Category Archives: KH Tholchah Hasan

ISLAM JALAN TENGAH

“ Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Is-
lam) , umat yang adil (moderat) agar kamu menjadi saksi
atas terhadap perbuatasn manusia , dan agar Rasul (Muham
mad) atas (perbuatan) kamu ….” . Al-Baqarah : 143 .

Imam Fakhruddin al-Rozi , dalam tafsirnya ( Mafatih al-Ghoib) mengatakan :

“ Sebenarnya umat Islam itu memang umat yang moderat , yang adil dan mengambil sikap tengah-tengah , antara dua ekstrimitas ( bain al-mugholi
wa al-muqashshir) , mereka tidak bersikap ekstrim seperti yang dilakukan
umat Nasrani , yang memandang Nabi Isa ( al-Masih) sebagai Tuhan atau
putera Tuhan , dan tidak juga seperti umat Yahudi , yang melecehkan Ra-
sul Allah (menuduh Nabi Isa sebagai anak zina) dan menolak kitab-kitab
suci yang lain (Injil dan al-Qur’an) “ .

Masalah tersebut dapat dijelaskan lebih jauh , bahwa dalam aqidah Islam
(teologi Islam) ditegaskan sebuah doktrin , bahwa Islam mengakui sejum-
lah Rasul-rasul dan Nabi-nabi pembawa wahyu dan agama Tuhan , seper-
ti Nabi Adam , Nabi Nuh , Nabi Ibrahim , nabi Ya’qub , nabi Dawud , nabi Musa , nabi Isa dan Nabi Muhammad . Islam menghormati mereka sebagai
orang-orang suci yang dikasihi oleh Tuhan , yang menyampaikan ajaran-Nya kepada umatnya masing-masing atau kepada umat manusia . Islam mengakui dan menghormati nabi-nabi yang diimani oleh umat Ya-hudi , seperti nabi Ibrahim , nabi Ishaq , nabi Ya’qub , nabi Dawud , nabi Sula-iman dan nabi Musa , sebagaimana Islam juga mengakui dan menghor-mati nabi Isa (al-Masih) yang dijunjung-tinggi umat Nasrani . Tapi seba-
liknya , umat Nasrani tidak mengakui dan tidak menghormati kerasulan dan
kenabian nabi Muhammad , nabinya umat Islam . Demikian halnya umat Ya-hudi tidak mengakui kerasulan dan kenabian nabi Muhammad saw , mau-
pun nabi Isa al-Masih , bahkan sebagian banyak umat Yahudi memandang
nabi Isa al-Masih sebagai “ anak zina” . Disamping itu Islam mengakui ki-
tab-kitab suci yang diwahyukan kepada para Rasul / Nabi terdahulu , seper-
ti Zabur , Taurat , In jil , tetapi umat-umat pengikut kitab-kitab tersebut (Ya
hudi maupun Nasrani ) tidak mau mengakui kitab suci al-Qur’an sebagai
kitab suci yang diwahyukan Tuhan kepada rasul-Nya (Muhammad saw) se
bagaimana kitab-kitab suci tersebut .
Kalau umat Nasrani memandang dan menghormati nabi Isa al-Masih de-ngan citra ke-Tuhanan ( sebagai anak Allah ) , yang diturunkan ke dunia untuk menebus dosa umat manusia , maka sebaliknya umat Yahudi me-mandang dan menganggap nai Isa al-Masih sebagai anak haram yang la-
hir tanpa ayah dan mencemarkan nama baik Bani Israil . Sikap Islam yang
moderat , meyakini dan menghormati nabi Isa al-Masih sebagai rasul dan
nabi kekasih Allah , yang menerima wahyu dari-Nya, mengangkatnya seba-
gai penggembala umat menuju keselamatan .

Syekh Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi memberikan komentar terhadap a-
yat tersebut sebagai berikut :
“ Kemoderatan Islam terlihat mulai dalam masalah keimanan atau aqi-
dah . Ada sebagian orang yang tidak mengakui adanya Tuhan sama
sekali , dan yang lain malah meyakini adanya beberapa Tuhan, ma-
sing-masing ekstrimitas tersebut merupakan kesalahan . Sedangkan
umat Islam meyakini , bahwa Tuhan itu ada , Maha Esa , tidak ada
yang menyekutui dan menyamai-Nya , Yang menciptakan seluruh a-
lam semesta , mengatur dan menguasainya . Jadi Islam merupa-
kan penengah antara “ atheisme dan polytheisme “ . Di sana ada
orang-orang yang berlebihan mengejar materi dan mengabaikan ni-
lai-nilai rohani , dan ada pula yang mengabaikan materi karena ha-
nya memuja nilai-nilai rohani saja …….. Islam datang membawa ajar-
an moderat yang menghormati nilai materi dan menghargai nilai-ni-
lai rohani …. … Allah swt menghendaki agar orang-orang Islam hidup
dengan “ kematerian bumi bersama dengan keluhuran langit “ , dan ini
merupakan sikap kemoderatan (wasathiah) Islam , yang tidak mengam-
bil aspek rohani saja, dan juga tidak mengambil aspek materi sema-
ta . “ .
Kalau di dalam kitab-kitab suci tersebut ternyata ada perubahan dan pe-malsuan yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia , maka yang kita ing-kari adalah perubahan dan pemalsuan tersebut , dan sikap itu berlaku ter-hadap kitab suci yang manapun , termasuk terhadap al-Qur’an sendiri ( a-pabila ternyata ada pemalsuan) .

Islam juga meyakini , bahwa umat-umat lain , seperti Yahudi dan Nasrani atau yang lain-lain lagi seperti umatnya Nabi Nuh , umatnya Nabi Ibrahim umatnya Nabi Ya’qub , ada sebagiannya yang masuk sorga (mereka yang
beriman) dan sebagiannya ada yang masuk neraka ( mereka yang kafir) ,
seperti halnya umatnya Nabi Muhammad . Tapi kita tidak merasa mempu-
nyai otorita untuk menetapkan siapa diantara semua mereka itu yang akan
menjadi ahli sorga maupun ahli neraka , itu semua secara mutlak merupa-
kan hak prerogatifnya Allah sendiri , Dia Yang Maha Mengampuni siapa saja
yang dikehendaki-Nya , dan Yang Maha Menyiksa kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya .

Sikap tawassuth (moderat) yang diajarkan oleh Islam itu tidak hanya pada
bidang aqidah ( credo ) , tetapi juga pada bidang-bidang lain , seperti dalam
memandang kehidupan manusia . Meskipun Islam mengajarkan , bahwa ke
hidupan akhirat itu secara kualitatif lebih unggul . lebih baik dan lebih ke-
kal dibanding dengan kehidupan duniawi , sebagaimana difirmankan Allah :

“ Dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal “ Al-A’la : 17 .

“ Katakanlah : Kesenangan duniawi di dunia itu hanya
sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang
yan bertaqwa …….” . An-Nisa’ : 77

Tapi Islam menganjurkan agar manusia tidak mengabaikan kehidupan duni-
awinya , dalam arti mencari dan menikmati kesejahteraan dunia yang diha-lalkan , disamping berusaha mencapai kebahagiaan abadi di akhiratnya .

“ Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepada-mu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kesejahtraan) duniawi………” . Al-Qashash : 77

Menurut para ahli tafsir al-Qur’an , ayat 77 dari surat al-Qashash ini, meru-pakan sebagian dari mau’idhoh Nabi Musa a.s. dan kaumnya kepada Qarun yang telah melupakan kewajiban dan perhatiannya terhadap urusan akhirat-nya , setelah memperoleh kekayaan materi yang melimpah-ruah . Mau’idhoh ini diabadikan dalam al-Qur’an sebagai pelajaran juga kepada umat Islam .

Anas bin Malik r.a. meriwayatkan sebuah hadis :
“ Datang tiga orang kerumah seorang isteri Nabi Muhammad saw untuk menanyakan tentang ibadah yang mereka lakukan . Setelah mereka menceritakan masing-masing ibadah mereka , mereka berkata : Bagaimana penilaian Nabi saw , siapa di antara mereka yang paling ung-gul nilai ibadahnya ? Salah seorang diantara mereka berkata : Adapun saya , maka selama ini saya terus melakukan solat malam , dan dapat dikatakan selama ini saya tidak pernah tidur pada malam hari . Yang lain lagi mengatakan : Kalau saya , selalu berpuasa (sunat) dan tidak pernah berhenti melakukan puasa . Yang terakhir mengatakan : Saya terus beriba-dah , sehingga tidak mempunyai keinginan untuk kawin selama ini . Setelah mendengar omongan mereka semua , maka Nabi Muhammad saw bersabda : “ Sesunguhnya saya ini orang yang paling takut kepada Allah diantara kamu sekalian, dan sayalah yang paling bertaqwa . Meskipun de-mikian , saya berpuasa ( puasa sunat ) , tapi juga berbuka (tidak puasa) , saya juga solat malam , tapi juga tidur , dan saya mengawini wanita . Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunahku ( cara hidupku) maka dia bukan pengikutku “ (Al-Bukhori , dalam Kitab an-Nikah) .

Ibnu Abbas r.a. bercerita : Suatu saat Nabi Muhammad saw. akan ber-
khutbah , tiba-tiba beliau melihat ada orang yang berdiri saja tidak mau
duduk , maka beliau bertanya : “ Siapa orang itu ? “ . Para sahabat men-
jawab : Dia itu Abu Israil , dia bernadzar untuk berdiri dalam terik mata-
hari , tidk mau berteduh , tidk mau bicara , dan dia sedang puasa . Maka
Nabi Muhammad saw bersabda : “ Suruh dia duduk , dan berteduh, dan
berbicara , dan suruh dia menyempurnakan puasanya ! “ . ( Al-Bukhori : Kitab an-Aiman wan Nudzur)

Al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqolani , memberi komentar , bahwa hadis terse-
but mengajarkan kepada kita , bahwa semua perbuatan yang mengakibat-
kan penderitaan bagi seseorang , yang tidak ada dasar perintahnya baik
dari Kitabullah maupun Sunnah Nabi , seperti berjalan dengan telanjang kaki atau duduk dibawah terik matahari , maka perbuatan itu tidak terma-
suk perbuatan ketaatan kepada Allah , dan nadzar untuk melakukan per-
buatan tersebut tidak sah .

MENJAUHI BENTUK-BENTUK EKSTRIMITAS .
Di dalam al-Qur’an ada ayat-ayat yang mengingatkan kepada umat manu-
sia agar tidak melakukan cara-cara yang ekstrim termasuk di dalam bera-
gama .

“ Wahai ahli kitab , janganlah kamu melampau batas dalam aga-
mamu , dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecu-
ali yang benar ….. “ An-Nisa’ : 171

“ Katakanlah : “ Hai ahli kitab , janganlah kamu melampaui batas
dalam agamamu , dengan cara yang tidak benar . Dan janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat sejak
dulunya ( sebelum datangnya Nabi Muhammad ) dan mereka te-
lah menyesatkan banyak orang lain , dan mereka sendiri tersesat
dari jalan yang benar “ . Al-Ma’idah : 77

As-Syekh Abu Zahroh , guru besar ilmu-ilmu ke-Islaman di Universitas Al-Azhar pernah menulis di majalah ilmiah “Liwa’u al-Islam” ( 1955 ) dengan judul “ Al-Iman wa al-Ghuluwwu fid-Din “ . Secara ringkas dapat dikemu-kakan sebagai berikut :

Rasulullah saw telah bersabda kepada seorang sahabat beliau :
“ Sesungguhnya agama (Islam) ini sangat kuat , sangat kokoh, ma-
ka masuklah kedalamnya dengan lemah-lembut ( tidak dengan pak-
saan dan kekasaran ) . Sesungguhnya orang yang berpacu suntuk
semalaman itu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan
dapat mempertahankan kekuatan punggungnya “
Artinya, menjalankan perintah agama dengan memaksakan diri diluar ke-wajaran dan kesanggupannya, tidak akan menyelesaikan masalah dan ti-dak memberikan jaminan untuk memperoleh apa yang ingin dicapainya , bahkan hanya menimbulkan kerugian dan penderitaan .

Dalam memahami dan mengamalkan agama , ada beberapa sikap yang di
tunjukkan oleh para pengikut agama tersebut , (1) Ada yang bersikap ter-lalu mempermudah masalah agama , sehingga terkesan se-enaknya sendiri dan mengabaikan aturan dan etika , seperti menafsirkan ayat-ayat al-Quran
menurut selera dan kepentingan tertentu dan tidak memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku dan diakui oleh para ahlinya , dan oleh mereka yang mempunyai otorita keilmuan dalam bidang tersebut . Kelompok ini yang di-sebut sebagai orang yang bersikap “ at-Tasaahul fid-Diyn “ . (2) Yang mem-persulit dalam memahami dan mengamalkan agama , sehingga terasa ber-lebih-lebihan dalam pengetatan dan penekanan dalam melaksanakan pe-rintah-perintah agama , sehingga terasa di luar kemampuan sebagian besar umat yang ingin melakukannya . Kelompok ini yang disebut bersikap “ al-Ghuluwwu fid-Diyn “ . (3) Yang mengambil sikap jalan tengah dari kedua sikap tersebut di m uka , tidak “ tasaahul” dan tidak “guluw” , tetapi “tawas-suth” ( moderat , wajar ) , sebab di dalam ajaran , hukum dan perintah aga-ma itu ada yang ketat ( ‘azimah) dan ada dipermudah ( rukhshah ) , karena ada alasan atau sebab konteks tertentu.

Pada dasarnya Allah tidak menghendaki dalam pelaksanaan ajaran agama Islam ini menimbulkan kesulitan dan menyebabkan penderitaan pada umat-nya . Allah berfirman :

“ Allah menghendaki kemudahan bagimu , dan tidak menghendaki
kesulitan bagimu “ Al-Baqarah : 185

“ Dan sekali-kali -Allah- tidak menjadikan untuk kamu dalam agama
itu suatu kesempitan ( yang menyulitkan dalam pelaksanaannya )” . Al-Hajj : 78
Dalam hadis-hadis Nabi Muhammad juga banyak sabda-sabda beliau yang
menekankan perlunya kewajaran dalam melakukan perintah-perintah agama
termasuk dalam memahami tujuan dan menghayati nilai-nilainya . Di antara
sabda-sabda Nabi Muhammad saw tersebut adalah :

“ Agama (Islam) itu mudah , tidak akan ada seseorang yang mem-
persulit agama kecuali agama itu akan mengalahkannya . Oleh ka-
rena itu , maka berbuatlah yang benar dan mebuat pendekatan
yang baik ( dalam melakukan agama ) “ . ( riwayat al-Bukhari ) .

“ Agama yang paling disukai oleh Allah , adalah agama yang be-
nar dan yang ramah (toleran ) “ . (riwayat al-Bukhari dan an-Nasa’i)

Dalam syari’ah Islam , ibadah solat itu termasuk ibadah yang paling diuta-
makan , yang tidak diberikan kemurahan untuk meninggalkannya , tetapi Is
lam memberikan beberapa jalan keluar agar dalam melaksanakan ibadah
solat tersebut tidak menimbulkan penderitaan dan kesulitan yang diluar ke-
sanggupan , seperti bagi orang yang sedang sakit (yang tidak sanggup me
lakukan solat dengan berdiri , diidzinkan melakukannya dengan duduk atau
berbaring . Yang sedang dalam bepergian jauh , dibolehkan melakukan so-
lat dengan jama’ ( menggabungkan ) bahkan qashar ( meringkas ) . Yang
dalam kesulitan menemukan air untuk wudlu’ , dibolehkan tayammum ( de-
ngan memakai debu ) . Yang sedang dalam kesulitan melakukan solat te-
pat waktunya (karena suatu keadaan tertentu) maka boleh melakukan so-
lat qadla’ ( di luar waktunya ) . Yang sedang melakukan solat dalam suasa-
na ketakutan atau bahaya ( seperti dalam pertempuran atau bencana alam
dan lain sebagainya ) ,dapat melakukannya sambil menghindar atau menye-
lamatkan diri . Ini semua menunjukkan bahwa agama Islam selalu memper
hatikan hubungan antara perintah dengan pelaksanaannya serta konteks di
mana perintah tersebut mesti dilaksanakan , dan hal ini merupakan ciri mo-
derasi Islam .
Contoh lain , bahwa “ thalaq” (cerai) itu dinyatakan sebagai salah satu per-
buatan yang dimurkai atau dibenci oleh Allah . Meskipun demikian , dalam
menghadapi kasus rumahtangga yang sulit untuk dipertahankan karena be-
berapa sebab ( atau kalau dipaksa untuk dipertahankan , maka mafsadah-
nya lebih besar disbanding maslahahnya ) , maka Islam mentolerir terjadi-
nya perceraian secara damai dan baik-baik ( tasrih bi ihsan) .

Ibnul Qayyim ( dalam Madarik as-Salikin II ) mengatakan : “ Agama Allah
(Islam) itu merukan sikap tengah antara sikap sembrono (semaunya sen-
diri) dan sikap keras dan kasar . Allah itu setiap memerintahkan suatu pe
rintah , selalu diikuti godaan setan , mengajak melakukan penyimpangan dengan sikap sembrono dan main-main , atau dengan sikap berlebih-le-
bihan dan melampaui aturan ( imma ila tafrith wa idla’ah , wa imma ila
ifrath wa ghuluw ) “ .

FAKTOR-FAKTOR PENDORONG EKSTREMITAS .
Dalam sejarah kehidupan beragama selama ini , selalu muncul sikap ek-stremitas tersebut dengan beberapa sebab dan alasan . Dalam kehidupan
agama Islam sejak abad pertama Hijrah , sudah mulai muncul kelompok-kelompok ekstrem , seperti kelompok yang kemudian dikenal sebagai “ al-
Khawarij “ , kelompok masyarakat badui yang fanatik dan puritan , tetapi
kurang terdidik dan nalarnya terbatas . Karena rasa kecewa yang berat ter
hadap Mu’awiyah yang dianggap penipu dan pecundang dalam “ tahkim” /u-
paya rekonsiliasi dengan Ali bin Abi Thalib , maka mereka menvonis bah-wa Muawiyah adalah kafir dan harus bibunuh . Sedangkan Ali bin Abi Tha-
lib dituduh peragu dan pengecut , dan mereka pandang sebagai pelaku do-sa besar , yang tidak perlu ditaati lagi , maka mereka memberontak dengan
semboyan “ la hukma illa-Allah “ ( tidak ada kekuasan selain Allah ) . Mere-
kan juga membuat konspirasi untuk melenyapkan orang-orang yang dinilai
sebagai sumber kemelut umat Islam , yaitu Mu’awiyah bin Abi Sufyan , Am-
ru bin ‘Ash , dan Ali bin Abi Thalib , dan mempercayai apabila mereka itu
sudah terbunuh , maka akan dapat diwujudkan perdamaian dan persatuan
umat Islam .
Pandangan dan sikap mereka yang membaurkan masalah politik dan aga-
ma dengan pemikiran yang dangkal dan pertimbangan emosional tersebut, antara lain dengan sikap “ mengkafirkan “ orang-orang yang tidak sefaham dengan pendapatnya , membolehkan “ pembunuhan “ terhadap lawan-lawan politiknya , serta mengobarkan permusuhan dan kebencian diantara sesama
muslim , telah membuat preseden yang suram dalam sejarah umat Islam
sampai sekarang . Khawarij , meskipun dikenal sebagai kelompok puritan
yang sangat fanatik , telah muncul sebagai kelompok pertama dalam Islam
yang membawa watak radikalis ekstrem , dan telah mengorbankan beribu
ribu umat Islam dan menguras stamina umat , tanpa menyumbangkan ha-sil positif apapun terhadap kemaslahatan dan kemajuan peradaban Islam .

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.122 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: