Sampai Kapan Cak Nun Jadi Makmum?

 

 

Hanya satu pesan singkat yang masuk ke HP saya ketika saya menulis artikel Merelakan Cak Nun untuk Negeri. Saudara itu adalah Mas Muhammad Ridha, seorang dosen di Universitas Al Islam, Sorong, Papua. Beliau dan saya kemudian sepakat untuk berdoa agar jika memang tidak ada orang yang lebih baik lagi maka segeralah Cak Nun diangkat Allah menjadi imam di negeri ini. Entah karena sihir, linglung atau memang karena kami bodoh maka kami berdoa seperti itu.

 Waktu itu saya sengaja mencantumkan nomor HP agar saya mendapatkan teman diskusi mengenai hal ini. Tetapi, Alhamdulillah tidak ada pesan lain yang masuk sehingga pulsa saya pun nyaris tidak berkurang untuk sebuah diskusi yang saya harapkan tersebut. Atau mungkin bahasa yang saya gunakan terlalu klise. Maklum, waktu itu tulisan tersebut memang saya tujukan untuk sebuah koran nasional, tetapi ditolak lantaran alasan tidak aktual.

 

Kembali ke topik. Saat sekarang beberapa tokoh sudah berancang-ancang untuk menggapai posisi imam di negeri ini pada 2009. Mungkin karena sudah mendapatkan jawaban dari BK maka Megawati sudah siap tampil. Bang Yos sudah deklarasi dan sowan kepada Mbah Maridjan. Bung Jusuf Kalla sudah memberi sinyal, Sri Sultan HB X sudah mau dilirik, SBY sepertinya bilang Ya dan Gus Dur pun sudah disorong-sorong maju.

 

Tanpa mendahului Yang Punya jagad, kira-kira kita sebagai Jam’iyah Maiyah, dengan bekal ilmu yang sudah ada, tentunya bisa memprediksikan apa-apa yang akan terjadi jika orang-orang yang mengajukan diri menjadi imam benar-benar menjadi imam. Kita tentu bisa berhitung berapa persen sebenarnya keinginan si kandidat untuk melaksanakan fungsi keimaman dibandingkan dengan kesungguhannya mengejar targetnya sendiri setelah menempati posisi imam. Siapa yang mau menebar 50 ribu rupiah per suara jika ingin seperti Umar bin Abdul Aziz yang bahkan menjadi lebih miskin setelah menjabat sebagai khalifah? Kalau pun dia mau, istrinya belum tentu mau, keluarganya belum tentu mendukung dan yang jelas sponsornya pasti marah-marah. Jangankan kawan, lawan politiknya pun belum tentu setuju karena dengan pelaksanaan fungsi kekhalifahan yang benar maka tidak ada jaminan baginya untuk kebagian rezeki yang subhat.

 

Seorang imam yang barokah tentunya orang yang memiliki kapasitas untuk posisi seperti itu tetapi tidak mau mengajukan dirinya sendiri untuk posisi itu. Menurut saya, bahkan dia tidak boleh mengongkosi pencalonan dan tidak boleh pula bermanuver mencari dukungan. Jika melakukan hal itu maka batallah dia. Yang melakukan tugas itu adalah para makmum. Lebih afdhol lagi kalau makmum-makmum itu adalah para tukang becak, buruh tani, anak-anak papa, yang tidak ada potongan untuk menjadi menteri, direktur BUMN, gubernur dan sebagainya. Bukankah Allah bersama orang-orang yang teraniaya dan kaum yang teraniaya kebanyakan adalah mereka? Sehingga harapannya bisikan mereka adalah bisikan yang berasal dari Allah-yang ingin segera mewakilkan sebagian urusan-Nya kepada seseorang. Dengan demikian para ketua partai, jika kondisinya masih seperti saat ini, sebaiknya hanya menjadi masbuk saja dahulu. Tidak perlu rapim, konvensi, konferensi nasional dan sebagainya, yang ujung-ujungnya adalah saya mendapat apa dan posisi saya besuk dimana.

 

Tetapi pada tataran ini di waktu ini muncul dua permasalahan. Bukan hanya siapa anggota jamaah yang akan dipilih melainkan juga kualitas para makmum pemilih yang beragam. Kualitas ini sangat menentukan karena bukan hanya memberikan potensi pilihan yang kurang tepat, tetapi bahkan tidak tepat.

 

Sebagai contoh. Di Indonesia ini, ibaratnya orang shalat, makmum yang tarawih 8 rakaat ingin anggotanya menjadi imam agar merasa menang dari yang 23 rakaat. Begitu pula sebaliknya. Jadi, ada makmum yang ingin menang dengan mengalahkan makmum yang lain.

 

Contoh berikutnya. Pragmatisme masyarakat. Hampir saja pada saat ini sudah tidak ada lagi orang yang peduli dengan terminologi negara, rakyat, pengabdian, kepahlawanan, toleransi, kedaulatan atau apa pun itu yang menjadi unsur berdirinya suatu negara. Pemimpin dan rakyatnya semua sepakat kepada satu cita-cita: uang!

 

Sebuah keluarga tidak segan untuk menyediakan 70-80 juta rupiah agar anaknya menjadi bintara atau brigadir. Tentu bukan karena menjadi tentara atau polisi itu tugasnya penuh dengan pengabdian melainkan karena posisi itu bisa mendatangkan keamanan dalam hal uang. Maka jika ada tentara atau polisi menjadi backing hal yang mestinya diperanginya sendiri jangan dimarahi karena yang dicarinya memang bukan pengabdian melainkan uang. Sebenarnya dia menjadi dokter atau dukun tenung juga tidak masalah. Asal mendapat uang dan syukur-syukur juga mendapat prestise. Bahkan tidak bekerja pun sebenarnya yang diharapkan. Asal mendapat uang.

 

Makanya jangan pula heran jika pada proses rekonstruksi pascagempa Yogyakarta, yang rusak sedang mengaku berat, yang ringan mengaku berat, bahkan yang belum punya pun mengaku rumahnya roboh. Semua bahu-membahu dalam hal tipu menipu. Dan ujung-ujungnya tentu saja adalah uang. Hukum Allah yang berupa halal dan haram yang belum pernah dicabut dan direvisi oleh Yang Punya itu sudah tidak menjadi suatu pertimbangan lagi. Kecuali jika hukum itu juga bisa dikemas dan diperdagangkan sehingga juga bisa mendatangkan uang.

 

Lho, yang Punya Ilmu Kemana?

 Inilah pertanyaan yang mungkin relevan dengan Jam’iyah Maiyah (JM) yang memilih menjadi majelis ilmu. Kriteria pemimpin bagi JM mestinya sudah jelas. Hak serta kewajiban rakyat dan pengelola negara sudah teresapi di hati. Tanggung jawab orang yang berilmu kepada yang belum tahu tentunya juga sudah dipahami.

 

Lantas jika sekarang dideret Cak Nun, SBY, Megawati, Sri Sultan, Gus Dur, Sutiyoso, dan Jusuf Kalla maka siapa yang lebih pantas menjadi imam di negeri ini? Siapa yang lebih bersih, konsisten, cakap, peduli dan berprestasi? Siapa kira-kira yang paling bersungguh-sungguh mempertimbangkan hukum Allah dan petunjuk Rasulullah?

 

Saudaraku, sebagai majelis ilmu salahkah kita jika berijtihad demi kebaikan seluruh bangsa? Atau malah justru berdosa besar karena kita tidak berijtihad? Toh, jika salah berijtihad pun kita masih mendapat satu pahala. Alias hanya terpaut setengah bagian dari yang benar ijtihadnya.

 

Saya ingin melihat Cak Nun memimpin negeri ini karena saya ingin perubahan yang besar. Kegembiraan, kebahagiaan, keadilan, toleransi bisa tercipta. Saya memimpikan kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz bangkit kembali. Saya menginginkan pemerintahan yang mau menempatkan Allah SWT benar-benar sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai rasul. Dan saya belum melihat potensi itu berada pada sosok yang lain.

 

Sekarang pertanyaannya: Sampai kapan Cak Nun menjadi makmum? Jawabnya adalah sampai makmum mengangkatnya menjadi imam. Subyeknya adalah makmum. Adalah rakyat. Adalah Jam’iyah Maiyah. Bukan Cak Nun karena memang dia diharamkan untuk terlibat dalam hiruk-pikuk angkat-mengangkat ini. Jam’iyah Maiyah mestinya menyadari betul akan hal tersebut. Karena ilmunya memang demikian.

 

Seharusnya batas waktu Agustus 2007 yang lalu menjadi momentum bagi JM untuk diwisuda menjadi penghela kemajuan bangsa dalam berbagai hal. Dari hal yang kecil hingga yang besar. Mulai menentukan arah sendiri tanpa harus disusui oleh Cak Nun serta mempunyai keberanian diri untuk merelakan dan memberikan mandat kepadanya demi bangsa, bahkan yang lebih luas lagi.

 

Untuk apa gunanya di setiap acara maiyah selalu terlontar kritik bagi pemimpin negeri kalau yang punya ilmu juga acuh tak acuh saja untuk mencari solusinya. Di dalam majelis ilmu kita sering mendengar bahwa kepedulian kita kepada orang lain, negara dan bangsa adalah faktor yang menjadikan Allah mempunyai alasan ekstra untuk lebih membuka berbagai pintu barokah kepada kita. Bahkan, ekstremnya adalah Allah berhutang kepada kita. Selanjutnya kita mestinya berpikir pula bagaimana jadinya jika Allah juga bersikap acuh tak acuh kepada kita untuk membalas sikap acuh tak acuh kita kepada bangsa, yang hakikatnya juga kepada diri kita sendiri.

 

Bagaimana Caranya?

 Sebagai anggota JM kita sudah diajari berpikir spiral, zigzag dan sebagainya. Kalau kita berpikir linear maka alangkah beratnya sebuah jam’iyah yang melarat materi berkehendak untuk menentukan kepemimpinan nasional.

 

Akibat berpikir non-linear maka hingga saat ini saya sangat percaya bahwa Allah tetap akan menemani dan membantu umat-umatnya yang berjihad dengan hati bersih sebagaimana dulu dilakukanNya terhadap umat-umat para nabi yang sedikit itu. Bahkan, itulah salah satu tanda kebesaranNya bahwa umat yang sedikit bisa mengalahkan umat yang menurut perhitungan sangat siap dan sangat banyak.

 

Yang perlu kita lakukan hanyalah ikhtiar hingga batas kemampuan. Biarlah multiplier efeknya Allah sendiri yang mengerjakannya. Allah bisa saja membelah Laut Merah di saat Musa dikejar Firaun tanpa Musa memukulkan tongkatnya ke lautan lebih dahulu. Musa sendiri kala itu mungkin juga belum mengerti dampak dari perbuatan kecil yang dilakukannya. Tetapi, Musa harus melakukan hal itu lebih dahulu. Bisa pula Allah menyelamatkan Rasulullah dan Abu Bakar tanpa harus bersembunyi di Gua Tsur yang dangkal. Tetapi, Rasulullah tetap melakukan hal itu. Inilah. Ikhtiar makhluk tetap harus dilakukan sebagai wasilah datangnya pertolongan Allah. Dengan ikhtiar itu maka kita semakin tahu bahwa pertolongan Allah itu adalah penentu segalanya. Kita menjadi semakin bersyukur dan lain sebagainya. Pada kasus ini maka terlalu banyak contoh untuk disebutkan di sini.

 

Dengan berpikir non-linear pula maka mungkin hanya dengan berjajar di Bunderan UGM, atau jika ingin lebih repot dengan diskusi publik yang sehari niatan itu bisa tercapai. Allah mboten sare. Allah selalu terjaga.

 

Penulis: Isman ( trucuk@gmail.com )

About CakTip

Pelayan santri-santriwati Pondok Modern Arrisalah Program Internasional di Kota-Santri Slahung Ponorogo Jawa-Timur Indonesia K. Post 63463. Lahir di Segodorejo Sumobito Jombang JATIM di penghujung Ramadhan 1395 H. Pernah bantu-bantu di IPNU Sumobito Jombang, IPM SMA Muh 1 Jombang, beberapa LSM, karya ilmiah, teater, dll. Lagi demen-demenya sama design grafis (corel). Sekarang lagi ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan PM Arrisalah. Sekali waktu chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!

Posted on 26 Februari 2009, in Artikel, Cak Nun and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Semoga Doa anda segera di kabulkan oleh Allah. Saya pun sdh tidak kanten..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: