Aqidah, Qadar (predestine) tidak anti Ikhtiar dan pandangan Islam di dunia medis

MASALAH AQIDAH
Setiap agama mempunyai tiga sistem yang dipandang sebagai pilar eksistensi agama tersebut. Tiga sistem tersebut adalah : (1) Sistem Aqidah ( Credo ), yang merangkum pernyataan / perangkat keyakinan dasar dari agama. Dalam Islam dikenal adanya enam rukun Iman (percaya kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, percaya kepada para Malaikat, percaya kepada para Rasul, percaya kepada Kitab-kitab suci, percaya kepada Hari Akhir, dan percaya tentang Taqdir). (2) Sistem Ibadah ( Ritus ), seperangkat tatacara penyembahan dan kebaktian kepada Tuhan. Dalam Islam dikenal adanya lima rukun Islam ( dua kalimat syahadat , sholat lima waktu, menuanaikan zakat, melakukan puasa Ramadlan, dan melakukan haji ), dan (3) Sistem Akhlaq ( Moral ), seperangkat aturan dan tata nilai yang menjadi acuan sikap dan perilaku yang harus dikerjakan, seperti saling menolong, berbakti kepada kedua orang tua, menghormati tetangga, menjauhi berbuat bohong dan menipu, menjauhi sikap dan perilaku sombong, dan lain-lain. ( Anshari : 1983 )

Dalam Islam sistem aqidah berangkat dari keimanan, dan yang paling fundamental adalah enam rukun Iman tersebut, dan intinya mengerucut kepada keimanan kepada Allah Yang Maha Esa, dalam segala dimensinya. Inilah yang disebut doktrin “TAUHID” dalam Islam. Konsep Aqidah Islam yang lebih terperinci dapat ditelusuri sampai ke lingkungan polemis pada periode sekitar setengah abad sepeninggal Nabi Muhammad saw. Polemik itu bersifat internal dan sekaligus eksternal. Secara internal, perkembangan teologis dan politik tertentu seringkali mendorong para pakar untuk merumuskan aqidah guna menolak doktrin-doktrin yang dinilai menyimpang. Konflik berkepanjangan Sunni – Syi’ah juga tercermin dalam sistem aqidah. Faktor-faktor eksternal juga mempengaruhi isi dan bahasa aqidah. Tuntutan untuk menanggapi pemikiran filosofis Yunani mendorong para dogmatis Muslim untuk mengadaptasi argumen mereka dengan menggunakan kategori dan terma dari sistem pemikiran mereka .

Dalam teologi Islam, Tuhan adalah pencipta alam semesta, termasuk di dalamnya manusia sendiri. Tuhan bersifat Maha Kuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Segala macam peristiwa yang terjadi di dunia ini, dan dalam sistem kemakhlukan sepanjang waktu dan di semua tempat, termasuk yang menyangkut kehidupan umat manusia, tidak lepas dari ketentuan, kehendak dan kekuasaan yang sudah di programkan oleh Allah Swt, dan tidak ada kekuatan lain yang dapat mengubahnya, kecuali dengan idzin Allah. Inilah yang disebut sebagai “Qadla’ dan Qadar“. Di sini timbullah pertanyaan, sampai dimanakah manusia sebagai ciptaan Tuhan bergantung pada kehendak ( iradah ) dan kekuasaan (qudrah) mutlak Tuhan dalam menentukan perjalanan hidupnya ?. Adakah Tuhan memberikan kemampuan dan kebebasan kepada manusia dalam mengatur hidupnya. Ataukah manusia terikat sepenuhnya pada hehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan ? ( Nasution : 1986 )

Responsi para teolog Islam menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut terbagi dalam beberapa aliran (pemikiran), dan di antara aliran yang populer dari dulu sampai sekarang secara ringkasnya dapat dikemukakan sebagai berikut :

(1) Golongan JABRIYAH, berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan dan kebebasan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam faham golongan ini terikat penuh pada kehendak mutlak Tuhan (predestination), manusia tidak mempunyai upaya yang efektif sama sekali.
(2) Golongan QADARIYAH, berpendapat, bahwa manusia mempunyai kemampuan dan kebebasan dalam menentukan perbuatannya, tidak terikat dengan kemauan dan kehendak mutlak Tuhan. Umumnya aliran Mu’tazilah menyetujui faham Qadariyah ini. Manusia dianggap mempunyai kebebasan penuh dalam berkemauan dan berbuat ( free will and free act ).
(3) Golongan AHLUSSUNNAH WAL-JAMA’AH terbagi dalam beberapa versi :
a) Asy’ariyah yang berpendapat, bahwa kehendak dan kekuasaan Tuhan adalah mutlak, dalam arti kehendak dan kekuasaan-Nya tidak dapat dihalang-halangi oleh siapapun. Perbuatan manusia juga diciptakan oleh Tuhan.

“Dan Allah yang menciptakan kamu, dan apa saja yang kamu perbuat“ (As-Shoffat : 96 ).

Menurut Asy’ariyah, Tuhan meciptakan untuk manusia kemauan dan kemampuan berusaha (al-Kasb), tapi al-kasb itu tidak efektif apabila berhadapan dengan kehendak dan kekuasaan Tuhan. (Manusia dapat berusaha, tapi Tuhan yang menentukan).
b) Maturidiyah yang berpendapat juga, bahwa kehendak dan kekuasaan Tuhan adalah mutlak, dan manusia tidak dapat melawan kehendak dan kekuasaan Tuhan, tapi manusia mempunyai peran (yang terbatas) dalam usaha melakukan sesuatu. Dalam ajaran Maturidiyah, bahwa Tuhanlah yang menciptakan kemampuan (kholqu al-istitho’ah) bagi manusia, sedangkan peran manusia adalah menggunakan kemampuan tersebut (isti’mal al-istitho’ah) dalam wujud gerak dan ikhtiar. Dalam ungkapan popular dinyatakan : “Saya ingin begini, dan anda ingin begitu (boleh boleh saja), tetapi Allah berbuat apa saja yang Ia kehendaki“.
c) Ahlul Hadits, yang pendapatnya sangat literalis, tetapi dalam masalah Qadla’ dan Qadar serta status kemauan dan perbuatan manusia tidak jauh berbeda dengan Asy’ariyah dan Maturidiyah, meskipun dalam masalah lain-lain banyak perbedaan-perbedaannya. ( An – Nasyar : 1995 ).

QADAR (PREDESTINE) TIDAK MELARANG IKHTIAR (VOLITION)
Meskipun dalam teologi Islam meyakini adanya Qadar atau Taqdir, yang berarti bahwa semua yang terjadi di dunia sudah ditetapkan dalam program Tuhan, dan siapapun tidak dapat menghalanginya, namun Tuhan membolehkan manusia berikhtiar, dan ikhtiar tersebut mendapat point tersendiri dari Tuhan, lepas dari berhasil atau gagalnya ikhtiar itu. Manusia dinilai baik, apabila berniat atau berusaha baik meskipun niatnya dan usahanya itu gagal. Dan manusia dinilai buruk, apabila berniat dan berusaha berbuat buruk, meskipun niat dan usahanya itu gagal karena Tuhan menakdirkan lain. Contohnya : Seseorang berniat melakukan ibadah haji, sudah membayar ongkos haji, sudah belajar manasik haji, bahkan sudah ditetapkan ikut kloter sekian. Tetapi ikhtiarnya itu kandas karena menjelang pemberangkatan, dia sakit dan akhirnya meninggal dunia. Contoh lain : Seseorang berniat merampok mobil yang membawa uang dari bank, dan sudah siap dengan segala senjata dan peralatannya, tapi niat dan usahanya itu gagal, karena keburu ditangkap oleh aparat keamanan. Dua macam ikhtiar yang sama-sama gagal tadi, nilainya tetap berbeda, yang pertama dinilai ikhtiarnya baik, meskipun usaha baiknya itu gagal, sedangkan yang kedua, ikhtiarnya dinilai buruk, meskipun usaha buruknya juga gagal .

“Agar Allah memberikan balasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa saja yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha Cepat hisabnya“ (Ibrahim : 51)

Seorang mukmin yang baik, selalu menyadari dan mempercayai, bahwa yang menciptakan dirinya, yang memberikan makan dan minum, yang memberi kesembuhan dari penyakit yang dideritanya, pada hakikatnya adalah Allah. Sikap demikian itu disampaikan oleh Nabi Ibrahim a.s. yang diabadikan di dalam al-Qur’an :

“Dialah Tuhan yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberiku petunjuk . Dan Dia Tuhan yang memberikan makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku“. ( As-Syu’ara : 78 – 80 ).

Sikap keimanan yang hakiki seperti tersebut, tidak menafikan kesadaran adanya sebab – akibat yang harus dimengerti, adanya usaha dan ikhtiar yang perlu dilakukannya. Imam Ibnu Katsir (ahli tafsir al-Qur’an yang terkenal) memberikan komentar tentang ayat-ayat tersebut :

“Dia ( Tuhan) yang menciptaku, yang memberi rizqi kepadaku dengan memberikan kemudahan dan menundukkan kekuatan-kekuatan langit dan bumi, menggiring mendung, menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman-tanaman yang memberikan berbagai macam hasil untuk menjadi rizki bagi manusia …………Dalam masalah penyakit, Dia yang memberikan sebab-sebab / sarana untuk menghasilkan hal-hal yang dibutuhkan untuk penyembuhan“. ( Ibnu Katsir : 2000, Al – Maraghi : 1972 ).

Meskipun aqidah Islam yang teosentris meyakini bahwa “yang menyembuhkan penyakit“ pada hakikatnya adalah Allah, namun dalam Islam juga dianjurkan, agar setiap orang melakukan ikhtiar untuk menemukan obat yang dapat menyembuhkannya. Nabi Muhammad saw memerintahkan para sahabat :

“Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah, maka sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak meletakkan suatu penyakit kecuali juga meletakkan obatnya, kecuali satu macam penyakit (yang tidak ada obatnya) . Sahabat-sahabat bertanya : Penyakit apa itu wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : “penyakit tua”.
(riwayat Ahmad bin Hambal, dari sanad Ziyad bin ‘Ilaqah dari Usamah bin Syarik yang bercerita, bahwa ketika dia berada di samping Nabi Muhammad saw, datanglah serombongan orang-orang Arab pedalaman (Baduwi) kemudian bertanya kepada Nabi saw : “Apakah kami boleh berobat ?“. Beliau menjawab : “Ya“ kemudian menyampaikan sabda beliau di atas tadi. ( Ibnu Qoyim : 2004 )

APRESIASI ISLAM TERHADAP ILMU KEDOKTERAN
Para ulama ahli fiqih, memandang belajar ilmu kedokteran sebagai “fardlu kifayah” artinya diantara umat Islam wajib ada sebagian yang menguasai ilmu ini, dan apabila tidak ada diantara mereka yang menguasainya, maka semua umat Islam berdosa. Bahkan al-Ghozali memandang belajar ilmu kedokteran itu lebih penting daripada belajar bagian-bagian ilmu fiqih yang tidak prinsip. Oleh karena itu Nabi Muhammad saw. sendiri pernah memanggil seorang sahabat wanita yang bernama Syifa’ binti Ubaidillah (yang mempunyai keahlian mengobati penyakit Herpes…….kepada Shafiah binti Umar ( yang juga isteri Nabi saw ). Beliau bersabda : “Wahai Syifa’, ajarilah Shafiah tentang pengobatan sebagaimana kamu telah mengajarinya membaca dan menulis !“.

Imam As-Syafi’i mengatakan : “Ada dua kelompok dimana manusia tidak dapat lepas dari keduanya, yaitu ulama untuk kepentingan agama mereka, dan para dokter untuk kepentingan raga mereka “ . As-Syafi’I juga merasa prihatin terhadap keadaan umat Islam yang kurang peduli terhadap ilmu dan profesi kedokteran, beliau mengatakan : “Mereka (umat Islam) telah mengabaikan sepertiga ilmu (yakni ilmu kedokteran), dan menyerahkan keahlian ini kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani“ ( Adz-Dzahabi : 1987 )
Al-Ghozali, dalam “Ihya’”-nya, menilai bahwa ilmu-ilmu diluar ilmu syari’ah yang termasuk sebagai “ilmu yang baik dan terpuji“ ( al-ulum al-mahmudah” adalah ilmu “kedokteran” ( at-thib ) dan “matematika” (al-hisab). Kedokteran dikategorikan sebagai “fardlu kifayah”, karena kedokteran sebagai ilmu dan kompetensi yang selalu dibutuhkan dalam menjaga kesejahteraan hidup di dunia ini, terutama dalam menjaga kelestarian kesehatan ragawi . ( Al-Ghozali : 1358 H) .

Dalam prakteknya, Nabi Muhammad saw sendiri juga menjalani pengobatan, antara lain ketika perang Uhud beliau menderita luka berdarah di bagian muka beliau, dan ketika luka tersebut terus mengeluarkan darah, maka putri beliau, Fathimah binti Muhammad, memberikan obat dari abu daun korma yang dibakar sebelumnya, dan ternyata setelah itu luka tersebut terhenti pendarahannya.
Pada waktu perang Khandaq, salah seorang panglima perang Rasulullah yang bernama Sa’ad bin Mu’adz terluka parah, oleh Nabi Muhammad, Sa’ad dievakuasi ke halaman masjid Madinah dan ditempatkan di sebuh kemah bersama beberapa sahabat lain yang terluka, kemudian Nabi saw memerintahkan Syifa’ binti Ubaidillah sebagai pimpinan team yang merawat dan mengobati Sa’ad dan para korban luka tersebut. ( Ibnu Hisyam : 1998 )

Semoga paparan singkat ini ada manfaatnya.

Malang, 8 – September – 2007

Muhammad Tholhah Hasan

KEPUSTAKAAN :

Al-Baar , Muhammad Ali 1992 M . AHKAM AT-TADAWI . Dar aManarah
Jiddah .

——————— 1995 M MUDAAWAT AR-RAJUL LI ALMAR’-
AH , WA MUDAAWAT AL-KAFIR LI
AL-MUSLIM . Dar al-Manarah , Jeddah.

Al-Dzahabi, Syamsuddin M. 1986 M AT-THIB AN-NABAWI . Maktabah at-
Tarbiyah . Beirut .

Al-Ghozali, Abu Hamid 1358 H IHYA’ ULUMIDDIN . Matba’ah Musta-
fa al-Babi al-Halabi , Kairo .

Al-Maraghi , Musthafa 1972 M TAFSIR AL-MARAGHI , Matba’ah Mus
tafa al-Babi al-Halabi , Kairo .

Al-Nassyar , Ali Sami . 1995 M NASY’AH AL-FIKR AL-FALSAFI FI
AL-ISLAM . Dar al-Ma’arif , Kairo .

Anshari , Endang Saifuddin 1983 M WAWASAN ISLAM . Salman Press –
ITB . Bandung .

Hasan , M.Tholhah 2006 M WAWASAN UMUM AHLUSSUNNAH
WAL JAMA’AH , Lantabora Press
Jakarta .

Ibnu Hisyam , Abu Muhammad
Abdulmalik . 1994 M AS-SIYRAH AN-NABAWIYAH , Mak
tabah Al-hilal . Beirut .

Ibnu Katsir , Abul Fida’ 1997 M AS-SIYRAH AN-NABAWIYAH , Dar-
al-Kitab al-Arabi , Beirut .

______________ 2000 M TAFSIR AL-QUR’AN AL-‘ADHIM .
Jam’iyah Ihya’ at-Turats al-Islami , Ku
wait ,

Ibu Qoyyim , Syamsuddin 2004 M AT-THIB AN-NABAWI . Al-Maktabah
al-Ashriyah . Beirut .

Nasution , Harun 1986 M TEOLOGI ISLAM , UI – Press Ja-
karta .

Phasa , Hasan Syamsi & Mu-
hammad Ali al-Baar 2004 M MAS’ULIYAH AT-THABIB BAINA
AL-FIQIH WA AL-QANUN . Dar-
al-‘Ilm Damaskus .

Syarafuddin , Ahmad 1403 H AL-AHKAM AS-SYAR’IYAH LI
AL-A’MAL AT-THIBBIYAH . Al- Majlis al-Wathani li Al-Tsaqafah . Kuwait .

About CakTip

Pelayan santri-santriwati Pondok Modern Arrisalah Program Internasional di Kota-Santri Slahung Ponorogo Jawa-Timur Indonesia K. Post 63463. Lahir di Segodorejo Sumobito Jombang JATIM di penghujung Ramadhan 1395 H. Pernah bantu-bantu di IPNU Sumobito Jombang, IPM SMA Muh 1 Jombang, beberapa LSM, karya ilmiah, teater, dll. Lagi demen-demenya sama design grafis (corel). Sekarang lagi ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan PM Arrisalah. Sekali waktu chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!

Posted on 27 Mei 2011, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: