Silogisme dalam Filsafat

SILOGISME, DALAM KOMUNIKASI SEHARI-HARI

(STUDI ANALISA-KRITIS TERHADAP BEBERAPA FATWA MUI)

Untuk memenuhi tugas studi

Mata Kuliah: Filsafat Hukum

Dosen Pengampu: Drs. Rosichin Manshur, MS.Fil, M.Pd

Oleh:

Sunartip

Nur Rohmad

Afif Arwani

Nuryadin

Ahmad Ridwan

Magister Hukum Islam

Program Pasca Sarjana

UNIVERSITAS ISLAM MALANG

Tahun: 2010

KATA PENGANTAR

 

Filsafat bagi sebagian orang Islam seolah racun dalam darah, yang harus dinetralisir, bahkan kalau perlu dibuang anggota tubuh yang terlancur terjangkiti.Hal ini terasa wajar bila ditilik dari perjalanan panjang sejarah perkembangan filsafat pada mulanya.Proses persenyawaan filsafat dengan para pemikir Islam baru terasa kental setelah al-Kindi, al-Farabi, al-Ghazali dan tokoh-tokoh Islam lainnya meletakkan filsafat sebagai salah satu instrument berfikir runtut untuk mencapai tingkat pemahaman tertentu dari sebuah masalah yang berkembang.

Pola berfikir kritis analitis sangat berhubungan dengan metode perfikir runtut yang logic.Persenyawaan pola pandang yang baik dengan akurasi data yang sempurna, dan analitik sangat didukung oleh Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi akal-pikiran sebagai salah satu alat untuk mencapai kebenaran yang dituju.

Berangkat dari sedikitnya ummat Islam yang menyadari, bahwa berpola pikir logic sangat menopang pemahaman keberagamaan yang dijalani, sehingga banyak ditemukan di lapangan berbagai keputusan individu atau kelompok yang mengatasnamakan agama seakan bertolak belakang dengan keinginan masyarakat ilmiah.Maka tidak aneh bila berbagai keputusan tersebut menjadi anti tesis bagi kebenaran yang diyakini oleh mereka yang melemparkan ide di tengah masyarakat ilmiah tersebut, namun tidak memiliki landasan dan kerangka berfikir kritis, analitik dan ilmiah sebagaimana yang dimaui dalam pembelajaran logika terlebih silogisme.

Semoga tulisan pendek ini mampu menjawab berbagai permasalahan yang berkaitan dengan logika, terlebih silogisme dalam pengaplikasiannya dalam kehidupan.  Sehingga mampu ditemukan formula dan kesadaran baru akan arti penting segala hal yang tersebut di atas bagi kehidupan manusia.  Dan semoga makalah ini juga bisa menjadi tambahan refrensi ilmiah bagi siapapun yang membutuhkannya.

Penulis ucapkan terimakasih kepada Drs. Rozichin Manshur, MSFil, MPd, selaku dosen pembimbing mata kulian Ilmu Filsafat yang telah banyak berjasa bagi penulis untuk memahami filsafat dan apapun yang berkenaan dengannya secara cerdas, unik, sekaligus menarik.

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR ..………………………………………………………      2

DAFTAR ISI…………….………………………………………………………     3

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Pembahasan…………………………………………………     4
  2. Rumusan Masalah ……………………………………………………………    4
  3. Tujuan Pembahasan …………………………………………………………     4

BAB II PENGERTIAN UMUM LOGIKA (MANTIQ)

  1. Pengertian Logika….………………………………………………………        5
  2. Dasar-dasar Logika …………………………………………………………       6
  3. Cabang-cabang Logika……………………………………………………..       7
  4. Contoh pemanfaatan Logika dalam Kehidupan ……………………………       7

BAB III SILOGISME

  1. Pengertian Silogisme  ………………………………………………………      10
  2. Hukum-hukum Silogisme …………………………………………..………       13
  3. Hukum-hukumn Premis dalam Silogisme …………….…………………..        14
  4. Penarikan Simpulan ……………………………………………………..…       15
  5. Penjabaran Silogisme Berdasarkan Kategori ………………………………       16
    1. Silogisme Kategorik ………………………………………………..…        16
    2. Silogisme Hipotesis ………………………………………………..…         18
    3. Silogisme Disjungtif ………………………………………………..…        18

BAB IVCONTOH PEMANFAATAN SILOGISME DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI (STUDI ANALISIS-KRITIS TERHADAP BEBERAPA FATWA MUI)

  1. Kajian  seputar  label  halal  pada  makanan – minuman  di Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim……………………………………..………                                        21
  2. Kajian seputar fatwa haram MUI terhadap GOLPUT ……………..………   25
  3. C.    Kajian FATWA MUI seputar Zakat penghasilan di Indonesia  yang

mayoritas berpenduduk muslim……………………………………..………  25

BAB VPENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Pembahasan

Berbagai kenyataan di lapangan yang ditemukan penulis seputar berpikir kritis, analitik, dan logic, jauh dari harapan penulis bagi sebuah masyarakat modern yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan sebagai salah satu kebutuhan dalam kehidupannya.

Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi akal pikiran benar-benar menganjurkan ummatnya untuk melakukan apapun dengan landasan ilmiah yang memiliki akurasi data yang baik, dan benar.Sehingga ditemukan pemahaman “BAL” dalam bertindak; Benar-Akurat-Lengkap.

Filsafat melalui salah satu cabangnya, memberikan jalan keluarnya dengan istilah logika yang juga banyak dikenal di dunia Islam dengan istilah mantiq, yang juga memiliki cabang alat berfikir runtut yang dikenal dengan silogisme.

Penulis berupaya menawarkan dalam pemahaman masyarakat ilmiah untuk memiliki pola berfikir yang baik sebagaimana disebutkan di atas dengan membahas masalah silogisme dan manfaatnya dalam kehidupan.

  1. B.     Rumusan Masalah

Untuk mencapai penulisan karya ilmiah yang benar, maka penulis meletakkan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah yang dimaksud dengan silogisme?
  2. Apakah cabang-cabang dan hukum-hukum silogisme?
  3. Bagaimana pemanfaatan silogisme dalam komunikasi sehari-hari (Studi analisis-kritis atas beberapa Fatwa MUI)?
  1. C.    Tujuan Pembahasan

Dari rmusan masalah di atas, maka penulis memiliki tujuan penulisan sebagai berikut:

  1. Pengertian silogisme.
  2. Cabang-cabang dan hukum-hukum silogisme.
  3. Pemanfaatan silogisme dalam komunikasi sehari-hari (Studi analisis-kritis atas beberapa Fatwa MUI).

 

BAB II

PENGERTIAN UMUM LOGIKA

  1. A.    Pengertian Logika

Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.Logika adalah salah satu cabang filsafat.Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.(http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat-Logika/)

  1. 1.      Logika sebagai ilmu pengetahuan

Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.(http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat-Ibid/)

  1. 2.      Logika sebagai cabang filsafat

Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya. (Alex Lanur. 1983: 7-8)

Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran.

Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal. (Alex Lanur. 1983: 8)

Dalam pengertian Aristotelian, logika didefinisikan dengan sejumlah kaidah yang me-ma’shum-kan manusia dalam proses berfikir. Kata “berfikir” tersebut di akhir tadi, menegaskan bahwa kaidah-kaidah logika yang dikuak Aristoteles mengatur satu dimensi kehidupan manusia, yaitu kehidupan teoritis.

Secara adil, Aristoteles menyusun logika kehidupan praktis manusia, secara lebih khusus, dalam Magnum Opus-nya, Nikomachucian Ethica.Rangkaian kaidah-kaidah praktis dirajut dalam bingkai “The Golden Means” yang menekankan keseimbangan di antara dua titik ekstrimitas.Tentu, teori itu bukan yang terbaru pada masanya. Guru gurunya, Sokrates, malah sibuk dan menyibukkan masyarakat Athena dengan mencari-cari kaidah praktis, ketimbang mendiskusikan arche atau isu-isu teoritis lainnya.

Dengan demikian, sudah dilakukan upaya-upaya menemukan kaidah-kaidah kehidupan praktis manusia yang tidak kalah pentingnya dengan kaidah-kaidah kehidupan teoritisnya. Kalau kehidupan teoritis berkutat di permasalahan “Bagaimana menemukan kebenaran?”, maka kehidupan praktis bertawaf di permasalahan “Bagaimana menemukan kebaikan?”. Di sinilah logika praktis mendapatkan ruang geraknya.

Permasalahan awal yang muncul di sini adalah, “Apakah kehidupan praktis manusia?”. Lebih sederhana lagi, “Apakah tindakan manusia?”.

 

  1. B.     Dasar-Dasar Logika

Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.

Dasar penalaran dalam logika ada dua:Deduktif dan induktif.

  1. Penalaran deduktif—kadang disebut logika deduktif—adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.

Contoh argumen deduktif:

  • Setiap mamalia punya sebuah jantung
  • Semua kuda adalah mamalia
  • ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung
  1. Penalaran induktif—kadang disebut logika induktif—adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.

Contoh argumen induktif:

  • Kuda Sumba punya sebuah jantung
  • Kuda Australia punya sebuah jantung
  • Kuda Amerika punya sebuah jantung
  • Kuda Inggris punya sebuah jantung
  • ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung
  1. C.    Cabang-cabang Logika

Adapun cabang-cabang logika antara lain sebagai berikut:

  1. Pengertian
  2. Pembagian (Penggolongan) dan Definisi
  3. Keputusan
  4. Pembalikan dan Perlawanan
  5. Penyimpulan
  6. Silogisme
  7. Asas-asas Pemikiran
  1. D.    Contoh Pemanfaatan Logika Dalam Kehidupan

Tindakan Sengaja

Tindakan adalah proses yang dijalani manusia, sebagai pelaku, dalam mencapai suatu tujuan. Ada tiga anasir di dalam tindakan; proses, pelaku dan tujuan. Sebagai sebuah proses, tindakan punya titik awal dan titik akhir. Titik akhir tindakan adalah tujuan itu.Lalu, apakah titik awal tindakan?

Tindakan manusia akan lahir setelah melalui empat jenjang;

1. Pengetahuan (hudzuri dan husuli).

Bahwa manusia mengetahui tujuan tindakannya dan hal-hal yang mengarah kepada tujuan tersebut.

  1. Motivasi.

Pengetahuan itu disusul oleh dorongan hasrat (keinginan) dirinya untuk mencapai tujuan yang diketahuinya. Hasrat itu beragam, sebanyak sumbernya; tuntutan-tuntutan fisiologis, kecenderungan-kecenderungan instingsial, kecondongan-kecondongan intuitif, tendensi-tendensi emosional, yang semuanya adalah serpihan-serpihan dari sebauh naluri, yaitu ingin kekal dan ingin sempurna yang disingkat menjadi cinta diri, sebagai naluri induk yang terpatri pada diri manusia. Maka, sesorang hanya akan menginginkan sesuatu yang sesuai dengan tuntutan naluri cinta diri. Dan sebaliknya, ia tidak akan terdorong untuk melakukan tindakan yang mengancam kelanggengan hidupnya, mengurangi atau menjauhkan suatu kesempurnaan dari dirinya. (al-maidah, 105- al-hasyr 18).

  1. Kehendak.

Tatkala manusia tahu dan termotivasi (oleh cinta diri) untuk bertindak, ketika itu pula ia akan menghendaki tindakan itu secara puas, suka rela dan bebas.

  1. Kemampuan.

Tindakannya bersifat aktif, bukan pasif.

Dengan demikian, pertama: asal-usul tindakan manusia adalah pengetahuan, motivasi, kehendak dan kemampuan. Inilah yang disebut tindakan sengaja (ikhtiyari). Jadi, tindakan sengaja adalah tindakan yang disadari, diingini dan dikehendaki pelakunya serta bersifat aktif. Sementara, tindakan yang minus satu dari empat jenjang di atas adalah tindakan tak sengaja. Ngantuk, ngigau, degup jantung, minum secara terpaksa, mendengar secara pasif (terdengarnya sesuatu), adalah sebagian corak tindakan tak sengaja. Maka, ada dua macam tindakan manusia; tindakan sengaja dan tindakan tak sengaja.

Kedua: ada keterkaitan di antara, paling tidak, dua jenjang pertama. Mula-mula manusia tahu dan menyadari suatu kekurangan pada dirinya atau suatu kesempurnaan di luar dirinya, lalu naluri cinta dirinya membangkitkan hasrat untuk mengatasi kekurangan itu atau mengejar kesempurnaan tersebut. Oleh karena itu, manusia bertindak karena cinta dirinya atau egoisme.

Ketiga: berdasarkan poin kedua tadi, bahwa manusia bertindak demi memenuhi egoismenya. Maka, tujuan tindakannya adalah kepentingan diri sendiri. Tegasnya, titik akhir atau tujuan tindakan manusia adalah kepentingan diri sendiri (self-interested).

Keempat: tindakan sengaja bermuatan nilai baik atau buruk. Semua contoh di atas tadi tidak punya nilai (zero value). Ngigau dan kawan-kawannya itu tidak baik, juga tidak buruk.

Permasalahan yang muncul di sini adalah “Apakah tindakan sengaja yang baik dan tindakan sengaja yang buruk?”. Singkatnya, “Apakah kebaikan dan keburukan?”.

Akhirnya, “Sampaikanlah (wahai Muhammad)! Tahukah kalian akan orang-orang yang paling rugi tindakannya? Merekalah yang sia-sia jerih payahnya di dunia, sementara dirinya mengira telah bertindak sebaik-baiknya.” (al-Kahfi, 103-104).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SILOGISME

  1. A.    PENGERTIAN SILOGISME (Qiyas)
    1. Menurut Bahasa

Sebuah silogisme (bahasa Yunani: συλλογισμός – syllogismos – “kesimpulan,” “inferensi”) atau banding logis adalah jenis argumen logis di mana satu proposisi (kesimpulan) yang disimpulkan dari dua orang lain (tempat) dari suatu bentuk tertentu, yaitu kategori proposisi. (http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat-Silogisme/)

  1. Menurut Istilah
    1. Dalam Bahasan Mantiq Silogisme atau Qiyas diartikan sebagai kumpulan dari beberapa qadhiyyah yang berkaitan yang jika benar, maka dengan sendirinya (li dzatihi) akan menghasilkan qadhiyyah yang lain (baru).(From:”SONYMAN”<sonyman@uk2.net>Thu, 8 Jun 2000 16:56:05 +0700)

Beberapa macam hujjah (argumentasi). Manusia disaat ingin mengetahui hal-hal yang majhul, maka terdapat tiga cara untuk mengetahuinya(Husein Al-Kaff. 1999):

1.  Pengetahuan dari juz’i ke juz’i yang lain. Argumenatsi ini sifatnya horisontal, dari sebuah titik yang parsial ke titik parsial lainnya. Argumentasi ini disebut tamtsil (analogi).

2.  Pengetahuan dari juz’i ke kulli. Atau dengan kata lain, dari khusus ke umum (menggeneralisasi yang parsial) Argumentasi ini bersifat vertikal, dan disebut istiqra’ (induksi).

3.  Pengetahuan dari kulli ke juz’i. Atau dengan kata lain, dari umum ke khusus. Argumentasi ini disebut qiyas (silogisme).

Silogisme/Qiyas dibagi menjadi dua;

  1. Iqtirani (silogisme kategoris)
  2. istitsna’i (silogisme hipotesis).

Sesuai dengan definisi qiyas di atas, satu qadhiyyah atau beberapa qadhiyyah yang tidak dikaitkan antara satu dengan yang lain tidak akan menghasilkan qadhiyyah baru. Jadi untuk memberikan hasil (konklusi) diperlukan beberapa qadhiyyah yang saling berkaitan. Dan itulah yang namanya qiyas. (Husein Al-Kaff. 1999)

  1. Pengertian Silogisme dalam buku “Sebelum Analytics “, Aristoteles mendefinisikan silogisme sebagai “sebuah wacana di mana, hal-hal tertentu yang telah seharusnya, sesuatu yang berbeda dari hal-hal seharusnya hasil dari kebutuhan karena hal-hal ini begitu.” (24b18–20) (24b18-20)

Meskipun definisi yang sangat umum ini, ia membatasi diri pertama silogisme kategoris (dan kemudian untuk modal silogisme). Silogisme berada pada inti tradisional penalaran deduktif, dimana fakta ditentukan dengan menggabungkan laporan yang ada, berbeda dengan penalaran induktif dimana fakta ditentukan oleh pengamatan berulang. Silogisme digantikan oleh orde pertama logika predikat mengikuti karya Gottlob Frege , khususnya Nya Begriffsschrif (Konsep Script) (1879)

Silogisme adalah suatu pengambilan kesimpulan, dari dua macam keputusan (yang mengandung unsur yang sama, dan salah satunya harus universal) suatu keputusan yang ketiga, yang kebenarannya sama dengan dua keputusan yang mendahuluinya. (wikipedia.org/wiki/Proposition-Silogisme)

Maka bisa disimpulkan, bahwa silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif, yang disusun dari pernyataan dan  konklusi (kesimpulan).Penalarannya bertolak dari pernyataan bersifat umum menuju pada pernyataan/simpulan khusus.

 

Absah dan Benar

Dalam membicarakan silogisme mengenal dua istilah yaitu absah dan benar.

  • Absah (valid) berkaitan dengan prosedur apakah pengambilan konklusi sesuai dengan patokan atau tidak. Dikatakan valid apabila sesuai dengan patokan dan tidak valid bila sebaliknya.
  • Benar berkaitan dengan:
  1. Proposisi dalam silogisme itu.
  2. Didukung atau sesuai dengan fakta atau tidak. Bila sesuai fakta, proposisi itu benar, bila tidak ia salah.

Keabsahan dan kebenaran dalam silogisme merupakan satuan yang tidak bisa dipisahkan, untuk mendapatkan yang sah dan benar.

Hanya konklusi dari premis yang benar prosedur yang sah konklusi itu dapat diakui. Mengapa demikian? Karena bisa terjadi:

  • Dari premis salah dan prosedur valid menghasilkan konklusi yang benar.
  • Demikian juga dari premis salah dan prosedur invalid dihasilkan konklusi benar.
  1. 1.      Variasi-Variasi(Nasution Hakim, Andi. 2005: 78-82)
    1. Prosedur valid, premis salah dan konklusi benar.
  • Semua manusia itu penjahat.                                                 (salah)
  • Semua penjahat itu sholeh.                                                    (salah)
  • Jadi: Semua penjahat itu manusia.                                         (benar)
  1. Prosedur invalid(tak sah),premis benardan konklusi salah.
  • Drs. Roshicin adalah dosen UNISMA.                                 (benar)
  • Prof. Musthofa bukan Drs Rishicin.                         (benar)
  • Jadi: Prof. Musthofa bukan dosenUNISMA.                        (salah)
  1. Prosedur invalid, premis salahdan konklusi benar.
  • Sebagian mahasiswa adalah batu.                                         (salah)
  • Sebagian manusia adalah batu.                                              (salah)
  • Jadi: Sebagian manusia adalah mahasiswa.                           (benar)
  1. Prosedur valid,premis salah dan konklusi salah.
  • Semua perempuan tidak shalat.                                             (salah)
  • Semua mahasiswa adalah perempuan.                                  (salah)
  • Jadi: Semua mahasiswa tidak shalat.                         (salah)
  1. B.     HUKUM-HUKUM SILOGISME

Supaya silogisme dapat merupakan jalan pikiran yang baik ada beberapa hukum dalam silogisme. Hukum tersebtu bukanlah buatan para ahli-pikir, tapi hanya dirumuskan oleh para ahli itu. Di bawah ini hukum-hukum yang menyangkut term-term antara lain:

  1. Hukum pertama. Silogisme tidak boleh lebih atau kurang dari tiga term. Kurang dari tiga term berarti bukan silogisme. Jika sekiranya ada empat term, apakah yang akan menjadi pokok perbandingan, tidak mungkinlah orang membandingkan dua hal denga dua hal pula, dan lenyaplah dasar perbandingan.
  2. Hukum kedua. Term antara atau tengah (medium) tidak boleh masuk (terdapat) dalam kesimpulan. Term medium hanya dimaksudkan untuk mengadakan perbandingan dengan term-term. Perbadingan ini terjadi dalam premis-premis. Karena itu term medium hanya berguna dalam premis-premis saja.
  3. Hukum ketiga. Wilayah term dalam konklusi tidak boleh lebih luas dari wilayah term itu dalam premis. Hukum ini merupakan peringatan, supaya dalam konklusi orang tidak melebih-lebihkan wilayah yang telah diajukan dalam premis. Sering dalam praktek orang tahu juga, bahwa konklusi tidak benar, oleh karena tidak logis (tidak menurut aturan logika), tetapi tidak selalu mudah menunjuk, apa salahnya itu.
  4. Term antara (medium) harus sekurang-kurangnya satu kali universal. Jika term antara paticular, baik dalam premis mayor maupun dalam premis minor, mungkin saja term antara itu menunjukkan bagian-bagian yang berlainan dari seluruh luasnya. Kalau demikian term antara, tidak lagi berfungsi sebagai term antara, dan tidak lagi menghubungkan atau memisahkan subyek dengan predikat.

Contoh:

  • Beberapa politikus pembohong.
  • Utsman adalah politikus.
  • Utsman adalah pembohong.
  1. C.    HUKUM-HUKUM PREMIS DALAM SILOGISME

Sedangkan hukum-hukum yang menyangkut premis-premis (keputusan-keputusan) antara lain: (Mundiri. 1994: 30-48)

  1. Jika kedua premis (mayor dan minor) positif, maka kesimpulannya harus positif juga.
  2. Kedua premis tidak boleh negatif, sebab term antara (medium) tidak lagi berfungsi sebagai penghubung atau pemisah subyek dengan predikat. Dalam silogisme sekurang-kurangnya subyek atau predikat harus dipersamakan oleh term antara (medium)

Contoh:

  • Batu adalah bukan binatang
  • Anjing adalah bukan batu
  • Anjing adalah bukan binatang.
  1. Kedua premis tidak boleh particular. Sekurang-kurangnya satu premis harus universal. Kalau tidak, berarti melanggar hukum c, d bagian hukum-hukum term.

Contoh:

  • Ada orang kaya tidak tentram hatinya
  • Ada orang jujur bukan orang kaya
  • Orang jujur tidak tentram hatinya.
  1. Kesimpulan harus sesuai dengan premis yang paling lemah. Keputusan particular adalah keputusan yang lemah dibandingkan dengan keputusan universal. Keputusan negatif adalah keputusan yang lemah dibandingkan dengan keputusan positif karena itu jika ada satu premis particular, maka kesimpulan harus particular. Jika salah satu premis negatif, maka kesimpulannya harus negatif. Jika salah satu premis negatif dan particular, maka kesimpulannya harus negatif dan particular juga. Kalau tidak akan terjadi ketidak beresan lagi dalam kesimpulan.
  1. D.    PENARIKAN SIMPULAN

Penarik simpulan dengan silogisme dibedakan menjadi dua macam

  1. Menarik simpulan berdasarkan satu premis(pernyataan)

CONTOH

Premis[1]            : Bujur sangkar adalah segi empat sama sisi.

Simpulan         :

  • Bujur sangkar pasti segi empat,tetapi segi empat belum tentu bujur sangkar.
  • Segi empat yang sisi-sisinya horisontal tidak sama panjang dengan tegak lurusnya bukan bujur sangkar.
  1. Menarik Simpulan berdasarkan berdasarkan dua premis/pernyataan.

Silogisme Kategorik

Premis umum            à        premis khusus  à        simpulan

Keterangan:

  • A       : Semua anggota golongan tertentu
  • B       : Sifat atau kegiatan A
  • C       : Seseorang atau bagian dari A

Silogisme Hipotetis

Silogisme Disyungtif

  • PU     : A = B
  • PK     : C = A
  • S        : C  = B
  • PU     : Semua profesor pandai
  • PK     : Albert Enstein seorang profesor
  • S        : Albert Enstein pandai
  1. Silogisme yang diperpendek  disebut ENTINEM

Contoh :

  • C=B
  • karena C=A
  • Albert Enstein pandai karena beliau seorang profesor.
  1. E.     PENJABARAN SILOGISME BERDASARKAN KATEGORI
    1. 1.      Silogisme Kategorik
      1. Pengertian

Silogisme Katagorik adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan dengan premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor (premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term). (Mundiri. 1994: 44)

Contoh:

  • Semua Tanamanmembutuhkan air                (premis mayor)

……………….M………………..P

  • Akasia adalah Tanaman                                (premis minor)

….S……………………M

  • Akasiamembutuhkan air                                (konklusi)

….S……………..P

(S = Subjek, P = Predikat, dan M = Middle term)

  1. Hukum-Hukum Silogisme Katagorik (Mundiri. 1994: 45-53).
    1. Dari dua premis yang sama-sama negatif, tidak menjadi kesimpulan apa pun, karena tidak ada mata rantai yang menghubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpulan diambil bila sedikitnya salah satu premis positif. Kesimpulan yang ditarik dari dua premis negatif adalah tidak sah.

CONTOH (1):

  • Kerbau bukan bunga mawar.
  • Kucing bukan bunga mawar.….. (Tidak ada kesimpulan)

CONTOH (2):

  • Tidak satu pun drama yang baik mudah dipertunjukkan.
  • Tidak satu pun drama Shakespeare mudah dipertunjukkan.
  • Jadi: Semua drama Shakespeare adalah baik. (Kesimpulan tidak sah)
  1. Paling tidak salah satu dari term penengah harus mencakup. Dari dua premis yang term penengahnya tidak tentu menghasilkan kesimpulan yang salah.

CONTOH

  • Semua ikan berdarah dingin.
  • Binatang ini berdarah dingin
  • Jadi: Binatang ini adalah ikan.(Padahal bisa juga binatang melata)
  1. Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term predikat yang ada pada premisnya. Bila tidak, kesimpulan menjadi salah.

CONTOH

  • Kerbau adalah binatang.
  • Kambing bukan kerbau.
  • Jadi: Kambing bukan binatang.(‘Binatang’ pada konklusi merupakan term negatif sedangkan pada premis adalah positif)
  1. Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis layor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna beda kesimpulan menjadi lain.

CONTOH

  • Bulan itu bersinar di langit.
  • Januari adalah bulan.
  • Jadi: Januari bersinar di langit.(Bulan pada premis minor adalah nama dari ukuran waktuyang panjangnya 31 hari, sedangkan pada premis mayorberarti planet yang mengelilingi bumi).
  1. Dari dua premis yang sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan.

CONTOH

  • Beberapa politikus tidak jujur.
  • Banyak cendekiawan adalah politikus.
  • Jadi      :Banyak cendekiawan tidak jujur.
  • Jadi      : Beberapa pedagang adalah kikir.
  1. 2.      Silogisme Hipotesis
    1. Pengertian

Adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik. (Arikunto, Suharsimi. 2006: 91)

  1. Hukum-Hukum Silogisme Hipotesis

Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting di sini dalah menentukan kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar. (Arikunto, Suharsimi. 2006: 92)

CONTOH

Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, jadwal hukum silogisme hipotetik adalah:

1) Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.

2) Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana.         (tidak sah = salah)

3) Bila B terlaksana, maka A terlaksana.              (tidak sah = salah)

4) Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.

Kebenaran hukum di atas menjadi jelas dengan penyelidikan
berikut:

  • Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi. Nah, peperangan terjadi.Jadi harga bahan makanan membubung tinggi.( benar = terlaksana)
  • Benar karena mempunyai hubungan yang diakui kebenarannya, Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi. Nah, peperangan terjadi. Jadi harga bahan makanan tidak membubung tinggi (tidak sah = salah)
  • Tidak sah karena kenaikan harga bahan makanan bisa disebabkan oleh sebab atau faktor lain.
  1. 3.      Silogisme Disyungtif
    1. a.      Pengertian

Adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disyungtif sedangkan premis minornya kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor.Seperti pada silogisme hipotetik istilah premis mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang semestinya. (Arikunto, Suharsimi. 2006: 97)

Maka silogisme Janis ini terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain. (Arikunto, Suharsimi. 2006:99)

CONTOH:

My             : Kucing berada di dalam rumah atau di luar rumah

Mn             : Kucing berada di luar rumah

K               : Jadi, kucing tidak berada di dalam rumah

  1. b.      Macam-Macam Silogisme Disyungtif dan Hukum-Hukumnya
    1. Silogisme disyungtif dalam arti sempit.

Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif  kontradiktif.

CONTOH:

  • la lulus atau tidak lulus.
  • Ternyata ia lulus
  • Jadi la bukan tidak lulus.

Hukum Silogisme Dalam Arti Sempit

  1. Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusi-nya adalah mengakui alternatif yang lain.

CONTOH:

  • la berada di luar atau di dalam.
  • Ternyata tidak berada di luar.
  • Jadi ia berada di dalam.
  1. Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif yang lain.

CONTOH:

  • Budi di masjid atau di sekolah.
  • la berada di masjid.
  • Jadi ia tidak berada di sekolah.
  • Budi di masjid atau di sekolah.
    • la berada di sekolah.
  1. 2.      Silogisme disyungtif dalam arti luas.

Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayornya mempunyai alternatif bukan kontradiktif.

CONTOH:

  • Hasan di rumah atau di pasar.
  • Ternyata tidak di rumah.
  • Jadi di pasar.

Hukum Silogisme Dalam Arti Luas

  1. Bila premis minor mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar).

CONTOH:

  • Budi menjadi guru atau pelaut.
  • Ia adalah guru.
  • Jadi bukan pelaut.
  1. Bila premis minor mengingkari salah satu konklusinya tidak sah (salah)

CONTOH (1):

  • Penjahat itu lari ke Solo atau ke Yogya.
  • Ternyata tidak lari ke Yogya.
  • Jadi ia lari ke Solo. (Bisa jadi ia lari ke kota lain).

CONTOH (2):

  • Budi menjadi guru atau pelaut.
  • Ternyata ia bukan pelaut.
  • Jadi ia guru. (Bisa jadi ia seorang pedagang)

BAB IV

CONTOH PEMANFAATAN SILOGISME

DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

  1. A.    Kajian Seputar Label Halal pada Makanan-Minuman di Indonesia yang Mayoritas Berpenduduk Muslim.
  2. 1.      Kutipan Keputusan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia: (http://www.halalguide.info _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 10 March, 2007, 03:51)

Penetapan Produk Halal Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Tentang Penetapan Produk Halal

KEPUTUSAN FATWAKOMISI FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Tentang

PENETAPAN PRODUK HALAL

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, dalam Rapat Komisi bersama LPPOM MUI, pada hari Rabu tanggal 17 Ramadhan 1421 H/13 Desember 2000 M, setelah:

MENIMBANG:

  • Bahwa makanan, minuman, obat-obatan, kosmetika, dan lain-lain yang akan dikonsumsi atau dipergunakan oleh umat Islam wajib diperhatikan dan diyakini kehalalan dan kesuciannya;
  • Bahwa produk makanan, minuman, obat-obatan, kosmetikan dan lain-lain yang merupakan hasil olahan sering diragukan kehalalan atau kesuciannya;
  • Bahwa oleh karena itu, produk-produk olahan sebagaimana terlampir yang terhadapnya telah dilakukan pemeriksaan, penelitian, pembahasan, dan penilaian dalam rapat Komisi Fatwa bersama LPPOM MUI, Komisi Fatwa memandang perlu untuk menetapkan kehalalan dan kesuciannya untuk dijadikan pedoman oleh umat.

MENGINGAT :

  • Firman Allah SWT tentang keharusan mengkonsumsi yang halal, antara lain :
  1. “Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi balik dari apa yang terdapat dibumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]:168).
  2. “Hai orang yang beriman! Makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah ” (QS. Al-Baqarah [2] : 172)
  3. “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertawakalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya” (QS. Al- Mai’dah [5]: 88)
  4. “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya menyembah” (QS. An-Nahl [16]:114)
  • Firman Allah SWT tentang kehalalan makhluk Allah
  1. secara umum, antara lain :
  2. “Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu …” (QS. Al-Baqarah [2]: 29)
  3. “Katakanlah : ” Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapakah yang mengharamkan) rezki yang baik ?’ Katakanlah : ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan, khususnya (untuk mereka saja) di hari kiamat.’ Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui” (Qs. Al-A’raf [7] : 32).
  4. “Dan Dia (Allah) telah menundukkan untuk kamu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS. Al-Jasiyah [45] : 13 )
  • Firman Allah SWT tentang beberapa jenis makanan (dan minuman) yang diharamkan, antara lain:
  1. “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Akan tetapi, barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang isi tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha pengampun, Maha penyayang” (QS. Al-Baqarah [2] : 173).
  2. ‘Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu memakan hewan) yang disembelih untuk berhala…”(QS. Al-Ma’idah [5]: 3)
  3. “Katakanlah Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi –karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang isi tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Al-An’am [6]:145)
  4. “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Akan tetapi, barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang isi tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah [2] : 173).
  5. “….dan ia (Nabi) mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…” (QS. Al-A’raf [7] : 157),

Maksud buruk (khaba’its) di sini menurut ulama adalah najis.

  1. “… Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan….” (QS. Al-Baqarah [2] : 195).
  • Hadist-hadist Nabi berkenaan dengan kehalalan maupun keharaman sesuatu yang dikonsumsi, antara lain:
  1. “Wahai umat manusia ! Sesungguhnya Allah adalah thayyib (baik), tidak akan menerima kecuali yang thayyib (baik dan halal); dan Allah memerintahkan kepada orang beriman segala apa yang ia perintahkan kepada para rasul. Ia berfirman, ‘Hai rasul-rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan’ (QS. al-Mu’minun [23]: 51), dan berfirman pula, ‘Hai orang yang berfirman ! Makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu…'(QS al-Bagarah [2]: 172).`
  2. Kemudian nabi menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acakacakan, dan badan berlumur debu. Sambil menengadah tangan ke langit ia berdoa,’ya tuhan, ya tuhan..'(berdoa dalam perjalanan, apalagi dengan kondisi seperti itu, pada umumnya dikabulkan oleh Allah—pen) sedangkan, makanan orang itu haram, minumananya haram, pakaiannya haram, dan ia selalu menyantap yang haram. (Nabi memberi komentar),’jika demikian halnya, bagaimana mingkin ia akan dikabulkan doanya?” (HR.Muslim dari Abu Hurairah).
  3. “yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas; dan diantara keduanya ada hal-hal yang musytabihat (Syubhat, samara-samar, tidak jelas halal haramnya), kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barang siapa hati-hati dari perkara syubhat, sungguh ia telah menyelamatkan agama dan harga dirinya..”(HR.Muslim)
  4. “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh (pula) membahayakan orang lain”(HR.Ahmad dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas dan Ubadah bin Shamit).
  5. “Yang halal adalah sesuatu yang dihalalkan oleh Allah dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan oleh Allah dalam kitab-Nya; sedang yang tidak dijelaskan-Nya adalah yang dimaafkan'(nail al-Authar;8:106)
  6. “Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban; janganlah kamu abaikan, telah menetapkan beberapa batasan, janganlah kamu langgar, telah mengharamkan beberapa hal, janganlah kamu rusak, dan tidak menjelaskan beberapa hal sebagai kasis sayang kepadamu, bukan karena lupa, maka janganlah kamu Tanya-tanya hukumnya” (HR. Daraquthni dan dinilai sahih oleh Imam Nawawi).
  • Kaidah fiqih:
  1. “Hukum asal sesuatu yang bermanfaat adalah boleh dan hukum asal sesuatu yang berbahaya adalah haram”.
  2. “Hukum asal mengenai sesuatu adalah boleh selama tidak ada dalil muktabar yang mengharamkannya.”
  • Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tanga MUI periode 2000-2005.
  • Pedoman Penetapan Fatwa MUI.

MEMPERHATIKAN :

  • Berita Acara hasil audit terhadap sejumlah produk olahan dan penjelasan Direktur LP.POM-MUI, serta saran dan pendapat peserta rapat dalam rapat bersama dimaksud.

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG PENETAPAN  BEBERAPA PRODUK HALAL.

  • Produk-produk sebagaimana tersebut dalam lampiran Keputusan Fatwa ini ditetapkan kehalalan dan kesuciannya.
  • Keputusan berlaku sejak ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimanamestinya.

Ditetapkan di:         Jakarta

Pada Tanggal:         17 Ramadhan 1421 H.

13 Desember 2000 M

Ketua

K.H. MARUF AMIN

Sekretaris

DRS. HASANUDDIN, M.ag.

2. Pembahasan Atas Fatwa

  • Fatwa Majelis Ulama’ Indonesia ini berlaku di wilayah hukum Indonesia.
  • Mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.
  • Secara umum diasumsikan, bahwa makanan minuman yang berasal dari orang-orang muslim adalah halal.
  • Jadi fatwa MUI seputar kehalalan/pemberian label halal pada produk yang berasal dari masyarakat muslim adalah salah/tidak logis.
  • Semestinya label yang harus dicantumkan adalah label haram.
  • Hal ini untuk melindungi masyarakat muslim dari produk yang tidak halal. (pelabelan bisa dilakukan pada berbagai produk dengan tanda yang tidak mencederai perilaku keagamaan bagi panganut agama lain –warna. Huruf, atau angka.)
  1. B.     Kajian Seputar Fatwa haram MUI Terhadap GOLPUT
    1. Keputusan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia:
  • Bahwa siapapun orang muslim Indonesia diwajibkan untuk melaksanakan hak pilih pada PEMILU.
  • Bahwa GOLPUT (Tidak memilih dengan kesengajaan, padahal memiliki calon pilih muslim) dalam PEMILU hukumnya haram.
  1. 2.      Pembahasan Atas Fatwa
  • Fatwa Majelis Ulama’ Indonesia ini berlaku di wilayah hukum Indonesia.
  • Fatwa keharaman GOLPUT diberlakukan kepada orang Islam.
  • Bila GOLPUT haram, berarti memilih adalah wajib.
  • Jadi fatwa MUI seputar keharaman GOLPUT terhadap masyarakat muslim Indonesia adalah salah/tidak logis, sebab harus ada fatwa WAJIB PILIH bukan HAK PILIH.
  • Bila HAK PILIH menjadi WAJIB PILIH, maka PEMILU adalah WAJIB.
  • Bila PEMILU WAJIB, maka Demokrasi untuk membentuk Pemerintah Indonesia adalah WAJIB.
  • Bila berlaku WAJIB PILIH, maka hukum keberadaan Pemerintah Indonesia adalah WAJIB.
  • Bila hukum keberadaan Pemerintah Indonesia adalah WAJIB, maka Proklamasi kemerdekaan adalah WAJIB.
  • Bila Proklamasi kemerdekaan WAJIB, maka Perjanjian Gianti, Sumpah Pemuda juga harus difatwai WAJIB.
  1. C.    KajianFatwa MUI Seputar Zakat Penghasilan di Indonesia yang Mayoritas Berpenduduk Muslim.
  2. 1.      Kutipan Fatwa MUI seputar Zakat Penghasilan

(http://www.halalguide.info _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 10 March, 2007, 03:51)

Zakat Penghasilan

KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor 3 Tahun 2003

Tentang

ZAKAT PENGHASILAN

Majelis Ulama Indonesia, setelah:

MENIMBANG :

  • bahwa kedudukan hukum zakat penghasilan, baik penghasilan rutin seperti gaji pegawai/karyawan atau penghasilan pejabat negara, maupun penghasilan tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, penceramah, dan sejenisnya, serta penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya, masih sering ditannyakan oleh umat islam Indonesia.
  • bahwa oleh karena itu, MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang status hukum zakat penghasilan tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam dan pihak-pihak yang memerlukan.

MENGINGAT :

  • Firman Allah SWT tentang zakat ; antara lain:
  1. “hai orang yang beriman !nafkahkanlah sebagian dari usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang  kami keluarkan dari bumi untuk kamu… “(QS. Al-Baqarah [2]:267)
  2. “…Dan mereka bertanya kepada apa yang mereka nafkahkan katakanlah : “ Yang lebih dari keperluan “…”(QS. Al-Baqarah (2) :219)
  3. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu, kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” (QS. At-Taubah (9): 103)
  • Hadits-haits Nabi SAW, antara lain:
  1. “Diriwayatkan secara marfu’ hadits Ibnu Umar, dari Nabi SAW beliau bersabda ”Tidak ada zakat pada harta sampai berputar satu tahun” (HR.)
  2. “Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda : tidak ada zakat atas orang muslim terhadap hamba sahaya dan kudanya’(HR.Muslim.). Imam Nawawi berkata : “hadist ini adalah dalil bahwa harta qinyah (harta yang digunakan untuk keperluan pemakaian, bukan untuk di kembangkan) tidak dikenankan Zakat.”
  3. “Dari hakim Bin Hizam r.a, dari Nabi SAW beliau bersabda: ‘tangan atas lebih baik dari pada tangan bawah. Mulailah (dalam membelanjakan harta) dengan orang yang menjadi tanggung jawabmu. Sedekah paling baik adalah yang dikeluarkan dari kelebihan kebutuhan. Barang siapa berusaha menjaga diri (dari keburukan), Allah akan menjaganya. Barang siapa berusaha mencukupi diri, Allah akan memberikan kecukupan”(HR. Bukhari)
  4. “Dari Abu Hurairah r.a.,Rasulullah SAW bersabda : ‘Sedekah hannyalah dikeluarkan dari kelebihan/kebutuhan. Tangan atas lebih baik dari pada tangan bawah.Mulailah (dalam membelanjakan harta) dengan orang yang menjadi tanggung jawabmu”(H.R. Ahmad).

 

 

MEMPERHATIKAN :

  • Pendapat Dr. Yusuf Al Qardhawi
  • Pertanyaan dari masyarakat tentang zakat profesi, baik melalui lisan maupun surat: antara lain Baznas.
  • Rapat-rapat komisi fatwa, terakhir rapat pada sabtu,8 Rabi’ul Awwal 1424/10 Mei 2003 dan sabtu 7 Juni 2003/6 Rabi’ul akhir 1424.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG ZAKAT PENGHASILAN

  • Pertama : Ketentuan Umum

Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan “penghasilan” adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara,konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

  • Kedua : Hukum Semua bentuk penghasilan halal wajib di keluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nishab dalam satu tahun, yakni senilai emas 85 gram.
  • Ketiga : Waktu Pengeluaran Zakat.
  1. Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab.
  2. Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun; kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.
  • Keempat : Kadar Zakat penghasilan adalah 2,5%.

Ditetapkan di :        Jakarta

Pada tanggal :         06 R.Akhir 1424 H.

07 Juni 2003 M

Ketua

K.H. MARUF AMIN

Sekretaris

DRS. HASANUDDIN, M.ag.

  1. 2.      Pembahasan atas fatwa
  • Fatwa Majelis Ulama’ Indonesia ini berlaku di wilayah hukum Indonesia.
  • Masyarakat Indonesia mayoritas beragama muslim, maka secara letak geografis (wilayah hukum) fatwa ini benar.

 

  • Nishab zakat emas adalah 2,5% dari jumlah keseluruhan 85 gram.
  • Fatwa MUI seputar Zakat Penghasilan (bila telah senilai harga 85 gram emas) bisa diqiyaskan batasan jumlah dengan zakat emas 2,5%, maka fatwa ini benar.
  • Bila belum mencapai harga 85 gram emas, maka batasan dikeluarkannya zakat atas zakat penghasilan disandarkan kepada ukuran 1 (satu) tahun;
  1. Bila mencapai harga 85 gram emas, maka wajib zakat.
  2. Bila tidak mencapai harga 85 gram emas, maka tidak wajib zakat.

 

 

BAB V

SILOGISME DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

SILOGISME KATEGORIAL

 

MEMAHAMI POLA PENALARAN

Penalaran merupakan suatu corak atau cara seseorang mengunakan nalarnya dalam menarik kesimpulan sebelum akhirnya orang tersebut berpendapat dan dikemukakannya kepada orang lain.Pola penalaran secara sederhana dibedakan menjadi dua: 1) deduktif; dan 2) induktif.

Pola penalaran deduktif menggunakan bentuk bernalar deduksi. Deduksi secara etimologis berasal dari kata de dan ducere, yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum / universal. Perihal khusus tersebut secara implisit terkandung dalam yang lebih umum. Maka, deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan  universal ke singular atau individual. Dalam konteks demikian terdapat prinsip, hukum, teori, atau putusan lain yang berlaku umum suatu suatu hal, peristiwa, atau gejala.

Perhatikan contoh berikut:

  1. Semua mahasiswa S2 Unisma memperoleh predikat lulus cumlaude. Temanku, Mahir yang agak nyeleneh itu, mahasiswa S2 Unisma. Maka, pastilah si Mahir lulus dengan predikat cumlaude.
  2. Semua warga Kampung Rusunawa yang ikut memeriahkan peringatan HUT ke-61 Republik Indonesia dengan mengikuti berbagai acara yang diselenggarakan berarti memiliki sikap nasionalisme yang baik. Ahmad warga kampung itu juga ikut memeriahkan peringatan HUT ke-61 Republik Indonesia dengan mengikuti berbagai acara yang diselenggarakan. Pasti, Ahmad itu sikap nasionalismenya baik.

Apabila kita cermati, kedua contoh di atas menggunakan pola penalaran deduktif, yaitu pola penalaran yang berdasar dari pernyataan yang bersifat umum kemudian mengkhusus.Tipe penalaran seperti ini bermula dari suatu peryataan yang berlaku untuk semua anggota populasi dari suatu komunitas.Berdasarkan hal ini ditariklah kesimpulan yang mengenai salah satu individu anggota komunitas itu.

Jika menggunakan penalaran seperti ini, tidak mungkinkah kita terjebak dalam suatu pola penyamarataan dengan generalisasi atau apriori?Dalam konteks demikian, lebih baik bila kita memadukan pola deduktif dan induktif, terutama kaitannya dengan kehidupan sehari-hari untuk menghindarkan diri dari kesalahan nalar yang bisa berakibat fatal bagi kita.Kemahiran memadukan kedua tipe penalaran ini membawa kita ke arah penalaran yang analistis, kritis, dan intuitif tajam. Apalagi bila hal tersebut bertumpu pada kelengkapan dan akurasi data, fakta, evidensi, dan bukti yang akan memperlihatkan kesahihan dan kecerdasan berpikir.

Silogisme sebagai Bentuk Hasil Penalaran Deduktif

Silogisme merupakan suatu proses penarikan kesimpulan yang didasarkan atas pernyataan-pernyataan (proposisi yang kemudian disebut premis) sebagai antesedens (pengetahuan yang sudah dipahami ) hingga akhirnya membentuk suatu kesimpulan ( keputusan baru ) sebagai konklusi atau konsekuensi logis. Keputusan baru tersebut selalu berkaitan dengan proposisi yang digunakan sebagai dasar atau dikemukakan sebelumnya.Oleh karena hal tersebut, perlu dipahami hal-hal teknis berkaitan dengan silogisme sehingga penalaran kita benar dan dapat diterima nalar.

Sehubungan dengan hal tersebut perlu diperhatikan konsep-konsep berikut ini:

  1. Pernyataan pertama dalam silogisme disebut premis mayor, sedangkan pernyatan kedua disebut premis minor.
  2. Dalam silogisme hanya terdapat tiga term (batasan), yaitu :

term I : predikat dalam premis mayor ( B ),

term II : predikat dalam premis minor ( C ), dan

term III / antara, yaitu term yang menghubungkan antara premis mayor dan premis minor ( A ).

  1. Dalam sebuah silogisme hanya ada tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
  2. Bila kedua premis negatif, tidak dapat ditarik kesimpulan.
  3. Bila salah satu premisnya negatif, tidak dapat ditarik kesimpulan yang sahih.
  4. Bila salah satu premis partikular, kesimpulan tidak sahih.
  5. Kedua premis tidak boleh partikular.
  6. Rumus:
    PM (premis mayor)           : A = B

Pm (premis minor)             : C = A

Kesimpulan                       : C = B

Macam-Macam Silogisme

Silogisme dapat dibedakan menjadi tiga: 1) silogisme kategorial; 2) silogisme hipotetis; dan 3) silogisme alternatif. Namun, bisa juga dibedakan menjadi dua yang lain: 1) silogisme kategorial; dan 2) silogisme tersusun.

1. Silogisme Kategorial

Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris.Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.

Contoh :

  • Semua mamalia binatang yang melahirkan dan menyusui anaknya.
  • Kerbau termasuk binatang mamalia.
  • Jadi, kerbau : binatang yang melahirkan dan menyusui anaknya.

Yang perlu dicermati adalah, bahwa pola penalaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari kita tidak demikian nampak, entah di realita pembicaraan sehari-hari, lewat surat kabar, majalah, radio, televisi, dan lain-lain. Oleh sebab itu, dalam menyimak atau mendengarkan atau menerima pendapat seseorang, kita perlu berpikir kritis melihat dasar-dasar pemikiran yang digunakan sehingga kita dapat menilai seberapa tingkat kualitas kesahihan pendapat itu.

Dalam hal seperti ini kita perlu menentukan :

1)      kesimpulan apa yang disampaikan;

2)      mencari dasar-dasar atau alasan yang dikemukakan sebagai premis-premisnya;

3)      menyusun ulang silogisme yang digunakannya; kemudian melihat kesahihannya berdasarkan ketentuan hukum silogisme.

Berdasarkan hal tersebut tentu saja kita akan mampu melihat setiap argumen, pendapat, alasan, atau gagasan yang kita baca atau dengar. Dengan demikian, secara kritis kita mengembangkan sikap berpikir ke arah yang cerdik, pintar, arif, dan tidak menerima begitu saja kebenaran / opini yang dikemukakan pihak lain. Berdasarkan hal inilah akhirnya kita mampu menerima, meluruskan, menyanggah, atau menolak suatu pendapat yang kita terima.

2. Silogisme Tersusun

Dalam praktik kehidupan sehari-hari bentuk dilogisme di atas ( kategorial ) sering tidak diikuti sebagaimana mestinya, melainkan diambil jalan pintas demi lancar dan cepatnya komunikasi antar pihak. Berikut ini bentuk-bentuk yang dimaksud, yang sebenarnya merupakan perluasan atau penyingkatan silogisme kategorial.

Silogisme ini dapat dibedakan dalam tiga golongan :

1) epikherema;

2) entimem;

3) sorites.

2.1 Epikherema

Epikherema merupakan jabaran dari silogisme kategorial yang diperluas dengan jalan memperluas salah satu premisnya atau keduanya.Cara yang biasa digunakan adalah dengan menambahkan keterangan sebab (penjelasan sebab terjadinya, keterangan waktu, maupun pembuktian keberadaannya).

Perhatikan contoh berikut:

Setiap yang memabukkan adalah haramsebab keharaman itu merusak.

كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ ِلأَنَّ الْحَرَامُ مَفْسَدَةٌ

Minuman keras itu merusak.

الْخَمْرُ مَفْسَدَةٌ

Jadi minuman keras itu haram

فكان الْخَمْرُ حَرَامًا

Dari kedua di atas (setiap yang memabukkan) terlihat bahwa ada bagian (premis) tertentu (haram) yang diperluas dengan menambahkan keterangan, alasan, bukti, dan penjelasan sebagai pelengkap premis mayor (sebab keharaman itu merusak).Pola silogistisnya tetap.Hanya saja jumlah keterangan atau atribut yang memperkuat tak terbatas, asalkan memperkuat, mempertegas, dan memperjelas premisnya.

2.2  Entimem

Di atas telah disinggung bahwa silogisme jarang sekali ditemukan di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam tulisan pun, bentuk itu hampir tidak pernah digunakan. Bentuk yang biasa ditemukan dan dipakai ialah bentuk entimem.Entimem ini pada dasarnya adalah silogisme.Tetapi, di dalam entimem salah satu premisnya dihilangkan/tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.

Perhatikan contoh berikut yang dinukil dari ayat:

Iblis enggan mematuhi perintah Allah maka dia termasuk kelompok yang kufur أبى و استكبر و كان من الكافرين
Kesombongan adalah dosa

التكبّر ذنب

Sebab (kesombongan) menyebabkan kekufuran

لأنه يؤدي إلي الكفر

Kalimat (a) merupakan kesimpulan, sedangkan kalimat (b) adalah premis minor (karena bersifat khusus). Maka silogisme dapat disusun:

Mn       : Kesombongan menyebabkan kekufuran.

K                     : Kesombongan adalah dosa.

Dalam kalimat di atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayor.Untuk melengkapinya kita harus ingat bahwa premis mayor selalu bersifat lebih umum, jadi tidak mungkin subjeknva “menipu”.

Kita dapat menalar kembali dan menemukan premis mayornya: “Segala bentuk kekufuran adalah dosa”.

Langkah mengubah entimem menjadi silogisme:

  1. Mula-mula kita cari dulu kesimpulannya.
  2. Kata-kata yang menandakan kesimpulan ialah kata-kata seperti jadi, maka, karena itu, dengan demikian, dan sebagainya.
  3. Kalau sudah, kita coba untuk menemukan premis yang dihilangkan.

 

 

Contoh lain :

“Pada malam hari tidak ada matahari, jadi tidak mungkin terjadi prosesfotosintesis”.

Bentuk silogismenya :

My                   : Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari

Mn                   : Pada malam hari tidak ada matahari

K                     : Pada malam hari tidak mungkin ada fotosintesis.

Sebaiknya, kita juga dapat mengubah silogisme ke dalam entimem, yaitu dengan menghilangkan salah satu premisnya.

Contoh :

My                   : Anak-anak yang berumur di atas 17 tahun telah baligh.

Mn                   : Mahasiswa pascasarjana telah berumur lebih dari 17 tahun.

K                     : Mahasiswa pascasarjana telah baligh.

Kalau dihilangkan premis mayornya entimemnya akan berbunyi:

Mahasiswa pascasarjana telah berumur lebih dari 17 tahun, jadi mereka baligh.

Atau dapat juga:

Mahasiswa pascasarjana telah baligh karena mereka telah berumur lebih dari 17 tahun.

Kalau dihilangkan premis minornya menjadi:

Anak-anak yang berumur di atas 17 tahun telah baligh; karena itu mahasiswa pascasarjana telah baligh.

Entimem merupakan bentuk singkat silogisme dengan jalan mengubah format yang disederhanakan, tanpa menampilkan premis mayor. Bentuk silogisme ini bisa dimunculkan dalam dua cara:

1) C = B karena C = A, dan

2) Karena C = A, berarti C = B.

Bentuk penalaran ini bisa dikembangkan dalam format yang lebih detail bagian per-bagian yang akan memperbanyak gagasan dan konsep. Hubungan logis memegang peran utama dalam penalaran tipe ini.Pada umumnya entimem dimulai dari kesimpulan, hanya saja ada alternatif mengemukakan sebab untuk sampai kepada kesimpulan.

SOAL:

  1. Muhammad SAW memang amat baik masa depannya, sebab ia seorang nabi. (Apakah premis mayor dari pernyataan tersenbut?)
  2. Pak Rosichin pasti jago ilmu filsafat. Bukankah ia dosen filsafat? (Tentukan premis mayornya!)
  3. Temanku sebangku itu amat pintar. Ia memang dilahirkan dalam shio macan. (Apa yang salah dari pernyataan tersebut?)

2.3 Sorites

Sorites dibagi menjadi dua:

  1. a.      Sorites Aristotelian (Sorites Progresif)
  • Polisilogisme yang di dalamnya hanya kesimpulan penutup yg dinyatakan secara eksplisit & premis-premis diatur sedemikian rupa sehingga setiap dua premis yg berurutan memuat sebuah term yg sama.
  • Silogisme tipe ini sangat cocok untuk bentuk-bentuk tulisan atau pembicaraan yang bernuansa persuasif.
  • Silogisme tipe ini didukung oleh lebih dari tiga premis, bergantung pada topik yang dikemukakan serta arah pembahasan yang dihubung-hubungkan demikian rupa sehingga:
  1. Predikat premis pertama menjadi subyek premis kedua.
  2. Predikat premis kedua menjadi subyek pada premis ketiga.
  3. Predikat premis ketiga menjadi subyek pada premis keempat, dan seterusnya,
  4. Hingga akhirnya sampailah pada kesimpulan yang diambil dari subyek premis pertama dan predikat premis terakhir.
  5. Pola yang digunakan sebagai berikut:
  • S1        ……………………………    P1
  • S2        ……………………………    P2
  • S3        ……………………….……   P3, dst.
  • S1        ……………………….……   P3

Contoh:

Setiap yang terpaksa adalah diperbolehkan

كل مظطار جائز

Setiap yang diperbolehkan adalah halal

و كل جائز حلال

Setiap yang halal adalah dipersilahkan

و كل حلال مسموح

Jadi, setiap yang terpaksa dipersilahkan

فكل مظطار مسموح

  1. g.      Sorites Goclenia (Sorites Regresif)
  • Premis mayornya dinyatakan lebih dahulu.
  • Perlakuan terhadap term -yang sama- yang terdapat dalam dua premis yang tersusun secara berurutan:
    • Muncul pertama-tamasebagai subjek.
    • Kemudian sebagaipredikat.
  • Bentuk logikalnya:
    • Semua             D   adalah     E
    • Semua             C   adalah     D
    • Semua             B   adalah     C
    • Semua             A   adalah     B
    • Jadi, Semua     A   adalah     E

Contoh:

  • Semua Mahasiswa adalah manusia
  • Semua yang diajar dosen di kelas adalah mahasiswa
  • Semua yang belajar diruang kuliah diajar dosen
  • Semua yang berjas universitas adalah belajar diruang kuliah
  • Jadi semua yang berjas universitas adalah manusia
  • Aturan khusus dari bentuk Sorites Goclenian:
    • Hanya satu premis ~ yg pertama ~ yg dptnegative.
    • Hanya satu premis ~ yg terakhir ~ yg dptparticular.

Contoh:

  • Semua dosen adalah bukan orang bodoh
  • Semua yang mengajar mahasiswa adalah dosen
  • Semua duduk di kursi dosen adalah yang mengajar mahasiswa
  • Pak Rosichin duduk di kursi dosen
  • Jadi Pak Rosichin bukan orang bodoh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Dari paparan makalah di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa:

  1. Silogisme adalah jenis argumen logis di mana satu proposisi (kesimpulan) yang disimpulkan dari dua orang lain (tempat) dari suatu bentuk tertentu, yaitu kategori proposisi.
  2. Silogisme terbagi menjadi 3
    1. Kategorik

Silogisme Katagorik adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik.Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan dengan premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor (premis yang termnya menjadi subjek).Yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).

  1. Hipotesis

Adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik.

  1. Disjungtif.

Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayornya mempunyai alternatif bukan kontradiktif.

  1. Pemanfaatan silogisme dalam kehidupan keseharian bisa dilakukan sebagai uapaya untuk menimbang berbagai peristiwa hokum atau yang lainnya secara obyektif, sehingga menghasilkan temuan yang analitik, obyektif dan empirik.
  2. Memahami Pola Penalaran

Pola penalaran secara sederhana dibedakan menjadi dua:

  1. Deduktif: Pola penalaran deduktif menggunakan bentuk bernalar deduksi.
  2. Induktif. Silogisme merupakan suatu proses penarikan kesimpulan yang didasarkan atas pernyataan-pernyataan (proposisi yang kemudian disebut premis) sebagai antesedens (pengetahuan yang sudah dipahami) hingga akhirnya membentuk suatu kesimpulan (keputusan baru) sebagai konklusi atau konsekuensi logis.
  1. Silogisme TersusunSilogisme ini dapat dibedakan dalam tiga golongan :
    1. Epikheremamerupakan jabaran dari silogisme kategorial yang diperluas dengan jalan memperluas salah satu premisnya atau keduanya. Cara yang biasa digunakan adalah dengan menambahkan keterangan sebab (penjelasan sebab terjadinya, keterangan waktu, maupun pembuktian keberadaannya).
    2. Entimemadalahsilogisme yang dalam salah satu premisnya dihilangkan/tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.

Langkah mengubah entimem menjadi silogisme:

  1. Mula-mula kita cari dulu kesimpulannya.
  2. Kata-kata yang menandakan kesimpulan ialah kata-kata seperti jadi, maka, karena itu, dengan demikian, dan sebagainya.
  3. Kalau sudah, kita coba untuk menemukan premis yang dihilangkan.
  4. Sebaiknya, kita juga dapat mengubah silogisme ke dalam entimem, yaitu dengan menghilangkan salah satu premisnya.
  5. Soritesdibagi menjadi dua:
    1. 1.      Sorites Aristotelian (Sorites Progresif)
  • Polisilogisme yang di dalamnya hanya kesimpulan penutup yg dinyatakan secara eksplisit & premis-premis diatur sedemikian rupa sehingga setiap dua premis yg berurutan memuat sebuah term yg sama.
  • Silogisme tipe ini sangat cocok untuk bentuk-bentuk tulisan atau pembicaraan yang bernuansa persuasif.
  • Silogisme tipe ini didukung oleh lebih dari tiga premis, bergantung pada topik yang dikemukakan serta arah pembahasan yang dihubung-hubungkan demikian rupa sehingga:
  1. Predikat premis pertama menjadi subyek premis kedua.
  2. Predikat premis kedua menjadi subyek pada premis ketiga.
  3. Predikat premis ketiga menjadi subyek pada premis keempat, dan seterusnya,
  4. Hingga akhirnya sampailah pada kesimpulan yang diambil dari subyek premis pertama dan predikat premis terakhir.

 

  1. 2.      Sorites Goclenia (Sorites Regresif)
  • Premis mayornya dinyatakan lebih dahulu.
  • Perlakuan terhadap term -yang sama- yang terdapat dalam dua premis yang tersusun secara berurutan:
  1. Muncul pertama-tamasebagai subjek.
  2. Kemudian sebagaipredikat.
  1. B.     Saran

Demikian pembahasan seputar masalah silogisme.Penulis berharap agar makalah ini bisa bermanfaat sebagai sumbangsih kelimuan, menjadi refrensi dan bisa dipraktekan dalam kehidupan keseharian.

Penulis sadar sepenuhnya, bahwa dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kekurangan dan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak, maka penulis berharap masukan konstruktif untuk upaya perbaikan dikemudian hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

From: “SONYMAN” <sonyman@uk2.net>To: “Is-Lam@Isnet.Org” <is-lam@isnet.org> Date: Thu, 8 Jun 2000 16:56:05 +0700

http://aristobe74.blogspot.com

http://en.wikipedia.org/wiki/Proposition-Silogisme/

http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat-Silogisme/

http://www.halimsani.wordpress.com / 2007 / 09 / 18 / apakah-filsafat-itu-sebuah-pengantar-kealam-filsafat/

http://www.unhas.ac.id / ~rhiza / mystudents / filsafat – iptek / Bab % 209 % 20 Yunus % 20 dan % 20 Halidin.ppt

Lanur, Alex. 1983. Logika Selayang Pandang. Yogyakarta: Kanisius.

Mundiri. 1994.Logika. Jakarta: Rajawali Pers.

Nasution Hakim, Andi. 2005. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.


[1]Premis adalah pernyataan yang mendasari penalaran untuk mengambil kesimpulan.

About these ads

About CakTip

Pelayan santri-santriwati Pondok Modern Arrisalah Program Internasional di Kota-Santri Slahung Ponorogo Jawa-Timur Indonesia K. Post 63463. Lahir di Segodorejo Sumobito Jombang JATIM di penghujung Ramadhan 1395 H. Pernah bantu-bantu di IPNU Sumobito Jombang, IPM SMA Muh 1 Jombang, beberapa LSM, karya ilmiah, teater, dll. Lagi demen-demenya sama design grafis (corel). Sekarang lagi ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan PM Arrisalah. Sekali waktu chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!

Posted on 30 April 2011, in Cak Tip, Filsafat, Pemikiran and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.120 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: