I J T I H A D

I J T I H A D

[KECAKAPAN YANG DIBUTUHKAN UNTUK BERIJTIHAD, KEHARUSAN MEMBERLANGSUNGKANNYA, DAN PERANANNYA DALAM PENERAPAN SYARI’AT ALLAH TERHADAP PERKARA-PERKARA YANG BARU DI LINTAS ZAMAN DAN GENERASI, KHUSUSNYA PADA ZAMAN KITA]

Berdasarkan hadits Muadz bin Jabal  yang mashur: “Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika beliau mengutus Muadz ke Yaman, beliau bersabda: ”Apa yang kau lakukan ketika engkau akan memutuskan sesuatu?” Muadz menjawab: “Saya akan menghukumi sesuatu berdasarkan kitab Allah”. Beliau bersabda: “Bila urusan tadi tidak engkau dapatkan di dalam Kitab Allah?”  Mu’ad menjawab: “Maka aku akan menghukuminya dengan Sunnah Rasulullah SAW”.  Beliau bersabda: “Bila urusan tadi tidak juga engkau dapatkan di dalam sunnah Rasullah?”. Maka Mu’adz menjawab: “Aku akan berijtihad dengan pemikiranku, dan aku tidak akan mengabaikannya (urusan).”   Mua’adz berkata: “Kemudian Rasulullah menepuk dadaku seraya bersabda: ”Segala puji bagi Allah Dzat Yang member pertolongan utusan Rasulullah terhadap apa-apa yang Rasulllah meridlainya.” [HR Ahmad, Abu Dawud,Tirmidzi dan yang lainnya]…………..

Semoga Allah menjaga engkau wahai Amirul Mukminin, melanggengkan kemuliaanmu, dan semoga Allah meluruskan mlangkahmu menuju jalan kebenaran dan petunjuk, semoga Allah mengekalkanmu sebagai ahli segala keutamaan dan kemuliaan.  Dan semoga Ia menyempurkan bagimu segala nikmat yang tampak dan yang tersembunyi.  Dan semoga Allah menjadikan hidupmu penuh enikmatan dengan segala berkah dan kemuliaan selalu dalam keselamatan dan kedamaian, semoga engkau juga dalam keadaan sehat wal-‘afiat agar engkau mampu emban amanat umatmu dengans egala kesempurnaan, juga berhikdmat dalam segala urusan agama dan ummat muslimin di segala penjuru. Dan semoga diringankan dengan pertolongan Allah dan dukunganNya, amiin.

Wahai tuanku! Sesungguhnya sudah menjadi ajaran yang kita yakini dan di atasnya berdirilah aqidah Islam. Yakni ajaran Muhammad yang merupakan penutup  ajaran-ajaran agama-agama langit.  Dan sesunggunhya Muhammad adalah Hamba Allah dan RasulNya. Dan meruapakan penutup para nabi dan rasul.  Yang tiada nabi dan rasul sepeninggalnya, yang Allah menjadinya warisan dan anugerah bagi bumi.  Dan Dialah sebaik-baiknya pewaris.  Maka ajaran yang mengikuti dengan umumnya risalah Muhammad ini berlaku bagi seluruh penduduk bumi.

!$tBur y7»oYù=y™ö‘r& žwÎ) Zp©ù!$Ÿ2 Ĩ$¨Y=Ïj9 #ZŽÏ±o0 #\ƒÉ‹tRur £`Å3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw šcqßJn=ôètƒ ÇËÑÈ(سبأ: 28)

“dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba: 28)

ö@è% $yg•ƒr’¯»tƒ ÚZ$¨Z9$# ’ÎoTÎ) ãAqߙu‘ «!$# öNà6ö‹s9Î) $·èŠÏHsd “Ï%©!$# ……. ÇÊÎÑÈ   (الأعراف: 158)

Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (Al-“araf: 158)

Hal ini menunjukkan kewajiban untuk melanggengkan syari’at Allah di muka bumi selama manusia menghuninya.  Hingga dengannya Hujjah Allah bisa ditegakkan atas hamba-hambanya tanpa henti.  Jika syari’at Alah tidak ditegakkan, maka terputuslah khabar Allah; bahwa manusia tidak akan diterlantarkan begitu saja:

Ü=|¡øts†r& ß`»|¡RM}$# br& x8uŽøIム“´‰ß™ ÇÌÏÈ   (القيامة: 36)

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Al-Qiyamah: 36)

terlantar dan terabaikan, tanpa pembebanan, tanpa perintah, tidak larangan, tidak pula dihisab amal kebajikannya.

Hal ini benar-benar tidak masuk akal, dan bertentangan dengan akal sehat dan nash, juga bertentangan dengan sekian banyak berita nash yang berasal dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah, yakni tentang tanggungjawab hamba yang mukallaf atas semua perbuatannya yang bersifat ikhtiraiyah. Baik itu perbuatan yang terpuji aatau yang tercela.  Seabagaimana ayat berikut yang juga menerangkanya:

‘@ä. ¤›ÍöD$# $oÿÏ3 |=|¡x. ×ûüÏdu‘ ÇËÊÈ

“Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath-Thur: 21)

šÎn/u‘uqsù óOßg¨Yn=t«ó¡oYs9 tûüÏèuHødr& ÇÒËÈ   $¬Hxå (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÒÌÈ

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (Al-Hijr: 92-93)

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ø‹n=tæ öNä3|¡àÿRr& ( Ÿw Nä.•ŽÛØtƒ `¨B ¨@|Ê #sŒÎ) óOçF÷ƒy‰tF÷d$# 4 ’n<Î) «!$# öNä3ãèÅ_ótB $YèŠÏHsd Nä3ã¥Îm;uZãŠsù $yJÎ/ öNçGZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÉÎÈ

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk[1][453]. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Maidah: 105)

Dan dalam hadits Qudsi yang diriwayatakan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim, Allah SWT berfirman: “Wahai hambaKu, sesunggunhya semua amal perbuatan kalian akan Aku perhitungkan bagi kalian kemudian Aku sempurnakan.  Maka barangsiapa menemukan kebaikan pada amal-perbuatanya maka hendaklah ia memuji Allah.  Dan barangsiapa menemukan keburukan pada amal-perbuatanya, maka hendaklah sekali-kali ia tidak mencela kecuali terhadap dirinya sendiri.”   Dan beragai ayat serta hadits yang menunjukkan tanggungjawab hamba atas segala perbuatannya.  Dan sesungguh hamba tadi pastilah ditanya, dihisab, diberi pahala, dibalas atas segala perbuatnnya di sisi Tuhannya Dzat Yang tidak menyesatkan,  tidak pelupa, tidak mendlalimi atas seorangpun, setelah Ia mempringatkan manusia dengan mengutus utusanNya, yang Hujjah tegak bersema mereka atas sekalian hamba.  Barang siapa telah memringatkan, maka ia telah lepas tanggung-jawab.

Ayat……………..

Kemudian dari pada itu, tidak ada hokum kecuali apa yang telah Allah tetapkan sebagai hukum.  Dan tiada pembebanan kecuali dengan syari’at.  Secara khusus Madzhab Ahlus-Sunnah Wa-l-Jama’ah (yang bertentangan dengan pendapat Madzhab Mu’tazilah) dalam hal Konsep Baik-Buruk yang berdasar akal. Madzhab Ahlu-s-Sunnah berpenadat, bahwa tidak ada balasan dan siksa kecuali dengan syari’at,  agar hujjah Allah tegak atas hamba dengan datangnya syari’at, pengutusan Rasul, penurunan Kitab Suci, tidak hanya berdasar akal semata, ini berarti keberlangsungan hujjah Allah atas hambaNya.  Diriwayatkan dari Imam ‘Ali RA, sesungguhnya dia berkata: “Sekali-kali bumi tidak akan pernah kosong dari orang yang menegakkan hujjahnya Allah, agar hujjah dan ajaran Allah tidak dibatalkan.” [HR Abu Nu’aim dalam kitabnya Al-Haliyah].  Hal ini dikuatkan oleh hadits shohih: “Pastilah ada sekelompok orang dari ummatku yang menegakkan kebenaran hingga jelaslah ketetapan Allah atas mereka dan mereka tetap dalam kondisi demikian.”  Atau sebagaimana diungkapkan oleh Imam Syafi’I dalam Kitab Al-Umm: “Setiap ada perkara yang baru atas orang muslim maka hukum menyertainya, ia wajib mengikutinya dengan penetapan hokum bila terdapat dalam nash. Namun bila tidak, maka ia menghajatkan ijtihad.”   Dan banyak lagi pernyataan para ulama dalam urusan yang sama.  Kemudian dari pada itu para ulama’ menetapkan bahwa tidak dibenarkan menghukumi (memvonis) sebuah perkara hingga hukum Allah nyata dalam perkara tersebut.  Sebagaimana telah diisyaratkan oleh Shahibu-l-Mursyid Mu’in:

Perkara tidak dihukumi hingga jelas urusannya

Dan Allah menetapkan hukum bagi segala urusan

Dan sebagai ulama’ telah berijma’ atas takrir di atas.  Dan sebagian berargumen dengan hadits “Menempuh ilmu adalah kewajiban setiap muslim.”   Jika demikian adanya, maka perbuatan segala manusia tidak terlepas dari hukum Allah.  Dan sesungguhnya berbagai hukum syari’at diambil dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah yang berkaitan dengan penetapan syari’at secara khusus.  Yakni yang dikenal dengan Ayat-ayat Ahkam, hadits-hadits Ahkam.   Yang membedakan keduanya dengan ayat-ayat dan hadits-hadits yang lain, yakni ayat-ayat/hadits-hadits yang tidak membahas ranah hukum, hala, dan haram.   Kita semua sepakat bahwa nash-nash Qur’an dan Sunnah itu terbatas, baik nash yang berhubungan dengan Al-Qur’an atau Al-Hadits, padahal aktifitas manusia tidak terbatas.  Aktifitas manusia selalu mengalami perubahan dan pembaharuan.  Maka mustahil hanya mengandalkan nash-nash yang terbatas tersebut.  Maka karena itu wahai Tuanku, disinilah arti penting ijtihad untuk menyelesaikan berbagai kondisi yang pelik, maka kebutuhan berijtihad sangatlah mendesak, dan lahirlah hikmah dari pelaksanaan ijtihad, dan ia adalah kasih saying Allah kepada hambaNya, dan merupakan bukti yang nyata akan janji Allah untuk melanggengkan agama dan syari’atNya hingga akhir masa.  Dari sini terlihat arti penting ijtihad sebagai sebuah keharusan yang tidak terhindarkan, keharusan yang menjadi fardliyah agama yang kolektif yang tidak bisa ditawar oleh manusia, sepanjang permasalahan manusia selalu berkembang, sebagaimana berkembangnya kebudayaan manusia dan tradisinya, maka wajib bagi manusia untuk mengetahui hukum Allah tentang hal tersebut dan berusaha mengetahui ketetapan hukum syara’ bagi berbagai perkara mereka yang berkembang.  Maka tidak jalan bagi mereka kecuali ijtihad, dan hal ini selar dengan hadits Mu’adz bin Jabal ketika Rasullah SAW menmgutusnya ke Yaman.

Beliau bersabda”Apa yang kau lakukan ketika engkau akan memutuskan sesuatu?” Muadz menjawab: “Saya akan menghukumi sesuatu berdasarkan kitab Allah”. Beliau bersabda: “Bila urusan tadi tidak engkau dapatkan di dalam Kitab Allah?”  Mu’ad menjawab: “Maka aku akan menghukuminya dengan Sunnah Rasulullah SAW”.  Beliau bersabda: “Bila urusan tadi tidak juga engkau dapatkan di dalam sunnah Rasullah?”. Maka Mu’adz menjawab: “Aku akan berijtihad dengan pemikiranku, dan aku tidak akan mengabaikannya (urusan).”   Mua’adz berkata: “Kemudian Rasulullah menepuk dadaku seraya bersabda: ”Segala puji bagi Allah Dzat Yang member pertolongan utusan Rasulullah terhadap apa-apa yang Rasulllah meridlainya.” Dan dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW menepuk dadanya.

Dan yang dimaksud lafadz “صدره” adalah dada Mu’adz adalah Bab (pembahasan) tentang berubahnya kata ganti bentuk pertama menjadi kata ganti bentuk ketiga, seolah-oleh perubahan dari segi perawi, Dan Mu’adz bin Jabal merupakan perawi hadits dari kalangan shahabat besar, dari kalangan Anshar Khazrajy (Kabilah Arab dari Al-Azd nomaden yang dijadikan saudara Kabilah al-Aus dari sisi Selatan, mereka adalah kaum Anshar yang menjadi tujuan hijrah Nabi Muhammad SAW)[2].   Muadz masuk Islam sebelum tahun Hijriyah dan saat itu adalah seorang anak yang berusia 18 tahun.  Dia termasuk kelompok 70 shahabat Anshar yang melakukan baiat kepada rasulullah pada Bai’at ‘Aqabah ke-dua di Mina, yakni Bai’at yang disusul peristiwa hijrah selang beberapa bulan kemudian, dia juga termasuk kelompok shabat yang ahli dalam ilmu fiqh, dan dia termasuk kelompok shahabat yang mengumpulkan Al-Qur’an secara keseluruhan di jaman Nabi.  Rasulullah SAW bersabda kepada para shahabat tentang Mu’adz: “Orang yang paling mengetahui urusan halal haram adalah Mu’adz bin Jabal.” Beliau juga bersabda: “Mu’adz bin Jabal akan dibangkitkan di hari kiamat di depan para ulama’ sejauh lemparan anak panah/batu.”   Suatu hari Rasulullah SAW mengajak Mu’adz dan bersabda kepadanya: “Demi Allah sesungguhnya saya benar-benar mencintai engkau, maka jangan sekali-kali engakau meninggalkan do’a setiap selesai shalat: ‘Ya Allah tolonglah aku, agar aku selalu mengingat Engaku, selalu bersyukur kepada Engkau, dan agar aku selalu mampu beribadah sebaik-baiknya kepada Engkau.’” Rasulullah SAW mengutusnya di awal-awal tahun ke-sembilan hijiriyyah sebagai hakim dan pengajar bagi penduduk Yaman untuk mensyi’arkan Islam, dan tetap berada di sana hingga masa kepemerintahan Abu Bakar As-Siddiq RA. Dan disaat kekhalifahan ‘Umar bin Khattab RA, setelah penaklukan Syam Beliau berpindah ke penduduk Syam.  Dan Beliau tinggal di negeri Khumus, dan tetap tinggal disana hingga diangkat ‘Umar sebagai gubernur Syam sepeninggal Abu Ubaidah bin al-Jarrah.  Beliau terkena wabah yang kronis di tahun ke delapan belas hijriyah, beliau tidak tinggal di sana kecuali hanya dalam masa yang singkat, hingga akhirnya Beliau bergabung dengan Abu Ubaidah biun Jarrah (meninggal) yang juga minggal akibat penyakit yang sama.  Saat itu Belaiu berusia 38 tahun, hadits ini diriwayat oleh jama’ah ahlul hadits [Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Darami, Tabrany dalam kitabnya al-Kabir, dan Abu Dawud dalam kitabnya at-Thoyalisy, dan Baihaqy, dan al-Khatib al-Bagdady, Ibnu ‘Abdi-l-Bar dalam kitab Jami’ Bayani-l-‘Ilmy, dan lain-lain]. Karena masyhurnya hadits dan ummat menerimanya, maka pada ahli fiqh dan ahli usul berhujjah dengannya atau menjadikannya sebagai argumentasi.  Dan para fiqh dan ahli usul menjadikan hadits tersebut sebagai penyempurnya dalil pensyari’atan ijtihad dan qiyas dan beramal dengan keduanya (ijtihad dan qiyas).  Dan masing-masing dari ulama’ berikut ini mendukung keshahihan hadits tersebut, mereka itu adalah Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab ‘Illamu-l-Muwaqqi’in, Al-Khatib Al-Baghdady dalam kitab al-Faqih wa-l-Mutafaqqih, serta Abu-l-‘Abbas bin al-Qash seperti yang disampaikan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Talkhisu-l-Habir. Sementara selain mereka membatasi dengan menghukuminya hanya sebagai hadits hasan (tidak lebih), diantara mereka itu adalah asy-Syaukani dalam kitabnya Irsyadu-l-Fuhul, selain mereka yang menganggap hadits tersebut dlaif karena sanadnya.  Bagi yang mendlaifkan hadits tersebut secara sanad, mereka menerima keabsahan maknanya dikarenakan banyaknya kesaksian yang menunjukkan pada pensyari’atan ijtihad tetapi pemberlakuan ijtihad itu sendiri merupakan fardlu kifayah sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.  Cukup kita kemukakan berikut ini hadits shahih [Bukhari-Muslim]:

إذا حكم الحاكم و فاجتهد فأصاب فله أجران، و إذا حكم الحاكم و فاجتهد فأخطأ فله أجر

“Apabila seorang hakim memutuskan perkara, lalu berijtihad, lalu benar, maka baginya dua pahala.  Dan “Apabila seorang hakim memutuskan perkara, lalu berijtihad, ternyata salah, maka baginya sebuah pahala.”

Oleh karena para fuqaha menerima hadits (Hadits Mu’adz) tersebut sebagaimana keterangan yang telah lalu.  Yang kemudian para fuqaha menjadikan hadits tersebut sebagai salah satu dalil sebagai kewajiban berijtihad sebagai kewajiban kolektif. Dalam hal ini, khitab (teks hadits Mu’adz) pada awalnya ditujukan kepada seluruh umat.  Maka bila telah ada salah satu diantara umat yang berijtihad, maka gugurlah tuntutan kewajiban berijtihad bagi yang yang lain. Namun bila mereka meninggalkan ijtihad maka semua umat telah bermaksiat dan berdosa.

Dan semua fuqaha’ telah berjalan di atas aturan ijtihad tersebut, dan tidak hanya seorang dari para fuqaha’ yang menyatakan tentang konsensus ini.  Sebagaimana telah ditunjukkan oleh pendapat para Salaf-s-Shalih, bahwa sesungguh ijtihad adalah sebuah keharusan dari umumnya syari’at dan berlaku  secara universal bagi semua  perbuatan manusia. Sebagaimana telah dikuatkan dengan realitas yang terjadi di kalangan ummat Islam sejak dahulu kala, begitu pula yang berlangsung pada masa para shabat dan tabi’in dan seterusnya.  Hingga melintasi berbagai masa yang berbeda-beda, hingga masa-masa akhir mereka di saat di mana manusia menyangka bahwa ijtihad telah terputus sama sekali.  Hingga tidak ditemukan lagi pada jaman-jaman ini orang yang  mencapai tingkatan boleh berijtihad (mujtahid).  Baik itu ijtihad mutlaq maupun ijtihad muqayyad.  Ijtihad-ijtihad mereka terbukti dengan banyaknya fatwa-fatwa mereka di dalam berbagai persoalan yang terjadi di masanya, yang belum mereka temukan nash dari para pakar fiqh mereka yang terdahulu, maka mereka berijtihad untuk memproduk hukumnya,  baik berlandaskan pada dasar madzhab dan usul madzhab, ataupun berdasarkan pada dalil-dalil syar’i dan tujuan pensyari’atan sesuatu secara umum.  Dan ijtihad merupakan keharusan bagi mereka yang menuntut kesungguhan yang tidak bisa dipungkiri.  Dan ini merupakan analogi yang sama bagi mereka yang beranggapan bahwa ijtihad telah terputus sam sekali, mereka menyatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan terkunci, yang telah tergembok secara permanen, yang tidak diketahui lagi di mana kunci-kunci itu dan siapa yang memegang kunci-kunci itu.   Maka dengan argument itu mereka lantas mengeneralisasi bahwa semua ulama’ telah terbelenggu dalam kejumudan dan kemandulan berfikir.  Mereka juga memvonis, bahwa para ulama’ kaum muslimin secara keseluruhan, baik secara umum atau secara khusus.  Dengan memvonis bahwa para ulama’ lemah dalam mengistimbat hukum dari kitab al-Qur’an dan al-Hadits.  Sesungguhnya propaganda yang menyatakan terputusnya ijtihad ini malah membuktikan bahwa ijtihad itu sendiri tidak terputus.  Sebab propaganda seperti ini juga menghajatkan dalil yang mendukung keabsahannya, kalau tidak ada nash ulama’ mutjahid muslim  yang menunjukkan keabsahan ijtihad mereka, maka ijtihad keduanya (propagandis bahwa ijtihad terputus dan mujtahid muslim yang mendukungnya) dinyatakan teidak berlaku bila tidak nushus yang mendukung, maka memerlukan ijtihad yang mengantarkan kepada pernyataan berguna yang menyatakan terputusnya ijtihad, yakni pernyataan yang menyatakan terlarangnya mempropagandakan dan terlarangnya beramal dengannya, bagaimanapun situasi, kondisi, atau apapun yang melatar belakangi, juga sebab-sebab yang ada.  Bisa jadi yang melatar belakangi propaganda ini (yang menyatakan terputusnya ijtihad) adalah sebab-sebab apologi dengannya, yang menjadi alasan bagi sikap fuqaha’ (yang ingin beristirahat dari berijtihad) untuk mengambil jalan taqlid yang menjadikan merea merasa cukup hanya dengan melahirkan pembahasan dalil yang hanya berlandaskan prasangka, seiring anggapan kebesaran mereka yang telah berada pada tingkat mujtahid, yang dibarengi ketakutan mereka dalam mengambarkan arti ijtihad, sampai-sampai mereka menganggap bahwa ijtihad adalah hal yang sangat sulit untuk dicapai.  Seolah-olah hal ini di luar kemampuan manusia.  Namun orang-orang terakhir diantara mereka secara khusus kebanyakan ummat Muhammad SAW, yang dimulai pada abad ke-4 Hijriyyah, abad dimana mulai menyebarnya taqlid, dan abad dimana ummat bermadzhab dengan madzhab imam yang empat.  Sikap mereka (menganggap ijtihad telah terputus) mengeras dan meluas, maka mererka telah mempersempit karunia Allah yang besar dan pemberiannya yang menyeluruh, dan membatasi urusan ijtihad sebagai urusan orang-orang terdahulu dengan mengesampingkan orang-orang yang akhir.  Padahal rasulullah SAW bersabda dalam hadisnya:

مثلُ أمتي مثلُ المطر لا يدري أولّه خير أم أخره

Permisalan ummatku laksana hujan, tidak tahu mana yang baik awalnya apa akhirnya [HR Ahmad dan Tirmidzi, dan mengsahankannya] Dan Ibnu Hajar berkata: “Sesungguhnya hadist memiliki banyak jalan periwayatan yang bisa sampai pada derajat yang menshahihkan hadist-hadits lain.

Hadits ini menerangkan, bahwa karunia Allah Ta’ala tidak terputus dari umat Muhammad, walau mereka berjumlah sedikit.  Hadist tidak dikhususkan bagi orang –orang terdahulu dengan mengsampingkan orang-orang masa kini. Sebagaimana tidak diketahui curah hujan yang mana yang baik, yang banyak mengandung nikmat, dan barakah, dan yang dapat menumbuhkan, apakah curah hujan yang pertama atau yang terakhir.  Sebagaimana juga diterangkan oleh hadits:

يبعث الله على رأس كل مئاة سنة من يجدد لهذه الأمة أمر دينها

Allah akan mengutus pada setiap seratus tahun seorang mujaddid yang memperbaharui bagi umat ini urusan agamanya [HR Abu Dawud dan yang lainnnya]

Tajdid merupakan keharusan dalam berijtihad, sebagaimana telah dinashkan.

Buah dari ketakutan dalam menggambarkan arti ijtihad adalah mereka mensyarat apa yang tidak disyaratkan oleh ulama’ usul dalam hal berijtihad.  Padahal para ulama’ usul adalah mereka yang menjaga diri yang mengajarkan ilmu usul, yang ilmu ini tidak dirumuskan dan tidak pula disusun kecuali untuk membantu orang agar berijtihad dan memudahkan siapapun yang berkehendak untuk berijtihad, dan memudahkan siapapun yang menghajatkan untuk memperoleh media bantu untuk berijtihad, dan juga merupakan penjelasan yang berhubungan dengan ijtihad.

Diantara syarat-syarat mujtahid adalah menguasai ilmu-ilmu yang dibutuhkan seorang mujtahid,  dan dalam hal ini -wahai Tuanku- saya akan menukil pernyataan ucapan seorang ulama dalam bidang ini yang terkenal, yakni as-Syaikh Tajuddin as-Subki (wafat: 771 H) dalam kitabnya yang masyhur Jam’ul Jawami’,  dalam kitab ini telah dikupas tuntas keterangan tentang ijtihad dalam jangka pendek pada lembaga-lembaga pendidikan yang membahas ijtihad, yang diharapkan bisa mengajarkan pada tempat-tempat strategis pada masing-masing lembaga pendidikan: Masjid-masjid pelosok kampong, masjid-masjid Zaitunah (Tunisia), dan di masjid jami’ al-Azhar. Dan pengaranya (as-Syaikh Tajuddin as-Subki) menceritakan: “Sesunggunhya kitab Jam’u-l-Jawami’ merupakan intisari dari seratus kitab Mushannaf.”

Putra Imam Subki mengatakan mengenai kitabnya tentang define mujtahid dan ilmu-ilmu yang musti dikuasai seorang meujtahid, apa arti mujtahid: orang yang cerdas, yang faqih, memiliki tingkat kemampuan yang sedang dalam; bahasa arab, usul fiqh, balaghah, hal-hal yang berkaitan dengan hukum yang bersumber dari kitab dan sunnah walau ia tidak menghafal matannya. Secara harfiah cukup sampai disini.  Arti dari dari faqihu-n-nafsi at-thab’i: memiliki pemahaman yang baik, penguasaan makna bdan maksud kalam yang baik, dan telah menjadikannya sebagai watak dan karakternya.  Terhindah dari kebodohan yang tidak memahami makna dan maksud ucapan (sebab siapa yang terkena kebodohan, maka ia tidak bisa menjadi mujtahid).

Definisi itu memberi makna sebagai berikut:

  1. Bayan adalah ilmu-ilmu yang dihajatkan oleh ijtihad. Dan ilmu-ilmu ini populer diantara ulama salaf dan khalaf, sebagaimana populernya ilmu-ilmu yang harus dikuasai dalam berijtihad hingga hari ini.
  2. Sehubungan dengan berbagai ilmu ini, maka tidak disyaratkan bagi seorang mujtahid mencapai derajat pimpinan umat atau derajat tertinggi diantara ummat.  Namun cukuplah seorang mujtahid mencapai derajat pertengahan saja. Sebagaimana sebagian ia (Ibnu Subki) memberi catatan yang mengkritisi dalam penyampaian ilmu-ilmu tersebut.  Sebagaimana diketahui dalam catatan kitab Hasyihah al-‘Athar ‘Ala-l-Mahally.
  3. Sehubungan dengan ayat-ayat ahkam dan hadits-hadits ahkam, yakni hal-hal yang berhubungan dengan hukum dari al-Qur’an dan al-hadits, tidak disyaratkan bagi seorang mujtahid untuk menghafal matannya (teksnya).  Seiring dengan sedikitnya kumpulan ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits rasulullah SAW.  Maka ayat-ayat ahkam dalam al-Qur’an


[1] Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, Asal kamu telah mendapat petunjuk. tapi tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

[2]  أبو لويس، المنجد في الأعلام، دار المشرق، بيروت- لبنان، 2007،ص: 231

About CakTip

Pelayan santri-santriwati Pondok Modern Arrisalah Program Internasional di Kota-Santri Slahung Ponorogo Jawa-Timur Indonesia K. Post 63463. Lahir di Segodorejo Sumobito Jombang JATIM di penghujung Ramadhan 1395 H. Pernah bantu-bantu di IPNU Sumobito Jombang, IPM SMA Muh 1 Jombang, beberapa LSM, karya ilmiah, teater, dll. Lagi demen-demenya sama design grafis (corel). Sekarang lagi ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan PM Arrisalah. Sekali waktu chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!

Posted on 30 April 2011, in Agama, Cak Tip, Pemikiran and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: