharuskan untuk disebutkan secara global saja. Ketika niat ibadah tersebut disebutkan secara lebih detail dan ternyata keliru, maka kesalahan itu mengakibatkan rusaknya ibadah. Seseorang yang melakukan shalat jenazah dengan niat dan anggapan mayit laki-laki dan ternyata mayit tersebut wanita, maka shalat janazah yang ia kerjakan dinilai tidak sah.
5. مقاصد اللفظ على نية اللافظ
Untuk menetukan maksud sebuah ungkapan yang menerima multitafsir, harus dikembalikan kepada niat orang yang mengucapkannya. Tetapi kaedah ini tidak berlaku dalam pengambilan sumpah di pengadilan. Maksud dan kandungan sumpah ditetapkan oleh hakim, bukan kepada niat orang yang disumpah. Seseorang yang mengucapkan lafad talak sebanyak tiga kali tanpa huruf ‘ataf; jika disertai niat isti’naf, maka jatuh talak tiga. Dan jika ia hanya bermaksud taukid, maka jatuh talak satu.
C. Fungsi Pensyari’atan Niat
Menurut ulama’ Shafi’iyah, niat diartikan dengan bermaksud melakukan sesuatu disertai dengan pelaksanaannya.
Segala bentuk amal yang disyariatkan Allah di dunia ini tidak lepas dari tujuan atau fungsi dibalik pensyari’atannya, disana terdapat dua fungsi disyariatkannya Niat.
1. Untuk membedakan antara ibadah dan adat kebiasaan. Dalam bidang hablun min Allah (ibadah) niat adalah rukun. Sedangkan dalam bidang hablun min al-Nas (mu’amalah, munakahah, jinayah dll), niat berfungsi sebagai penentu apakah perbuatan tersebut mempunyai nilai ibadah ataukah bukan. Hal ini didasarkan pada qarinah dan bukti-bukti yang dapat dijadikan alat untuk mengetahui macam niat orang yang berbuat.
2. Untuk membedakan kualitas perbuatan, baik kebaikan ataupun kejahatan. Seperti seorang dokter yang mengobati pasien dengan niat mengobati (jika sesuai dengan dosis dan aturan serta kode etik kedokteran) atau membunuh (jika tidak sesuai dengan dosis dan aturan serta kode etik kedokteran).
3. Untuk menentukan sah tidaknya suatu perbuatan ibadah tertentu serta membedakan yang wajib dan yang sunnah. Seperti niat salat fardu atau niat salat sunnat. Bahwa dalam wudlu, atau ghusl, shalat dan puasa adakalanya ditunaikan dalam rangka menunaikan kewajiban (fardlu), atau kesunnahan, dan nadlar, sebagaimana tayammum adakalanya ditunaikan untuk membersihkan dari hadats atau jinabah. Maka niat dalam hal ini menentukan derajat antara satu ibadah dengan ibadah lainnya.
Dari kedua fungsi utama niat tersebut, terdapat beberapa dasar yang berkaitan denganya.
Tidak disyaratakannya niat dalam Ibadah Mahdloh (murni), atau yang bukan merupakan adat kebiasaan yang dilakukan manusia.
Seperti Iman dan makrifat kepada Allah, membaca Al Quran dan dzikir, dalam hal ini tanpa niatpun hal-hal tersebut memiliki keistimewaan dari yang lainnya, hal serupa yang dikutip oleh Imam Suyuti adalah memandikan mayit, dan keluar dari sholat.
Bahwa perlu adanya ta’yin (penentuan) dalam ibadah yang memungkinkan serupa dengan hal lainnya, sehingga menjadi berbeda.
Dalam shalat seseorang harus mena’yinkan antara dluhur dengan ashar, karena keduanya memiliki kesamaan dalam perbuatan dan gambaran, begitu pula dalam puasa yang disana terdapat macam-macam dan jenis, antara ramadlan, qadla, nadzar, dan kafarat.
Pengecualian dari ketentuan di atas adalah :
o Tidak diperlukan niat pada perbuatan yang bukan ibadah.
o Tidak diperlukan niat dalam mengerjakan dan meninggalkan perbuatan haram. Seperti niat mengerjakan dan menjauhi perbuatan zina.
D. Waktu Niat
Pada dasarnya waktu berlangsungnya niat adalah di awal ibadah, seperti dalam halnya sholat, wudlu dan udlhiyah, kecuali puasa, karena menjadi sulit jika dilakukan ketika awal ibadah, bahkan diwajibkan niat sebelum berpuasa, begitu pula zakat dalam sebagian pendapat ulama lain.

 awal haqiqi atau awal nisbi
Dalam hal ibadah, di sana terdapat dua macam dalam segi permulaan, yaitu awal haqiqiy dan awal nisby, maka dalam hal ini niat wajib dilakukan pada kedua sisinya, seperti dalam tayammum yang harus niat ketika memindah debu dan membasuh wajah.
 dalam hal ibadah yang memuat banyak fi’il atau rukun, maka tidak membutuhkan lagi niat di tiap-tiap rukun tersebut.
E. Tempat Niat
Para Ulama sepakat bahwa tempat niat adalah di dalam hati, Imam Baidlawi mengatakan bahwa niat adalah suatu kretekan dalam hati pada hal-hal yang ditujukan untuk mengambil manfaat atau menolak madlarat, yang mana ditentukan syara’ sebagai upaya mencari ridla Allah dan menunaikan hukum-hukumnya. Maka dari sini dapat disimpulkan bahwa letak niat adalah di dalam hati, tidak cukup dilakukan dalam kata saja, tanpa di dalam hati.
Jika terdapat perbedaan apa yang ada di dalam hati dan perkataan, maka yang menjadi ibrah adalah apa yang ada dalam hati, jika seseorang dalam hatinya berniat wudlu tapi dalam lisannya berucap untuk membasuh muka biasa, maka yang menjadi ibrah adalah wudlu, begitu pula sebaliknya.
F. Syarat-syarat Niat
Di sana terdapat juga syarat-syarat yang menentukan sah dan tidaknya niat seseorang, syarat tersebut adalah sebagai berikut
 Islam, bagaimanapun jika seorang kafir berniat melakukan ibadah, maka tidak sah ibadahnya , meski dalam beberapa kasus seperti kaffarot dan zakat dalam keadaan murtad tetap menjadi sah dalam versi sebagian ulama
 Tamyiz, tidak sah ibadah anak kecil yang belum mumayyiz, begitu pula gila dan mabuk.
 Mengetahui perbuatan yang diniatkan, maka tidak sah seorang yang tidak mengetahui kefardluan shalat atau puasa yang dilakukannya, atau mengetahui sebagian saja tanpa lainnya.
Imam Al Ghozali dalam hal ini berpendapat “bahwa tidak apa jika seorang melakukan ibadah tanpa mengetahui hakikat fardlu dan sunnahnya, dengan syarat tidak bermaksud untuk tanafful ( menyengaja melakukan kesunnahan), jika demikian maka tidak sah.
 Tidak adanya sesuatu yang meniadakan keabsahan niatnya, bila seorang murtad ditengah sholat, puasa, haji atau tayammum, maka ibadahnya tidak sah.
G. Hal-hal yang membatalkan keabsahan Niat
 niat memutus (qot’u)
 niat memutus iman, maka orang tersebut otomatis menjadi murtad. niat memutuskan sholat, maka sholatnya tidak sah secara langsung
 tidak adanya kemampuan melakukan perbuatan yang diniatkan, bila seorang berniat wudlu untuk melakukan shalat tapi tidak ingin melakukannya, maka tidak sah.
 kebimbangan atau tiadanya kemantapan hati, bila seorang di tengah shalat bimbang apakah meneruskan atau menghentikannya, maka dalam kondisi demikan shalatnya tidak sah.

BAB III
KESIMPULAN

Dalam kaidah pertama dari qawaid al khamsah ini dijelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan niat, baik tentang hakikat niat, kenapa dan kapan waktu berniat, tatacara niat dan lain sebagainya. Dengan memahami kaidah pertama tentunya diharapkan akan lebih bisa memaknai hidup untuk mencapai hidup yang lebih berkualitas dari sebelumnya. Berkualitas di dunia maupun di akhirat. Hal ini bisa dicapai dengan berusaha mengkaji ulang dan menelaah kembali apakah yang telah kita lakukan selama ini sudah benar-benar sesuai dengan tuntunan syari’ah atau belum. Semua kembali kepada anda sebagai pembaca. Wassalam….. 

DAFTAR PUSTAKA

Abd al-H{amid H{akim, Mabadi’ Awwaliyyah. Jakarta: Sa’adiyah Putra, [t.th.].
A. Djazuli, Ilmu Fikih: Penggalian, Perkembangan dan Penerapan Hukum Islam, cet V. Jakarta: Prenada Media, 2005.
al-Suyuti, Jala<l al-Din 'Abd al-Rahman, al-Ashbah wa al-Nadzair fi Qawa'id wa Furu' Fiqh al-Shafi'i, cet I. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, 1979.
al-Shirazi, Abu Ishaq , al-Muhadhdhab, juz. I (t.tp: Dar al-Fikr, t.t)
al-Ruki, Muhammad, Qawa'id al-Fiqh al-Islami, cet I. Beirut: Dar al-Qalam, 1998.
al-Zarqa, Ahmad bin Shaikh Muhammad, Sharh al-Qawa'id al-Fiqhiyah, cet.VI Damskus: Dar al-Qalam, 2001.
al-Qurthubi, Abu Abdillah Muhammd bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh, Tafsir Jami Al-Ahkam. Mesir: Dar al-Syu’ab, 1372 H.
al-Jauziyyah, Muhammad ibn Abi Bakr Ayyub ibn Qayyim, I‘lam al-Muwaqqi‘in ‘an Rabb al-‘A<lamin, (CD-ROM al-Syamilah), Juz 3.
al-Suyuti, Abd al-Rahman ibn Abi Bakr , al-Asybah wa al-Naza’ir, (CD-ROM al-Syamilah)
Qalyubi wa Umairah, Hashiyah Shihab al-Din al-Qalyubi wa Umairah, juz. I (Singapura: Maktabah wa Matba'ah Sulaiman Mar'i, t.t)
Zain al-‘A<bidin ibn Ibrabim ibn Nujaim, al-Asybah wa al-Naza’ir ‘ala Mazhab Abi Hanifah al-Nu‘man, (CD-ROM al-Syamilah)
Zubair, Maimoen, Formulasi Nalar Fiqih, Telaah Kaidah Fiqih Konseptual. Surabaya: Khalista, 2009.

About CakTip

Pelayan santri-santriwati Pondok Modern Arrisalah Program Internasional di Kota-Santri Slahung Ponorogo Jawa-Timur Indonesia K. Post 63463. Lahir di Segodorejo Sumobito Jombang JATIM di penghujung Ramadhan 1395 H. Pernah bantu-bantu di IPNU Sumobito Jombang, IPM SMA Muh 1 Jombang, beberapa LSM, karya ilmiah, teater, dll. Lagi demen-demenya sama design grafis (corel). Sekarang lagi ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan PM Arrisalah. Sekali waktu chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!

Posted on 1 Juni 2011, in Usul Fiqh and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: