Ketawa Ala Gus Dur

gus-dur

Lha...! Gus Dur Apa Gus Pur?

Kalau ditanya siapa tokoh nasional kita yang paling jago mengarang lelucon, sangat mungkin orang akan lebih dulu menyebut nama Gus Dur. Berikut adalah sejumlah humor ala Gus Dur yang dikutip Blog Berita dari Gus Dur Net.

Doa Mimpi Matematika
Jauh sebelum menjadi Presiden, Gus Dur dikenal sebagai penulis yang cukup produktif. Hampir tiap pekan tulisannya muncul di koran atau majalah. Tema tulisannya pun beragam, dari soal politik, sosial, sastra, dan tentu saja agama.

Pernah dia mengangkat soal puisi yang ditulis oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun yang dimuat majalah “Zaman”. Kata Gus Dur, anak-anak itu ternyata lebih jujur dalam mengungkapkan keinginannya. Enggak percaya? Baca saja puisi yang dibuat oleh Zul Irwan ini:

Tuhan …
berikan aku mimpi malam ini
tentang matematika
yang diujikan besok pagi

Tiga Polisi Jujur
Gus Dur sering terang-terangan ketika mengkritik. Tidak terkecuali ketika mengkritik dan menyindir polisi.

Menurut Gus Dur di negeri ini hanya ada tiga polisi yang jujur. “Pertama, patung polisi. Kedua, polisi tidur. Ketiga, polisi Hoegeng (mantan Kapolri).” Lainnya? Gus Dur hanya tersenyum.

Guyon dengan Fidel Castro
Nah, ini yang jadi guyonan Gus Dur sewaktu masih menjadi Presiden RI saat berkunjung ke Kuba dan bertemu pemimpin Kuba, Fidel Castro.

Saat itu Fidel Castro mendatangi hotel tempat Gus Dur dan rombongannya menginap selama di Kuba. Dan mereka pun terlibat pembicaraan hangat, menjurus serius. Agar pembicaraan tidak terlalu membosankan, Gus Dur pun mengeluarkan jurus andalannya, yaitu guyonan.

Beliau bercerita pada pemimpin Kuba, Fidel Castro, bahwa ada 3 orang tahanan yang berada dalam satu sel. Para tahanan itu saling memberitahu bagaimana mereka bisa sampai ditahan di situ. Tahanan pertama bercerita, “Saya dipenjara karena saya anti dengan Che Guevara.” Seperti diketahui Che Guevara memimpin perjuangan kaum sosialis di Kuba.

Tahanan kedua berkata geram, “Oh kalau saya dipenjara karena saya pengikut Che Guevara!” Lalu mereka berdua terlibat perang mulut. Tapi mendadak mereka teringat tahanan ketiga yang belum ditanya. “Kalau kamu kenapa sampai dipenjara di sini?” tanya mereka berdua kepada tahanan ketiga.

Lalu tahanan ketiga itu menjawab dengan berat hati, “Karena saya Che Guevara…”
Fidel Castro pun tertawa tergelak-gelak mendengar guyonan Gus Dur tersebut.

Becak Dilarang Masuk
Saat menjadi presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan saat itu, Mahfud MD (buku Setahun bersama Gus Dur, kenangan menjadi menteri di saat sulit) tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik.

Ceritanya ada seorang tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu “becak dilarang masuk”. Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki oleh becak.

“Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tak boleh masuk jalan ini,” bentak pak polisi. “Oh saya melihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong, tidak ada pengemudinya. Becak saya kan ada yang mengemudi, tidak kosong berarti boleh masuk,” jawab si tukang becak .

“Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk,” bentak pak polisi lagi.

“Tidak pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak seperti ini,” jawab si tukang becak sambil cengengesan.

Radio Islami
Seorang Indonesia yang baru pulang menunaikan ibadah haji terlihat marah-marah.

“Lho kang, ngopo (kenapa) ngamuk-ngamuk mbanting radio?” tanya kawannya penasaran.

“Pembohong! Gombal!” ujarnya geram. Temannya terpaku kebingungan. “Radio ini di Mekkah tiap hari ngaji Al-Qur’an terus. Tapi di sini, isinya lagu dangdut tok. Radio begini kok dibilang radio Islami.”

“Sampean tahu ini radio Islami dari mana?”

“Lha…, itu bacaannya ‘all-transistor’, pakai ’Al’.

Siapa yang Paling Berani
Di atas geladak kapal perang US Army tiga pemimpin negara sedang “berdiskusi” tentang prajurit siapa yang paling berani. Eh kebetulan di sekitar kapal ada hiu-hiu yang sedang kelaparan lagi berenang mencari makan …

Bill Clinton: Kalau Anda tahu … prajurit kami adalah yang terberani di seluruh dunia … Mayor .. sini deh … coba kamu berenang keliling ini kapal sepuluh kali.

Mayor: (walau tahu ada hiu) siap pak, demia “The Star Spangled Banner” saya siap ,,, (akhirnya dia terjun dan mengelilingi kapal 10 kali sambil dikejar hiu).

Mayor: (naik kapal dan menghadap) Selesai pak!!! Long Live America!!

Clinton: Hebat kamu, kembali ke pasukan!

Koizumi: (tak mau ketinggal, dia panggil sang sersan) Sersan! Menghadap sebentar (sang Sersan datang) … coba kamu keliling kapal ini sebanyak 50 kali … !

Sersan: (melihat ada hiu … glek … tapi) for the queen I’am ready to serve!!! (pekik sang sersan, kemudian membuka-buka baju lalu terjun ke laut dan berenang keliling 50 kali … dan dikejar hiu juga).

Sersan: (menghadap sang perdana menteri) GOD save the queen!!!

Koizumi: Hebat kamu … kembali ke tempat … Anda lihat Pak Clinton … Prajurit saya lebih berani dari prajurit Anda … (tersenyum dengan hebat …)

Gus Dur: Kopral ke sini kamu … (setelah dayang …) saya perintahkan kamu untuk terjun ke laut lalu berenang mengelilingi kapal perang ini sebanyak 100 kali … ok?

Kopral: Hah … Anda gila yah …! Presiden nggak punya otak … nyuruh berenang bersama hiu … kurang ajar!!! (sang Kopral pun pergi meninggalkan sang presiden …)

Gus Dur: (Dengan sangat bangga) Anda lihat Pak Clinton dan Pak … Cumi Cumi … kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling BERANI!!! … Hidup Indonesia … !!! (mbs)

Salat and Salad
Gus Dur nggak mati akal kalau urusan melucu. Bahkan, guyonan Gus Dur pun juga diucapkan dalam bahasa asing. Suatu ketika Gus Dur bercerita tentang ada seorang pejabat negara ini yang diundang ke luar negeri.

Dia lalu mengisahkan seorang istri pejabat Indonesia yang dijamu makan malam dalam sebuah kunjungan ke luar negeri.

Dalam kesempatan itu, kata Gus Dur, si nyonya pejabat ditawarkan makanan pembuka oleh seorang pramusaji, “you like salad, madame?”

“Oh sure, I like Salat five time a day. Shubuh, Dzuhur, Asyar, Maghrib and Isya,” jawab si Nyonya percaya diri. (ahm)

Gus Dur Digoda
Salah seorang anak Gus Dur dengan penuh rasa ingin tahu mengamati ayahnya yang sedang memoleskan krim pembersih wajah yang dicurinya dari meja rias istrinya ke seluruh bagian mukanya.

“Kenapa sih…Bapak selalu mengoleskan itu di wajah?” tanya anak itu.

“Supaya bapakmu ini ganteng terus,” jawab Gus Dur.

Tak berapa lama kemudian Gus Dur mengambil kapas dan mengusap krem yang menempel di wajahnya seperti yang sering dilakukan istrinya.

“Lho kok dihapus sih Pak? Putus asa ya…?” goda anaknya. (ahm)

Tahu Jumlah Peserta Salawat
Gus Dur memang sangat humoris. Bahkan, pelawak-pelawak Srimulat jadi kelabakan jika beradu lucu dengan Gus Dur. Suatu saat, Tarzan Srimulat dan kawan-kawan mengaku kehabisan bahan untuk melucu karena acaranya didahului dengan sambutan Gus Dur yang sangat lucu.

Dalam melucu, Gus Dur tak jarang memulai dengan menertawai dirinya sendiri sehingga orang lain tak tersinggung.

Ketika berceramah di depan kerumunan massa, misalnya, Gus Dur mengajak massa untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras.

Setelah itu, dia mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk mengetahui berapa banyak orang yang hadir.

“Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini. Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari suara salawat saja,” jelasnya. (ahm)

Semua Presiden Punya Penyakit Gila
Kelihaian Gus Dur dalam melakukan serangan politik sambil berkelit dengan mengundang senyum geli memang tak diragukan lagi.

Serangan atau kelitan poitik Gus Dur kerap mengundang tawa geli karena selain sangat keras juga lucu. Dia memang dikenal sebagai penyaji humor politik tingkat tinggi.

Kita masih ingat humor politik Gus Dur yang dilempar kepada Presiden Kuba Fidel Castro. Ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Kuba, Gus Dur memancing tawa saat menyelingi pembicaraannya dengan Castro bahwa semua presiden Indonesia
punya penyakit gila.

Presiden pertama Bung Karno gila wanita, presiden kedua Soeharto gila harta, presiden ketiga Habibie benar-benar gila ilmu, sedangkan Gus Dur sendiri sebagai presiden keempat sering membuat orang gila karena yang memilihnya juga orang-orang gila.

Sebelum tawa Castro reda, Gus Dur langsung bertanya. “Yang Mulia Presiden Castro termasuk yang mana?” Castro menjawab sambil tetap tertawa, “Saya termasuk yang ketiga dan keempat.”

Apa selesai sampai di situ? Tidak. Ketika mengunjungi Habibie di Jerman, oleh orang dekat Habibie, Gus Dur diminta mengulangi cerita lucunya dengan Castro itu. Merasa tak enak untuk menyebut Habibie benar-benar gila atau gila beneran, Gus Dur memodifikasi cerita tersebut. Kepada Habibie, dia mengatakan, dirinya bercerita kepada Castro bahwa presiden Indonesia hebat-hebat.

Kata Gus Dur, Presiden Soekarno negarawan, Presiden Soeharto seorang hartawan, Presiden Habibie ilmuwan, sedangkan Gus Dur wisatawan.

Selain menghindari menyebut Habibie benar-benar gila, jawaban itu sekaligus merupakan jawaban Gus Dur yang bersahabat atas kritik bahwa dirinya sebagai presiden banyak pergi ke luar negeri seperti berwisata saja. (ahm)

Tak Bilang Korupsi
Seorang pejabat tinggi, sebut saja si Fulan, merasa deg-degan dicap sebagai koruptor oleh Gus Dur. Sebab, Gus Dur mengatakan bahwa perbuatan tertentu yang dilakukan si Fulan tak bisa lain kecuali diartikan korupsi.

“Dibolak-balik bagaimanapun, itu adalah korupsi. Titik,” kata Gus Dur.

Mungkin atas permintaan si Fulan atau diimbau orang lain, salah seorang yang dekat dengan Gus Dur meminta agar Gus Dur tak lagi menyerang si Fulan, apalagi dengan tuduhan korupsi. Si Fulan dalam kasus itu sama sekali tak melakukan korupsi, melainkan sekadar meneruskan secara resmi sebuah permohonan.

Apalagi, ada yang memalsukan susbtansi persoalannya. Gus Dur pun setuju untuk tak lagi mengatakan si Fulan korupsi.

Tetapi besoknya, Gus Dur bilang si Fulan itu tergolong teroris karena ikut mendalangi beberapa kerusuhan. Ketika ditanya mengapa masih menyerang si Fulan, padahal sudah menyatakan tak akan menyerangnya lagi, Gus Dur pun menjawab bahwa dirinya sudah memenuhi janji untuk tidak lagi mengatakan si Fulan korupsi.

“Saya tadi kan tak bilang dia korupsi, saya hanya bilang teroris,” jawabnya enteng.
(ahm)

Salah Ransel
Suatu hari ceritanya terjadilah kesepakatan rekonsiliasi atau islah antara Pak SBY, Bu Mega, Pak Habibie dan Gus Dur. Tentunya hal ini menjadi berita gembira bagi seluruh rakyat Indonesia, yang selama ini sudah bosan menyaksikan para pemimpin bangsa ini saling berseteru satu sama lain.

“Nah sekarang, supaya rakyat melihat langsung bahwa kita sudah akur ….. bagaimana kalau besok kita bersama-sama melakukan kunjungan kerja ke beberapa daerah tertinggal ….. setuju ??? ” tanya Pak SBY.

Yang lain menjawab : ” setujuuuu” ….. Gus Dur menimpali “saya sih setuju-setuju saja”.

“Kalau begitu, saya minta tolong Pak Habibie memerintahkan anak buahnya di IPTN supaya menyiapkan pesawatnya, bagaimana Pak Habibie???” Tanya Pak SBY lebih lanjut.

“Oke Pak tak ada masalah, selalu siap setiap saat” tandas Pak Habibie.

Keesokan harinya terbanglah mereka berempat tanpa disertai pengawal, asisten ataupun ajudan….. dan hanya disertai seorang pilot pesawat. Singkat cerita mereka telah selesai melakukan kunjungan kerja ….. dan terbang kembali ke Jakarta.

Namun apa yang terjadi ….. dalam penerbangan kembali tersebut mendadak pesawat mengalami kerusakan alat kendali dan kebocoran bahan bakar.

“Wah celaka dua belas nih, pesawat ini tidak bisa dikendalikan dan pasti akan jatuh hancur” kata sang pilot dengan paniknya, “kalau begitu ….. cepat terjunkan para tokoh bangsa ini dengan ransel parasut yang ada” tambahnya. “Tapi bagaimana ya ….. parasutnya cuma ada 4, padahal semuanya ada 5 orang” tambah sang pilot kebingungan.

“aah sudahlah ….. minta pertimbangan dari para beliau sajalah” kata sang kapten sambil bergerak cepat menemui para tokoh bangsa yang sedang bercengkrama dengan akrabnya satu sama lain.

Dengan nada hati-hati sang kapten berkata “mohon maaf Bapak-bapak dan Ibu ….. karena kendali pesawat mengalami kerusakan dan pesawat pasti akan jatuh hancur …. maka dipersilakan Bapak-bapak dan Ibu berunding sendiri siapa yang akan terjun duluan dengan 4 ransel parasut yang ada ini”.

“Saya khan presiden RI, saya masih diberi amanah untuk mengurus rakyat yang sedang dihimpit berbagai kesusahan, jadi ….. ya jelas saya dulu dong yang terjun” kata Pak SBY penuh keyakinan, karena yang lainnya menyetujui, akhirnya Pak SBY lansung memasang ransel parasutnya dan ….. jleng ….. Pak SBY akhirnya terjun dengan selamat.

“Saya ini banyak ngurusin wong cilik, lagipula saya harus meneruskan perjuangan bapak saya mempertahankan kemerdekaan dengan menjadi pemimpin negeri ini, jadi ….. saya yang harus terjun selanjutnya” kata Bu Mega dengan mantap ….. karena yang lainnya manggut-manggut saja, Bu Mega langsung memasang ransel parasutnya dan ….. jleng ….. Bu Mega akhirnya terjun dengan selamat.

Setelah Bu Mega terjun, Pak Habibie mendesak agar dia yang terjun berikutnya dengan memberi alasan: “Saya khan yang menguasai Hi-Tech, bagaimana suatu bangsa akan maju tanpa menguasai hi-tech ….. bukan begitu Gus Dur ?”…. Gus Dur menjawab : “silakan saja duluan …… gitu aja kok repot”, akhirnya Pak Habibie memasang ransel parasutnya dan ….. jleng ….. akhirnya Pak Habibie terjun dengan selamat.

Kemudian ….. tanpa ba…bi…bu…Gus Dur langsung mengambil dan memasang sendiri ranselnya tanpa meminta tolong ataupun meminta persetujuan terlebih dahulu dari sang pilot, karena dipikirnya pasti dia yang akan terjun selanjutnya.

“Gus Dur ….” sang pilot memanggil sambil terkejut ….. “kenapa sih kok pake protes segala, jelas-jelas sekarang saya yang harus terjun, saya ini kyai langitan tau nggak ….. banyak para kyai dan santri se Indonesia yang harus saya urus” hardik Gus Dur.

“Tapi Gus Dur …..” sang pilot mencoba menyela, tapi Gus Dur tidak peduli selaannya ….. bahkan terus berkata :”Nggak pake tapi-tapian…. ngeyel amat sih lu ….. sudah saya terjun duluan yah” tegas Gus Dur sambil langsung ….. jleng ….. terjun.

“Gus Du…..uuur” pekik sang pilot melihat Gus Dur terjun.

Sang Pilot terduduk lemas. Setelah beberapa saat menghela napasnya, sang pilot berkomentar sendirian “Ya sudah kalau nggak mau dibilangin, tadinya saya cuma mau bilang ….. kalau ransel yang dipakainya bukan ransel parasut ….. tapi ransel baju yang saya bawa, karena maunya begitu ….. ya sudah”.

Akhirnya sang pilot memasang ransel parasut yang terakhir dan ….. jleng ….. sang pilot terjun dengan selamat. Bagaimana dengan Gusdur … ??? (ahm)

Horas Gaya Jawa
Dalam menyampaikan pengantar pidato kenegaraan menyambut HUT ke-55 RI itu Gus Dur juga menyinggung soal keragaman etnis di Indonesia. Maka, kata Gus Dur, jangan heran kalau ada anggota DPR yang berasal dari Sumatra Utara menyapa dengan horas sebagai salam hangat perkawanan.

Sebagai orang yang berasal dari suku Batak, Ketua DPR Akbar Tandjung tak mau kalah dengan Gus Dur yang berasal dari suku Jawa itu. Maka, selesai Gus Dur memberikan pidato, Akbar pun langsung menimpali.

“Saya juga orang Batak,” kata Akbar, yang beristri orang Solo. “Tapi, kalau orang Batak seperti saya, yang sudah lama di Jawa, akan beda menguncapkannya.”

Lho, di mana pula letak perbedaannya, Bah? “Ya, orang Batak yang lama di Jawa seperti saya ini akan mengatakan horaaa…s,” ujar Akbar dengan nada lembut. (ahm)

Jurus Sepakbola Gus Dur
Setelah DPR menjatuhkan Memorandum I kepada Presiden, guyonan yang menjadi “merek dagang” khas Gus Dur, tak pernah muncul lagi. Setelah DPR meneruskan dengan Memorandum II, dan kemudian meminta agar Gus Dur dimintai pertanggungjawaban di sidang Istimewa MPR, humor-humor segar Gus Dur betul-betul lenyap dari langit politik Indonesia.

Yang muncul di televisi, maupun surat kabar malah perlawanan-perlawanan keras Gus Dur terhadap DPR, yang jauh dari kesan lucu.

Salah satu humor terakhir Gus Dur barangkali adalah komentarnya sebelum terkena memorandum itu. Ketika Pansus Bulog dan Brunei sedang getol-getolnya memeriksa beberapa saksi untuk mencari bukti keterlibatan Presiden, tahun lalu, Gus Dur sendiri tenang-tenang saja. Kok bisa? Ternyata karena dia, menurut pengakuannya, telah menerapkan strategi catenaccio (grendel) seperti yang digunakan oleh tim Sepakbola Italia dalam final Piala Dunia 1982 di Spanyol.

Ketika itu, cerita Gus Dur, pelatih Italia Enzo Bearzot menempatkan Claudio Gentille sebagai pemain belakang (bek) untuk bertahan sekuat tenaga di depan gawang sendiri. Bila Gentille menerima bola, maka bola akan langsung dibawa ke depan dan dioper kepada Paolo Rossi, yang akan memasukkan bola ke gawang lawan.

Jadi, kata Gus Dur, Soewondo, Siti Farikha, Masnuh, dan lain-lain yang dituduh macam-macam itulah catenaccionya.

Gus Dur sendiri?

“Saya yang jadi Paulo Rossi? kata Gus Dur. “Begitu dapat bola, langsung saya giring ke gawang lawan.”

Begitu ampuhnya jurus catenaccio itu sehingga, menurut Gus Dur, “Baru dibilang pansus itu illegal saja mereka sudah nggeblak (terjengkang), tele-tele (tidak berdaya) semua. Padahal itu baru jurus pertama dan saya mengantongi empat jurus lainnya. ” Ia ketawa.

Apa jurus lain Gus Dur itu? Ada hit and run yang sering digunakan oleh tim Nigeria. Ada juga jurus total football-nya Belanda.

“Pokoknya,” tambah Gus Dur sambil terus terkekeh di depan jamaah Jumatan di Masjid BPK, “Semua teori sepakbola itu akan saya gunakan untuk situasi politik kita, dan Insya Allah cocok.” (ahm)

Anggur Mukti Ali
Pada kunjungan keliling Eropa bulan Februari 2000, Gus Dur ketemu para kepala negara/pemerintahan. Dia antara lain ketemu Presiden Perancis Jacques Chirac. Untuk mencairkan suasana, seperti biasa, dia memasang jurus ampuhnya: humor. Dan tentu saja guyonan yang dipilihnya adalah sedikit banyak ada sangkutannya dengan tuan rumah.

Menurut Gus Dur, pada tahun 1970-an di Indonesia mulai diupayakan dialog antaragama. Penggagasnya adalah Prof Mukti Ali, waktu itu menteri agama.

“Saya sangat setuju dengan prinsipnya, tapi tidak setuju dengan contoh yang diberikan Mukti Ali,” ujar Gus Dur.

“Mengapa?” tanya Presiden Chirac, mulai heran.
“Menurut Mukti Ali, semua agama itu sama saja; sama bagusnya, sama luhurnya. Ini saya setuju. Tapi dia memberi contoh dengan menyebut anggur. Ini saya tidak setuju. Sebabm, kata Mukti Ali, agama-agama itu seperti anggur. Bisa dimasukkan ke gelas yang pendek, yang lonjong, yang bulat dan sebagainya, tapi isinya sama saja; anggur.”

“Lho, mengapa Anda tidak setuju?” tanya Chirac, belum paham juga.

“Sebab anggur itu macam-macam, wadahnya juga macam-macam. Tidak bisa sembarangan.”

“Ya, betul, betul,” kata Chirac sambil tertawa. “Saya tahu benar tentang hal itu sebab saya orang Prancis.” (ahm)

Pekerjaan Orang Normal
BAGI John F Kennedy, jabatan presiden merupakan pekerjaan termulia. Sebab dalam pandangannya, politik itu sendiri adalah kerja mulia. Lain halnya dengan Billy Carter, adik kandung bekas presiden Jimmy Carter.

Menurut Gus Dur, Billy Carter memiliki usaha pompa bensin. Kalau pas ada waktu senggang, biasanya ia suka bersantai dengan beberapa temannya sambil menikmati bir atau minuman lain kegemarannya.

Pokoknya ia prototipe “orang biasa” di tingkat terbawah kehidupan politik Amerika Serikat. Karenanya ia pun punya penilaian sendiri tentang perubahan besar dalam kehidupan kota tempat tinggalnya.

Pada tahun 1976, abangnya, Jimmy Carter, mencoba mencalonkan diri sebagai presiden. Di masa santer-santernya kampanye Carter berlangsung, Billy pun tak luput dari kejaran wartawan yang ingin tahu lebih jauh tentang keluarga besar Carter. Wartawan yang memergokinya langsung bertanya, bagaimana sesungguhnya kondisi keluarga Carter?

Kemudian Billy menjawab, “Ibuku sudah lebih tujuhpuluh tahun umurnya, ketika ia mendaftarkan diri masuk Korps Perdamaian sebagai juru rawat di India untuk dua tahun. Kakak perempuanku senang naik sepeda ke mana-mana, sampai keluar negara bagian yang luas ini. Kakak perempuanku yang satu lagi menjadi pengabar Injil, padahal tadinya ia ratu kecantikan.

“Sekarang, abangku ingin jadi presiden. Nah Anda bisa lihat, akulah satu-satunya orang yang normal dalam keluarga ini.” (ahm)

Gus Dur Ngelu
“Saya mau bertanya sama Pak Permadi dan para hadirin.” kata Sutradara Film Garin Nugroho dalam wayangan. Biasanya, tokoh-tokoh baik itu kalau situasinya susah pada berubah semua. Petruk misalnya, ketika mau jadi raja tiba-tiba berubah wataknya.

Permadi yang ditanya Gus Dur yang mnejawab. Ia membenarkan bahwa watak Petruk berubah ketika ia mau menjadi raja. “Makanya, kalau mencari pemimpin mestinya yang tak gampang berubah,” tambah Gus Dur.

“Kalau menurut Pak Permadi, Gus Dur itu berubah tidak? celetuk seorang hadirin.

“Ya, agak berubah,” jawab Permadi.
“Misalnya dalam hal apa?”
“Misalnya, kalau dulu Gus Dur itu masih suka kumpul-kumpul dengan saya, sekarang hampir tidak pernah lagi.”

“Kalau itu sih sebabnya sederhana,” sahut Gus Dur.

“Sederhana bagaimana Gus?” kejar hadirin.
“Ngelu (pusing).” (ahm)

Kaum Almarhum
Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela “ideologi”nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.
Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.

“Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi.” Katanya.

Obrolan Presiden
Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa…
setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.

Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: “Wah kita sedang berada di atas New York!”

Presiden Indonesia (Gus Dur): “Lho kok bisa tau sih?”

“Itu.. patung Liberty kepegang!”, jawab Clinton dengan bangganya.

Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. “Tau nggak… kita sedang berada di atas kota Paris!”, katanya dengan sombongnya.

Presiden Indonesia: “Wah… kok bisa tau juga?”

“Itu… menara Eiffel kepegang!”, sahut presiden Perancis tersebut.

Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat…
“Wah… kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!”, teriak Gus Dur.

“Lho kok bisa tau sih?” tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat.

“Ini… jam tangan saya ilang…”, jawab Gus Dur kalem.

About CakTip

Pelayan santri-santriwati Pondok Modern Arrisalah Program Internasional di Kota-Santri Slahung Ponorogo Jawa-Timur Indonesia K. Post 63463. Lahir di Segodorejo Sumobito Jombang JATIM di penghujung Ramadhan 1395 H. Pernah bantu-bantu di IPNU Sumobito Jombang, IPM SMA Muh 1 Jombang, beberapa LSM, karya ilmiah, teater, dll. Lagi demen-demenya sama design grafis (corel). Sekarang lagi ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan PM Arrisalah. Sekali waktu chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!

Posted on 25 Maret 2009, in Gus Dur and tagged . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. aku rindu cara berfikirmu. kalau ada gus dur. sazkia gotik mugkin tidak teorlalu repow dengan bebek nunggingnya sila kelima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: