PENELITIAN HADITS NABI SAW YANG DIRIWAYATKAN AL-BUKHARY, JUZ III, NO: 6132 TENTANG LARANGAN MEMINTA JABATAN STUDI KORELASI PADA PROSES PEMILIHAN KETUA ORGANISASI PONDOK MODERN ARRISALAH PROGRAM INTERNASIONAL PUTRI

PENELITIAN HADITS AL-BUKHARY, JUZ III, NO: 6132
TENTANG LARANGAN MEMINTA JABATAN STUDI KORELASI PADA PROSES PEMILIHAN KETUA ORGANISASI PONDOK MODERN ARRISALAH PROGRAM INTERNASIONAL PUTRI

Makalah disusun guna memenuhi tugas penelitian living sunnah
Mata Kuliah Studi Hadits Ahkam
Dosen Pengampu :
Dr. Hj. Umi Sumbulah, MAg

Disusun oleh :

Sunartip (2101060015)

MAGISTER HUKUM ISLAM
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2010/2011


KATA PENGANTAR

Penelitian atas hadits menjadi barang yang urgen bagi proses perkembangan pertanggungjawaban umat Islam secara ilmiah, dimana setiap orang bisa mengeksplorasi gagasan-gagasan cerdas Muhammad SAW atas segala masalah yang timbul di masyarakat.
Berangkat dari keterusikan penulis atas tidak sesuainya tata kehidupan masyarakat Islam global yang terlemahkan oleh system, bahkan terkadang cenderung terdistorsi oleh keadaan, serta mentalitas umat Islam yang termarginalkan oleh sikap mereka apatis terhadap rujukan agama mereka sendiri dalam hal ini hadits. Sedangkan di sisi lain, jargon besar “Islam datang untuk menyelesaikan segala problematika ummat” seolah menjadi pepesan kosong.
Kajian penelitian hadits (salah satu sumber landasan hidup setelah al-Qur’an) diharapkan mampu menyadarkan ummat bahwa apa yang mereka yakini adalah kebenaran, maka pemilahan hadits sesuai dengan kualitas dan derajatnya adalah hal yang sangat penting untuk membangun kembali trust ummat atas apa yang mereka yakini.
Penulis ucapkan ribuan terimakasih kepada Bapak Dr. Hj. Umi Sumbulah, MAg selaku dosen pengampu materi Kajian Hadits Ahkam di Pascasarjana Hukum Islam Universitas Islam Malang yang bisa menyajikan materi tersebut secara cerdas, analitik dan menggugah.

Malang, 20 Juni 2011
Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Sampul ……………………………………………………………………. i
Kata Pengantar ………………………………………………………………………. ii
Daftar Isi ……………………………………………………………………………. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah …………………………………………… 1
B. Rumusan Masalah …………………………………………………. 2
C. Tujuan Pembahasan ……………………………………………….. 2

BAB II PONDOK MODERN ARRISALAH PROGRAM INTERNASIONAL
A. Pengenalan …………………………………………………………… 3
B. Sejarah singkat berdirinya …………………………………………… 3
C. Sosok santri yang diharapkan setelah tamat .………………………… 3
D. Keseimbangan ……………………………………………………….. 4
E. Ciri khas ……………………………………………………………… 4
F. Pelajaran pokok dan bahasa pengantar ………………………………. 5
G. Sistem pendidikan pesantren untuk mencetak santri unggulan ……… 5
H. Sistem pendidikan ala manhaj ar-robbany (Islam) ………………….. 6
I. Do’a, arah, tujuan dan wawasan ………………………………………. 6
J. Panca Jiwa Pondok Modern ………………………………………….. 7
K. Semboyan pondok ”lillahi arrisalah, wa-r-risalah lillah” …………… 8
L. Kurikulum pondok ………………………………………………………. 8
M. Management pondok …………………………………………………….. 8
N. Pengembangan lembaga pesantren ………………………………………. 10
O. Disiplin …………………………………………………………………… 10
P. Ekstrakurikuler …………………………………………………………… 11
Q. Kelanjutan setelah tamat …………………………………………………. 11
R. Sarana pendidikan dan fasilitas ………………………………………….. 11
S. Lembaga pendidikan di pesantren program internasional ………………. 11
T. Pengkaderan ……………………………………………………………… 12
U. Kegiatan perekonomian ………………………………………………….. 12

BAB III PENELITIAN HADITS NABI SAW YANG DIRIWAYATKAN AL-BUKHARY, JUZ III, NO: 6132 TENTANG LARANGAN MEMINTA JABATAN
A. Penelitian hadits …………………………………………………. 14
1. Takhrij Hadits ……………………………………………….. 14
2. Perbandingan periwayatan …………………………………… 15
3. Diagram Transmiter Hadits …………………………………. 33
4. Tingkatan Sanad Hadits ………………………………………… 34
5. Keadilan dan Kedlabitan Rawi …………………………………. 34
6. Penelitian Matan Hadits ………………………………………… 41
a. Perbandingan hadits dengan ayat ………………………………. 41
b. Perbandingan hadits dengan hadits ……………………………. 42

BAB IV PENELITIAN HADITS NABI SAW YANG DIRIWAYATKAN AL-BUKHARY, JUZ III, NO: 6132 TENTANG LARANGAN MEMINTA JABATAN STUDI KORELASI PADA PROSES PEMILIHAN KETUA ORGANISASI PONDOK MODERN ARRISALAH PROGRAM INTERNASIONAL PUTRI
A. Landasan Hukum Pemilihan Ketua Organisasi Pelajar ………………. 48
1. Al-Quran …………………………………………………………. 48
2. Al-Hadits …………………………………………………………. 48
3. Surat keputusan wakil direktur bidang kesiswaan ……………….. 48
B. Kaedah kepemimpinan dan pembagian tugas ketua pengurus organisasi pelajar ………………………………………………………………….. 48
C. Tahapan Pemilihan Ketua Organisasi Pelajar ………………………….. 51
1. Tahap pertama oleh lembaga santriwati …….……………………. 51
2. Tahap kedua oleh lembaga guru dan majelis Pembimbing ………. 53
3. Tahap ketiga oleh lembaga Pimpinan Pondok/direktur & wakil …. 54

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ………………………………………………………….. 56
B. Saran ………………………………………………………………….. 57

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………… 58
LAMPIRAN-LAMPIRAN …………………………………………………………… 60

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kepemimpinan adalah salah satu pilar terbangunnya masyarakat Islam, maka diharapkan dengan pemimpin yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang mumpuni masyarakat Islam bisa membangun diri untuk memakmurkan dunia dengan berdampingan secara bermartabat dengan bangsa dan umat agama lain. Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk hijrah ke kota Madinah, dan dikota tersebut Nabi Muhammad SAW membentuk pemerintahan dengan penganut Islam yang menjelma sebuah kelompok sosial dan memiliki politik yang riil pasca periode Mekkah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad.
Pondok Modern Arrisalah sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam (pesantren) di Ponorogo adalah lembaga pendidikan yang memiliki system classical pada proses pendidikan formalnyanya, berhaluan salafy pada sisi ibadahnya, dan bermenejement shalat jama’ah pada sistem sturktural organisasinya. Berbagai kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuer diadakan guna mencapai tujuan pendidikannya, yakni mencetak alumni yang mampu memimpin, benar amal-ibadahnya dalam rangka mencapai ridla Allah dunia-akhirat.
Organisasi pelajar yang menjadi motor penggerak kegiatan ektrakurikuler dan membantu kegiatan intrakurikuler santri-santriwati pada perjalanannya benar-benar membentuk karakter santri untuk kemudian mereka terapkan di masyarakat tempat mereka berasal atau di daerah di mana mereka berkiprah pasca studi.
Proses pemilihan ketua organisasi yang dikenal kebanyakan pesantren di Indonesia adalah penunjukan langsung oleh pengasuh atau santri senior pondok yang bersangkutan. Lain halnya yang berlaku di Arrisalah. Tahap awal, santri-santriwati dari masing-masing perwakilan konsulat (kelompok santri berdasar kabupaten atau propinsi asal) diberi kesempatan untuk mengajukan perwakilan untuk mengajukan visi-misi sebagai calon ketua organisasi untuk kemudian dipilih oleh para santri yang lain. Tahap kedua, 10 besar hasil pemilihan santri-santriwati dimusyawarahkan di sidang dewan pembimbing (asatidz-ustadzat) sekaligus membentuk calon struktur organisasi pelajar. Peserta sidang ini diwakili oleh masing-masing ketua bagian dari 13 bagian yang ada ditambah wakil direktur bidang kesiswaan. Tahap ketiga, hasil musyawarah dewan asatidz-ustadzat ini diajukan kepada pimpinan pondok (disertai hasil pilihan santri-santriwati pada tahap awal sebagai pembanding) untuk direvisi kemudian disahkan. Ini berarti dalam musyawarah dewan asatidz-ustadzat bisa jadi peroleh suara terbanyak hasil pemilihan santriwati belum tentu direkomendasikan oleh sidang kepada pimpinan pondok untuk diangkat sebagai ketua organisasi, dan bisa jadi calon sruktur yang telah disusun di sidang dewan asatidz-ustadzat direvisi ulang baru disahkan oleh pimpinan pondok setelah bermusyawarah dengan perwakilan sidang dewan asatidz-ustadzat.
Dengan perjalanan system pemilihan ketua dan pengurus organisasi yang telah penulis paparkan di atas, sudahkan system yang digunakan dalam pemilihan ketua organisasi Pondok Modern Arrisalah Program Internasional Putri sesuai dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan al-Bukhary, Juz III, no: 6132 tentang larangan meminta jabatan.
Maka penulis memberikan titik focus penelitian pada kajian literature dari data yang penulis gali dari Pondok Modern Arrisalah Putri Program Internasional Ponorogo Jawa Timur.


BAB II
SEKILAS PONDOK MODERN ARRISALAH

A. Pengenalan
Adalah lembaga pendidikan Islam ala pesantren, yang mendidik para santri sesuai dengan petunjuk Allah SWT, dan tuntunan Rasulullah SAW.
Tugas utama pesantren ini adalah meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan agama dan umum sebagai langkah awal untuk mencapai kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat.
B. Sejarah Singkat Berdirinya.
Dirintis oleh Drs. KH. Muhammad Ma’shum Yusuf Bin Taslim semenjak 1 Muharra,m 1403 H/18 Oktober 1982 dari nol, setelah tamat KMI dan IPD Gontor dan membantu mengajar di Pondok tersebut selama 20 tahun.
Pesantren ini diresmikan oleh gurunya, KH. Imam Zarkasyi (Pendiri dan Direktur KMI Pondok Modern Gontor) pada 6 Jumadi-l-Ula 1405 H/26 Februari 1985 M, dengan nama “Madinatul Thullab” (Kota Santri), kemudian berkembang menjadi Pondok Modern Arrisalah Program Internasional. Santri yang bermukim di dalamnya berasal dari berbagai pelok tanah air dan bebrapa santri dari luar negeri, seperti India dan Saudi Arabia.
C. Sosok Santri yang Diharapkan Setelah Tamat.
1. Dalam jangka jauh, sesuai dengan petunjuk Allah SWT, setiap santri harus meneladani Rasulullah SAW, karena Beliau, yakni sebagai pejuang, berani berkorban dengan segala milik atau taruhannya, baik harta, pikiran atau jiwanya, hanya karena ridlo Allah SWT, bukan untuk duniawi. Ini adalah pahlawan pembela agama, negara dan kebenaran. Pemimpin yang takut kepada Allah, berangkat dari memimpin dan mengatur dirinya atau lingkungan yang menghajatkan ke jalan yang lurus dan memanfaatkan karunia Allah sebaik mungkin (bukan robot). Ulama (Ilmiawan) yang sholeh yang beriman kepada Allah, yang selalu belajar dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain sehingga semakin luas pengetahuannya dan semakin bertambah kuat imannya. Mandiri, selalu berusaha untuk mampu mencukupi segala kebutuhannya, tidak menggantungkan belas kasihan orang lain, bahkan siap membantu orang lain. Berwawasan luas, rahmatan li-l-‘alamin, kasih sayang kepada hamba Allah -siapa saja- tanpa pandang bulu.
Tujuan utama pendidikan untuk jangka jauh agar santri-santrinya mampu mengajar sesuai dengan garis kelembagaan profesi yang diterapkan di dalamnya, sebab pesantren ini adalah pesantren kaderisasi guru atau yang lebih dikenal dengan nama Kulliyatu-l-Mu’allimin wa-l-Mu’allimat al-Islamiyah.
Maka penulis melihat bahwa pesantren ini memiliki tujuan jangka jauh sebagai lembaga pengkaderan guru agama Islam yang meneladani sosok Muhammad SAW.
2. Jangka pendeknya, sosok yang dikehendaki ialah:
a. Beriman kuat dan berpengetahuan luas.
b. Bisa melanjutkan studinya di berbagai perguruan tinggi dalam atau luar negeri (agama atau umum).
c. Memiliki wawasan Islam yang luas (Nasional atau Internasional).
d. Memiliki lapangan perjuangan yang jelas sebagai deposito akhirat, dan sumber ekonomi yang mapan untuk menopang perjuangannya.
Singkatnya pesantren ini mengarahkan misi pendidikannya agar alumni yang dihasilkan mampu menjadi ulama atau ilmiawan muslim dan pemimpin dunia, yang diterima amal perjuangannya oleh Allah di dunia dan akhirat.
D. Keseimbangan
Keseimbangan yang dimiliki pesnatren ini dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikannya di atas adalah: Kepentingan dunia dan akherat. Ilmu pengetahuan umum dan agama. Wawasan nasional dan internasional. Penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Teori dan praktek. Kecerdasan moral dan intelektual.
E. Ciri Khas:
Pesantren ini memiliki ciri khas sebagai berikut: Bebas dari syirik dan khurafat. Beraqidah Ahlu-s-sunnah wal jama’ah. Berprogram internasional, nasional dan teknologi. Menjadi rahmat manusia sedunia dan untuk semua golongan. Berdisiplin ketat dan semua kegiatan disesuaikan dengan syariat Islam. Bebas dari rokok, narkoba dan segala macam bentuk anarkhisme. Berijazah pondok dan negeri.

F. Pelajaran Pokok dan Bahasa Pengantar
Pelajaran pokok yang ada dipesantren ini terpapar dengan keterangan sebaqgai berikut, Pengetahuan agama Islam secara menyeluruh (kaffah), maka apapun ilmu alat yang dihajatkan untuk memahami agama Islam diajarkan sesuai dengan jenjang pendidikan yang berlaku di dalamnya.
Ilmu pengetahuan umum dan teknologi, hal ini diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar dan kegiatan ekstrakurikuler sebagai lembaga pembentuk karakter kepemimpinan santri-santriwati.
Pelajaran bahasa Arab dan Inggris diaplikasikan secara aktif sebagai bahasa pengantar pelajaran, percakapan, diskusi, dan menulis. Serta tahfidzul Qur’an dan al-Hadits serta pemahamannya secara maksimal.
Penulis melihat bahwa pelaksanaan semua pelajaran agama berbahasa Arab dan semua pelajaran umum berbahasa Inggris. Setelah memahami bahasa dasar. Semua pelajaran dimulai dari dasar, jadi relatif tidak ada kesulitan bagi santri/calon santri karena santri yang belum mampu akan dibimbing oleh Guru.
G. Sistem pendidikan pesantren untuk mencetak santri unggulan, ini dengan:
1. Ala manhaj Robbany dengan mujahadah yang tinggi, yaitu sistem pendidikan Islam dengan kesungguhan yang maksimal dan keikhlasan yang tinggi dan murni.
2. Ala Nyantri/mondok, yaitu dengan sistem asrama terpisah antara putra dan putri, menerapkan tri-pusat pendidikan dengan pengawasan 24 jam oleh Pimpinan, para guru dan pengurus.
3. Dalam lingkungan yang agamis dan ilmiyah, bebas dari segala pengaruh buruk dengan disiplin yang ketat.
4. Keseimbangan bobot pelajaran dalam kurikulum antara ilmu-ilmu pengetahuan agama dan pengetahuan umum.
5. Penerapan bahasa resmi (Arab dan Inggris) secara aktif baik di kelas sebagai bahasa pengantar atau di asrama sepanjang hari sebagai bahasa pergaulan.
6. Penerapan sistem sekolahan yang teratur (مدرسة منظّمة) untuk mencerdaskan pikir dan dlomir (otak dan hatinya) dalam memahami ilmu-ilmu pengetahuan agama dan umum.
7. Penerapan oraganisasi Pesantren Tepat Teknologi Islam (PTTI), untuk melatih hidup yang teratur, dan penerapan kegiatan extrakurikuler, seperti: Olahraga, seni, dan ketrampilan untuk melatih kepemimpinan, ketrampilan hidup dan mengusir kejenuhan.
8. Penerapan pendidikan kekeluargaan dan pendekatan secara individual (face to face) di samping pendidikan secara kolektif untuk berbagai permasalahan, agar lebih dekat antara guru dan santri seperti keluarga sendiri.
H. Sistem Pendidikan ala Manhaj Ar-Robbany (Islam) diantaranya:
1. Pendidikan dengan keteladanan (التربية بالقدوة )
2. Pendidikan dengan kebiasaan atau fitrah (التربية بالعادة )
3. Pendidikan dengan nasehat (التربية بالموعظة )
4. Pendidikan dengan memberikan perhatian atau kasih sayang (التربية بالملاحظة )
5. Pendidikan dengan memberikan hadiah, ganjaran dan hukuman (التربية بالعقوبة )
6. Pendidikan dengan berbagai latihan atau ketrampilan (التربية بالممارسة )
I. Do’a Arah Tujuan dan Wawasan
Pondok Modern Arrisalah Program Internasional adalah sebuah nama yang mengandung do’a, arah dan tujuan, serta wawasan sebagai berikut:
1. Pondok, adalah tempat untuk mengaji atau mengajarkan Islam ala pesantren seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, baik di Mekah atau di Madinah untuk mencetak santri yang seutuhnya seperti: Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Bilal, Salman Al-Farisi dll, untuk meneruskan perjuangan Rasulullah SAW, bahkan mereka dijanjikan oleh Allah SWT masuk surga.
2. Modern, bukan ala budaya barat, tetapi berorientasi masa depan yang baik. Sedangkan masa depan yang baik itu adalah akhirat yang baik karena hidup khusnu-l-khotimah di dunia. Modern artinya men-jaman atau sesuai dengan jamannya, yaitu mengikuti syari’at Islam sebagai agama yang terakhir, mutakhir dan modern dan yang paling sempurna sampai hari kiamat serta diterima oleh Allah SWT di akhirat kelak.
3. Arrisalah, artinya: Misi, wahyu atau kerasulan, yaitu: Mempelajari, mengajarkan dan meneladani Rasulullah SAW dalam menyampaikan wahyu Allah SWT.
4. Program Internasional, artinya berencana dan berusaha untuk menggapai dunia, baik mencari ilmu, mempraktekkannya atau memperluas hubungan di dunia internasional sesuai dengan misi Rasulullah SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir untuk umat se-jagat, dan Islam adalah agama internasional.
Singkatnya, Pondok Modern Arrisalah Program Internasional adalah nama sebagai do’a, arah dan tujuan, sekalipun sebagai wawasan. Semoga pondok dan para santrinya mendapat ilmu yang luas dan bermanfaat dari manapun dan bisa dimanfaatkan untuk kemajuan dan kesejahteraan umat se-jagat baik di dunia atau di akhirat, walaupun baru bermula dari alif.
J. Panca Jiwa Pondok Modern
Lima jiwa yang harus dimiliki oleh pondok dan penghuninya untuk mencapai kehidupan yang maju dan sejahtera baik di dunia maupun di akhirat.
Panca Jiwa Pondok yang dimaksud adalah:
1. Jiwa Keikhlasan
Artinya: sepi ing pamrih, atau tidak mengharapkan pujian, atau bukan karena dorongan utuk memperoleh keuntungan dunia, tetapi semata-mata karena Allah untuk beribadah.
Inti dari keikhlasan BERAMAL MAKSIMAL KARENA ALLAH, bukan santai dan untuk mencari materi.
2. Jiwa Kesederhanaan.
Artinya: tidak berlebih-lebihan, bisa mengukur kekuatan. Sederhana bukan berarti melarat atau miskin, tetapi malah melatih diri dalam menghadapi kesulitan atau perjuangan hidup.
Inti dari pada kesederhanaan yakni berlatih menyetir dan menguasai diri, berani maju pantang mundur.
3. Jiwa berdikari.
Artinya: berlatih mandiri, tidak menyandarkan hidupnya atas bantuan dan belas kasihan orang lain.
Inti dari pada berdikari, yakni berani mandiri, bersandar kepada diri sendiri dengan berharap hanya pertolongan Allah SWT.
4. Jiwa Ukhuwah Islamiyah.
Artinya: persaudaraan yang didasarkan persamaan agama yaitu Islam.
Inti dari Ukhuwah Islamiyah yakni mempererat persaudaraan se-iman se-agama di mana saja.
5. Jiwa bebas.
Artinya: tidak terikat baik oleh orang lain atau pendapatnya sendiri yang belum tentu benarnya. Jadi bukan bebas (liberal) yang kehilangan arah dan tujuan atau prinsip bahkan tidak ada ikatan atau disiplin.
Inti dari pada bebas, yakni bebas dalam berfikir, berbuat dan menentukan jalan hidup dan perjuangan, sesuai dengan petunuk Allah SWT dan tuntunan Rasulullah SAW.
K. Semboyan Pondok ”Lillahi Arrisalah, Wa-r-Risalah Lillah”
Artinya: Pondok dengan segala-galanya, lahir dan batinnya, semuanya adalah milik Allah SWT. Demikian juga Pondok dengan segala misi dan kegiatannya adalah semata-mata untuk menegakkan kalimah Allah SWT, dan hanya memohon pahala dan ganjaran kepada-Nya.
L. Kurikulum Pondok
1. Sesuai dengan petunjuk Allah SWT, sosok seorang muslim yang harus dicontoh adalah Rasulullah SAW. Rasulullah adalah manusia biasa, tetapi setelah diberi petunjuk (wahyu) oleh Allah menjadi sosok unggulan yang berkwalitas dan mendapat pujian dari Allah SWT, dalam rangka untuk ditiru oleh umat manusia.
2. Sosok yang berkwalitas yaitu pribadi yang memiliki iman yang kuat dan mempunyai ilmu yang luas baik ilmu agama atau ilmu-ilmu dunia.
3. Dari petunjuk Allah SWT di atas maka keunggulan pribadi yang berkwalitas harus dimulai dengan menanamkan pendidikan agama yang masak dan menyeluruh (التفقه والكافة ) dan disertai atau diimbangi dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak bertentangan dengan Islam, bahkan menopang kebenaran-kebenaran wahyu Allah SWT. Islam sama sekali tidak bertentangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kebenaran ilmu pengetahuan sekarang ini, sudah diberitakan dalam Al-Qur’an berabad-abad yang silam, hanya saja yang menekuni dan mencari-cari kebenaran ilmu pengetahuan itu kebanyakan bukan orang Islam. maka sekarang tinggal mencocokkan dan mengambil manfaatnya, atau meneruskan sedalam-dalamnya dan menanamkannya kepada generasi muslim dengan sungguh-sungguh. Dengan sendirinya harus dilandasi dengan iman yang kuat. Jadi, kurikulum pondok adalah keseimbangan antara kepentingan dunia dan akherat, dengan cara mementingkan pelajaran-pelajaran agama tanpa mengesampingkan ilmu-ilmu dunia.
M. Management Pondok
1. Untuk mencapai kesuksesan hidup, di dunia dan di akhirat hanya dengan petunjuk Allah SWT. Diantaranya petunjuk Allah untuk mengatur dan beribadah adalah sholat.
2. Yang harus dilakukan dalam shalat di antaranya:
a. Dikerjakan sesuai petunjuk Allah SWT, dan tuntunan Rasulullah SAW (Islam) الإسلام .
b. Selalu memburu waktu, dan mendisiplin diri, di awal waktu paling istimewa (Adhan) أذان .
c. Dimulai dengan membersihkan diri, pakaian dan tempat (wudlu) وضوء .
d. Menghadapkan diri ke kiblat, bershaf yang lurus dan rapat, dan berusaha untuk di shaf pertama (shaf) قبلة وصفّ .
e. Berniat dengan ikhlas, bahwa apa yang dilakukan ini karena Allah, bukan untuk apa dan siapa, serta mengagungkan-Nya نية و تكبيرة الإحرام .
f. Bersumpah dihadapan-Nya, bahwa hidup dan matinya hanya untuk Allah (iftitah) إفتتاح
g. Selalu mengikuti gerak-gerik imam dengan baik tanpa berselisih (و طمأنينة خضوع وخشوع).
h. Di saat berdiri tegak di atas, rukuk di tengah, dan sujud di bawah, tetap mengagungkan Allah SWT (إعتدال،ركوع وسجود ).
i. Tidak boleh berpaling ke-sana ke-mari, kecuali sudah sempurna shalatnya (السلام ).
j. Iman berhalangan, ma’mum harus siap mengganti dan meneruskan shalatnya. Dan kalau imam salah atau lupa, boleh menegur dengan bijaksana (العذروالسهو).
k. Imam harus baik dalam segala hal, contoh terbaik buat ma’mumnya, karena dia adalah ikutan para ma’mum (إمام ومأموم ).
l. Imam dan ma’mum sama-sama berdisiplin dan menjaga diri, supaya shalatnya tetap khusyu’ dan diterima oleh Allah SWT. (آمين )
3. Maka, management shalat itu bisa dipraktekkan dalam upaya mengelola pondok, yang pasti diridlai oleh Allah SWT.
a. Harus mengikuti sepenuhnya petunjuk Allah SWT dan tuntunan Rasulullah SAW, supaya di akherat kelak mendapat pahala dan pertolongan Allah SWT, serta mendapat syafa’at Rasulullah SAW.
b. Disiplin waktu, tidak leha-leha atau santai.
c. Bersih diri lahir bathin.
d. Merapatkan barisan, dan berusaha terdepan.
e. Pamrih ibadah, perjuangan, dan pengabdian hanya karena Allah, bukan untuk manusia atau untuk dirinya, tidak merasa lebih kepada yang lain.
f. Apa saja yang dilakukan hanya untuk menopang perjuangannya (ibadatan Lillah).
g. Anggota taat patuh kepada pimpinan dalam mencapai tujuan, tetapi kalau pimpinan salah atau lupa, ma’mum boleh menegur dengan bijaksana tanpa mengurangi dan mengganggu jalannya perjuangan.
h. Ketika perjuangan di atas, di tengah, atau di bawah harus tetap istiqomah, tetap berpegang teguh, bahwa Allah Maha Agung.
i. Harus konsentrasi, tidak boleh menoleh ke kiri dan ke kanan serta tidak boleh ragu-ragu.
j. Setiap individu harus siap memimpin, atau meneruskan perjuangan apalagi bagi yang dekat imam atau yang lebih mampu meneruskan.
k. Pimpinan harus baik, karenanya sebagai panutan, paling bertaqwa, berilmu atau mampu.
l. Pimpinan dan anggota harus saling menjaga disiplin, menjaga diri, supaya perjuangan dan dedikasinya diterima oleh Allah SWT.
Akhirnya, isi perjuangan, usaha, dan gerak harus sesuai dengan kandungan Al-Fatihah, Insya Allah, Allah akan mengabulkan do’a kita dan menerimanya.
N. Pengembangan Lembaga Pesantren.
1. Islam adalah agama da’wah. Lewat lembaga pesantren Islam harus dikembangkan yang bisa menjangkau semua manusia dari berbagai tingkatan umur, lapisan masyarakat atau berbagai profesi.
2. Jadi, lembaga pesantren bisa dikembangkan untuk:
a. Manusia sejagat, maka memerlukan bahasa asing.
b. Tingkatan manusia, maka memerlukan tingkat dasar, tingkat menengah, dan tingkat dewasa.
c. Tingkat profesi, sesuai dengan kebutuhan hidup memerlukan program seperti program internasional, program nasional, program ekonomi, program teknologi, program kesehatan, program penghijauan dan lain-lain.
3. Dengan sendirinya, pengembangan pesantren harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan, setelah kuat dan mapan ilmu-ilmu dasarnya baik agama, ilmu pengetahuan atau bahasa.
4. Pengembangan lembaga pendidikan harus dimulai dengan menguatkan fondasi-fondasi yang ada sebelumnya, sehingga tidak ada kesan hanya sekadar banyak tetapi morat-marit tidak teratur, yang tidak menghasilkan sosok yang berkwalitas.
O. Disiplin
Disiplin adalah faktor penunjang keberhasilan belajar santri, diantaranya ialah: Disiplin ibadah, disiplin sekolah, disiplin asrama, disiplin bahasa, dan disiplin pergaulan sehari-hari.
Pelanggaran setiap disiplin dikenai sanksi yang bersifat mendidik dan tidak ada sanksi fisik atau ancaman dan tanpa diskriminasi (semua santri mendapat perlakuan sama dalam segala disiplin).
P. Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler dipraktekkan dalam Organisasi Pelajar Pesantren Tepat Teknologi Islam (PTTI) dengan kegiatan rutin dan terorganisir, seperti: pidato dan diskusi dalam tiga bahasa, kepramukaan, beladiri, berbagai macam olahraga, seni dan ketrampilan. Seni kaligrafi dan praktek komputer diwajibkan bagi santri dan nilainya dicantumkan dalam raport per-semester.
Q. Kelanjutan Setelah Tamat
Pondok dengan pola pembinaan berbentuk “kulliyah’ setingkat dengan universitas di luar negeri, maka setelah tamat santri dapat melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi di dalam negeri maupun di luar negeri. Atau kembali ke masyarakat dengan berbagai profesi, seperti ‘ulama atau kiai, dosen, politikus, pengusaha, pegawai dan lain sebagainya. Sebab santri telah dipersiapkan dengan lapangan perjuangan yang jelas serta lapangan ekonomi yang mapan.
R. SARANA PENDIDIKAN DAN FASILITAS
Sarana pendidkan yang dimiliki bermula dari nol; di bawah pohon tanpa meja-bangku hingga bisa bertambah seperti yang disaksikan saat ini;
1. Lokasi Kampus; sangat strategis, di desa yang tidak jauh dari kota, mudah dijangkau sarana transportasi dan komunikasi, aman, nyaman, bebas polusi dan terhindar dari pergaulan yang tidak edukatif serta pengaruh lingkungan yang kurang kondusif.
2. Sarana Belajar; ruang belajar mencukupi dan sesuai standar, 4 gedung pertemuan, perpustakaan, laboratorium, sarana ibadah, dan perkantoran.
3. Sarana Penunjang; Olahraga: sarana berbagai cabang olahraga (sepakbola, bola voli, renang, bela diri, bola basket, badminton, tennis meja, sepak takraw). Telekomunikasi: Wartel, warnet, dll.
S. LEMBAGA PENDIDIKAN DI PESANTREN PROGRAM INTERNASIONAL
Lembaga pendidikan Pondok Modern Arrisalah Program Internasional berawal dari semacam SD Pamong ala sekolahan sederhana, yang kemudian berubah menjadi Kulliyatu-l-Mu’allmin wa-l-Mu’allimat Al-Islamiyah ditingkatkan dengan program internasional, yakni program pengajaran dengan aberorientasi dua bahasa dunia (semua pelajaran agama berbahasa Arrab dan semua pelajran umum berbahasa Inggris) dengan ditambahkan standarisasi Tsanawiyah atau ‘Aliyah.
Berbagai lembaga pendidikan yang ada adalah:
1. Taman Kanak-Kanak Islam Arrsialah
a. Ditempuh usia minimal 4 tahun/usia TK selama 3 tahun.
b. Setelah tamat mendapatkan ijazah pondok (TKIA).
2. Kulliyatu-l-Mubtadiin wa-l-Mubtadiat Al-Islamiyah (Pesantren Kecil Putera dan Puteri); Setingkat SD/MI.
a. Ditempuh usia 7 tahun/usia SD/MI selama 6 tahun.
b. Setelah tamat mendapatkan ijazah pondok dan negeri (SD/MI).
3. Kulliyatu-l-Muallimin wa-l-Mu’allimat Al-Islamiyah (KMI Putera dan KMI Puteri); Setingkat SMP/Mts dan atau SMU/MA.
a. Ditempuh tamatan SD/MI selama 6 tahun.
b. Ditempuh tamatan SLTP/MTs selama 4 tahun.
c. Setelah tamat mendapatkan ijazah pondok dan negeri (MTs/MA).
T. PENGKADERAN
Untuk menambah wawasan ke-Islaman para santri, Pondok Modern Arrisalah Program Internasional telah mengirimkan alumninya untuk menempuh studi di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, beberapa alumni telah selesai menempuh jenjang S1 dan sedang menempuh jenjang S2 di sana.
Santri yang telah lulus KMI dapat melanjutkan studi langsung ke berbagai fakultas di perguruan tinggi tersebut serta ke berbagai belahan dunia lainnya, seperti: Makkah, Madinah, Yaman, Pakistan, Yordania, Libya, Malaysia, dan diharapkan bisa melanjutkan studinya di berbagai disiplin ilmu di Eropa.
U. KEGIATAN PEREKONOMIAN
Berawal dari jualan minyak tanah di tepi jalan, jualan daun pisang dan sayur kangkung berkembang menjadi berbagai usaha yang tetap dikembangkan sekarang ini, tidak pernah berhenti, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan.
Tujuan pondok Pondok Modern Arrisalah Program Internasional belum pernah berubah hingga kini, , yaitu: mendidik dan menolong para santri yang tidak mampu. Dengan mengkonsentrasikan tujuan perekonomian pondok pada:
a. Mencetak kader pemimpin umat dunia yang memiliki dedikasi tinggi terhadap perjuangan dan mapan lapangan ekonominya.
b. Mampu membiayai semua santri dan gurunya, dan mampu menaikkan haji semua guru secara bertahap seperti-halnya Al-Azhar University Kairo Mesir yang mampu membiayai lebih dari 3000 orang mahasiswa dan dosennya. Sebab Pondok Modern bersinthesa pada:
1. Makkah dan Madinah, karena keabadian ibadah & dakwah Islamiyah.
2. Al-Azhar University Kairo Mesir, karena luasnya wakaf yang dimiliki hingga mampu menunjang biaya pendidikannya.
3. Syanggit dari Tripoli Libia Afrika, karena kedermawanan para pengasuhnya.
4. Santineketan Libia, karena kesederhanaan penghuninya.
Cara mencapai tujuan ini adalah dengan berbagai macam usaha yang bisa dilakukan, tetapi harus halal dan diridloi Allah SWT walaupun sangat sederhana.Usaha yang dijalankan terus hingga kini adalah: Pertokoan, pertanian, perikanan darat, perkebunan jati, akasia manium, lamtorogung, mangga, mente (baru dibuka), pelayanan balai kesehatan bagi santri dan masyarakat umum, penyertaan saham dan pendirian bank syari’ah al-Mabrur.

BAB III
PENELITIAN HADITS LARANGAN MEMINTA JABATAN

حَدَّثَنَا أَبُوْ النُّعْمَانَ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَاضِلِ حَدَّثَنَا جَرِيْرٌ بْنُ حَازِمٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمن بْنُ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا عَبْدَ الرَّحْمن بْنُ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلْ الإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوْتِيْـتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَ إِنْ أُوْتِيْتَـهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَ إِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِيْنٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْراً مِنْهَا. فَكَفِّرْ عَنْ يَمِيْنِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ”.
Takhrij Hadits
Penulis juga menemukan pencatuman hadits di atas di dalam berbagai kitab refrensi hadit sebagaimana berikut:
a. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَسْأَلْ الإِمَارَةَ ………………
Shahih al-Bukahri, bab karamatu-l-aiman, no hadits: 6227.
b. قال لي النبي صلى الله عليه وسلم يا عبد الرحمن بن سمرة لاَ تَسْأَلْ الإِمَارَةَ………………
_______________, bab al-ahkam, no hadits: 6613.
c. قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم يا عبد الرحمن بن سمرة لاَ تَسْأَلْ الإِمَارَةَ ………………
___________________________, no hadits: 6614.
d. عَنْ النَّبِيِّ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَلَيْسَ فِي حَدِيثِ الْمُعْتَمِرِ عَنْ أَبِيهِ ذِكْرُ الْإِمَارَةِ………………
Shahih Muslim, bab al-aiman, no hadits: 3120.
e. يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ لاَ تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ ………………
____________, bab al-imarah, no hadits: 3401.
f. يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ لاَ تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ ………………
Sunan at-Turmudzi, bab an-nudzur wa-l-aiman, no hadits: 1449.
g. عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ ……………
Sunan An-Nasai, bab al-aiman wa-n-nudzur, no hadits: 5289.
h. يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ ……………
Sunan Abu Dawud, bab al-khiraj wa-l-imarah wa-l-fa’i, no hadits: 2540.
i. يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ لاَ تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ ……………
Ahmad, awal musnad al-bashariyin, no hadits: 19702, 19704, 19707, 19711, 19712.
j. يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ ……………
Ad-Darami, bab an-nudzur, no hadits: 2241.

A. Penelitian Perawi Hadits
1. Rawi Hadits
Berbagai langkah validasi hadits yang penulis tempuh, salah satunya adalah penelitian para perwai dari hadits yang diteliti, maka penulis menemukan silsilah periwayatan hadits tersebut dengan urutan sebagai berikut: Abu an-Nu’man Muhammad bin al-Fadl  Jarir bin Hazim  al-Hasan  ’Abdurrahman bin Samurah.
Dan hasil penelitian silsilah periwayatan sebagai berikut:
a. Abu an-Nu’man Muhammad bin al-Fadl
 Nama : Muhammad bin Fadlil
 Nama panggilan : Abu Nu’man dan ‘Arim
 Tabaqah : Tabi’i-t-tabi’in tingkatan ke-6
 Tempat menetap : Basrah
 Meninggal di : Basrah
 Tahun lahir : -
 Tahun wafat : 224 H
b. Jarir bin Hazim
 Nama : Jarir bin Hazim bin Zaid
 Nasab : al-Azdy al-‘Atiqy
 Nama panggilan : Abu Nadlar
 Tabaqah : Tidak mengalami masa shahabat
 Tempat menetap : Basrah
 Meninggal di : -
 Tahun lahir : -
 Tahun wafat : 170 H
c. al-Hasan
 Nama : al-Hasan bin Abi Hasan Yasar
 Nasab : al-Bashry
 Nama panggilan : Abu Sa’id
 Tabaqah : termasuk tabi’in pertengahan
 Tempat menetap : Basrah
 Meninggal di : -
 Tahun lahir : -
 Tahun wafat : 110 H
d. ’Abdurrahman bin Samurah.
 Nama : ‘Abdurrahman bin Samurah bin Habib bin Abdu-sy-Syamsi.
 Nasab : al-‘Abasyamy
 Nama panggilan : Abu Sa’id
 Tabaqah : Masuk jajaran shahabat
 Tempat menetap : Basrah
 Meninggal di : Basrah
 Tahun lahir : -
 Tahun wafat : 50 H
2. Sejarah Guru-Guru
a. Abu an-Nu’man
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 19 orang.
 Sebagian gurunya : 1. Jarir bin Hazim bin Zaid
2. Tsabit bin Yazid
3. Hammad bin Zaid bin Dirham
4. Hammad bin Salamah bin Dirmah
5. Said bin Zaid bin Dirham
b. Jarir bin Hazim
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 54 orang.
 Sebagian gurunya : 1. Al-Hasan bin Abi al-Hasan Yasar
2. Ishaq bin Suaid bin Hubairah
3. Jarir bin Zaid bin Abdillah
4. Hamid bin Abi Hamid
5. Rasyid bin Kiisaan
c. al-Hasan
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 64 orang.
 Sebagian gurunya : 1. ‘Abdurrahman bin Samurah bin Abd Syamsi
2. Aisyah binti Abi Bakrin Ash-Shiddiq
3. Anas bin Malik bin an-Nadlar bin Dlamdlam bin Zaid
4. Jundab bin Abdullah bin Sufyan
5. ‘urwan bin al-Mughirah bin Syu’bah
d. ’Abdurrahman bin Samurah.
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 1 orang.
 Nama gurunya : Mu’adz bin Jabal bin Amru bin Aus.
3. Sisilah Murid-Murid
a. Abu an-Nu’man
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 16 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Ahmad bin al-Azhar bin Muni’
2. Ibrahim bin Ya’qub bin Ishaq
3. Hasan bin Ali bin Muhammad
4. Sulaiman bin Saif bin Yahya
5. Abdul Hamid bin Hamid bin Nashr.
b. Jarir bin Hazim
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 46 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Abu an-Nu’man (Abu al-Fadl)
2. Muhammad bin Abdullah bin Utsman
3. Kutaibah bin Sa’id bin Jamil
4. Affan bin Muslim bin Abdullah
5. Abdul Wahab bin Ata’
c. al-Hasan
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 128 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Jarir bin Hazim
2. Tsabit bin Aslam
3. Hubaib bin Asy-Syahid
4. Hakim
5. Khalid bin Mahran

d. ’Abdurrahman bin Samurah.
 Jumlah murid : Ia memiliki guru 6 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Al-Hasan bin Abi Hasan
2. Hayan bin Umair
3. Umar bin Abi Umar
4. Katsir bin Katsir
5. Lumazah bin Zabbar
6. Hishom bin Kahin
4. Jarh wa Ta’dil
Salah satu aspek penilaian kevalidan kualitas hadits adalah proses penilaian kualitas rawi atau yang biasa dikenal dengan jarh wa ta’dil. Penulis menelusuri jarh wa ta’dil para perawi hadits di atas dan mendapatkan hasil sebagai berikut:
Versi Mausu’ah al-Hadits asy-Syarif:
1. Abu an-Nu’man menurut tokoh-tokoh hadits:
 Adz-Dzahaby : Tsiqqah.
 Abu Hatim ar-Razi : Tsiqqah, hafalannya bercampur di akhir usianya.
 An-Nasa’i : Termasuk kelompok periwayat yang tsiqqah
hafalannya sebelum bercampur di akhir usianya.
 Al-‘Ijly : Tsiqqah.
 Ad-Daruqutny : Tsiqqah, berubah ketsiqqahannya di akhir usianya.
 Al-Bukhary : Berubah ketsiqqahannya di akhir usianya.
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Abu Nu’man adalah perawi yang tsiqqah tsubut, namun ketsiqqahannya berubah di akhir usianya.
2. Jarir bin Hazim
 Yahya bin Mu’in : Ia tidak memiliki cacat, namun jalur periwayatannya dari Qatadah dinilai lemah.
 An-Nasa’i : Ia perawi yang tidak memiliki cacat.
 Al-‘Ijly : Tsiqqah.
 Abu Hatim ar-Razi : Ia perawi yang terpercaya dan shalih.
 As-Saji : Tsiqqah.
 Adz-Dzahaby : Ia termasuk perawi yang tsiqqah walaupun disaat
tercampur penghujjahannya bersama putranya.
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Jarir bin Hazim adalah perawi yang tsiqqah.
3. al-Hasan
 Al-‘Ijly : Tsiqqah
 Muhammad bin Said: Tsiqqah terpercaya.
 Ibn Hibban : Ia menyebut al- Hasan dalam daftar perawi yang
Tsiqqah dalam kitabnya ats-Tsiqqah, tapi memberinya catatan sebagai sosok perawi mudallis.
Maka penulis menyimpulkan, bahwa al-Hasan adalah perawi yang tsiqqah mursal dan namun mudallis.
4. ’Abdurrahman bin Samurah.
Berbagai refrensi yang penulis gali, semua mengatakan bahwa sosok yang satu ini ada dalam kategori sosok yang adil dan tsiqqah.

TABEL A.1. (Periwayatan al-Bukhary)
NAMA RAWI TL TW TKT T. DI W. DI GURU MURID JARH WA TA’DIL
Abu an-Nu’man Muhammad bin al-Fadl

Nama: Muhammad bin Fadlil

Nama panggilan: Abu Nu’man dan ‘Arim - 224 H Tabi’i-t-tabi’in tingkat ke-6 Basrah Basrah 19 orang

1. Jarir bin Hazim bin Zaid
2. Tsabit bin Yazid
3. Hammad bin Zaid bin Dirham
4. Hammad bin Salamah bin Dirmah
5. Said bin Zaid bin Dirham 16 orang.

1. Ahmad bin al-Azhar bin Muni’Sd
2. Ibrahim bin Ya’qub bin Ishaq
3. Hasan bin Ali bin Muhammad
4. Sulaiman bin Saif bin Yahya
5. Abdul Hamid bin Hamid bin Nashr. 1. Adz-Dzahaby : Tsiqqah.
2. Abu Hatim ar-Razi : Tsiqqah, hafalannya bercampur di akhir usianya.
3. An-Nasa’i : Termasuk kelompok periwayat yang tsiqqah, hafalannya sebelum bercampur di akhir usianya.
4. Al-‘Ijly : Tsiqqah.
5. Ad-Daruqutny : Tsiqqah, berubah ketsiqqahannya di akhir usianya.
6. Al-Bukhary : Berubah ketsiqqahannya di akhir usianya.
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Abu Nu’man adalah perawi yang tsiqqah tsubut, namun ketsiqqahannya berubah di akhir usianya.
Jarir bin Hazim bin Zaid

Nasab: al-Azdy al-‘Atiqy

Nama panggilan: Abu Nadlar 170 H Tidak alami masa shahabat Basrah - 54 orang.

1. Al-Hasan bin Abi al-Hasan Yasar
2. Ishaq bin Suaid bin Hubairah
3. Jarir bin Zaid bin Abdillah
4. Hamid bin Abi Hamid
5. Rasyid bin Kiisaan 46 orang.

1. Abu an-Nu’man (Abu al-Fadl)
2. Muhammad bin Abdullah bin Utsman
3. Kutaibah bin Sa’id bin Jamil
4. Affan bin Muslim bin Abdullah
5. Abdul Wahab bin Ata’ 1. Yahya bin Mu’in: Ia tidak memiliki cacat, namun jalur periwayatannya dari Qatadah dinilai lemah.
2. An-Nasa’i: Ia perawi yang tidak memiliki cacat.
3. Al-‘Ijly: Tsiqqah.
4. Abu Hatim ar-Razi: Ia perawi yang terpercaya dan shalih.
5. As-Saji: Tsiqqah.
6. Adz-Dzahaby: Ia termasuk perawi yang tsiqqah walaupun di saat hujjahnya tercampur bersama putranya.

Maka penulis menyimpulkan, bahwa Jarir bin Hazim adalah perawi yang tsiqqah.

NAMA RAWI TL TW TKT T. DI W. DI GURU MURID JARH WA TA’DIL
Nama: al-Hasan bin Abi Hasan Yasar

Nasab: al-Bashry

Nama panggilan: Abu Sa’id - 110 H termasuk tabi’in per-tengah-an Basrah - 64 orang.

1. ‘Abdurrahman bin Samurah bin Abd Syamsi
2. Aisyah binti Abi Bakrin Ash-Shiddiq
3. Anas bin Malik bin an-Nadlar bin Dlamdlam bin Zaid
4. Jundab bin Abdullah bin Sufyan
5. ‘Urwan bin al-Mughirah bin Syu’bah 128 orang.

1. Jarir bin Hazim
2. Tsabit bin Aslam
3. Hubaib bin Asy-Syahid
4. Hakim
5. Khalid bin Mahran 6. Al-‘Ijly: Tsiqqah
7. Muhammad bin Said: Tsiqqah terpercaya.
8. Ibn Hibban: Menyebut al- Hasan dalam daftar perawi yang tsiqqah dalam kitabnya ats-Tsiqqah, tapi memberinya catatan sebagai sosok perawi mudallis.

Maka penulis menyimpulkan, bahwa al-Hasan adalah perawi yang tsiqqah mursal dan mudallis.
Nama : ‘Abdurrahman bin Samurah bin Hubaib bin Abdu-sy-Syamsi.

Nasab: al-‘Abasyamy

Nama panggilan: Abu Sa’id 50 H Masuk jajaran shaha bat dan meriwayatkan langsung dari Nabi SAW Basrah Basrah 1 orang

Mu’adz bin Jabal bin Amru bin Aus. 1. Al-Hasan bin Abi Hasan
2. Hayan bin Umair
3. Umar bin Abi Umar
4. Katsir bin Katsir
5. Lumazah bin Zabbar
6. Hishom bin Kahin Berbagai refrensi yang penulis gali, semua mengatakan bahwa sosok yang satu ini ada dalam kategori sosok yang adil dan tsiqqah.

B. Perbandingan Periwayatan
1. Shahih Muslim
a. Periwayatan
Penulis menemukan silsilah periwayatan hadits tersebut dalam Shahih Muslim dengan urutan sebagai berikut: Syaiban bin Farrukh  Jarir bin Hazim  al-Hasan  Abdurrahman bin Samurah.
Dan hasil penelitian silsilah periwayatan sebagai berikut:
1. Syaiban bin Farrukh
 Nama : Syaiban bin Farrukh
 Nama Panggilan : Abu Muhammad atau Abii Syaibah
 Tabaqah : Kelompok kecil dari tabi’in
 Tempat menetap : al-Albah
 Meninggal di : -
 Tahun lahir : -
 Tahun wafat : 236 H
2. Jarir bin Hazim, al-Hasan, dan ’Abdurrahman bin Samurah (sudah dibahas)
b. Sejarah Guru-Guru
1. Syaiban bin Farrukh
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 54 orang.
 Sebagian gurunya : 1. Jarir bin Hazim bin Zaid
2. Hammad bin Abi Sulaiman
3. Zaid bin Haris
2. Jarir bin Hazim, Al-Hasan, dan Abdurrahman bin Samurah (Sudah dibahas)
c. Sisilah Murid-Murid
1. Syaiban bin Farrukh
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 46 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Yunus bin Muhammad
2. Yahya bin Sa’id
3. Yazid bin Harun
2. Jarir bin Hazim, al-Hasan, ’Abdurrahman bin Samurah (sudah dibahas)
d. Jarh wa Ta’dil
1. Syaiban bin Farrukh menurut tokoh-tokoh hadits:
 Yahya bin Mu’in : Laisa bihi ba’sun, menurut Qatadah ia perawi yang lemah.
 An-Nasa’i : Laisa bihi ba’sun (tidak memiliki catatan tercela)
 Al-‘Ijly : Tsiqqah.
 Abu Hatim ar-Razy : Shaduk shalih
 As-Sajy : Tsiqqah.
 Adz-Dzahlaby : Ia tsiqqah pada riwayat yang tidak terhijab oleh anaknya.
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Syaiban bin Farrukh adalah perawi yang tsiqqah.
2. Jarir bin Hazim, al-Hasan, ’Abdurrahman bin Samurah (sudah dibahas).

TABEL B.1. (Periwayatan Muslim)
NAMA RAWI TL TW TKT T. DI W. DI GURU MURID JARH WA TA’DIL
Syaiban

Nama: Syaban bin Farukh

Nama panggilan: Abu Muhammad - 236 H Tabi’i-t-tabi’in Al-Albah - 54 orang

1. Jarir bin Hazim bin Zaid
2. Hammad bin Abi Sulaiman
3. Zaid bin Haris 46 orang.

1. Yunus bin Muhammad
2. Yahya bin Sa’id
3. Yazid bin Harun 1. Yahya bin Mu’in: Laisa bihi ba’sun.menurut Qatadah ia perawi yang lemah.
2. An-Nasa’i : Laisa bihi ba’sun.
3. Al-‘Ijly : Tsiqqah.
4. Abu HAtim ar-Razy: Shaduq shalih
5. As-Sajy : tsiqqah
6. Adz-Dzahlaby : tsiqah saat tidak tehijab oleh periwayatan anaknya
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Abu Nu’man adalah perawi yang tsiqqah.
Jarir bin Hazim, al-Hasan, dan Abdurrahman bin Samurah
sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah

2. Shahih at-Tirmidzi
a. Periwayatan
Penulis menemukan silsilah periwayatan hadits tersebut dalam Shahih Muslim dengan urutan sebagai berikut: Muhammad bin Abdil’ala as-Shan’any  al-Mu’tamir bin Sulaiman  Yunus bin ‘Ubaid  al-Hasan  Abdurrahman bin Samurah.
Dan hasil penelitian silsilah periwayatan sebagai berikut:
1. Muhammad bin Abdil’ala as-Shan’any
 Nama : Muhammad bin Abdil’ala
 Nama Panggilan : Abu Abdillah
 Tabaqah : Pembesar para Tabi’i-t-tabi’in as-Shan’a
 Tempat menetap : Bashra
 Meninggal di : Bashra
 Tahun lahir : -
 Tahun wafat : 245 H
2. al-Mu’tamir bin Sulaiman
 Nama : al-Mu’tamir bin Sulaiman bin Tharkhan
 Nama Panggilan : Abu Muhammad/ath-Thufail
 Tabaqah : Hidup di jaman tabi’in saat kecil
 Tempat menetap : Bashra
 Meninggal di : Bashra
 Tahun lahir : -
 Tahun wafat : 187 H
3. Yunus bin ‘Ubaid
 Nama : Yunus bin ‘Ubaid bin Dinar
 Nama Panggilan : Abu Abaid
 Tabaqah : Hidup di jaman tabi’in saat kecil
 Tempat menetap : Bashra
 Meninggal di : -
 Tahun lahir : -
 Tahun wafat : 139 H
4. al-Hasan, dan ’Abdurrahman bin Samurah (sudah dibahas)
b. Sejarah Guru-Guru
1. Muhammad bin Abdil’ala as-Shan’any
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 14 orang.
 Sebagian gurunya : 1. Mu’tamir bin Sulaiman
2. Yazid bin Zari’
3. Zaid bin Haris
2. al-Mu’tamir bin Sulaiman
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 52 orang.
 Sebagian gurunya : 1. Yunus bin ‘Ubaid bin Dinar
2. Muhammad bin ‘Atsim
3. Yusuf bin Shahib
3. Yunus bin ‘Ubaid
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 24 orang.
 Sebagian gurunya : 1. Al-Hasan bin Abi-l-Hasan al-Yasar
2. Jarir bin Yazin bin Abdillah
3. Tsabit bin Aslam
4. Al-Hasan, dan Abdurrahman bin Samurah (Sudah dibahas)
c. Sisilah Murid-Murid
1. Muhammad bin Abdil’ala as-Shan’any
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 1 orang.
 Nama Muridnya : 1. Faradl bin Fadlalah bin an-Nu’man atau Abu Fadlalah
2. Mu’tamir bin Sulaiman
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 72 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Muhammad bin Abdil’ala
2. Muhammad bin ‘abdillah bin al-Bazi’
3. Muhammad bin ‘Abdillah bin Abdi-l-Malik bin Muslim
3. Yunus bin ‘Ubaid
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 39 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Mu’tamir bin Sulaiman
2. al-Mughirah bin Muslim
3. Manshur bin Zadzan
4. Jarir bin Hazim, al-Hasan, ’Abdurrahman bin Samurah (sudah dibahas)
d. Jarh wa Ta’dil
1. Muhammad bin Abdil’ala as-Shan’any menurut tokoh-tokoh hadits:
 Abu Zar’ah ar-Razi : Tsiqah
 Abu Hatim ar-Razi : Tsiqah
 An-Nasa’i : La ba’sa bihi.
 Ibu Hibban : ia mentsiqahkannya
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Muhammad bin Abdil’ala as-Shan’any adalah perawi yang tsiqqah.
2. Mu’tamir bin Sulaiman menurut tokoh-tokoh hadits:
 Ahmad bin Hanbal : Apapun (dari hadits) telah dihafal oleh Mu’tamir
 Yahya bin Mu’in : Tsiqah
 Abu Hatim ar-Razi : Tsiqah shaduq
 Ibu Hibban : ia mentsiqahkannya
 Muhammad bin Sa’d: Tsiqah
 Al-‘Ijly : Tsiqah
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Mu’tamir bin Sulaiman adalah perawi yang tsiqqah.
3. Yunus bin ‘Ubaid menurut tokoh-tokoh hadits:
 Abu Zar’ah ar-Razi : Tsiqah
 Abu Hatim ar-Razi : Tsiqah
 An-Nasa’i : La ba’sa bihi.
 Ibju Hibban : ia mentsiqahkannya
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Yunus bin ‘Ubaid adalah perawi yang tsiqqah.
4. al-Hasan, ’Abdurrahman bin Samurah (sudah dibahas).

TABEL B.2. (Periwayatan at-Tirmidzi)
NAMA RAWI TL TW TKT T. DI W. DI GURU MURID JARH WA TA’DIL
Muhammad bin Abdi-l-‘Ala

Nama: Muhammad bin Abdi-l-‘Ala ash-Shan’any

Nama panggilan: Abu Abdillah - 245 H Pembesar para Tabi’i-t-tabi’in Basrah Basrah 14 orang

1. Mu’tamir bin Sulaiman
2. Yazin bin Zair
3. Zaid bin Haris 1 orang.

Faradl bin Falah bin an-Nu’man atau Abu Fadlalah 1. Abu Zahrah ar-Razy: Tsiqah
2. Abu Hatim ar-Razy : Tsiqah
3. An-Nasa’i : La ba’sa bih
4. Ibnu Hibban : Mentsiqahkannya
Maka penulis menyimpulkan, bahwa ia adalah perawi yang tsiqqah.
Al-Mu’tamir bin Sulaiman

Nama: al-Mu’tabin bin Sulaiman bin Tharkham

Nama panggilan: Abu Muhammad - 187 H Tabi’i-t-tabi’in Basrah Basrah 52 orang

1. Yunus bin Ubaid bin Dinar
2. Muhamad bin Atsim
3. Yusuf bin Shahib 72 orang.

1. Muhamad bin Abdil’ala
2. Muhammad bin Abdillah bin al-Bazi
3. Muhammad bin Abdillah bin Malik bin Muslim 1. Ahmad bin Hambal: Appun yang ada dalam hadits telah dihafal Mu’tamir
2. Yahya bin Mu’in : Tsiqah
3. Abu Hatim : Tsiqah Shaduq
4. Ibnu Hibban : Mentsiqahkannya
5. Muhammad bin Sa’d: Tsiqah
6. Al-‘Ijly : Tsiqah
Maka penulis menyimpulkan, bahwa ia adalah perawi yang tsiqqah.
Yunus bin ‘Ubaid

Nama: Yunus bin ‘Ubaid

Nama panggilan: Abu Ubaid - 139 H Tabi’i-t-tabi’in Basrah - 14 orang

1. al-Hasan bin Abi-l-Hasan al-Yasar
2. Jarir bin Yazid bin Abdillah
3. Tsabit bin Aslam 39 orang.

1 Muhamad bin Abdil’ala
2 Muhammad bin Abdillah bin al-Bazi
3 Muhammad bin Abdillah bin Malik bin Muslim 1. Ahmad bin Hambal: Appun yang ada dalam hadits telah dihafal Mu’tamir
2. Yahya bin Mu’in : Tsiqah
3. Abu Hatim : Tsiqah Shaduq
4. Ibnu Hibban : Mentsiqahkannya
5. Muhammad bin Sa’d: Tsiqah
6. Al-‘Ijly : Tsiqah
Maka penulis menyimpulkan, bahwa ia adalah perawi yang tsiqqah.
al-Hasan, dan Abdurrahman bin Samurah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah Sudah

3. Sunan an-Nasa’i
a. Periwayatan
Penulis menemukan silsilah periwayatan hadits tersebut dalam Shahih Muslim dengan urutan sebagai berikut: Mujahid bin Musa  Isma’il  Yunus  al-Hasan  Abdurrahman bin Samurah.
Dan hasil penelitian silsilah periwayatan sebagai berikut:
1. Mujahid bin Musa
 Nama : Mujahid bin Musa bin Farukh
 Nama Panggilan : Abu ‘Ali
 Tabaqah : Pembesar para Tabi’i-t-tabi’in
 Tempat menetap : Baghdad
 Meninggal di : Baghdad
 Tahun lahir : -
 Tahun wafat : 244 H
2. Isma’il
 Nama : Islma’il bin Ibrahim bin Muqassam
 Nama Panggilan : Abu ‘Aliyah
 Tabaqah : Tabi’in pertengahan
 Tempat menetap : Bashra
 Meninggal di : Baghdad
 Tahun lahir : -
 Tahun wafat : 193 H
3. Yunus, al-Hasan, dan ’Abdurrahman bin Samurah (sudah dibahas)
b. Sejarah Guru-Guru
1. Mujahid bin Musa
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 18 orang.
 Sebagian gurunya : 1. Isma’il bin Ibrahim bin Muqassam
2. Hujaj bin Muhammad
3. Raihan bin Sa’id bin al-Mutsanna
2. Ismail
 Jumlah guru : Ia memiliki guru 53 orang.
 Sebagian gurunya : 1. Yunus bin ‘Ubaid bin Dinar
2. Yunus bin Muhammad bin Muslim
3. Ibnu ‘Abdillah bin ‘Umar
3. Yunus, Al-Hasan, dan Abdurrahman bin Samurah (Sudah dibahas)
c. Sisilah Murid-Murid
1. Mujahid bin Musa
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 5 orang.
 Mereka adalah : 1. Imam Muslim
2. at-Tirmidzi
3. Abu Dawun
4. Ibnu Majah
5. ad-Darami
2. Ismail
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 68 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Mujahid bin Musa
2. Muhammad bin Abaan bin Wazir
3. Muhammad bin Abi Bakar bin ‘Ali bin ‘Atha
3. Yunus
 Jumlah murid : Ia memiliki murid 39 orang.
 Sebagian muridnya : 1. Mu’tamir bin Sulaiman
2. al-Mughirah bin Muslim
3. Manshur bin Zadzan
4. Yunus, al-Hasan, ’Abdurrahman bin Samurah (sudah dibahas)
d. Jarh wa Ta’dil
1. Mujahid bin Musa menurut tokoh-tokoh hadits:
 Yahya bin Mu’ain : Tsiqah la ba’sa bih
 Abu Hatim ar-Razi : Mahmalahu ash-Shidq
 Shalih Jazrah : Shaduq
 An-Nasai : tsiqah
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Muhammad bin Abdil’ala as-Shan’any adalah perawi yang tsiqqah.
2. Ismail menurut tokoh-tokoh hadits:
 Sya’bah bin al-Hujjaj: Sayyidu-l-Muhadditsin (Pembesarnya para ahli hadits)
 Ahmad bin Hambal : Ilaihi al-Muntaha bi at-Tsabbut
 Yahya bin Mu’in : Tsiqah ma’mun
 An-Nasa’i : Tsiqah tsubut
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Mu’tamir bin Sulaiman adalah perawi yang tsiqqah.
Maka penulis menyimpulkan, bahwa Yunus bin ‘Ubaid adalah perawi yang tsiqqah.
3. Yunus, al-Hasan, ’Abdurrahman bin Samurah (sudah dibahas).

TABEL B.3. (Periwayatan an-Nasai)
NAMA RAWI TL TW TKT T. DI W. DI GURU MURID JARH WA TA’DIL
Mujahid bin Musa

Nama: Mujahid bin Musa bin Farukh

Nama panggilan: Abu Ali - 244 H Pembesar para Tabi’i-t-tabi’in Baghdad Baghdad 18 orang

1. Isma’il bin Ibrahim bin Muqassam
2. Hujaj bin Muhammad
3. Raihan bin Sa’id bin al-Mutsanna 5 orang.

1. An-Nasai
2. Imam Muslim
3. At-Tirmidzi
4. Abiu Dawud
5. Ibnu Majah
6. Ad-Darami 1. Yahya bin Mu’in : Tsiqah la ba’sa bih
2. Abu Hatim ar-Razy : Mahmalahu as-Sidq
3. Shalih Jazrah : Shaduq
4. An-Nasai : tsiqah
Maka penulis menyimpulkan, bahwa ia adalah perawi yang tsiqqah.
Islma’il

Nama: Islma’il bin Ibrahim bin Muqassam

Nama panggilan: Abu ‘Aliyah - 193 H Tabi’in Prtengahan Basrah Baghdad 53 orang

1. Yunus bin Ubaid bin Dinar
2. Yunus bin Muhammad bin Muslim
3. Ibnu Abdillah bin ‘Umar 68 orang.

1. Mujahid bin Musa
2. Muhammad bin Abaan bin Wazir
3. Muhammad bin Abi BAkar bin ‘Ali bin ‘Atha 1. Sta’bah bin alHujaj: Syayyidu-l-Muhadditsin
2. Ahmad bin Hambal: Ilaihi al-muntaha bi-s-subut
3. Yahya bin Mu’in : Tsiqah Ma’mun
4. An-Nasai : Tsiqah Tsubut
Maka penulis menyimpulkan, bahwa ia adalah perawi yang tsiqqah.
Yunus, al-Hasan, dan Abdurrahman bin Samurah sudah sudah sudah sudah Sudah sudah sudah Sudah

Secara kesuluruhan hadits ini memiliki jalur periwayatan dan jalur sanad sebagai berikut:
DIAGRAM TRANSMITER HADITS
قال رسول الله: يا عبد الرحمن بن سمورة لا تسأل الإمارة
قال

عبد الرحمن بن سمورة
حدثنا
الحسن

حدثنا
جرير بن حازم قتادة يونس بن عبيد
حدثنا
أبو نعمان محمد سعيد
حدثنا
سعيد بن عامر

عقبة بن مكرم الأمي

المعتمر بن سليمان

عبيد الله بن معاذ محمد بن عبد الأعلى

سماك بن عتيّة يونس بن عبيد هشام بن الحسان

حمّاد بن زيد

أبو كامل الجحدري

حميد منصور يونس

هشيم إسماعيل

عليّ بن حُجر السعديّ مجاهد بن موسى محمد بن الصباح

البخاري الترميذي النسائي أبو داوود أحمد

e. Tingkatan Sanad Hadits
Al-Bukhary, Muslim, at-Tirmidzy, an-Nasa’i, dalam kitab-kitab hadits mereka menyatakan derajat hadits ini adalah marfu’. Hadits ini secara jalur periwayatan memiliki yang riwayat unik, sebab merupakan jawaban Nabi atas pertanyaan Abdurrahman bin Samurah dan hadits ini diperoleh sebagai jawaban dari permohonannya untuk menempati jabatan Gubernur Qufah.
Seluruh sanad di atas, mulai dari awal hingga Abd. Rachman bin Samurah, maka dapat dipastikan bahwa sanadnya bersambung kepada Nabi Saw. Dapat dipastikan bahwa seluruh periwayat dalam sanad antara satu dengan lainnya, benar-benar telah terjadi hubungan periwayatan hadits, hal itu dikarenakan semua perwawi menggunakan kata Haddatsana, ini berarti periwayatannya dilakukan secara Al-Asma’, yaitu dari periwayat terakhir (Imam Muslim) mendengar langsung dari gurunya, demikian seterusnya hingga sampai pada Abd. Rahman bin Samurah yang mendengar langsung dari Rasulullah.

f. Keadilan dan Kedlabitan Rawi
a. Abu an-Nu’man
Nama aslinya adalah Muhammad bin al-Fadl as-Sudusy, ia lebih dikenal kalangan ahli hadits dengan nama Abu Nu’man. Al-Bukhary, Abu Dawud, Imam Ahmad ad-Daramy meriwayatkan ia hidup hingga bulan Shafar tahun 224 H.
Penulis menemukan penamaan Abu an-Nu’man bagi Muhammad bin al-Fadl di Kitab at-Tarikh al-Kabir karangan Imam Bukhary dan meletakkannya di urutan ke-654, dengan periwayatan dai Hammad bin Salmah dari Hammad bin Zaid dari Ibnu Mubarak.
Dalam Jami’ al-Jarh wa at-Ta’dil banyak ahli hadits –diantaranya al-‘Ijly, Abu Dawud- menyatakan bahwa ia adalah seorang yang tsiqqah pada periwayatannya, namun memasuki usia senja hafalannya bercampur dengan hadits lain yang disebabkan berkurangnya daya ingat akibat usia tua.
Imam al-Bukhary menambahkan bahwa ia adalah seorang yang shalih sepanjang hidupnya juga tsiqqah periwayatannya, namun berubah hafalannya diakhir usianya.
Ibnu Mahrus menyebutnya dengan sebutan ‘Arim dan memberikan penilaian atasnya sebagai sosok muslim yang terpercaya. Sedangkan an-Nasa’i menempatkannya sebagai perawi yang tsiqqah hafalannya sebelum berubah di akhir usianya. An-Naqily menilainya sebagai orang yang paling baik shalatnya di jaman itu. Ibnu Hibban memberinya penilaian sebagai orang yang mungkar periwayatannya di akhir usia, sebab ia tidak menyadari dengan apa yang dikatakan. Namun Ibnu Hibban tetap menilai an-Nu’man sebagai perawi yang tsiqqah sebelum kepikunan menderanya.
Maka penulis menyimpulkan bahwa Abu Nu’man adalah Muhammad bin al-Fadl alian ‘Arim, ia wafat di bulan Shafar tahun 224 H. Derajat periwayatan yang dimilikinya menyentuh level tsiqqah, namun penulis memberi cacatan bahwa periwayatan yang diriwayatkan di akhir usianya tidak bisa digunakan sebagai landasan pijakan dalam berhujjah, namun penulis mengalami kesulitan mencari usia sebenarnya dari parawi ini, dalam hal ini penulis memberikan gagasan bahwa usia kepikunan bisa mendera seseorang pada normalnya pada Usia 70 tahun ke atas, disebabkan ketiadaan data pendukung tentang usia tepatnya, maka penulis menyatakan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Abu an-Nu’man pada tahun 224 H dikurangi 10 tahun ke belakang atau kisaran 214 H tidak bisa dijadikan landasan hujjah.
b. Jarir bin Hazim
Jarir bin Hazim memiliki nama lengkap Jarir bin Hazim bin Zaid bin ‘Abdillah bin Syuja’ al-Azdy ada juga yang menyebutnya dari kabilah al-‘Ataky, ada juga yang berpendapat al-Jahdlamy, ia memiliki nama sebutan Abu an-Nadlar al-Bashary, ia adalah orang tua dari Wahab bin Jarir bin Hazim dan Ibnu Akhi Jarir bin Zaid.
Ia merupakan ketua peradilan di Mesir namun ia terima tugas ini tanpa dilandasi rasa gembira, merupakan sosok yang gemar ibadah lagi shalih, meninggal di tahun 154 H sebagaimana disebutkan dalam kitab as-Sam’any dan Lubab karangan Ibnul Atsir. Adz-Dzahaby meriwayatkan dalam bukunya al-Sair sebagaimana diriwayatkan dari Abu Tufail yang mengatakan bahwa melihat jenazah Jarir bin Hazim di Makkah al-Mukarramah.
Qurrad Abu Nuh diriwayatkan dari Sya’bah menilai bahwa apa yang disampaikan oleh Jarir bin Hazim mengandung kebenaran, hingga ia berkenan untuk berkata: “Kamu harus mendengan apapun yang dating dari Jarir bin Hazim.” Penilaian yang sama diberikan leh Mahmud bin Ghalyan, Abu Bakar bin Abi Khaitsumah.
Banyak kalangan yang memberinya gelar tsiqqah pada periwayatan hadits yang dibawanya, seperti ‘Utsman bin Sa’id ad-Daramy, Abu al-Asyhab, juga Adbullah bin Ahmad bin Hambal. Namun periwayatannya darei jalur Qatadah dinyatakan lemah oleh Ahmad bin Hambal. Walaupun ia mengakui ketsiqqatannya pada sisi periwayatan yang lain.
Abu Ahmad bin ‘Ady menyatakan bahwa Jarir bin Hazim termasuk orang yang sangat dihormati di Bashrah juga diakui kevalidan periwayatan haditnya di sana. Pendapat ini dikuatkan juga oleh Ahmad bin Abdul Karim bin al-Harits al-Marwazy.
Secara usia Jarir bin Hazim dinyatakan oleh Abu Nashr al-Kalabadzi berusia sekitar 70-an tahun.
Akhirnya penulis menyimpulkan bahwa Jarir bin Hazim memiliki nama lengkap Jarir bin Hazim bin Zaid bin ‘Abdillah bin Syuja’ al-Azdy ada juga yang dengan sebutan lain al-‘Ataky, al-Jahdlamy, Abu an-Nadlar al-Bashary, yang merupakan orang tua dari Wahab bin Jarir bin Hazim dan Ibnu Akhi Jarir bin Zaid. Meninggal di tahun 154 H pada usia 70-an tahun, menetap di Bashrah dan meninggal di Makkah al-Mukarramah. Banyak kalangan yang memberinya gelar tsiqqah pada periwayatan hadits yang dibawanya, seperti ‘Utsman bin Sa’id ad-Daramy, Abu al-Asyhab, juga Adbullah bin Ahmad bin Hambal. Namun periwayatannya dari jalur Qatadah dinyatakan lemah oleh Ahmad bin Hambal. Sehubungan dengan hadits yang penulis teliti tidak ada jalur periwayatan dari Qatadah, maka penulis menyimpulkan bahwa jalur periwayatan Jarir bin Hazim untuk hadits ini adalah tsiqqah.
c. al-Hasan
Al-Hasan memiliki nama asli al-Hasan bin Abi al-Hasan, ia memiliki nama sebutan yang sangat banyak diantaranya ialah: Yasar al-Bashary, Abu Sa’id, Maula (budak dari) Zaid bin Tsabit, Maula Jabir bin ‘Abdillah, Maula Jamil bin Qutbah bin ‘Amir bin Hadidah, Maula bin Abi al-Yasar, ibunya adalah budak perempuan Ummu Salamah istri Nabiyullah Muhammad SAW.
Al-Hasan , menurut Muhammad bin S’ad; ia bernama Abu al-Hasan Yasar, ia adalah budak yang dibeli oleh ar-Rubaiyyi’ (bibi Anas bin Malik) di Madinah, kemudian memerdekakannya dan saat dimerdekakan ia berkata bahwa orang tuanya berasal dari Bani an-Najjar yang menikahi perempuan dari Bani Salimah.
Ia lahir pada masa ke khalifahan Umar bin al-Khattab, diriwayatkan dalam Kitab Tahdzibul Kamal fi Asma ar-Rijal, bahwa ibunya adalah pembantu yang dulunya adalah budak dari Ummu Salamah, karena pengabdian ibunya ia diberi hikmah Allah untuk menjadi sosok perawi hadits yang diakui ketsiqqatannya oleh banyak kalangan, bahkan tokoh sekaliber ‘Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah dan ‘Aisyah memandang ketokohannya dalam periwayatan hadits.
Ia dinyatakan wafat pada tahun ke-50 H dimasa ke khalifahan Utsman bin Affan di usia 90 tahun.
Hafalannya yang kuat ia peroleh secara keturunan, sebab bapak ibunya juga memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehingga Ummu Salamah berkenan untuk memerdekakan ibunya sebab cintanya terhadap ibu al-Hasan dikarenakan kelebihannya tersebut. Suatu hari, di saat al-Hasan dalam gendongan Umu Salamah ia menangis, kemudian Ummu Salamah membawanya ke hadapan para shahabat dan meminta mereka untuk mendo’akannya, maka Ummar bin al-Khattab mendo’akannya: “Ya Allah Jadikanlah ia orang yang faqih dalam urusan agama, buatlah sekalian manusia mencintainya.!”
Periwayatan hadits yang dibawanya tidak diragukan, ia masuk dalam kelompok perawi yang tsiqqah, hal ini ditunjukkan dengan apa yang disampaikan oleh Hammad bin Zaid, Jarir bin Hazim, al-Qasim bin al-Fadl al-Hudany, dan lain-lain.
Kesimpulan yang bisa penulis ambil adalah, bahwa Al-Hasan memiliki nama asli al-Hasan bin Abi al-Hasan, dengan sebutan: Yasar al-Bashary, Abu Sa’id, Maula (budak dari) Zaid bin Tsabit, Maula Jabir bin ‘Abdillah, Maula Jamil bin Qutbah bin ‘Amir bin Hadidah, Maula bin Abi al-Yasar, ibunya adalah budak perempuan Ummu Salamah istri Nabiyullah Muhammad SAW. Yang kemudian memerdekakannya, ia berasal dari Bani an-Najjar. Ia lahir pada masa ke khalifahan Umar bin al-Khattab dan wafat pada tahun ke-50 H dimasa ke khalifahan Utsman bin Affan di usia 90 tahun, ia menjadi sosok perawi hadits yang diakui ketsiqqatannya oleh banyak kalangan, bahkan tokoh sekaliber ‘Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah dan ‘Aisyah memandang ketokohannya dalam periwayatan hadits. Hafalannya yang kuat ia peroleh secara keturunan, sebab bapak ibunya juga memiliki kecerdasan yang luar biasa, juga ia pernah dido’akan oleh Ummar bin al-Khattab: “Ya Allah Jadikanlah ia orang yang faqih dalam urusan agama, buatlah sekalian manusia mencintainya.!”
d. ’Abdurrahman bin Samurah.
Abdurrahman bin Samurah memiliki nama Abdurrahman bin Habib bin Samurah bin Abdi Syamsin berasal dari suku Quraisy dengan nama lain Abu Sa’id, ia dinyatakan dalam ath-Tabaqat termasuk ahli hadits yang menetap di Basrah.
Penamaan lain yang ia miliki adalah Habib bin Rabi’ah bin ‘Abdi Syamsin al-Qurasy, Abu Sa’id al-‘Abasyamy, ia memeluk Islam di saat penaklukan kota Makkah (Fathu-l-Makkah), ada juga yang menamainya sebagai Abdul Kulal, Abdul Qulub, Abdul Ka’bah dan ketika memeluk Islam Nabiyullah Muhammad SAW menamainya Abdurrahman. Hadits yang diriwayatkan al-Hasan darinya dicantumkan al-Bukhari dalam Shahihnya bab Nudzur.
Ia menetap di Bashrah, mengikuti peperangan Khurasan di jaman Utsman bin ‘Affan, dia termasuk shahabat yang menaklukkan Ubekistan dan Kabul serta kota-kota lain di jaman itu. Ia pernah mengikuti peperangan Mu’nah, hingga memiliki rumah di Damaskus dinyatakan meninggal di Bashrah namun ada juga yang berpendapat bahwa ia menginggal di Marwa. Namun Imam al-Bukhary menyatakan bahwa Abdurrahman bin Samurah meninggal di Kuffah di tahun ke 50 H.
Dari sisi keturunan, ibunya adalah Urwa binti Abi al-Fari’ah dari Bani Farras bin Ghanmin, termasuk jajaran Bani Kinanah bin Khuzaimah.
Ia banyak meriwayatkan hadits dari Mu’adz bin Jabal namun tidak ada catatan yang penulis temukan sisi periwayatannya dari jalur shahabat selain Mu’adz. Murid-muridnya dalam periwayatan hadits adalah: al-Hasan al-Bashry, Humaid bin Hilal al-‘Adawy, Hishan bin Kahin, Hayyan bin ‘Umair, Ziyan Maula Mush’ab, Sa’id bin Abi al-Hasan al-Bashry, Sa’id bin al-Musayyab, Abdullah bin ‘Abbas, Abdurrahman bin Abi Laily, ‘Ummar bin Abi ‘Ummar (pembesar Bani Hasyim), Muhammad bin Sirin, Hishshaan bin Kahin dan Abu Zubaib al-Taimy. Ia masuk jajaran ahli hadits pada tingkatan ke-6. Ajal menjemputnya di Bashrah sepulang peperangannya dari Khurasan pada tahun ke-50 H dan dishalatkan oleh Ziyad bin Abu Syufyan, ada juga yang berpendapat ia meninggal pada tahun ke-51 H.
Hadits yang dibawanya dinilai kalangan ahli hadits sebagai periwayatan yang tsiqqah. Tidak ditemukan jarh atasnya yang menyatakan bahwa Abdurrahman bin Samurah bukan orang yang tsiqqah dalam meriwayatkan hadits.
Dari berbagai data yang penulis himpun di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa Abdurrahman bin Samurah adalah Abdurrahman bin Habib bin Samurah bin Abdi Syamsin berasal dari suku Quraisy dengan nama lain Abu Sa’id, ada juga yang menamainya sebagai Abdul Kulal, Abdul Qulub, Abdul Ka’bah dan ketika memeluk Islam Nabiyullah Muhammad SAW menamainya Abdurrahman.Periwayatan hadits darinya dibawa al-Hasan dan dicantumkan al-Bukhari dalam Shahihnya bab Nudzur. Ia dinyatakan dalam ath-Tabaqat termasuk ahli hadits yang menetap di Basrah. Ia memeluk Islam di saat penaklukan kota Makkah (Fathu-l-Makkah), dinyatakan meninggal di Bashrah namun ada juga yang berpendapat bahwa ia menginggal di Marwa. Namun Imam al-Bukhary menyatakan bahwa Abdurrahman bin Samurah meninggal di Kuffah di tahun ke 50 H. Gurunya hanya satu, yakni Mu’adz bin Jabal, sebab penulis tidak menemukan sisi periwayatannya dari jalur shahabat selain Mu’adz. Murid-muridnya dalam periwayatan hadits adalah: al-Hasan al-Bashry, Humaid bin Hilal al-‘Adawy, Hishan bin Kahin, Hayyan bin ‘Umair, Ziyan Maula Mush’ab, Sa’id bin Abi al-Hasan al-Bashry, Sa’id bin al-Musayyab, Abdullah bin ‘Abbas, Abdurrahman bin Abi Laily, ‘Ummar bin Abi ‘Ummar (pembesar Bani Hasyim), Muhammad bin Sirin, Hishshaan bin Kahin dan Abu Zubaib al-Taimy. Ia masuk jajaran ahli hadits pada tingkatan ke-6. Perawi ini dinilai tsiqqah oleh ulama Hadits.

Maka dari segi kualitas rijal al-hadits, penilaian para kritukus hadits terhadap periwayatannya mayoritas bersifat tsiqah. Dengan dasar-dasar tersebut di atas sangat kecil kemungkinan bahwa hadits ini mengandung syudzudz (kejanggalan) ataupun ‘illat (cacat). Karena jika sanadnya bersambung dan para perawinya tsiqah (Dhabit) telah dicapai, niscaya unsur terhidar dari syudzudz dan Illat telah terpenuhi juga. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa sanad hadits tersebut berkualitas Shahih Lii Zaatih.

C. Penelitian Matan Hadits
1. Perbandingan hadits dengan ayat.
         
“Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”.

Ahli balaghah (sastra Arab) dapat membedakan antara kata الْحَافِظُ (yang berarti menjaga) dengan kata الْحَفِيظُ (yang sangat pandai menjaga), juga antara kata الْعَالِمُ(yang berilmu) dengan kata الْعَلِيمُ (yang sangat berpengetahuan). Maka perhatikan hal ini, karena sesungguhnya ini termasuk rahasia-rahasia Al-Qur`an yang penuh hikmah.
Sebagaimana diherankan dari yang lain juga, yang membolehkan diri mereka menerima jabatan politik masa ini –bersamaan dengan apa yang ada di dalamnya berupa sistem parlemen kafir atau jahat– berdalil dengan perbuatan Nabi Yusuf, sembari melalaikan bahwa Nabi Yusuf tidak memintanya. Namun raja itulah yang menawarkannya kepada beliau. Beliau juga tidak menerimanya melainkan ketika raja tersebut menjamin keamanan dan kebebasan baginya. Sehingga tidak ada tekanan, atau ancaman, atau mengorbankan agama, atau tarik ulur, atau tawar menawar, atau adu argumentasi. Oleh karena itu, perhatikan urutannya dalam firman Allah:
“Dan raja berkata: ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.’ Berkata Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi sangat berpengetahuan’.”
Sebagian manusia yang mengajukan diri menempati jabatan telah takjub dan berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri. Sehingga setan menggambarkan suatu gambaran yang terbayang dalam benak mereka bahwa mereka akan kokoh dalam kebenaran. Sementara sebenarnya mereka leleh dalam keridhaan terhadap aturan manusia. Allah lah tempat memohon pertolongan. “Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di muka bumi dan tidak pula membuat kerusakan. Dan akhir yang baik itu hanya untuk orang-orang yang bertakwa.”
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan:
“Allah ta`ala mengabarkan bahwasanya negeri akhirat dan kenikmatannya yang kekal yang tidak akan pernah lenyap dan musnah, disediakan-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, yang tawadhu` (merendahkan diri), tidak ingin merasa tinggi di muka bumi yakni tidak menyombongkan diri di hadapan hamba-hamba Allah yang lain, tidak merasa besar, tidak bertindak sewenang-wenang, tidak lalim, dan tidak membuat kerusakan di tengah mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/412

Adapun Nabi Yusuf, beliau tidak mengorbankan agamanya dan tidak menyia-nyiakan kesungguhannya dalam siyasah (politik) yang syar’i. Allah berfirman:
“Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.”

Penulis menyimpulkan bahwa permintaan jabatan menurut penafsiran Ibnu Katsir adalah terlarang.

2. Perbandingan hadits dengan hadits.
حدّثنا أحمد بن يونس، حدّثنا ابن أبي ذئبٍ عن سعيد المقرويّ عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال: “إِنَّكُمْ سَتَحْرُصُوْنَ عَلَى الإِمَارَةِ وَ سَتَكُوْنُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْصَعَةُ وَ بِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ”
“Kami diberitahu Ahmad bin Yusuf, dari Ibnu Abi Dzi’bin dari Sa’id bin al-Maqruwy dari Abu Hurairah r.a. Nabi bersabda: “Sesungguhnya kalian (kaum muslimin) akan rakus dalam mendapatkan jabatan kepemimpinan, dan akan menjadikan penyesalan bagi kalian kelak di hari kiamat (karena beratnya tanggung jawab pemimpin). Maka saat itu orang yang memiliki mahkota (jabatan) dianggap mulia, dan orang yang kehilangan mahkota (jabatan) menjadi hina.”

Pernyataan Nabiyullah Muhammad SAW pada kedua hadits, yakni larangan memperbutkan jabatan kepemimpinan dan peringatannya agar kaum muslimin berhati-hati agar tidak rakus dalam mengejar tampuk kekuasaan memiliki kontek yang tidak jauh berbeda. Keduanya berada pada domain posisi seseorang dalam mempertanggungjawabkan amanah kekuasaan yang ia emban. Tidak bisa diingkari, bahwa kedatangan Islam di muka bumi adalah sebagai upaya pemakmuran bumi ini dengan konsep yang ia tawarkan, dan ummat Islam dituntut untuk memiliki kredibilitas kepimpinan yang mumpuni hingga mampu menjadi penengah segala urusan manusia dengan hukum Allah, sebagaimana firman Allah:
                              •   ••  
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”

Penjelasan di Fathu-l-Bari (Wahai Abdul Rahman bin Samra janganlah meminta imarah) dengan tanda kasrah yang berarti kekuasaan.”
Penjelasan an-Naway dalm Syarh Muslim menyatakan bahwa al-Qadli berpendapat bukan ukilta ‘alaiha yang benar adalah wu kilta ‘alaiha yang berarti ‘diserahkan kepadamu’ sebab ketika itu diserahkan kepadamu, maka kamu tidak ada penolong, hal ini bertolak belakang jika ditulis ukilta sebab berarti imarah adalah sesuatu yang sampai kepadamua tanpa membawa masalah.
Keterangan matan hadits yang bisa digali, diterangkan dalam Kitab Fathul Bari, bahwa keputusan seseorang untuk meminta jabatan atasnya menajdikan ia tertolak untuk memperolehnya. Namun Abu Hurairah memiliki paradigma berbeda dalam hal ini, ia melihat kajian hadits secara eksentris, bahkan ia menyimpulkan bahwa hadits ini bukan pelarangan terhadap pengajuan diri sebagai pimpinan, ia melihat hal itu baru sebatas makruh, dan barangsiapa yang meiliki akuntabilitas dan kapabilitas dalam memimpin kemudian mengajukan diri dan menjaga amanah yang dititipkan kepadanya dengan baik, maka Abu Hurairah menyatakan surge wajib atas orang tadi. Ibnu Hajar berpendapat, sesungguhnya orang yang meminta amanah kepemimpinan bila tidak mendapat pertolongan Allah (baik kecukupan ilmu, kekuatan dan kemampuan kepemimpinan) maka seyogyanya orang yang tidak memiliki kecakapan seperti disebutkan di atas tidak mengajukan diri.
Validitas matan dari hadits ini hanya diketahu dari Abdurrahman bin Samurah, dan Abdurrahman bin Samurah sendiri diakui sebagai shahabat yang memiliki kehalihan dan dinyatakan shaduq lagi tsiqqah dalam periwayatan. Maka kalangan jumhur ulama menyatakan hadits ini marfu’.
Ibnu Taimiyah dalam hal ini menegaskan, bahwa urusan penegakan Imarah/Kepemimpinan adalah menjadi kemutlakan dan beragama, bahkan ia menyebandingkan urusan ini dengan ibadah mahdlah yang lain atas kewajiban pelaksanaannya. Sebab ia memandang bahwa kepemimpinan adalah meutlakan yang harus dikuasai muslimin agar hukum Allah tegak di muka bumi.
Di sisi lain al-Qardlawi memandang bahwa kepemimpinan atau imarah menjadi kewajiban kolektif yang harus didukung oleh masyrakat muslim untuk menggolkan jagonya agar mampu merebut tampuk kekuasaan (diketahui bahwa al-Qardlawi adalah salah satu tokoh al-Ikhwan al-Muslimun yang menyepakati demokrasi sebagai jalan tengah pemerintahan Islam, bila jalur khilafah belum mungkin untuk ditempuh). Sebab dengan kekuasaan, Islam bisa melanggengkan syari’at Allah dengan meminimalisir tabrakan kepentingan dengan non-muslim.
Hasan al-Banna yang notabene adalah guru dari al-Qardlawy memandang imarah sebagai kebutuhan yang urgen atas arti pentingnya penyelarasan hukum Allah, maka domain imarah adalah domain yang harus dimenangkan umat Islam. Tapi al-Banna tidak begitu banyak membahas masalah ini secara detail, sebab ia melihat bahwa urgnitas utama sisi dakwah yang ia tuju saat itu adalah Islamisasi ummat Islam yang mulai menanggalkan ruh ke-Islamannya.
Bahkan al-Qardlawy secara rinci menyebutkan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh calon pemimpin adalah sebagai berikut:
1. Memiliki kapabilitas (al-qawwy) mengemban amanat, baik secara fisik, keilmuan, dan pengalaman.
2. Orang yang amanah, tidak pernah terbukti berdusta, tidak bermaksiat kepada Allah dalam urusan ibadah.
3. Untuk hakim, al-Qardlawy menambahkan syarat hakim adalah penguasaannya terhadap berbagai disiplin ilmu sebagai pendukung obyektivitas keputusan hukum yang akan diputuskan.
Dari syarat yang diberikan oleh al-Qardlawy, maka ia memandang siapapun yang meminta jabatan atau imarah adalah cerminan dari hilangnya sifat amanah dari imarah dalam dirinya, sebab imarah adalah proses pemberian amanah, bukan pengajuan diri atau dengan memintanya.
Tholchah Hasan melalui wawancara menyatakan, bahwa pengajuan diri untuk menempati jabatan tertentu dengan pemenuhan persayaratan yang dibenarkan syari’at adalah boleh, ia bahkan menukil pernyataan Nabi Yusuf di atas sebagai landasan hukum dibolehkannya meminta jabatan bagi muslimin yang mengetahui benar posisi kemaslahatan dan peta kerusakan yanga akan dihadapi bila mengemban amanat tersebut, ia juga membenarkan adanya pemilihan suara sabagaimana dicontohkan Abdurrahman bin Auf sebelum terpilihnya Umar bin Khattab yang menjaring aspirasi rakyat dengan menanyakan siapa yang pantas menjadi khalifah.

Maka Penulis menyimpulkan bahwa kekuatan matan ini tidak diragukan lagi kebenarannya, sebab kesemua rawi yang meriwayatkan hadits ini tidak memiliki cacat di mata para ahli hadits, bilapun ada itu adalah Abu an-Nu’man yang memiliki keterbatasan hafalan diusia senjanya, sedangkan hadits ini ia riwayatkan disaat ia masih di masa Rasulullah (Abu an-Nu’
Keterangan matan hadits yang bisa digali, diterangkan dalam Kitab Fathul Bari, bahwa keputusan seseorang untuk meminta jabatan atasnya menajdikan ia tertolak untuk memperolehnya. Namun Abu Hurairah memiliki paradigma berbeda dalam hal ini, ia melihat kajian hadits secara eksentris, bahkan ia menyimpulkan bahwa hadits ini bukan pelarangan terhadap pengajuan diri sebagai pimpinan, ia melihat hal itu baru sebatas makruh, dan barangsiapa yang meiliki akuntabilitas dan kapabilitas dalam memimpin kemudian mengajukan diri dan menjaga amanah yang dititipkan kepadanya dengan baik, hingga Abu Hurairah menyatakan surga wajib atas orang yang mampu melaksanakan amanah kepemimpinan dengan baik. Ibnu Hajar berpendapat, orang yang tidak memiliki kecakapan tidak boleh tidak mengajukan diri sebagai pemimpin. Validitas matan dari hadits ini mencapai tingkat marfu’ dimana Abu an-Nu’man dinyatakan berubah hafalannya di saat usia senjanya. Kecurigaan hilangnya validitas hadits sebab periwayatan Jarir bin Hazim bila meriwayatkan melalui jalur Qatadah terbantah, sebab tidak satupun jalir rawi di dalam hadits ini versi Qatadah. Dari sisi kajian keilmuan Negara, maka Ibnu Taimiyah menyatakan kepemimpinan adalah kewajiban yang harus dijalankan umat Islam namun menyatakan menolak orang yang meminta jabatan sebagai pemimpin, sedangkan al-Qardlawy menambahkan kriteria pemimpin: (satu) Memiliki kapabilitas (al-qawwy) secara fisik, keilmuan, dan pengalaman. (Dua) Amanah, tidak bermaksiat kepada Allah dalam urusan ibadah. (Tiga) Untuk kriteria hakim, al-Qardlawy adalah penguasaannya terhadap berbagai disiplin ilmu sebagai pendukung obyektivitas keputusan hukum yang akan diputuskan. Lain halnya dengan Hasan al-Banna, dia tidak begitu tertarik untuk membahas masalah ini secara detail, namun ia memandang siapapun yang meminta jabatan atau imarah adalah cerminan dari hilangnya sifat amanah dari imarah dalam dirinya, sebab imarah adalah proses pemberian amanah, bukan pengajuan diri atau dengan memintanya.
Penulis menyimpulkan, bahwa matan hadits di atas secara eksplisit tidak melarang seseorang yang mengajukan diri atau mencalonkan diri sebagai pemimpin. Kadar kualitas pemimpin yang ditawarkan al-Qrdlawy adalah sebagai bentuk jalan tengah bagi siapapun yang melihat pentingnya siapapun yang merasa perlu untuk menjabat jabatan strategis dan mencalonkan diri untuk itu. Sebab kepentingan umum yang di bangun Islam untuk menjadi jembatan tegaknya nilai dan norma ke-Islaman lebih menjadi prioritas dari pada terus berkutat pada ambiguitas sikap; ingin menegakkan system Islam namun mengharamkan diri untuk terjun bebas ke kancah persaingan yang jelas merupakan jalan menuju perubahan yang dikehendaki. Tapi tetap dengan catatan, bahwa siapapun yang mencalonkan diri harus memenuhi criteria pemimpin yang disepakati oleh masyarakat muslim, hingga bisa menghindarkan kesembronoan sikap yang ujung-ujungnya malah melemahkan sesuatu yang diperjuangkan.


BAB IV
PENELITIAN HADITS NABI SAW YANG DIRIWAYATKAN AL-BUKHARY, JUZ III, NO: 6132 TENTANG LARANGAN MEMINTA JABATAN STUDI KORELASI PADA PROSES PEMILIHAN KETUA ORGANISASI PONDOK MODERN ARRISALAH PROGRAM INTERNASIONAL PUTRI

A. Landasan Hukum Pemilihan Ketua Organisasi Pelajar
1. Al-Quran
      ••      
“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari Malaikat dan dari manusia; Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.”

2. Al-Hadits
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

3. Surat keputusan wakil direktur bidang kesiswaan No: 095/WADIR-Kesiswaan-PMA/IV/2011 tentang Pemilihan Ketua Organisasi Pelajar Putri dan Penyusunan Struktur Organisasi periode 2011-2012.
B. Kaedah kepemimpinan dan pembagian tugas ketua pengurus organisasi pelajar
Kepemimpinan menurut pemahaman yang berlaku di Pondok Modern Arrisalah adalah amanah yang harus diemban dan dipertanggungjawabkan dengan pertanggungjawaban lapangan dan administrative secara berkala sesuai aturan yang berlaku, dengan mengacu pada perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Penulis melihat bahwa apa yang berlaku di kepengurusan organisasi pelajar di Arrisalah menunjukkan system organisasi modern.
Semua pengurus dituntut memiliki inovasi tinggi dalam mengemban kepengurusannya, tidak boleh hanya menunggu komando, dengan standart aturan yang berlaku (teng-ko, aturan disiplin santri, pengarahan-pengarahan, keputusan-keputusan, dan lain-lain). Dalam mentaati perintah/kebijakan dalam berorganisasi pengurus dituntut memiliki kesolidan yang baku, sebab hal ini bisa jadi karena kekurang pahaman santri terhadap tujuan yang akan dicapai. Dan santriwati yang tidak paham dipersilahkan untuk menanyakan apa yang tidak pahaminya dikemudian hari untuk menjawab kebutuhan keilmuan yang bersangkutan dari rasa penasarannya. Hal ini tercermin dari I’tibar yang diungkapkan oleh pimpinan pondok saat pengarahan isra’ mi’raj bagi santri luar yang nyantri di Arrisalah dihadapan pengurus organisasi:
“Opo wae kang didawuhake kiaine, gurune, penguruse kudu dita’ati. Masio ora masuk akal, sakjroning perintah mau ora nentang syari’ate Gusti Allah. Lek ono sing ora paham oleh ditakakoake marang kiai, guru lan penguruse. Kosok baline, kiai, guru, lan pengurus kudu tanggungjawab dunyo akherate marang perintah lan kebijakan sing didwuhake.” Artinya: “Apa saja yang diperintahkan kiai, guru dan pengurus, harus ditaati. Walaupun tidak masuk akal, sepanjang perintah tadi tidak bertantangan syari’at Allah SWT. Bila tidak paham dengan perintah tadi, boleh ditanyakan kepada kiai, guru dan pengurus. Sebaliknya kiai, guru, dan pengurus harus bertanggungjawab dunia-akhirat terhadap pelaksanaan perintah dan kebijakan yang dikeluarkan.”

Jiwa mewarnai yang dipimpinan dituntut dari seorang ketua organisasi, sebab darinyalah segala kebijakan bermula, dia juga dituntut untuk menentukan preoritas organisasi bersama pengurus yang dilakukan di dalam sebuah musyawarah kerja. Tanpa leadership yang tinggi, jiwa yang tangguh, persiapan yang baik dan pelaksanaan serta evaluasi kerja yang sungguh-sungguh mustahil seorang ketua organisasi bisa membawa perubahanm berarti pada organisasi yang dipimpinnya. Penulis menilai bahwa tahapan pengkaderan yang berjalan di dalam proses pemilihan ketua organisasi ini berjalan dengan baik, hal ini tercermin dari langkah-langkah strategis yang harus ditempuh untuk melakukan perubahan sesuai makalah yang disampaikan oleh Sunartip dalam pembelakalan calon ketua PTTI di atas, sebagaimana tercermin dalam langkah-langkah berikut: Perubahan internal yang merupakan tuntutan wajib dalam sebuah organisasi untuk membawa kapal organisasi menuju cita-cita yang diimpikan dengan menancapkan keyakinan dan pehamaman terhadap garis perjuangan organisasi melalui 3 tahapan berikut: utamakan yang mendesak, pilih salah satu diantara dua atau tiga prioritas yang paling urgen, memperhatikan catatan sejarah masa lalu dari berbagai kebijakan yang dilakukan oleh ketua organisasi yang lama.
Skala prioritas yang dimaksud dalam makalah di atas adalah prioritas terhadap ikatan agama dari pada yang lain, yang berarti mendahulukan al-Qur’an, Sunnah Nabi dan ijma’ qiyas dibanding akal dan tuntutan jama’ah.
Penulis menilai garis kebijakan dalam management conflict yang harus ditempuh oleh seorang ketua organisasi dituntut meletakkan dasar kebijakan sesuai urutan berikut: agama-pemahaman salafu-s-shalih (shahabat)-akal-kesepakatan jama’ah.
Berbagai langkah karakteristik yang harus dimiliki oelh ketua PTTI dalam mengemban amanat kepemimpinannnya adalah sebagai berikut:
1. Problem yang dihadapi dalam berkomunikasi antar individu atau interpersonal skill seringkali terkait dengan masalah presepsi, yaitu kemampuan seseorang dalam menafsirkan dan menyimpulkan pesan-pesan termasuk penilaian terhadap seseorang. Kesalahan dalam presepsi atau miss-perceptipon karena:
a. Menilai seseorang dengan tolak ukur pribadi (subyektif) sehingga menolak pesan yang disampaikan.
b. Tidak membuka diri untuk memahami keadaan orang lain, hingga berada di dark area.
c. Kurang percaya atau lack of credibility pada lawan bicara.
2. Sikap yang harus dimiliki
a. Tidak mempertanyakan keikhlasan atau kewarasannya.
b. Sangat peduli membangun hubungan yang baik dan ingin menyelesaikan segala perbedaan.
c. Terbuka menerima gagasan dan siap menerima perubahan.
3. Perilaku yang harus dimiliki
a. Mendengar untuk memahami (listen to understand).
b. Berbicara untuk dipahami (speak to be understood).
c. Mengawali dialog dari titik pandang atau tujuan yang sama untuk bergerak perlahan membuka daerah yang berbeda.

C. Tahapan Pemilihan Ketua Organisasi Pelajar
Tahapanan pemilihan ketua organisasi pelajar yang berlangsung di Pondok Modern Arrisalah Program Internasional Puteri terekam dalam urutan yang penulis paparkan berikut ini:
1. Tahap pertama oleh lembaga santriwati
a. Magang calon pengurus baru di bagian-bagian yang ada dalam struktur pengurus lama.
Hal ini dilakukan dalam rangka penjaringan bakat yang bersangkutan dengan disertai penilaian pengurus lama pada kinerja pihak yang dimagangkan. Sekaligus sebagai tolak ukur dedikasi, loyalitas dan kapabilitas yang bersangkutan menurut pengurus lama.
Dalam kaitannya dengan pemilihan ketua organisasi, sebenarnya hal ini tidak menjadi tolak ukur utama, tapi penulis menyertakan item ini disebabkan ia menjadi salah satu acuan penting dalam rapat dewan guru pembimbing yang berpegang pada form angket pilihan pengurus versi pengurus lama.
b. Dari konsulat
Konsulat sebagai perwakilan daerah asal santri mengusulkan kandidat pilihan mereka secara musyawarah mufakat, bila kata mufakat tidak memungkinkan maka ditempuh voting untuk pengusulannya.
Jumlah usulan calon bergantung banyaknya jumlah santriwati anggota yang ada di dalam konsulat tersebut, yang berarti, semakin banyak jumlah anggota semakin banyak pula jumlah calon yang diusulkan menjadi calon ketua pengurus organisasi.
Penulis menemukan hal yang menarik dalam proses pemilihan calon versi konsulat ini, sudah menjadi hukum tidak tertulis di kalangan santriwati, biasanya ketua konsulat lebih berpeluang untuk diusulkan sebagai calon kuat untuk ketua organisasi dari konsulat tersebut, namun bisa juga ia tidak terpilih untuk dicalonkan konsulatnya bila dalam masa bakti kepengurusannya sebagai ketua konsulat yang bersangkutan memiliki track-record yang tidak baik, misal banyak melakukan pelanggaran disiplin.
c. Pengurus organisasi pelajar lama
Proses pengusulan nama dari pengurus organisasi lama (kelas IV KMI) tergambar dari form angket pemilihan pengurus versi bagian lama, hal ini dilakukan setelah masa magang bagi calon pengurus baru (kelas V KMI) di bagian-bagian sesuai pembagian yang dilakukan oleh pengasuhan santriwati melewati musyawarah dengan wakil direktur kesiswaan.
Pengusulan nama calon ketua organisasi baru yang di dahului dengan magangnya calon pengurus pada wiliyah kerja masing-masing bagian menjadikan penilaian terhadap calon adalah akurat dan obyektif. Hingga pengusulan nama yang diharapkan mengerucut pada nama calon ketua yang benar-benar mampu memimpin kawan-kawannya sesama pengurus baru dan adik kelasnya kelak
Pada pemilihan pengurus masa bakti 2011-2012 pilihan pengurus lama tergambar dalam table berikut:
Table urutan nama calon pengurus
NO NAMA KONSULAT PEROLEHAN %
1 Amal Nurul Fadhilah Madiun 0 0,000
2 Dessy Rizka Fitriyanti Semarang 20 33,333
3 Devina Septiani Ponorogo 0 0,000
4 Dewi Hindun Ponorogo 0 0,000
5 Elis Prasanti Ponorogo 18 30,000
6 Endang Muslihatun H Semarang 0 0,000
7 Fitriana Chamidah Ponorogo 5 8,333
8 Huflatul Khomsah Jambi 0 0,000
9 Imah Masfufah Brebes 3 5,000
10 Kusnatul Maulidah Ponorogo 0 0,000
11 Lidiawati Riau 0 0,000
12 Lutfi Ali Sahana A Ponorogo 0 0,000
13 Maya Reni Ekawati Magetan 0 0,000
14 Mesi Octa P Ponorogo 0 0,000
15 Nova Indrarini Ponorogo 0 0,000
16 Nova Indrawati Ponorogo 3 5,000
17 Novia Dwi N Ponorogo 0 0,000
18 Octory Faradisa Riau 0 0,000
19 Rafidasari Riau 0 0,000
20 Riska Wulandhari Garut 0 0,000
21 Rita Wahyu Utami INHIL Riau 0 0,000
22 Rizqi Aulia Fitriani Ponorogo 2 2,333
23 Salisna Fitriyani Garut 0 0,000
24 Siti Qomariyah Pacitan 0 0,000
25 Siti Sholihah Purwantoro 0 0,000
26 Syarifah Susilowati Magetan 0 0,000
27 Uchi Rubia Lampung Slatan 1 1,662
28 Wahdaniyah Palembang 0 0,000
29 Wheni Matsna Nurrakhim Ponorogo 8 13,333
30 Winarsih Ponorogo 0 0,000
60 100%

Table urutan perolehan suara calon pengurus
NO NAMA KONSULAT PEROLEHAN %
1 Dessy Rizka Fitriyanti Semarang 20 33,333
2 Elis Prasanti Ponorogo 18 30,000
3 Wheni Matsna Nurrakhim Ponorogo 8 13,333
4 Fitriana Chamidah Ponorogo 5 8,333
5 Imah Masfufah Brebes 3 5,000
6 Nova Indrawati Ponorogo 3 5,000
7 Rizqi Aulia Fitriani Ponorogo 2 2,333
8 Uchi Rubia Lampung Slatan 1 1,662
9 Amal Nurul Fadhilah Madiun 0 0,000
10 Devina Septiani Ponorogo 0 0,000
11 Dewi Hindun Ponorogo 0 0,000
12 Endang Muslihatun H Semarang 0 0,000
13 Huflatul Khomsah Jambi 0 0,000
14 Kusnatul Maulidah Ponorogo 0 0,000
15 Lidiawati Riau 0 0,000
16 Lutfi Ali Sahana A Ponorogo 0 0,000
17 Maya Reni Ekawati Magetan 0 0,000
18 Mesi Octa P Ponorogo 0 0,000
19 Nova Indrarini Ponorogo 0 0,000
20 Novia Dwi N Ponorogo 0 0,000
21 Octory Faradisa Riau 0 0,000
22 Rafidasari Riau 0 0,000
23 Riska Wulandhari Garut 0 0,000
24 Rita Wahyu Utami INHIL Riau 0 0,000
25 Salisna Fitriyani Garut 0 0,000
26 Siti Qomariyah Pacitan 0 0,000
27 Siti Sholihah Purwantoro 0 0,000
28 Syarifah Susilowati Magetan 0 0,000
29 Wahdaniyah Palembang 0 0,000
30 Winarsih Ponorogo 0 0,000
60 100%

d. Penyampaian visi-misi calon ketua organisasi pelajar
Penyampaian visi-misi oleh masing-masing calon pengurus disampaikan oleh masing-masing peserta sesuai dengan jadwal yang dibuat oleh pengurus organisasi yang lama, dengan menyerahkan draf visi-misi kepada pengasuhan santriwati untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam rapat penyusunan pengurus baru.
2. Tahap kedua oleh lembaga guru dan majelis Pembimbing
a. DIKLAT calon pengurus organisasi
DIKLAT ini dilakukan setelah pemilihan dari anggota dan penialaian pengurus lama, yang didahului oleh pemili the best ten calon pengurus, agenda kegiatannya mencakup: Leadership, kesekretariatan, bela diri, pemantaban bahasa Arab, pemantaban bahasa Inggris, al-Qur’an, administrasi organisasi, fiqh, P3K, Pramuka, nisa’yah, dan memasak. (contoh jadwal terlampir).
b. Penilaian
Kreteria penialaian yang digunakan untuk menilai calon ketua organisasi adalah seluruh kegiatan dalam acara DIKLAT ditambah dengan nilai rata-rata nilai kelas, kedisplinan, kebersihan, dan kerapian. Dengan kegiatan tambahan shalat dhula dan tahajjud berjama’ah.
c. Musyawarah penyusunan struktur organisasi
Musayawarah penyusunan struktur organisasi dilakukan oleh majelis pembimbing bersama wakil direktur kesiswaan, susunan acara ini meliputi: pembukaan, pembacaan hasil penilaian calon ketua dan pengurus organisasi, penyusunan struktur pengurus organisasi pelajar yang didahului dengan pemilihan ketua organisasi dan wakilnya disusul struktur di bawahnya sebagaimana terlampir.
d. Pengajuan ke Pimpinan/direktur
Langkah selanjutnya adalah pengajuan kepada pimpinan pondok/direktur pendidikan yang dilakukan oleh wakil direktur bagian kesiswaan dengan didampingi oleh pengasuhan santriwati dan ketua staff yang ditunjuk.
3. Tahap ketiga oleh lembaga Pimpinan Pondok/direktur dan wakil direktur
a. Musyawarah penetapan struktur organisasi
Dalam musyawarah penetapan struktur organisasi antara pimpinan pondok/direktur pendidikan dengan wakil direktur kesiswaan, pengasuhan santriwati dan perwakilan staff tahun 2011-2012 tidak terjadi perubahan struktur dari usulan yang diajukan, hal ini tercermin dari tidak berubahnya csusunan calon pengurus yang ditetapkan menjadi pengurus organisasi.
b. Pelantikan pengurus organisasi di dahului laporan pertanggungjawaban periode sebelumnya disertai penilaian atas kinerja masing-masing pengurus.
Dalam musyawarah penetapan struktur organisasi antara pimpinan pondok/direktur pendidikan dengan wakil direktur kesiswaan, pengasuhan santriwati dan perwakilan staff tahun 2011-2012 tidak terjadi perubahan struktur dari usulan yang diajukan, hal ini tercermin dari tidak berubahnya susunan calon pengurus yang ditetapkan menjadi pengurus organisasi.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kekuatan para perawi hadits
Maka secara garis besar penulis menyatakan bahwa hadits ini marfu’ sebab para perawi hadits ini mampu membuktikan bahwa sanad hadits ini sampai kepada Rasulullah SAW dan bisa dijadikan landasan hujjah, di sisi lain penulis tidak menemukan illat/cacat yang bisa menjadikan lemahnya hadits ini, baik pada matan maupun jalur periwayatannya. Penulis menyimpulkan bahwa matan hadits di atas secara eksplisit tidak melarang seseorang yang mengajukan diri atau mencalonkan diri sebagai pemimpin. Kadar kualitas pemimpin yang ditawarkan al-Qrdlawy adalah sebagai bentuk jalan tengah bagi siapapun yang melihat pentingnya siapapun yang merasa perlu untuk menjabat jabatan strategis dan mencalonkan diri untuk itu. Sebab kepentingan umum yang di bangun Islam untuk menjadi jembatan tegaknya nilai dan norma ke-Islaman lebih menjadi prioritas dari pada terus berkutat pada ambiguitas sikap; ingin menegakkan system Islam namun mengharamkan diri untuk terjun bebas ke kancah persaingan yang jelas merupakan jalan menuju perubahan yang dikehendaki.
2. Kekuatan matan hadits
Maka dapat disimpulkan bahwa proses pemilihan ketua oragnisasi pelajar di Pondok Modern Arrisalah Putri yang di dahului oleh pemilihan konsulat yang didalamnya terdapat penyampaian visi-misi atau kampanye tidak bisa disebut sebagai langkah sembrono dalam menerapkan hadits Nabi yang melarang seseorang meminta jabatan, sebab langkah ini adalah proses penilaian karakter calon ketua yang harus dilalui oleh semua penghuni pondok, hal ini tidak bisa dikategorikan sebagai pemilihan langsung, sebab terdapat lembaga majelis pembimbing dan jajaran pimpinan/direktur pondok yang memliki hak prerogratif dalam penyusunan struktur kepengurusan organisasi pelajar (PTTI).
Bukti lain dari tidak berlangsungnya pemilihan langsung adalah formula usulan calon yang bisa diusung menuju pemilihan sepuluh besar melalui proses penilaian yang sangat kompetitif berdasar kemampuan yang terukur (penialaian yang digunakan untuk menilai calon ketua organisasi adalah seluruh kegiatan dalam acara DIKLAT ditambah dengan nilai rata-rata nilai kelas, kedisplinan, kebersihan, dan kerapian) dan bertanggungjawab yang telah memiliki standar baku dalam pemilihan, jadi kecil kemungkinan struktur yang telah tersusun oleh majelis pembing bersama wakil direktur kemudian diubah oelh pimpinan pondok/direktur pendidikan, padahal seorang pimpinan pondok berhak untuk melakukannya.

B. Saran
Penulis secara khusus menyarankan agar penelitian hadits seperti ini dibumikan dikalangan mahasiswa S-1 sebagai landasan kemapanan dalam berhujjah, hingga memiliki pengetahuan yang lengkap tentang hadits yang dikaji “dari hulu hingga hilir”, juga agar terhindar dari kecerobohan penukilan hadits dari kepentingan yang tidak sesuai dengan asbabul wurud hadits yang akan digunakan hingga mendekati titik kebenaran dari apa muatan hadits baik secara empiric ataupun hikmah tasyri’ dibaliknya.
Penulis menyadari bahwa penelitian hadits ini belum sebanding dengan validitas kajian hadits yang telah dilakukan para ulama’ hadits, namun penulis memandang terbukanya peluang untuk menggunakan ilmu ini sebagai wadah pengkajian ilmiah dengan penuh tanggungjawab atas gagasan membumikan hadits dalam kehidupan keseharian umat Islam. Dan penulis berharap kritikan dan saran untuk penyempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Abu Abdillah bin Abdi-l-Hady ad-Damsiqy ash-Shalihy, Tabaqhat ‘Ulama al-Hadits, Juz: IV, Beirut-Lebanon: Muassasah ar-Risalah, 1996.
Abu Abdillah Ismail bin Ibrahim al-Ja’fy al-Bukhary, at-Tarikh al-Kabir, Libanon-Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, tanpa tahun.
Abu al-Husain Muslim bin al-Hujjaj an-Nisabury, ath-Thabaqaat, Juz: II, Riyadh: Darul Hijrah, 1991.
al-‘Asqalany Ibnu Hajar dan Ahmad bin Ali Hajar, Fathul Bari, Riyadh: Tahqiqul Abdil Qadir Syabih al-Hamdi, Juz: XI, 2001, Hal: 527 dan di bab: al-Ahkam.
al-Banna Al-Imam Hasan, Majmu’at Rasail, Mesir-Kairo: Daarus Syihab, tanpa tahun.
al-Bukhary Abu Abdillah Ismail bin Ibrahim al-Ja’fy, at-Tarikh al-Kabir, Libanon-Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, tanpa tahun.
al-Hushair Sulaiman Shalih, Pemikiran DR. Yusuf al-Qardlawy Dalam Timbangan, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2003.
al-Kalabadzi Al-Imam Abu Nasir bin Muhammad bin al-Husain, Rijal Shahih al-Bukhari, Juz I, Lebanon-Bierut: Darul Ma’rifah, 1987.
al-Mazy Jamaluddin Abi al-Hujjaj Yusuf, Tahdzibu-l-Kamal fi al-Asma ar-Rijal, Juz: IV, Libanon Beirut: Muassasah Arrisalah, 654-732 H.
al-Qardlawy Yusuf, Sekuler Ekstrem, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2000.
_______________, Fiqh Negara, Fiqh Negara, Rabbani Press, Jakarta,1999.
an-Naway Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf, Tahdzibu-l-Asma’ wa-l-Lughat, Juz: I, Libanon-Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, tanpa tahun.
ash-Shalihy Abu Abdllah bin Abdi-l-Hady ad-Damsiqy, Tabaqhat ‘Ulama al-Hadits, Juz: IV, Beirut-Lebanon: Muassasah ar-Risalah, 1996.
Hasan Tholchah, Wawancara Sunartip dengan KH Tholchah Hasan (tentang jabatan & kepemimpinan), dilakukan di kantor KPS Hukum Islam, tanggal 27 Juni 2011, pukul 07:55 WIB.
http://www.asysyariah.com/syariah/tafsir/420-kisah-nabi-yusuf-dan-meminta-jabatan-tafsir-edisi-49.html, terakhir diakses tanggal 18 Juli 2011, pukul 23:27 WIB.
Ibnu Hajar al-‘Asqalany dan Ahmad bin Ali Hajar, Fathul Bari, Riyadh: Tahqiqul Abdil Qadir Syabih al-Hamdi, Juz: XI, 2001.
Katsir Ibnu (disusun ulang oleh ‘Abdullah bin Muhammad bin Abdirrahman bin Isyhaq Alu Sayikh), Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta, Pustaka Imam Syafi’i, 2004, Juz 3.
Malaikah Musthafa, Manhaj Dakwah DR Yusuf al-Qardlawy, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1997.
Mausu’ah al-Hadits asy-Syarif, Sahih Muslim Syarh an-Nawawy, Musalsal: 2, No. Hadits 3401.
_______________________, Shahih al-Bukhary, dalam tahlil hadits 6132, lihat juga Shahih Muslim, dalam tahlil hadits 3120 dan 3401, Sunan at-Timridzi, tahlil hadis 1449, Sunan an-Nasa’i, tahlil hadis 5289, Sunan Abu Dawud, tahlil hadits 2540, Sunan Ahmad, tahlil hadis 197104, dan ad-Daraimi, tahlil hadis 2241.
_____________________, Shahih al-Bukhary, Juz III, no hadits: 6132, dalam ar-Rawi: al-jarh wa ta’dil.
Muhammad Maghfur Wahid, Sistem Pemerintahan Islam, Pasuruan: al-Izaah, 1997.
Muhibbin, Hadis-Hadis Politik, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset 1999), Cet. Ke-1.
Pondok Modern Arrisalah Program Internasional, Brosur tahun 2011, Ponorogo: Pondok Modern Arrisalah Program Internasional, 2011.
_______________________________________, Warta Media, Edisi 1998, Ponorogo: Risalah Press, 1998.
Sunartip, Dahulukan yang Terpenting dari yang Penting, Sabtu 28 Muharram 1415 H/20 Maret 2004.
_______, Latih Diri Raih Surga dengan Kebersamaan, disampaikan dalam kursus management pengurus PTTI, tanpa tahun.
_______, Perubahan (masalah yang selalu aktual dan urgen), pembekalan dan pengkaderan calon ketua PTTI, sabtu 28 Muharram 1415 H/20 Maret 2004.
_______, Sekilas Tentang Pondok Modern Arrisalah Program Internasional, (Ponorogo, Risalah Press: 2010).
Wahid Muhammad Maghfur, Sistem Pemerintahan Islam, Pasuruan: al-Izaah, 1997.
Yusuf Moh. Ma’sum, Proposal Pesantren Mandiri, Ponorogo, Pondok Modern Arrisalah, 2011.
_________________, Rekaman Pidato isra’ mi’raj 1432 H Pesantren Ramadhan. Tanggal 24 Desember 2010, pukul 06.38 WIB.

About these ads

Tentang CakTip

Pelayan santri-santriwati Pondok Modern Arrisalah Program Internasional di Kota-Santri Slahung Ponorogo Jawa-Timur Indonesia K. Post 63463. Lahir di Segodorejo Sumobito Jombang JATIM di penghujung Ramadhan 1395 H. Pernah bantu-bantu di IPNU Sumobito Jombang, IPM SMA Muh 1 Jombang, beberapa LSM, karya ilmiah, teater, dll. Lagi demen-demenya sama design grafis (corel). Sekarang lagi ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan PM Arrisalah. Sekali waktu chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!

Posted on 11 Agustus 2011, in Berita Pondok, Cak Tip, Dokumen, Kolom, PM Arrisalah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. sori kang aku sek nok palembang iki, mengko lek aku bali mesti nyang nggone sampean, trims.

  2. wah… semoga sukses kang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.117 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: