Reog Malaysia?

Ditulis oleh Emha Ainun Nadjib‚ Kamis, 06 Desember 2007 19:56‚ Emha – Esai
Tahun 1984-1985 saya hidup kabur kanginan di berbagai kota Eropa: Denhaag, Rotterdam, Amsterdam, Amstelveen, Berlin, sesekali kota-kota lain macam-macem sampai Athena, Crete dll. Yang mau saya ceritakan dengan setting itu adalah Pecel Suriname.

Di bagian timur utara Amsterdam ada Pasar Alberqueque. Itu nama jalan, kemudian secara natural pelan-pelan menjadi pasar keget, lama-lama menjadi pasar sungguhan, tapi kakilima. Yang dijual segala macam barang baru maupun loakan, namanya juga pasar.

Di pojok pasar atau kluwekan ujung jalan Alberqueque ada sebuah warung yang spesial menjual makanan minuman Suriname. Anda pasti tahu kaum pendatang di Negeri Belanda yang terbanyak adalah dari Suriname, kemudian Indonesia, Marokko, Aljazair dll.

Yang Marokko Aljazair itu karena imigrasi teritorial natural biasa sebagaimana banyak masyarakat dari kedua negara Afrika Utara itu juga menyerbu Jerman dan tetangga-tetangga Belanda lainnya. Tapi pendatang Suriname dan Indonesia di Netherland itu merupakan kontinyuitas sejarah imperialisme Belanda sendiri.

Masyarakat Suriname di Belanda terdiri atas kelompok masyarakat kulit hitam dari Afrika dan kulit coklat dari Jawa. Nenek moyang mereka dulu dimobilisasi oleh penjajah Belanda menjadi buruh tebu di Suriname. Sampai akhirnya sebagian mereka terikut ke sana kemari oleh “Tuan Londo” termasuk ikut ke Negeri Belanda. Lha terus ponakan misan mindo mereka ada yang jualan pecel di Pasar Alberqueque.

Orang Jawa kalau berimigrasi atau transmigrasi biasanya membawa tim lengkap: jagoan tani, kiai, pendekar silat, dan ahli kawawitan. Tetapi itu tak bisa terjadi kalau imigrasinya dipaksa oleh “cultuurstelsel” atau tanam paksa di Suriname. Orang hitam Afrika dan Jawa dibawa Belanda ke Suriname terus terang saja sebenarnya sebagai budak.

Maka pecel dan soto Alberqueque itu ramuan dan rasanya juga tidak nyamleng, saya bayangkan itu pecel soto abad 18, dimasak oleh orang yang tidak ahli. Kalau mau pecel soto Jawa beneran pergilah ke Restoran2 Indonesia di pusat perkotaan Amsterdam. Yang di Alberqueque ini Soto dan Pecel Suriname.

Jadi, masing-masing bisa didaftarkan ke Jenewa hak ciptanya. Yang satu memperoleh copyright “Pecel Jawa” lainnya “Pecel Suriname”. Tapi soal rasa, taste, mutu, jangan dibandingkan. Demikian juga “Angklung Malaysia”, “Reog Malaysia” pasti sepo dibanding “Angklung Sunda” dan “Reog Ponorogo”. Teman-teman Ponorogo harus bangga bahwa “Reog Malaysia” tak akan ada kalau orang Ponorogo tidak mengembara ke Malaysia, beranak pinak, kemudian mau tak mau menjadi warganegara Malaysia. Kalau dibilang itu Reog Malaysia, pada kenyataannya tetap Reog orang Ponorogo yang menjadi warganegara Malaysia.

Saya membutuhkan seluruh halaman koran untuk memaparkan membuktikan dan menguraikan contoh kongkret peran manusia Jawa, Bugis, Sunda, Minang, Aceh dll dalam kehidupan Malaysia. Yang disebut Malaysia adalah petilan atau ceceran gamelan Jawa, bambu angklung Sunda, pantun Riau, cengkok Ambon dll. Secara politik legal, Malaysia adalah sebuah negara berdaulat, mandiri dan bagus managemen ekonomi dan kenegaraannya. Tapi jangan ngomong masa depan kebudayaan dan peradaban dan berharap apa-apa dari dan tentang Malaysia, karena masa depan negeri Jiran itu adalah dominasi Cina dan India.

Masalahnya ada dua di belakang kontraversi doal “Rasa Sayange” dst itu. Pertama, Indonesia yang secara sejarah lebih memiliki hak kultural atas karya-karya itu selalu santai dan berendah hati menganggap itu semua “milik kita bersama”. Sementara Malaysia yang secara antropologis cuma “keponakan” memanfaatkan kebodohan hukum hak cipta nasional untuk mengklaim karya-karya itu sebagai milik mereka sendiri.

Kedua, ini jangan bilang-bilang tetangga dulu: Malaysia tidak bersedia diletakkan sebagai “keponakan”. Mereka merasa induk dari seluruh peradaban Melayu. Acuannya adalah Kerajaan Melaka. Dan mereka memandang Majapahit adalah bagian saja dari Melaka. Jawa, Bugis, Bali dll itu termasuk Melayu, karena dulu berada dalam kawasan Kerajaan Melaka. Mereka memang nantang. Sayang presiden kita adalah SBY.*****

Dimuat di Harian Surya, 1 Desember 2007

About CakTip

Pelayan santri-santriwati Pondok Modern Arrisalah Program Internasional di Kota-Santri Slahung Ponorogo Jawa-Timur Indonesia K. Post 63463. Lahir di Segodorejo Sumobito Jombang JATIM di penghujung Ramadhan 1395 H. Pernah bantu-bantu di IPNU Sumobito Jombang, IPM SMA Muh 1 Jombang, beberapa LSM, karya ilmiah, teater, dll. Lagi demen-demenya sama design grafis (corel). Sekarang lagi ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan PM Arrisalah. Sekali waktu chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!

Posted on 17 Maret 2009, in Cak Nun and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: